Bukan Muhrim!

Bukan Muhrim!

Mari kita flashback ke belakang. Waktu ketika Tim Terios 7 Wonders baru saja menginjak Taman Nasional Baluran, sebelum melakukan petualangan safari malam.

Sebelum makan malam disajikan, Pak Endi mengumpulkan seluruh peserta di halaman depan Wisma Rusa, Bekol (-7.83857,114.439269). Bukan untuk salam “rantai kapal,” tapi pembagian kamar. Seperti biasa, begitu nama saya disebut, Pak Endi selalu menggunakan aksen khas Mbah Triman, pelawak srimulat kawakan, “Mbhaaam… bhaaanggg,” sambil mangap-mangap.

Tak mau kalah, mangap-mangap pula saya menjawab panggilannya, “Shaaaa…. yhaaa… Phaaak,” sambil tertawa, karena geli sendiri.

“Kamu sama Giri di kamar 10.”

“Siap Pak!”

Bangunan penginapan paling besar ternyata tidak dapat menampung banyak orang, karena itulah peserta kemudian dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

  • Wisma Rusa—pesanggrahan utama; sebagian besar.
  • Wisma Merak; Puput dan Uut (kamar 9), saya dan Giri (kamar 10).
  • Wisma Banteng—penginapan paling ujung yang langsung menghadap ke Savana Bekol; teman-teman driver (kamar 11 dan kamar 12).
Peta Wisma Bekol (-7.83857,114.439269)

Peta Wisma Bekol (-7.83857,114.439269)

Karena santap malam belum selesai dan kami baru saja sampai, saya sengaja berlama-lama di halaman depan Wisma Rusa untuk mengobrol dengan beberapa orang teman. Komando Pak Endi agar segera mempersiapkan diri untuk melanjutkan safari malam langsung membuat kerumunan bubar jalan. Kami bergegas ke kamar masing-masing yang telah ditentukan.

Di Wisma Merak—rumah panggung dari kayu—teman-teman driver telah sampai lebih dulu. Pada sofa empuk separuh rusak, mereka terlihat duduk santai menikmati posisi masing-masing. Karena telah ditentukan sebelumnya, saya langsung masuk ke kamar 10.

Namun, baru saja melangkah, Bang Kamaludin yang baru keluar dari toilet di ujung sana, tiba-tiba menginterupsi, “di sini saya.” Wajahnya serius tak ada canda. Lah!

Bukankah pembagiannya sudah jelas. Saya dan Giri di kamar 10? Saya hanya membathin.

Baiklah kalau begitu. Mungkin teman-teman driver ini punya kenangan tersendiri dengan Wisma Merak. Demi menghidari perasaan tidak enak, akhirnya saya dan Giri pilih untuk mengalah. Kami kembali melangkah ke Wisma Banteng yang posisinya paling ujung.

Jangan! Kita bukan muhrim!

Tak ada siapa-siapa di wisma ini. Mungkin teman-teman driver tadi benar. Sayalah yang salah mengingat-ingat tempat.

Pintu kamar 11 saya buka. Pada dinding atas menempel pendingin udara yang lumayan besar. Sementara di bawahnya, terdapat sebuah master bed yang begitu lebar. Demi perbandingan, saya buka juga pintu kamar 12. Hanya ada kipas angin dan 2 ranjang kecil yang terpisah.

Bicara ‘privasi,’ saya akan pilih kamar 12. Tapi bicara kenyamanan, kamar 11 yang berpendingin udara tentu lebih menggoda. Karenanya pilihan saya jatuhkan pada kamar terakhir. Kamar 11. Giri yang sejak awal ikut menginspeksi, juga telah menentukan pilihan dalam pikirannya.

“Kita di sini aja Gir!” ajak saya, sambil menunjuk kamar 11.

“Enggak. Saya di sini aja.” Dia pilih kamar 12. Perasaan tak enak terlihat pada wajahnya.

“Udah di sini aja ada AC-nya,” ajak saya lagi.

Selain alasan AC tadi, kami berdua kebetulan memang telah diplot satu kamar. Itu artinya, kalau yang satu telah menentukan pilihan, yang lain harus ikut di belakang.

“Enggak. Saya di sini aja. Gak papa gak ada AC-nya.” Raut wajahnya mulai terlihat gelisah.

Lah! Lu gimana si?” tanya saya sedikit Sherina (baca: geregetan).

“Udah gak papa. Kamu di situ aja. Saya di sini.” Dia tambah gelisah.

“Oh. OK kalo begitu.” Akhirnya saya pilih mengalah, tapi dengan melupakan plot awal yang mengharuskan kami satu kamar.

Yang jadi pertanyaan saya adalah, mengapa dia ngotot dengan pilihannya, sementara pilihan yang saya ajukan mempunyai nilai lebih (AC)? Mengapa pula raut wajahnya demikian gelisah hanya karena kasur yang tidak terpisah? Apa mungkin dia pikir saya akan berbuat macam-macam padanya nanti malam? Atau jangan-jangan, dia pikir kami ini bukan muhrim, yang tidak pantas tidur satu kasur? Hmm, entahlah.

Total Chaos

Lepas menentukan pilihan, saya kembali ke Wisma Merak untuk bergabung dengan teman-teman lain. Sementara Giri, yang telah merasa aman dari ancaman ‘muhrim’ tadi, lebih memilih bergegas mandi. Baru sebentar di Wisma Merak, Pak Endi kembali memberi mandat. “Yang mau ikut safari malam, segera siap-siap!”

Mendengar seruan tadi, teman-teman driver yang semula bermalas-malasan di sofa empuk, satu per satu bergegas bangun. Pergerakan mereka tidak mengarah ke kamar 9 dan kamar 10 yang semula diperdebatkan, melainkan ke Wisma Banteng, tempat saya dan Giri adu muhrim tadi. Lah!

Pada titik ini, saya tak tahu lagi sebenarnya kebenaran itu ada di mana. Di awal-awal tadi, saya anggap saya telah salah memilih tempat, karenanya kemudian saya mengalah, pindah ke penginapan sebelah. Tapi sekarang, kenapa lagi-lagi saya yang (menjadi) salah? @,@

Saya kembali memindahkan keril yang semula ada di kamar ber-AC nomor 11, ke kamar 10 yang tak berpendingin apa-apa PLUS sebuah master bed! Sambil merapikan barang-barang bawaan, saya kembali penasaran, kira-kira seperti apa reaksi Giri nanti, kalau tahu keadaan ini?

Tak berapa lama kemudian, sang tokoh utama datang juga ke kamar 10. Wajah teman yang agak pendiam ini seketika berubah tegang manakala mengetahui kondisi ranjang yang (ujung-ujungnya) tak terpisah (juga). Entah mimpi apa dia, ancaman ‘muhrim’ yang semula dihindari setengah mati, pada akhirnya malah benar-benar terjadi. Hahaha. [BEM]