Safari Malam Taman Nasional Baluran

Safari Malam Taman Nasional Baluran

Butuh perjalanan sejauh 10 jam dari Desa Ranu Pani, untuk sampai di Taman Nasional Baluran (TN Baluran). Selesai santap malam di Wisma Bekol—tempat kami menginap—Pak Endi mengajukan pertanyaan kepada segenap Tim Terios 7 Wonders, adakah kiranya yang mau melanjutkan lelahnya perjalanan dengan safari malam. Dan, tentu saja, sebagai petualang yang baik, tawaran menarik itu tidak boleh disia-siakan. Mayoritas siap.

Adalah Pak Tasman, seorang petugas TN Baluran—kebetulan mendapat jadwal jaga di Savana Bekol—yang menjadi pemandu Safari Malam Baluran kami. Perawakannya kurus dengan tubuh yang tidak tinggi, juga tidak pendek. Pria paruh baya ini berkulit sawo matang dan asli Madiun.

“Macan Tutul dan Macan Kumbang biasanya menampakkan diri pada sore hari,” katanya, membuka percakapan safari malam. Menurutnya, jumlah macan di taman nasional ini masih banyak. Mereka biasa menampakkan diri di arah jalan keluar menuju Bantengan dan sekitar portal masuk kawasan taman nasional. “Di Baluran jumlah mereka masih banyak,” imbuhnya.

Walau jumlah macan-macan ini terbilang lumayan, ternyata tidak mudah untuk ‘menangkap’ mereka dengan camera trap. Buktinya, Pak Tasman hanya bisa memberikan informasi yang telah berumur satu tahun, “Suis—petugas TN Baluran—pernah mengambil foto macan tutul tahun lalu. Dengan camera trap.”

Mungkin kalian pernah bertanya, mengapa mendirikan tenda (camping/kemping) di area TN Baluran ini tidak diperbolehkan?

Jawabannya cukup sederhana. Selain macan—seperti yang baru saya utarakan—dikhawatirkan binatang-binatang buas lainnya dapat menyerang kalian kapan saja, terutama pada malam hari. Di samping itu, yang namanya kemping pasti butuh api. Entah untuk memasak, iseng merokok, menyalakan api unggun, membakar sampah, dan lain sebagainya.

Bila kita menengok sedikit ke belakang, beberapa kali kebakaran yang terjadi di TN Baluran, hampir selalu disebabkan karena masyarakat yang membuang puntung rokok sembarangan. Bara yang tersisa sangat berpotensi menyulut api di timbunan dedaunan dan ranting-ranting kering.

Untuk menghindari repetisi inilah, pihak pengelola TN Baluran menutup akses segala penyebab kebakaran. Dan, pelarangan mendirikan tenda untuk tujuan kemping adalah salah satunya.

Walau masih bertaburan bintang, langit Baluran malam ini jelas tak seindah Ranu Pani. Sebagian besar lenyap ditelan polusi cahaya. Faktor ketinggian tempat—dari permukaan laut—sepertinya juga menjadi penyebabnya.

Suasana sebentar hening. Hanya serangga malam dan derap langkah saja yang terdengar suaranya. Malam ini Baluran begitu tenang. “Petugas di sini berapa orang Pak?” tanya saya mengakhiri jeda.

“Petugas di sini banyak Mas. Di sini, nanti 2 hari 2 malem pulang.” Pak Tasman menginformasikan pergantian petugas jaga (ranger). Katanya lagi, “yang jaga di Bama  8 orang. Tiap resort itu 8 orang yang jaga.”

Dari sekian banyak petugas TN Baluran, yang saya kenal hanya Mas Farid dan Pak Tri saja. Saya kenal mereka setahun lalu. Sayangnya kali ini saya tidak berkesempatan bertemu mereka. “Mas Farid kemaren malem ada. Tapi sekarang pulang. Dia ijin,” terang Pak Tasman, ketika saya tanyakan kabar keduanya.

***

Tips Safari Malam Baluran:

  • Bawa air minum secukupnya, karena bisa jadi safari malam dilakukan dalam waktu lebih lama.
  • Hindari sebisa mungkin membawa perangkat elektronik. Apapun bentuknya—mp3 player, handphone, dan sejenisnya. Ingat! Kalian ke tempat ini untuk safari, bukan untuk ngerusuhi binatang-binatang yang ada di sini.
  • Gunakan pakaian hangat, seperti; sweater atau jaket. Karena Baluran terletak persis di pesisir, angin laut yang berhembus kadang tak putus-putus.
  • Berjalanlah dekat dengan pemandu. Dengan begitu, selain bisa menikmati suasana, kalian juga bisa menimba ilmu—yang boleh jadi benar-benar baru kalian dengar.
  • Bila memungkinkan, bawalah kamera beserta tripodnya. Baluran sangat cocok digunakan untuk kegiatan fotografi langit malam, karena polusi cahaya di tempat ini relatif sedikit.

***

Banyak orang menyebut Baluran dengan “Little Africa of Java” atau “Africa van Java.” Tak salah memang, karena pada kenyataannya, Baluran memiliki miniatur savana (padang rumput) Afrika yang tersebar di beberapa tempat, seperti; Karangtekok, Balanan, Semiang, Kramat, Talpat, dan Bekol.

Untuk savana yang terakhir disebutkan, Savana Bekol, luasnya mencapai 420 hektar (2006). Dan, bisa dibilang, Savana Bekol inilah yang paling tenar di antara beberapa savana yang lain, yang ada di TN Baluran.  

Seperti yang kita ketahui, TN Baluran didominasi oleh rusa. Jumlahnya lebih banyak ketimbang binatang lain. Kata Pak Tasman, “Rusa gak bisa dihitung Mas. Banyak. Yang dihitung di sini itu biasanya Kerbau, Banteng, Merak. Tiga thok (cuma) itu.”

Maksud ‘dihitung’ yang diutarakan Pak Tasman adalah, perhitungan perkiraan menggunakan camera trap. Sebuah kamera yang bisa diaktifkan dari jarak jauh. Alat ini pada umumnya dilengkapi dengan sensor gerak atau sensor infra merah. Kamera ini telah digunakan selama bertahun-tahun oleh para peneliti. Biasanya untuk mendeteksi spesies langka, estimasi populasi, mempelajari ekologi, dan lain sebagainya.

Dan tahukah kalian, kalau rusa-rusa TN Baluran ini memiliki kebiasaan unik?

“Mereka biasanya mendekati wisma tiap tanggal 15 jawa, Mas. Itu pasti ngumpul-nya di guesthouse sana.” Tangan Pak Tasman diacungkan ke arah belakang—arah Wisma Bekol. Ia menambahkan, “karena ya mungkin si anjingnya perburuannya lagi jeli-jelinya saat malam. Kelihatannya.”

Anjing yang dimaksud Pak Tasman sejatinya adalah anjing hutan, atau Ajag. Dalam Bahasa Inggris, Asiatic Wild Dog ini disebut dengan The Dhole. Sementara nama ilmiahnya adalah Cuon Alpinus Javanicus.

Berdasarkan data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), trend binatang ini di alam liar sedang mengalami penurunan populasi. Di Indonesia sendiri, informasi yang berkaitan dengan distribusi binatang ini sangatlah langka, dan diperkirakan sangat terfragmentasi. Pada tahun 1996, status Vulnerable masih disandang binatang liar yang mirip dengan rubah ini. Namun kemudian berganti status, menjadi Endangered pada tahun 2004 lalu.

“Anjing liar yang kecil-kecil itu lho Mas,” kata Pak Tasman. Ia kembali menjelaskan, “yang kalo orang bilang mirip arikikik itu. Suaranya ‘kikik.. kikik.. kikik…’ Cuma, dia kan kelompoknya banyak. Satu kelompok itu ada 20-30. Yang ekornya jagang itu. Naik ke atas itu ekornya. Mereka biasa berburu di sini (Savana Bekol).” Tak bosan Pak Tasman mengulang kata ‘itu.’

“Tadi pagi. 2 hari kemaren, dapet 1 di depan kantor sana. Rusa tapi. Yang dimakan rusa.” Kali ini keterangannya dibumbui kontradiksi. Hahaha. Maaf ya Pak. Tapi tenang saja, saya nyangkut kok yang Bapak maksud. :p

Banteng (Bos Javanicus) biasanya juga beraktifitas pada malam hari, di sekitar Savana Bekol. Sayangnya, kami tak melihat mereka saat safari malam. Mungkin mereka cepat pergi begitu mendengar jejak langkah kaki kami. “Ini bekas kubangannya.” Kata Pak Tasman. Sambil menjelaskan, lampu senter di tangan diarahkannya ke kanan jalan.

Kenapa menggunakan lampu senter? Sebenarnya, yang biasa digunakan untuk Safari Malam Baluran adalah lampu berjenis strobe. Namun, karena lampu tersebut sedang digunakan untuk patroli, kami hanya menggunakan pencahayaan seadanya, sehingga petualangan malam lebih didominasi kondisi gelap gulita. Tak mengapa, karena bagi saya, begitu lebih seru.

Sesekali Pak Tasman mengalihkan lampu senternya ke arah savana. Tapetum Lucidum pada mata beberapa pasang binatang nocturnal yang dilaluinya, langsung bereaksi ketika terkena cahaya. Walau tubuhnya tersamar belukar, sorot mata yang menyala-nyala jelas menandakan eksistensi mereka. Pandangannya diarahkan kepada kami. Tak sedikitpun dilepaskan. Mereka waspada.

Malam itu di Baluran tidak panas, juga tidak dingin. Suhunya normal, tak berbeda dengan suhu kota. Dalam gelap, Pak Tasman kembali membagi cerita, “ini tempat pengembangan rumput. Ini dibangunnya tahun 2001, kalo gak salah ini.” Ia ‘menerangkan’ tempat yang dimaksud. Menerangkan dengan cahaya, juga kata-kata.

“Dari Belanda ini penelitinya. Yang ngembangkan ini dari Belanda. Yang orang kita-nya ada juga. Nanang Wahono. Orang Madiun juga. Cuma dia ngumpul-nya sama orang Belanda, yang penelitian ini.” Sekarang Pak Tasman menyukai repetisi kata ‘ini.’

“Terus, yang datang ke Baluran ini biasanya orang dari mana aja Pak?” tanya saya.

“Kalo musim begini biasanya orang lokal Mas. Tapi kalo bulan 7-8 itu biasanya bule yang paling sering. Karena dia itu seneng dengan atraksi seremonial di desa itu. Jalan (kaki). Mulai hari kemerdekaan itu kan banyak acara-acara tho Mas. Mereka tuh seneng.” Jawab Pak Tasman, masih dengan logat jawa kental.

Tak sadar, kami telah sampai kembali di depan penginapan. Dengan demikian, berakhir pulalah petualangan safari malam Tim Terios 7 WondersHidden Paradise di Taman Nasional Baluran. Terima kasih banyak Pak Tasman. [BEM]