Tag Archive: Taman Nasional Baluran


Akhirnya menginjak Pulau Bali

Akhirnya menginjak Pulau Bali

Masih di hari ketujuh—October 07, 2013. Waktu bebas untuk Tim Terios 7 Wonders – Hidden Paradise menjelajah Taman Nasional Baluran baru saja habis. Selepas hunting foto di Savana Bekol hingga Pantai Bama, kini tiba saatnya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Bali. Kalau Sun Go Kong punya “Pilgrimage to the west,” maka kami punya “Journey to the east.” Kecuali perjalanan Jakarta-Sawarna, hampir pasti tak ada pergantian hari tanpa lebih jauh ke timur Indonesia.

Kecuali Enuh (videographer bin kameramen) dan Pak Endi (sesepuh merangkap team leader), komposisi tim kecil (3-4 orang per mobil) masih bertahan dari Jakarta hingga Baluran—dan sepertinya hingga ekspedisi berakhir. Tiap orang kembali ke mobil masing-masing. Saya, Boski, Uci, dan Mumun masih solid tergabung dalam Tim Terios 7.

Pukul 09.45, semua peserta bertolak dari Wisma Bekol yang dibangun pada tahun 1987, menyusuri satu-satunya jalan utama Bekol-Batangan, menuju pintu gerbang Batangan, Taman Nasional Baluran.

Continue reading

Wisma Bekol, Baluran Spooky?

Wisma Bekol, Baluran Spooky?

Entah betulan atau tidak, beberapa kali saya pernah mendengar cerita, kalau Wisma Bekol (Wisma Rusa, Wisma Merak, dan Wisma Banteng) tempat kami menginap malam ini cukup angker. Demi mengetahui kebenarannya, pada artikel kali ini akan saya ajak kalian untuk membuktikannya.

Bermodal do’a sebelum tidur yang lagi-lagi lupa dibaca, berikut cerita misteri yang lumayan spooky, saya mencoba terlelap lebih cepat. Harapannya, begitu pagi menjelang, tubuh telah siap perang.

Tak lama dari pertentangan kecil seputaran adu muhrim yang terjadi sebelumnya, Giri pilih sisi master bed sebelah kiri. Kali ini dia tidur dengan memunggungi saya. Ya. Langsung memunggungi saya. Wujud pertahanan terakhir, sebagai bentuk kegelisahan yang mendalam.

Continue reading

Satwa Taman Nasional Baluran

Satwa Taman Nasional Baluran

Pada kunjungan kali ini saya cukup beruntung daripada tahun lalu, karena selain berkesempatan menjelajah Indonesia dengan sang Sahabat Petualang, Daihatsu Terios, dalam satu waktu, 23 teman baru juga saya dapatkan. Bersama dengan keluarga besar Terios 7 Wonders pulalah banyak cerita tentang Baluran saya dapatkan. Karena mungkin, tidak banyak dari teman-teman sekalian yang mengetahui kehidupan binatang dan tumbuhan di Taman Nasional (TN) Baluran, kali ini ijinkan saya berbagi cerita tentang mereka ya.

Banteng (Bos Javanicus)

Setahun telah berlalu ketika pertama saya datang ke tempat ini. Kala itu kandang penangkaran banteng yang posisinya berada di belakang kantor ranger Bekol baru seminggu dibangun. Kini penangkaran telah berjalan. Penghuninya 3 ekor banteng dari Taman Safai Indonesia (TSI) Prigen.

Continue reading

Bukan Muhrim!

Bukan Muhrim!

Mari kita flashback ke belakang. Waktu ketika Tim Terios 7 Wonders baru saja menginjak Taman Nasional Baluran, sebelum melakukan petualangan safari malam.

Sebelum makan malam disajikan, Pak Endi mengumpulkan seluruh peserta di halaman depan Wisma Rusa, Bekol (-7.83857,114.439269). Bukan untuk salam “rantai kapal,” tapi pembagian kamar. Seperti biasa, begitu nama saya disebut, Pak Endi selalu menggunakan aksen khas Mbah Triman, pelawak srimulat kawakan, “Mbhaaam… bhaaanggg,” sambil mangap-mangap.

Tak mau kalah, mangap-mangap pula saya menjawab panggilannya, “Shaaaa…. yhaaa… Phaaak,” sambil tertawa, karena geli sendiri.

“Kamu sama Giri di kamar 10.”

“Siap Pak!”

Continue reading

Safari Malam Taman Nasional Baluran

Safari Malam Taman Nasional Baluran

Butuh perjalanan sejauh 10 jam dari Desa Ranu Pani, untuk sampai di Taman Nasional Baluran (TN Baluran). Selesai santap malam di Wisma Bekol—tempat kami menginap—Pak Endi mengajukan pertanyaan kepada segenap Tim Terios 7 Wonders, adakah kiranya yang mau melanjutkan lelahnya perjalanan dengan safari malam. Dan, tentu saja, sebagai petualang yang baik, tawaran menarik itu tidak boleh disia-siakan. Mayoritas siap.

Adalah Pak Tasman, seorang petugas TN Baluran—kebetulan mendapat jadwal jaga di Savana Bekol—yang menjadi pemandu Safari Malam Baluran kami. Perawakannya kurus dengan tubuh yang tidak tinggi, juga tidak pendek. Pria paruh baya ini berkulit sawo matang dan asli Madiun.

“Macan Tutul dan Macan Kumbang biasanya menampakkan diri pada sore hari,” katanya, membuka percakapan safari malam. Menurutnya, jumlah macan di taman nasional ini masih banyak. Mereka biasa menampakkan diri di arah jalan keluar menuju Bantengan dan sekitar portal masuk kawasan taman nasional. “Di Baluran jumlah mereka masih banyak,” imbuhnya.

Continue reading

Danau Ranu Pani dilihat dari desa

Danau Ranu Pani dilihat dari desa

Setelah puas menjelajah Desa Ranu Pani berikut sarapan pagi di warung makan depan pos registrasi pendakian Gunung Semeru, Tim Terios 7 Wonders kembali melanjutkan perjalanan panjang menuju Taman Nasional Baluran yang terletak di Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur. Jalur keberangkatan hari ke-6 sama dengan malam sebelumnya. Via hutan Lumajang. Arah tenggara Desa Ranu Pani.

Odometer digital Daihatsu Terios 7 yang bertransmisi manual menunjukkan angka ‘1,494’ ketika kami mulai perjalanan. Hutan Lumajang yang begitu menyeramkan pada saat malam, berubah menyenangkan di kala siang.

Medan batu tak beraturan yang semalam terlihat samar, kini terlihat lebih jelas di depan sana. Kendaraan dengan ground clearance rendah tentu susah melintasi jalur berantakan ini. Aspal hanya menutupi sebagian jalan saja. Sementara sisanya, telah rusak tergerus usia. Sebentar datar, tapi lebih banyak bergelombang sedikit berbukit. Beruntung, Sang Sahabat Petualang berjarak setinggi 200mm dari permukaan tanah, sehingga jalur offroad ringan seperti ini mudah saja dilalui.

Continue reading