Category: Landscapes


Harris Hotel & Conventions Ciumbuleuit Bandung (Night n Day)

Harris Hotel & Conventions Ciumbuleuit Bandung (Night n Day)

Bandung, May 8, 2015 – Putih, bersih, terang, nyaman, dan terasa lapang. Begitu kira-kira kesan pertama saya saat memasuki lobby HARRIS Hotel & Conventions Ciumbuleuit, Bandung. Aksen orange kentara di mana-mana. Mulai dari seragam sampai pajangan dinding ruang. Warna yang memancarkan kehangatan dan kebahagiaan. Stimulasi energi merah berpadu dengan keceriaan kuning.

Segelas bandrek hangat segera menyambut tamu yang baru datang. Bukan cuma lewat mata, signature warna HARRIS, rupanya bisa dinikmati juga lewat cita rasa.

Karena seluruh proses check-in telah diurus dari Jakarta, teman-teman Blogger dan Media hanya butuh waktu sebentar menunggu proses pembagian kamar. 2 kunci, 1 kamar, 2 orang. 212. Wiro Sableng.

Continue reading

Gunung Kerinci berlatar depan Perkebunan Teh Kayu Aro

Yang namanya waktu, seminggu itu, ternyata cepat juga ya. Perasaan baru kemarin tayang artikel Gunung Kerinci pertama, sekarang sudah harus tayang lagi artikel yang kedua. Ngomong-ngomong, kalian sudah baca artikel pertama—terkait perjalanan panjang dari Jakarta ke Kayu Aro yang penuh drama itu?

Kalau belum, ada baiknya artikel itu dibaca juga, karena ia masih satu kesatuan dengan yang akan kita bahas sekarang. Di artikel ini, saya akan membahas pengalaman mulai dari suka duka bermalam di Basecamp Jejak Kerinci, hingga proses pendakian menuju Shelter 3. Tak lupa, satu-dua data langka saya tebar di dalamnya. Baiklah, supaya tidak berlama-lama, mari kita mulai saja kelanjutan ceritanya…

Continue reading

Ini adalah sebagian kecil cerita perjalanan panjang kami bertiga (saya, Ika, dan Fery) menjelajahi bagian timur Pulau Jawa. Sebuah perjalanan yang pada awalnya akan kami bawa hingga ke tanah Sumbawa, namun terpaksa ditunda karena terkendala waktu dan biaya. Adalah Gunung Bromo, yang berdiam dalam rangkuman amphitheater Kaldera Tengger – yang menjadi destinasi kami berikutnya.

Tidak hanya cerita dari kami bertiga, artikel ini juga berbalut fakta yang seringkali terlewatkan begitu saja, bahkan boleh jadi, belum pernah kalian dengar sebelumnya. Lalu, pengalaman seperti apakah yang ditawarkannya untuk kalian?

Ikuti terus ceritanya.

***

Ranu Kumbolo Semeru

Ranu Kumbolo Semeru

Berhari masa ‘survival” di Gunung Semeru telah berhasil kami lalui. Di atas bak mobil Jeep putihnya, Pak Puji sibuk mengatur posisi keril kami. “Biar gak mengganggu,” katanya, seraya menata tumpukan di pangkal bak sana.

Semua orang telah siap pada posisi masing-masing. Ika memilih duduk di depan, sementara yang lain, pilih menumpang di bak belakang. Alasannya sederhana, supaya leluasa menikmati sejuknya udara, juga, demi kemudahan melayangkan pandangan sejauh-jauhnya saat di perjalanan nanti.

Continue reading

 “Legenda Pulau Pahawang bermula ketika seorang nahkoda kapal bernama Pak Hawang, dengan seorang anak-buahnya, Mandara, terdampar di pulau ini. Ratusan tahun yang silam.”

Atau…

“Menurut sejarahnya, yang pertama kali menemukan Pulau Pahawang adalah seorang perempuan berdarah Cina-Betawi bernama Mpok Awang. Dia datang dan tinggal disini pada tahun 1800-an dulu. Buktinya ada. Sebuah makam keramat di puncak bukit batu. Di tengah pulau sana.”

Atau…

Gabungan keduanya?

Jadi, cerita mana yang benar?

Continue reading

Halo teman-teman sekalian. Apa kabar? Adakah dari kalian yang berpikir untuk melakukan perjalanan lintas Surabaya-Madura-Bali? Kalau ada, kebetulan 3 kali nih—bukan ‘sekali’, karena tujuannya memang ada 3—disini saya akan berbagi sedikit pengalaman yang tertuang dalam bentuk sebuah rencana perjalanan. Seperti judulnya, saya akan meng-cover area-area seperti  Surabaya (House of Sampoerna) – Madura (kuliner Bebek Songkem Pak Salim) – serta Bali (Pulau Menjangan—snorkeling, Bukit Campuhan—trekking, Nusa Lembongan—snorkeling, dan Nusa Ceningan—exploring.)

Informasi yang disajikan pada itinerary kali ini sengaja dibuat sedetail mungkin, karenanya ia akan terasa sangat panjang. Ini dilakukan semata-mata untuk lebih mempermudah anda mendapatkan referensi dalam melakukan perjalanan – seperti yang pernah saya lakukan sebelumnya.

Perhatian!

Dikarenakan artikel ini relatif panjang, serta daya tahan membaca setiap orang yang berbeda-beda, bila anda merasa tidak kuat, lambaikanlah tangan ke arah kamera disana, disana, dan disana. Selanjutnya, tim kami akan mendatangi anda. Dan anda dinyatakan kalah pada uji nyanyi kali ini… #apasi @,@

Sudah sudah… cukup bercandanya. Sekarang mari kita masuk ke point utama.

 

DAY 0

(Perjalanan Menuju Surabaya)

18.30 – Berangkat menuju Surabaya—Stasiun Pasar Turi

Ketika berangkat, saya menggunakan Kereta Api Gumarang. Namun, bagi anda yang ingin memodifikasi itinerary ini dengan menggunakan kereta lain dan waktu keberangkatan yang berbeda, berikut saya berikan beberapa alternatif yang dapat digunakan—berkaitan dengan tujuan Stasiun Pasar Turi:

Gumarang (Bisnis/Eksekutif)

Stasiun Jakarta Kota (15.15) – Stasiun Pasar Turi (04.06)

Stasiun Pasar Senen (15.45) – Stasiun Pasar Turi (04.06)

Argo Bromo Anggrek Pagi (Eksekutif)

Stasiun Gambir (09.30) – Stasiun Pasar Turi (19.13)

Argo Bromo Anggrek Malam (Eksekutif)

Stasiun Gambir (21.30) – Stasiun Pasar Turi (07.10)

Sembrani (Eksekutif)

Stasiun Gambir (19.30) – Stasiun Pasar Turi (06.25)

Sebagai catatan saja, pada January 22, 2013 yang lalu, harga tiket Kereta Api Gumarang (kelas Bisnis) dengan tujuan Stasiun Pasar Senen – Stasiun Pasar Turi saya dapat seharga 170,000Rp. Karena harga tiket kereta yang ditetapkan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) selalu berubah-ubah, jauh-jauh hari sebelum perjalanan dimulai, lakukanlah riset harga tiket—termurah—terlebih dahulu, demi menekan pengeluaran biaya perjalanan.

Continue reading

Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada teman-teman sekalian atas keterlambatan pengumuman pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 19 kali ini. Tuntutan hidup membuat saya—mau tidak mau—jadi sok sibuk. Harap dimaklumi ya. 😀

***

Seperti yang dialami para pemenang sebelumnya, kesulitan memilih pemenang berikutnya pun turut saya rasakan. Submisi foto perjalanan yang sesuai tema cukup banyak. Dan dari yang banyak tersebut, beberapa telah saya nobatkan sebagai kandidat pemenang – ketika saya lihat untuk pertama kalinya (diikut-sertakan dalam turnamen ronde 19 kali ini.)

Hal berikutnya yang harus dilakukan adalah memilih satu orang pemenang diantara beberapa kandidat terpilih tadi. Tentu ini bukan perkara mudah, apalagi nilai masing-masing kandidat tersebut saling mengisi pada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih sang juara.

Continue reading

Ceningan | Cara Bali Adu Nyali

Peta Ceningan Jumping Cliff

Peta Ceningan Jumping Cliff

Mentari siang di Nusa Lembongan terik menyengat kulit. Warna eksotis sawo matang kulit saya, dengan cepat berubah legam, persis seperti Dakocan. Padahal hanya snokeling beberapa jam.

Target operasi kami berikutnya adalah Blue Lagoon – Ceningan Jumping Cliff. Karena lokasinya yang relatif jauh, saya dan tiga teman lain tentu membutuhkan kendaraan untuk kesana. Motor. Satu-satunya kendaraan darat yang tersedia di Nusa Lembongan. Kebetulan, kami sudah menginap di Tarci Bungalows, Jungut Batu (0812.3906.300 ) sejak satu hari sebelumnya, jadi, tidak terlalu sulit untuk mencari jasa penyewaan motor di Nusa Lembongan. Segala keperluan kami cukup terfasilitasi dan terbantu oleh para karyawan Tarci Bungalows yang cukup ramah.

Sepanjang pengetahuan saya, Tarci Bungalows—yang masih satu area dengan Agus Shipwreck Bar & Restaurant ini, menyandang titel “Recommended” dari Lonely Planet. Karena itu pula, kami berempat memilih penginapan ini sebagai tempat bernaung sementara dikala terik dan hujan. Tsaahhh…

Continue reading

Sarapan pagi di Argasoka Bungalows

Pagi merambat cepat di langit Ubud, Bali. Hujan diluar penginapan—Argasoka Bungalows—membuat gravitasi disekeliling tempat tidur kami berempat berada di level 10G. Sulit sekali memisahkan badan dari ranjang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan.

“Besok sarapan jam delapan ya mas… mbak…”

Ingatan pada kalimat sederhana ini, ternyata mampu mengurangi gravitasi tempat tidur kami ke level 5G. Gaya travellingparlente padahal kere” yang kami anut, membuat pemberitahuan dari karyawan penginapan tersebut terdengar seperti angin surga, layaknya kata-kata pujangga di telinga. Dari sekilas survey yang kami lakukan, harga makanan di Ubud relatif mahal untuk ukuran kantong kami. Dan kata kunci “kere” ini jugalah yang akhirnya me-normalisasi gravitasi disekeliling ranjang menjadi 1G.

Argasoka Bungalows - Family Superior Room

Argasoka Bungalows – Family Superior Room

Continue reading

Gunung Papandayan, Garut

Secara administratif, Gunung Papandayan terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat. Dengan ketinggian 2665 mpdl, Gunung Papandayan termasuk gunung berapi aktif. Letusan pertama yang tercatat terjadi pada tahun 1773. Menjelang tahun 2013, tercatat beberapa kali status Gunung Papandayan mengalami perubahan antara Siaga dan Waspada.

Lantas, bagaimana cara menuju Gunung Papandayan? Dan apa saja aktifitas yang bisa kita lakukan disana? Jawabannya bisa teman-teman temukan di artikel sebelumnya, yaitu Itinerary Gunung Papandayan.

Di artikel ini, saya khususkan untuk photo essay Gunung Papandayan. Apabila teman-teman memiliki pertanyaan seputar pendakian yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu, silahkan diajukan. Dengan senang hati, saya akan membantu semampunya. [BEM]

 

Gunung Papandayan 01

Terlihat Gunung Cikuray meruncing disebelah kanan. Dikejauhan.

 

Gunung Papandayan 02

Pohon Cantigi terlihat mendominasi dibagian foreground.

 

Gunung Papandayan 03

Menara Pandang yang biasa digunakan untuk memantau aktifitas Gunung Papandayan secara manual.

 

Continue reading

Itinerary Gunung Papandayan

Gunung Papandayan

[ DAY 0 ]

22.30 –Menuju Terminal Guntur, Garut. Dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta.

Dengan menumpang bus AC Ekonomi Wanaraja yang bertarif 35,000 Rp per-orang, kami menuju Kota Garut malam itu. Dari luar, bus yang kami tumpangi ini terlihat bagus. Tapi dari dalam, jelas kurang terawat. Katup AC melompong. Airnya bocor membasahi kursi penumpang di bagian belakang. Kursi penumpangnya pun ikut bergerak maju-mundur kapan pun kami bergerak. Supirnya ugal-ugalan mengendalikan bus selepas dari Jakarta. Gaya mengemudinya jelas membahayakan penumpang. Walaupun mungkin tidak semua supir armada ini melajukan bus secara ugal-ugalan, saya tetap tidak merekomendasikannya untuk anda, kecuali terpaksa.

Sambil melaju, kenek mengutip ongkos dari para penumpang. Semuanya mudah ditagih, kecuali satu orang yang kebetulan duduk disebelah saya. Beberapa kali ditagih, tetap tidak bereaksi. Pembawaannya tenang seolah tak ada beban. Beberapa orang penumpang berinisiatif membantu sang kenek menagih ongkos kepada orang ini, namun tetap saja ia tak bergeming. Kegaduhan yang terjadi jelas-jelas tak dihiraukannya. ‘Mati kali,’ ucap salah seorang penumpang disebelah sana dengan wajah datar. Ucapan penumpang tersebut sontak memancing gelak tawa dari penumpang lainnya, termasuk saya. Namun tetap saja, tak membawa perubahan.

Continue reading

 

Sarapan Pagi di Ranu Kumbolo

 

Akhirnya sampai juga kita di serial terakhir cerita pendakian kami bertiga ke Puncak Mahameru. Sebuah perjalanan, yang bahkan sejak dimulai pun sudah begitu akrab dengan masalah. Mulai dari kehabisan tiket kereta, terpaksa berpindah-pindah kota sampai 5 hari lamanya, ketinggalan angkutan sewaan ke Ranu Pani, nyasar mencari tebengan bermalam, sampai deg-degan bakal kehabisan uang di Ranu Pani.

Itu pun belum ditambah dengan berbagai masalah yang harus kami hadapi selama masa pendakian berlangsung (akan dibahas di artikel ini). Jadi, bagaimana kelanjutannya? Ikuti terus ceritanya…

FYI: artikel ini merupakan versi revisi per January 27, 2017 (versi pertama di-upload pada October 02, 2012). Perbaikan besar-besaran (sekitar 90%) terjadi pada pemilihan kata-katanya saja agar lebih enak dibaca, plus sedikit penambahan informasi sisipan. Sementara jalan ceritanya masih sama dengan sebelumnya.

 

***

SEMERU – July 02, 2012

***

 

06.30    Bangun pagi

Ranu Kumbolo pagi itu sangat dingin.  Jaket, sleeping bag, sarung tangan, dan kaus kaki masih membelit tubuh saya seakan kekasih tersayang yang tak pernah mau dilepaskan.

Berbekal separuh nyawa dan streching seadanya (baca: ngulet), pagi ini kami mulai dengan ritual masak-memasak dari dalam tenda—masak air.

Suhu udara di luar sana masih terlalu dingin. Mau keluar, rasanya tidak mungkin. Tubuh ini masih butuh adaptasi. Sebagai booster, segelas teh hangat harus segera dibuat. Mana tahu bisa mengumpulkan nyawa yang separuhnya lagi.

Jam istirahat tadi malam benar-benar kurang. Badan saya jadi gampang goyang kiri-kanan. Kadang brikden sedikit begitu terkena angin dingin biar kata cuma se-emprit. Untung ada kompor yang bisa dijadikan penghangat badan. Tapi tetap gak boleh ngantuk, kalau gak mau raup air mendidih.

Continue reading

Artikel ini adalah kelanjutan kisah perjalanan panjang kami mencapai Gunung Semeru di artikel sebelumnya. Supaya teman-teman mendapatkan gambaran detailnya, alangkah baiknya bila teman-teman membaca kisah tersebut terlebih dahulu baru kemudian dilanjutkan dengan membaca artikel ini.

Tapi… bila teman-teman ingin langsung membaca artikel ini pun tidak menjadi masalah, wong itu hak teman-teman sekalian ya tho? Apapun keputusannya semoga artikel ini bisa bermanfaat, sekaligus menghibur teman-teman sekalian, selamat membaca… :D.

 

 

Malang – Semeru: July01, 2012

 

06.15    “Checkout” rumah Cak Nu. Jalan Panglima Sudirman Gang III, Jeru.

Pagi menyapa malam secepat kejapan. Saya, Ika dan Fery harus bekerja keras melawan kantuk dan lelah yang masih tersisa dari berhari perjalanan menuju Tumpang. Begitu Jeep yang dikemudikan pak Puji datang dipelataran rumah Cak Rusenu, layaknya copet beroperasi, gerakan kami tidak menyisakan satupun ruang gerak sia-sia.

Hap! Semua keril kami sudah nangkring di bak belakang Jeep pak Puji.

Namun saking cepatnya gerakan kami bertiga, tak satupun dari kami yang terpikir untuk pamit kepada Cak Nu, sebagai wujud rasa terima kasih atas paksaan tumpangan dan kebaikan hatinya malam tadi. Sebuah kecepatan gerak yang tangan copet pun tak akan mampu menandinginya. Maafkan kami Cak Nu, bukan begitu maksud kami sebenarnya, … tidaaaakkkk!!! … (sengaja dibuat lebai).

Continue reading

Gunung Sintren Wonogiri

Gunung Sintren Wonogiri

Gunung Sintren ini letaknya hanya 30-40 menit berjalan kaki dari tempat saya menginap di Dusun Timoyo, Desa Bero. Ketinggiannya saya perkirakan seperempat kali dari Gunung Margoboyo. Cara mencapai kesana pun cukup mudah. Dengan menyusuri jalan-jalan desa yang telah dibeton sebagiannya.

Ditengah perjalanan…

‘Itu suara apa mas? Tau gak?’, Mendut tiba-tiba memecah keheningan dengan menanyakan sumber suara yang bunyinya seperti orang sedang menebang pohon dengan menggunakan kapak.

‘Lho, disini banyak juga toh yang nebang-nebang pohon?’, saya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

‘Bukan mas, itu Burung Pelatuk’, jawab Mendut. ‘ohh, Burung Pelatuk toh. Lho kamu gak coba tangkep tuh burung terus dijual?’, Tanya saya lagi. Continue reading