Satwa Taman Nasional Baluran

Satwa Taman Nasional Baluran

Pada kunjungan kali ini saya cukup beruntung daripada tahun lalu, karena selain berkesempatan menjelajah Indonesia dengan sang Sahabat Petualang, Daihatsu Terios, dalam satu waktu, 23 teman baru juga saya dapatkan. Bersama dengan keluarga besar Terios 7 Wonders pulalah banyak cerita tentang Baluran saya dapatkan. Karena mungkin, tidak banyak dari teman-teman sekalian yang mengetahui kehidupan binatang dan tumbuhan di Taman Nasional (TN) Baluran, kali ini ijinkan saya berbagi cerita tentang mereka ya.

Banteng (Bos Javanicus)

Setahun telah berlalu ketika pertama saya datang ke tempat ini. Kala itu kandang penangkaran banteng yang posisinya berada di belakang kantor ranger Bekol baru seminggu dibangun. Kini penangkaran telah berjalan. Penghuninya 3 ekor banteng dari Taman Safai Indonesia (TSI) Prigen.

“Itu dulu dari (TSI) Prigen, Malang. Itu kan pinjem sini, terus sekarang sakingnya di sana sudah banyak, akhirnya yang dari Prigen itu dikembalikan ke sini Mas,” terang Pak Tasman yang pada malam sebelumnya memandu safari malam Tim Terios 7 Wonders. “Tapi yang dikembalikan ke sini yang masih muda.”

Dari ketiga banteng penghuni kandang penangkaran, 2 ekor adalah betina, dan 1 ekor jantan. Saat ini salah satu betina tengah hamil, “perkiraannya bulan ini (melahirkan),” ujar Pak Tasman.

Masa kehamilan banteng biasanya berumur antara 10-11 bulan. Namun masa subur ini akan sangat bergantung pada kualitas asupan makanan. Masa kehamilan 10 bulan dapat dicapai bila mutu makanannya baik. Sementara bila mutu makanan kurang baik, masa kehamilan banteng akan semakin panjang.

“Kalo makanannya kering. Gak normal. Itu bisa sampe 12 bulan. Beda dengan yang dikandangkan—di kebun binatang atau penangkaran—di sana kan makanannya selalu terjamin.”

Di Taman Nasional Baluran, banteng memiliki kebiasaan berkubang pada sore hari. Umumnya mereka akan membenamkan diri di kolam lumpur hingga 1 jam lamanya. Sementara, aktifitasnya lebih banyak di sekitar Savana Bekol pada malam hari. Selain kolam kubang, pada TN Baluran juga terdapat ‘kolam’ yang sengaja dibangun untuk kebutuhan minum satwa.

“Ini untuk satwanya mas. Jadi, air itu dinaikkan bukan untuk manusianya, tapi untuk satwanya. Jadi, tiap hari kita naikkan air itu untuk dibuang ke savana ini. Jadi, untuk minumnya itu sumbernya dari sini. Ngebor itu malah. Dari kedalaman 47 meter.”

Banteng yang datang untuk minum, biasanya mulai dari 7 ekor hingga 14 ekor. Di TN Baluran, bisa dikatakan populasi mereka adalah yang paling kecil. “(Populasi) bantengnya udah mulai naik. Ada 36 ekor di sini Mas. Itu memang asli banteng jawa,” terang Pak Tasman.

Menurutnya, banteng yang ada di TN Baluran ini adalah banteng dengan ukuran paling besar se-Asia. Walau Taman Nasional Alas Purwo memiliki bantengnya sendiri, namun ukurannya masih lebih kecil ketimbang yang ada di TN Baluran.

Kerbau (Bubalus Bubalis)

Berbeda dengan banteng, kerbau liar di TN Baluran jumlahnya jauh lebih banyak. Ratusan, bahkan mungkin ribuan. “Kemaren itu kan tahun ‘86 ‘85 dari anu (pengelola TN Baluran) kan dikasihkan ke masyarakat. Ada 2,000 lebih kerbaunya itu. Itu 2,000 lebih yang dikasihkan ke masyarakat penyangga itu,” terang Pak Tasman.

Pemberian kerbau liar ke masyarakat penyangga bukan tanpa alasan. Pada tahun-tahun yang baru disebutkan Pak Tasman, penjarahan yang terjadi di TN Baluran masih relatif marak. Selain untuk menjaga populasi agar tidak berlebih, pemberian ini juga dimaksudkan supaya masyarakat penyangga taman nasional ini tidak masuk ke hutan lagi.

“2,000 itu nangkapnya gimana Pak?” Bang Ucok, yang sejak awal mengikuti perbincangan saya, kemudian angkat suara.

“2,000 ekor itu nangkapnya pake jebakan,” jawab Pak Tasman. “Itu dalam waktu 1 tahun mungkin Mas. Bertahap.”

Penjarahan ini tidak hanya terbatas pada kerbau, rusa pun ikut dijarah untuk diambil dagingnya. Namun sekarang telah berbeda keadaannya. Masyarakat penyangga telah mengerti, sehingga populasi binatang-binatang yang biasa dijarah tersebut, lambat laun telah meningkat. Saking banyaknya, kadang ada pula yang sampai keluar ke jalan raya.

“Kalau pagi itu biasanya yang keluar ya kerbau, trus rusa. Ya, banyak Mas. Itu yang paling banyak dari hutan jatinya sana. Nah, itu kerbaunya masih banyak di sana,” ujar Pak Tasman. Sementara pergerakan binatang-binatang tersebut lebih sering ditemui di sepanjang Savana Bekol hingga Bama. “Jadi bulak-baliknya cuma gitu thok. Wis.”

Burung

“Kalo burung-burung itu di arah Bamanya.” Pak Tasman memulai topik baru. “Nanti dari portal kecil itu lho, masuk. Terus nanti dari Bama itu jalannya sampe ke Kalitopo. Nah, itu bisa nemuin Elang. Burung-burung lain ya paling Rangkok, Kucer, Kodekan, Jumatak Ijo, biasanya dia kelihatan di dahan.”

Sayangnya, dari beberapa nama burung yang ia sebutkan di atas, hanya Burung Rangkok lah yang bisa saya kira-kira bentuknya. Yang lain tidak. Karena terus terang, baru kali ini pula saya mendengar namanya. Heee.

Di antara beberapa jenis burung yang ada di TN Baluran, Burung Merak termasuk jenis yang banyak dinanti-nanti pengunjung. Karena, selain bulu-bulunya yang indah, bentuk burung ini juga—bagi saya—paling mudah dibedakan dengan jenis lainnya.

Menurut Pak Tasman, Burung Merak di tempat ini seringkali diburu karena bernilai ekonomis tinggi. Tapi biasanya hanya untuk diambil ekornya saja. “Untuk reog itu. Kan mahal itu Mas.” Dia menambahkan, “kalo dijual 1 biji itu 3,000Rp. Bahkan 1 merak itu ada 180 helai.”

Ada satu lagi cerita menarik yang disampaikan Pak Tasman. “Rusa itu nanti setelah kawin, tanduknya akan lepas. Merak juga gitu. Nanti kalo sudah kawin, dia bulunya akan rontok. Tapi tumbuh lagi. Itu dikumpulin orang. Seharusnya gak boleh. Tapi kan gak terkontrol.”

Dari keterangannya tadi, kiranya, tak mengherankan, jika burung-burung eksotis yang bisa kita jumpai di Savana Bekol tiap pagi hari ini, kemudian banyak menjadi incaran orang.

“Yang ekornya panjang itu.” Baik hati, Pak Tasman memberi ciri-ciri, siapa tahu ada diantara kami, atau jangan-jangan kami semua malah belum tahu.

Pada safari malam sebelumnya, seekor Burung Camar tiba-tiba saja terbang ke tengah-tengah kami. Entah apa maksudnya. Begitu disenter, ia hanya berlompatan ke sana ke mari tak tentu arah. Mungkin lupa cara terbang. “Kalo kena lampu gak bisa ngeliat dia. Itu kan burung-burung malem tho.” Terang Pak Tasman. “Selain Camar, yang biasanya keluar malam itu Cabak Kota, dan Burung Hantu.”

“Ooooo…,” kata saya.

Balasan percakapan standar yang biasanya mencerminkan 2 hal. Tanda baru mengerti. Atau tidak tahu sedang dibohongi. Tapi, untuk kasus Pak Tasman, jawaban “ooo” tadi, tentu merujuk pada hal  yang pertama ya. :p

Binatang-binatang lain

Yang namanya hutan, tentu banyak binatang. Bicara tentang rusa Baluran, tentu kalian sudah paham kan? Karenanya mari kita abaikan untuk sementara waktu. Mari kita bahas binatang melata yang namanya ular.

Di TN Baluran, ular biasa menampakkan diri pada musim hujan. Mereka turun ke jalan. “Tapi dia cuma ngagetin di jalan ini, ularnya itu,” terang Pak Tasman seraya menunjuk jalan utama Bekol-Bama yang seluruh aspalnya telah rusak total.

“Kalo sini namanya hutan Mas ya. Ada yang saponjambe (satu pohon besar) itu, pernah itu. Itu ukurannya sekitaran 6 meter. Kemaren di depannya Wisma Banteng, yang paling selatan itu, piton itu ada 4 meter kayaknya. Tapi arah jalannya ke hutan sana itu. Arah barat.”

Pada jalan keluar Bekol-Batangan pun Pak Tasman pernah menemui seekor ular besar, “Dari sini kira-kira itu 4 kilo (meter) lah. Di situ ada ular tu puaanjang itu. Ularnya melintang di jalan.”

Apakah itu cukup mengerikan untuk kalian? Tenang. Selain binatang-binatang yang menyeramkan, TN Baluran juga punya kok serangga yang akan memanjakan mata. Terutama bagi kaum hawa. Kupu-kupu.

Ya. Kupu-kupu. Bila kalian suka dengan serangga indah ini, datanglah pada bulan Agustus, karena hanya pada bulan-bulan itu saja mereka ada. Sayangnya, kami ke sini tidak bertepatan dengan musim kupu-kupu.

“Kalo kupu,” kata Pak Tasman malas mengulang, “udah lewat Mas, udah gak musimnya. Kemaren, bulan 8 kemaren. Di sepanjang jalan (Bekol – Bama) ini. Hanya bulan 8 aja. Soalnya, di akhir bulan 8 itu kan genangan air masih ada kan itu. Dia kan minumnya di jalan-jalan itu. Di jalan itu buanyak itu. Ribuan itu. Kupu-kupu itu.” Kali ini, ia tak segan mengulang kata ‘kupu,’ apalagi kata ‘itu.’

Sang Predator, Akasia

Pada saat Tim Terios 7 Wonders bertandang ke TN Baluran, program yang sedang difokuskan pengelola taman nasional adalah pembasmian tumbuhan Akasia. Tumbuhan yang pada awalnya dianggap bermanfaat ini, lambat laun berubah menjadi mudharat bagi tumbuhan asli di sekitar tempat ia hidup. Ia telah menjadi predator.

Pada musim kering, rumput-rumput liar yang tumbuh di savana Baluran begitu mudah terbakar. Karenanya pada tahun 60-an dulu, sebelum Baluran ditetapkan sebagai Taman Nasional, didatangkanlah tumbuhan ini.

“Untuk pencegahan kebakaran itu lho Mas, karena dia gak gampang terbakar. Nah efeknya, yang belakangan ini, semua tanaman malah dihabisi sama Akasia itu. Sedangkan tanaman Akasia, kan, bukan tanaman anu, ndep-nya sini—tanaman asli—jadi, bisa gak bisa, harus dimusnahkan itu,” kata Pak Tasman. “Itu masuknya itu, yang jaga namanya Mbah Noto itu. Biar satwanya gak keluar.”

Bertahun-tahun penelitian, dengan dibantu Biotrop dan Litbang. Pihak pengelola TN Baluran, akhirnya mencapai sedikit titik terang. “Jadi, kemaren itu sudah bisa menemukan. Jadi, batangnya itu dikasih obat. Itu bisa mati. Jadi gak usah dicabut lagi.” Kata Pak Tasman lagi.

“Tapi, untuk perawatannya tetep itu, pencabutannya yang kecil-kecil. Nyari bibitnya, yang kecil-kecil itu dicabut. Kalo Akasianya sendiri, buahnya yang muda kecil-kecil dimakan (rusa). Daunnya enggak. Itu kan makanannya jerapah itu.”

“Mbah Noto tadi siapa Pak?” saya penasaran dengan tokoh yang tiba-tiba disebut namanya.

“Mbah Noto itu dulu yang kerja di sini. Yang masih pake sepeda onthel, belum ada jalannya itu. Yang nemukan Bekol itu kan dari kata Bukol, tanaman itu kan. Nah Bukol tanaman itu, dijadikan Bekol ini.”

***

Bagaimana? Adakah di antara balada flora dan fauna Baluran ini pernah kalian dengar? Kalau saya, sebagian besar belum. Alhamdulillah. Hehehe. Tapi dari sini, saya jadi tahu lebih. Harapannya, kalian pun merasa demikian. Akhirnya, mewakili Tim Terios 7 Wonders, salam hangat untuk kalian. [BEM]