Danau Ranu Pani dilihat dari desa

Danau Ranu Pani dilihat dari desa

Setelah puas menjelajah Desa Ranu Pani berikut sarapan pagi di warung makan depan pos registrasi pendakian Gunung Semeru, Tim Terios 7 Wonders kembali melanjutkan perjalanan panjang menuju Taman Nasional Baluran yang terletak di Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur. Jalur keberangkatan hari ke-6 sama dengan malam sebelumnya. Via hutan Lumajang. Arah tenggara Desa Ranu Pani.

Odometer digital Daihatsu Terios 7 yang bertransmisi manual menunjukkan angka ‘1,494’ ketika kami mulai perjalanan. Hutan Lumajang yang begitu menyeramkan pada saat malam, berubah menyenangkan di kala siang.

Medan batu tak beraturan yang semalam terlihat samar, kini terlihat lebih jelas di depan sana. Kendaraan dengan ground clearance rendah tentu susah melintasi jalur berantakan ini. Aspal hanya menutupi sebagian jalan saja. Sementara sisanya, telah rusak tergerus usia. Sebentar datar, tapi lebih banyak bergelombang sedikit berbukit. Beruntung, Sang Sahabat Petualang berjarak setinggi 200mm dari permukaan tanah, sehingga jalur offroad ringan seperti ini mudah saja dilalui.

Tuhan tak menyia-nyiakan kebaikan

Lepas dari area hutan Lumajang, Ekspedisi Hidden Paradise menjejak aspal ke arah timur—Kabupaten Jember. Begitu melewati Terminal Tawang Alun, Jember, ingatan saya tiba-tiba saja terlempar mundur sejauh 1 tahun.

Saat itu, rentang perjalanan yang saya lakukan bersama 2 orang teman, sama panjangnya dengan perjalanan Tim Terios 7 Wonders ini – 2 minggu. Kami telah memasuki fase akhir penjelajahan Jawa Timur. Kembali ke kenyataan yang sebentar lalu dilupakan. Kota Jakarta.

Di dalam sebuah angkot, seorang ibu separuh baya yang baru kami kenal, tiba-tiba berkata kepada saya setengah berbisik, “Mas, tuker duit ada?” sambil menyodorkan uang pecahan 50,000Rp ke arah saya.

“Wah, maaf Bu. Gak ada.” Jawab saya. Nada serupa juga diucapkan kedua teman lain, ketika mereka dihadapkan pada pertanyaan yang sama. “Untuk apa memang Bu?” tanya saya menyelidik.

“Untuk si Mbah itu.” Jarinya yang menunjuk sengaja disembunyikan, supaya tidak ketahuan oleh nenek tua yang tampak linglung duduk termenung di depan pintu angkot yang sedang melaju kencang. Ekor matanya mengisyaratkan nada yang sama seperti jari telunjuknya.

Menangkap niatan baik si ibu, cekatan saya ambil uang pecahan Oto Iskandar Dinata dari saku celana. “Ya sudah, pake ini aja Bu.” Kata saya—yang tak sengaja, ikut—setengah berbisik. Seraya menyerahkan lembaran uang tadi.

“Oh. Jangan Mas. Ibu tuker aja.” Katanya.

“Saya gak ada Bu. Sudah, pake ini aja gak papa.” Jawab saya cepat.

“Enggak! Ini Ibu tuker!” Suaranya tak sengaja meninggi penuh penekanan, lebih dari nada percakapan sebelumnya. Akibatnya, dengan wajah sayu, Si Mbah refleks menengok ke arah kami berdua. Dang!

Sia-sia sudah bisik-bisik tetangga yang baru dilakukan barusan. Karena tak ada yang mau menyerah, akhirnya saya putuskan untuk mengalah. Lembaran uang yang semula telah ‘diniatkan,’ kembali saya masukkan. Sepertinya begitu lebih baik daripada rencana sedekah berakhir dengan pertumpahan darah. “Maaf Bu, saya gak ada kalo tuker.” Dan pertikaian selesai.

Dengan cepat percakapan kami berempat kembali seperti sedia kala. Membahas tema-tema ringan seputar perjalanan. Sementara perselisihan barusan begitu saja terlupakan, seolah tak pernah ada kejadian.

Monggo Mbah. Di sini tempatnya. Sudah sampe.” Dengan ramah, supir angkot memberitakan tujuan yang telah tercapai kepada sang nenek tua.

Tanpa bicara apa-apa, tubuh renta yang terbalut jarik dan kebaya khas orang-orang tua jawa itu bersiap turun dari angkot yang kami tumpangi. Baru bergerak sedikit, ibu paruh baya yang semula adu niat dengan saya, menahan lengan kirinya. “Mbah. Ini buat sangu (uang saku).” Seraya memberikan sejumlah uang ke dalam genggaman tangan kanan Si Mbah. “Hati-hati ya Mbah,” katanya lagi.

Inggih. Matur nuwun,” jawab Si Mbah pelan. Tatapan sayunya langsung bercahaya. Wujud terima kasih yang tiada terkira.

Tak lama setelahnya, sang ibu paruh baya juga sampai di tujuannya. “Mas-Mbak, gak usah bayar (angkot) ya. Ini sudah Ibu bayarin sekalian,” katanya.

“Jangan Bu! Kita ada kok!”

“Sudah gak papa. Mari, Ibu turun duluan ya.” Sambil menyanggah tolakan kami, ia melangkah turun angkot. “Hati-hati ya kalian.” Senyumnya masih mengembang.

“Iya Bu. Terima kasih ya.” Jawab kami kompak.

Siapa yang menyangka, niatan baik berbuah manis. Walau kami belum saling kenal, ia ikhlas membayar ongkos kami bertiga dari tengah kota, ke Terminal Tawang Alun, Jember. Terima kasih ya Bu. Semoga rejeki Ibu berlimpah. Amin.

Ritual santap yang selalu terlambat

Angka odometer Daihatsu Terios 7 yang bertransmisi manual, kembali berubah. Kiranya, kami telah berkendara sejauh 131 kilometer. Tim berbelok ke Waroeng Pring Ijoe di Jalan Raya Sultan Agung Arjasa, Jember. Tujuannya apalagi, kalau bukan untuk menghalau rasa lapar. Jarak warung makan ini sekitar 500 meter dari Terminal Arjasa.

Waroeng Prieng Ijoe, Arjasa, Jember

Waroeng Prieng Ijoe, Arjasa, Jember

Jangan lupa isi ulang battery HT, HP, dan kamera

Jangan lupa isi ulang battery HT, HP, dan kamera

Konsentrasi kegiatan tim terbagi. Sebagian beristirahat sambil memesan menu makanan, sebagian yang lain menuju musholla belakang untuk melaksanakan sholat jamak, dan sebagian yang lainnya lagi menggunakan waktu tunggu menu untuk mandi.

Dan seperti biasa… menu yang kami pesan selalu datang terlalu lama.

Sambil menunggu, Tim Terios 7 Wonders diberkahi hujan pertama setelah perjalanan sepanjang 6 hari yang cerah. Debu-debu Merapi, Desa Kinahrejo, yang menempel pada eksterior 7 Daihatsu Terios, sengaja dibiarkan apa adanya. Kalau ada yang dibersihkan, itupun hanya kaca bagian depan. Dengan begini, kesan Sang Petualang tentu lebih garang kan?

Table Number 9

Table Number 9

Sambil tunggu pesanan, kita nonton Formula One

Sambil tunggu pesanan, kita nonton Formula One

Es Degan Fantasi

Es Degan Fantasi

Butuh 45 menit agar pesanan kami tersaji. Padahal untuk menghabisinya hanya butuh waktu 10 menit saja. Teman-teman yang lain baru saja kelar makan, tapi mengapa pesanan saya gak keluar-keluar!? Apakah bandeng tanpa duri memberi pe-er tersendiri bagi sang koki? Ah, kalau begitu, lain kali, lebih baik menghindari pesan menu serupa ini.

***

Pukul 15.37 waktu Indonesia bagian Jember. Kami baru saja selesai santap siang. Perjalanan kami lanjutkan hingga menembus Jalan Raya Maesan, Jalan Jagor Wonokromo, hingga di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kapongan #54-683.01. Pada angka odometer 1,695 tangki bensin Terios 7 diisi penuh hingga meteran bensin SPBU berhenti pada titik 267,020Rp.

Isi Bensin di Kapongan

Isi Bensin di Kapongan

1 jam lewat 20 menit kemudian, kami telah sampai di pintu gerbang Taman Nasional Baluran, Batangan. Beberapa Terios “berhasil lolos,” sementara yang di belakangnya, tertahan oleh seorang petugas jaga.

“Selamat malam Pak,” katanya. “Dari mana ini?”

“Monitor monitor!” ujar Toni di depan mic Handy Talkie (HT) hitam yang selalu menemani tim di sepanjang perjalanan. “Kita ada issue sedikit. Tolong berhenti dulu. Kemarin yang koordinasi (dengan pihak Baluran) siapa ya?”

Pak Agam yang baru saja turun dari group Terios depan langsung memberi penjelasan, bahwa Person in Charge (PIC) kami sebelumnya adalah Pak Santoso dari PT Graha Citra. Petugas yang semula berdiri, memastikan kebenaran data yang ia terima kepada rekan kerjanya di pos jaga sana. Kebenaran keterangan telah dikonfirmasi. Kami lanjutkan kembali sisa perjalanan sejauh 12 kilometer ke arah Savana Bekol—dari Pos Batangan.

Dan akhirnya, Tim Terios 7 Wonder sampai juga di Wisma Bekol—setelah menempuh perjalanan sejauh 10 jam perjalanan. Dari pagi Desa Ranu Pani, sampai malam Taman Nasional Baluran. Walau tubuh terasa lelah, akhirnya perjuangan terbayar sudah. [BEM]