Tag Archive: Terios7Wonders


Pantai Tangsi (Pink Beach), Tanjung Ringgit - Lombok 3

Pantai Tangsi (Pink Beach), Tanjung Ringgit – Lombok 3

Tiada gambaran kami hendak ke mana begitu keluar dari gerbang SMA Al-Masyhudien NW Kawo. Yang ada di pikiran saya hanya pulang kembali ke penginapan. Membayar hutang tidur yang tak juga tertutup. Walau sesekali tidur di perjalanan, nyatanya tetap saja tak bisa mengembalikan kesegaran badan. Saya hampir-hampir bosan. Niat hati ingin sekali menggantikan Boski pegang kemudi, tapi apa daya, bakat saya tak punya. Kalau sudah begitu, lebih baik tidur lagi saja.

1.5 jam mata terpejam seharusnya sudah membawa saya ke alam mimpi, sayangnya, telinga yang masih terjaga menahan saya di 2 dunia berbeda; alam sadar dan tidak sadar. Chaos.

Entah kenapa, saya hobi sekali menggunakan kata “chaos” ini. Asalkan merujuk pada 2 hal yang saling bertentangan tapi masih dalam satu kesatuan, maka kata itu akan saya gunakan. Secara definisi, jelas tidak tepat, karena sejatinya saya terlalu menyederhanakan arti Chaos Theory itu sendiri. Kalau diterjemahkan secara suka-suka, mungkin bunyinya menjadi, “keteraturan tidak teratur dalam ketidak-teraturan teratur.” Pusing? Sama.

Continue reading

Suasana Desa Sade Rembitan di siang hari

Suasana Desa Sade Rembitan di siang hari

Masih di Pulau Lombok dengan hari yang telah berganti. Tim Terios 7 Wonders – Hidden Paradise baru saja memasuki hari kesembilan—Oktober 9, 2013. Rencananya hari ini kami akan menelusuri beberapa sisi Pulau Lombok, diselingi kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) Daihatsu.

Iring-iringan memulai hari dengan service ringan kendaraan di bengkel Daihatsu Mataram, kemudian melanjutkan ke Bandara Internasional Lombok untuk menjemput Rokky Irvayandi yang tak lain adalah teman sejawatan David Setyawan, dari PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) Jakarta.

Setengah jam menunggu, akhirnya teman kami ini datang juga. Tapi bukan berarti kami langsung pergi. Demi kebutuhan dokumentasi, semua peserta (sangat) rela unjuk gigi. Pasang senyum termanis, dengan gaya paling narsis. Yah, siapa tahu besok wajah-wajah kami terpampang di media massa. Jadi, kalau emak di kampung melihatnya, pasti beliau akan merasa bangga, kemudian memamerkan foto anaknya ke setiap tetangga.

Continue reading

Lobby Hotel Santika Mataram

Lobby Hotel Santika Mataram

Lepas makan siang di Rumah Makan Taliwang, Tim Terios 7 Wonders kembali melanjutkan perjalanan ke penginapan. Kalau kalian mengikuti cerita saya dari awal, pasti tahu kan arti kata ‘penginapan’ yang dimaksud? Ya. Dan, yang beruntung menampung tampang-tampang lusuh kami kali ini adalah Hotel Santika Mataram, Lombok. Selamat! Berarti, bukan hanya label AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) saja yang kami pertahankan hingga saat ini. Tapi juga AKAS. Antar Kota Antar Santika.

Satu jam istirahat telah berlalu. Pak Endi kembali mengumpulkan semua peserta di lobby. Kecuali panitia, kami belum tahu hendak makan di mana malam ini. “Asik nih, jalan-jalan lagi. keliling Kota Mataram malam-malam.” Bathin saya seraya menghiraukan menu makanan.

Continue reading

Pak Soimun, Mualim 1 KMP Trima Jaya 9

Pak Soimun, Mualim 1 KMP Trima Jaya 9

Seperti yang telah saya janjikan pada artikel sebelumnya, obrolan dengan nahkoda Kapal Motor Penumpang (KMP) Trima Jaya 9 saat menyeberang dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk akan dibahas di sini. Seperti apa ceritanya? Ikuti terus kelanjutannya.

Di kapal ferry KMP Trima Jaya 9, 24 peserta Ekspedisi Terios 7 Wonders – Hidden Paradise terbagi menjadi beberapa grup. Sebagian tinggal di dek dasar untuk menjaga keamanan kendaraan, sebagian pilih berkeliaran di dek penumpang, sementara sebagian yang lain pilih naik hingga dek paling atas, bahkan masuk ke anjungan—atas seijin petugas yang berwenang tentunya.

Di kursi komando, duduk seorang pria paruh baya berseragam putih-hitam lengkap dengan topi hitamnya. Kumis tebalnya menimbulkan kesan seram bagi siapapun yang melihatnya. Sekilas, pria berkulit sawo matang ini tampak seperti orang yang tak suka banyak bicara (baca: pendiam), namun begitu ia mengembangkan senyumnya, jiwa bersahabat perwira kapal penumpang KMP Trima Jaya 9 ini bisa saya rasakan.

Continue reading

Akhirnya menginjak Pulau Bali

Akhirnya menginjak Pulau Bali

Masih di hari ketujuh—October 07, 2013. Waktu bebas untuk Tim Terios 7 Wonders – Hidden Paradise menjelajah Taman Nasional Baluran baru saja habis. Selepas hunting foto di Savana Bekol hingga Pantai Bama, kini tiba saatnya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Bali. Kalau Sun Go Kong punya “Pilgrimage to the west,” maka kami punya “Journey to the east.” Kecuali perjalanan Jakarta-Sawarna, hampir pasti tak ada pergantian hari tanpa lebih jauh ke timur Indonesia.

Kecuali Enuh (videographer bin kameramen) dan Pak Endi (sesepuh merangkap team leader), komposisi tim kecil (3-4 orang per mobil) masih bertahan dari Jakarta hingga Baluran—dan sepertinya hingga ekspedisi berakhir. Tiap orang kembali ke mobil masing-masing. Saya, Boski, Uci, dan Mumun masih solid tergabung dalam Tim Terios 7.

Pukul 09.45, semua peserta bertolak dari Wisma Bekol yang dibangun pada tahun 1987, menyusuri satu-satunya jalan utama Bekol-Batangan, menuju pintu gerbang Batangan, Taman Nasional Baluran.

Continue reading

Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran

Hari ini Tim Terios 7 Wonders – Hidden Paradise telah memasuki hari ke-7—Oktober 7, 2013.  Sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali, panitia memberi kebebasan bagi para peserta untuk menjelajahi keindahan Taman Nasional Baluran yang terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Karenanya, Africa van Java ini akan saya telusuri mulai dari Savana Bekol hingga Pantai Bama.

Telat berburu sunrise Baluran sedikit banyak telah mengkonsumsi semangat saya. Kejadian-kejadian nyeleneh yang terjadi pada malam hari sampai pagi juga ikut jadi penyebabnya. Mereka membuat kesadaran saya sedikit mengambang, akibat kurangnya kualitas tidur semalam.

Sambil mengumpulkan nyawa, mata saya paksa membuka sepenuhnya. Baru sebentar bersandar pada tiang penginapan, panggilan untuk segera sarapan tiba-tiba datang. Karenanya, tanpa acara siraman muka, saya langsung ke Wisma Rusa, tempat di mana sarapan tersedia—takut gak kebagian. :p

Continue reading

Wisma Bekol, Baluran Spooky?

Wisma Bekol, Baluran Spooky?

Entah betulan atau tidak, beberapa kali saya pernah mendengar cerita, kalau Wisma Bekol (Wisma Rusa, Wisma Merak, dan Wisma Banteng) tempat kami menginap malam ini cukup angker. Demi mengetahui kebenarannya, pada artikel kali ini akan saya ajak kalian untuk membuktikannya.

Bermodal do’a sebelum tidur yang lagi-lagi lupa dibaca, berikut cerita misteri yang lumayan spooky, saya mencoba terlelap lebih cepat. Harapannya, begitu pagi menjelang, tubuh telah siap perang.

Tak lama dari pertentangan kecil seputaran adu muhrim yang terjadi sebelumnya, Giri pilih sisi master bed sebelah kiri. Kali ini dia tidur dengan memunggungi saya. Ya. Langsung memunggungi saya. Wujud pertahanan terakhir, sebagai bentuk kegelisahan yang mendalam.

Continue reading

Satwa Taman Nasional Baluran

Satwa Taman Nasional Baluran

Pada kunjungan kali ini saya cukup beruntung daripada tahun lalu, karena selain berkesempatan menjelajah Indonesia dengan sang Sahabat Petualang, Daihatsu Terios, dalam satu waktu, 23 teman baru juga saya dapatkan. Bersama dengan keluarga besar Terios 7 Wonders pulalah banyak cerita tentang Baluran saya dapatkan. Karena mungkin, tidak banyak dari teman-teman sekalian yang mengetahui kehidupan binatang dan tumbuhan di Taman Nasional (TN) Baluran, kali ini ijinkan saya berbagi cerita tentang mereka ya.

Banteng (Bos Javanicus)

Setahun telah berlalu ketika pertama saya datang ke tempat ini. Kala itu kandang penangkaran banteng yang posisinya berada di belakang kantor ranger Bekol baru seminggu dibangun. Kini penangkaran telah berjalan. Penghuninya 3 ekor banteng dari Taman Safai Indonesia (TSI) Prigen.

Continue reading

Bukan Muhrim!

Bukan Muhrim!

Mari kita flashback ke belakang. Waktu ketika Tim Terios 7 Wonders baru saja menginjak Taman Nasional Baluran, sebelum melakukan petualangan safari malam.

Sebelum makan malam disajikan, Pak Endi mengumpulkan seluruh peserta di halaman depan Wisma Rusa, Bekol (-7.83857,114.439269). Bukan untuk salam “rantai kapal,” tapi pembagian kamar. Seperti biasa, begitu nama saya disebut, Pak Endi selalu menggunakan aksen khas Mbah Triman, pelawak srimulat kawakan, “Mbhaaam… bhaaanggg,” sambil mangap-mangap.

Tak mau kalah, mangap-mangap pula saya menjawab panggilannya, “Shaaaa…. yhaaa… Phaaak,” sambil tertawa, karena geli sendiri.

“Kamu sama Giri di kamar 10.”

“Siap Pak!”

Continue reading

Safari Malam Taman Nasional Baluran

Safari Malam Taman Nasional Baluran

Butuh perjalanan sejauh 10 jam dari Desa Ranu Pani, untuk sampai di Taman Nasional Baluran (TN Baluran). Selesai santap malam di Wisma Bekol—tempat kami menginap—Pak Endi mengajukan pertanyaan kepada segenap Tim Terios 7 Wonders, adakah kiranya yang mau melanjutkan lelahnya perjalanan dengan safari malam. Dan, tentu saja, sebagai petualang yang baik, tawaran menarik itu tidak boleh disia-siakan. Mayoritas siap.

Adalah Pak Tasman, seorang petugas TN Baluran—kebetulan mendapat jadwal jaga di Savana Bekol—yang menjadi pemandu Safari Malam Baluran kami. Perawakannya kurus dengan tubuh yang tidak tinggi, juga tidak pendek. Pria paruh baya ini berkulit sawo matang dan asli Madiun.

“Macan Tutul dan Macan Kumbang biasanya menampakkan diri pada sore hari,” katanya, membuka percakapan safari malam. Menurutnya, jumlah macan di taman nasional ini masih banyak. Mereka biasa menampakkan diri di arah jalan keluar menuju Bantengan dan sekitar portal masuk kawasan taman nasional. “Di Baluran jumlah mereka masih banyak,” imbuhnya.

Continue reading

Danau Ranu Pani dilihat dari desa

Danau Ranu Pani dilihat dari desa

Setelah puas menjelajah Desa Ranu Pani berikut sarapan pagi di warung makan depan pos registrasi pendakian Gunung Semeru, Tim Terios 7 Wonders kembali melanjutkan perjalanan panjang menuju Taman Nasional Baluran yang terletak di Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur. Jalur keberangkatan hari ke-6 sama dengan malam sebelumnya. Via hutan Lumajang. Arah tenggara Desa Ranu Pani.

Odometer digital Daihatsu Terios 7 yang bertransmisi manual menunjukkan angka ‘1,494’ ketika kami mulai perjalanan. Hutan Lumajang yang begitu menyeramkan pada saat malam, berubah menyenangkan di kala siang.

Medan batu tak beraturan yang semalam terlihat samar, kini terlihat lebih jelas di depan sana. Kendaraan dengan ground clearance rendah tentu susah melintasi jalur berantakan ini. Aspal hanya menutupi sebagian jalan saja. Sementara sisanya, telah rusak tergerus usia. Sebentar datar, tapi lebih banyak bergelombang sedikit berbukit. Beruntung, Sang Sahabat Petualang berjarak setinggi 200mm dari permukaan tanah, sehingga jalur offroad ringan seperti ini mudah saja dilalui.

Continue reading

Ray of Light pagi Danau Ranu Pani

Ray of Light pagi Danau Ranu Pani

Hari ini Tim Terios 7 Wonders genap memasuki hari ke-6—Oktober 6, 2013. Pagi di Desa Ranu Pani datang lebih lama dari yang saya harapkan. Kejadian nyeleneh pukul 02.00 dini hari tadi adalah penyebabnya. Setelah Agung meneriakkan yel-yel favorit ala Jawa Timuran, mata sangat sulit dipejam. Dan alhamdulillah-nya, saya terpaksa begadang lagi sampai matahari menjelang. Bahkan terbawa-bawa sampai Baluran! Apa yang akan dilakukan Tim Terios 7 Wonders pagi ini, saya menyengajakan diri tidak mengetahui. Walau itinerary telah diberikan panitia, saya hanya membacanya sepintas lalu, kemudian lupakan. Saya lebih suka menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena begitu lebih seru ketimbang menunggu-nunggu sesuatu yang telah tentu. Mungkin, kalau saya berada di pihak panitia, bisa beda ceritanya. 😀

Jadi setan itu gak gampang

Gelap langit Ranu Pani masih bertaburan bintang pada pukul 03.00 pagi. Lepas mengantarkan Pak Endi ke “stasiun pembuangan akhir” yang menyatu dengan lahan parkir, saya coba kembali memejamkan mata, bermodalkan sleeping bag yang tergeletak lama di luar tenda, yang telah menjadi basah didiami embun.

Continue reading

Sisi Lain Desa Ranu Pani

Sisi Lain Desa Ranu Pani

Apa yang kita ketahui atau saksikan sendiri dari Desa Ranu Pani mungkin belum semua. Seorang teman pengajar yang sering mondar-mandir Tumpang – Ranu Pani berbagi ceritanya kepada Tim Terios 7 Wonders ketika mengunjungi salah satu desa yang didiami Suku Tengger ini. Apa saja cerita yang ia bagi dengan kami?

Gunung Semeru bukan tempat sampah!

Sampah selalu saja jadi persoalan klasik yang tak kunjung selesai. Tak peduli di mana, selama masih di Indonesia, kesadaran kebanyakan kita akan kebersihan masih aman untuk dibilang kurang. Bertahun sudah saya melakukan aktifitas pendakian, tiap kali menggunung, sampah tidak pernah mangkir hadir. Kalau tidak di jalan, pasti di sekitar campsite.

Continue reading