Summit Attack Puncak Indrapura, Gunung Kerinci

Summit Attack Puncak Indrapura, Gunung Kerinci

Akhirnya, sampai juga kita di ekor cerita seri pendakian Gunung Kerinci. Kali ini saya akan membahas tentang apa saja yang terjadi mulai dari Shelter 3, muncak/summit attack, Puncak Indrapura, hingga kembali lagi ke Jakarta. Untuk teman-teman yang belum tahu, artikel ini merupakan kelanjutan dari cerita pertama (yang mengulas tentang perjalanan dari Jakarta ke Padang hingga Kayu Aro) dan cerita kedua (yang mengulas aktifitas mulai dari Basecamp Jejak Kerinci, hingga pendakian ke Shelter 3).

 

Summit attack brother

Shelter 3 pukul 03.00 pagi. Hawa dingin di ketinggian 3,300+ mdpl, semakin menusuk tulang. Tiupan angin kencang yang sebentar datang sebentar hilang menusuknya lebih dalam. Terus begini. Tak juga berhenti sejak kedatangan kami.

Saat datang, kecepatannya sungguh mengerikan. Tak cuma flysheet yang berkibar-kibar, tenda pun ikut bergetar. Seolah hendak menghempaskan tenda seisi-isinya ke lereng jurang yang letaknya hanya beberapa meter di depan. Mata saya memang terpejam, tapi hati dan pikiran tetap siaga. Antisipasi kalau terjadi apa-apa. Tidur ayam orang bilang.

Berdasarkan dokumen berjudul “Tropical Rainforest Heritage of Sumatra,” kecepatan angin di area Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) umumnya bervariasi, mulai dari 15 km per hari di dataran rendah, hingga 85 km per hari di dataran tinggi atau wilayah pegunungan. Maka tak heran, kalau kecepatan angin di Shelter 3 demikian kencang.

Tropical Rainforest Heritage of Sumatra sendiri sebenarnya merupakan representasi situs warisan dunia Indonesia yang terdaftar di UNESCO sejak tahun 2004 lalu. Ia meliputi 3 taman nasional yang berada di Pulau Sumatra, yaitu; Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Di luar tenda, terdengar suara seorang pria. Dia mengajukan sebuah pertanyaan yang entah ditujukan kepada siapa. Dengan angin begini kencang, suaranya terlalu pelan untuk bisa membangunkan seseorang dari tidur mereka. Takut mengganggu, mungkin begitu. “Mas… Mbak… Mau bareng (summit attack) gak?”

Sakit kepala yang demikian hebat ditambah rasa kantuk yang teramat sangat membuat saya enggan menjawab. Dari tenda tetangga, terdengar sahutan separuh nyawa, “Iya. Nanti. Sebentar lagi. Jalan duluan aja.” Dari frekuensi suaranya, itu pasti Murdam. Tidak salah lagi. Dari gaya bicaranya, dia pasti kenal dengan si pemanggil ini.

“Nanti…”

“Sebentar lagi…”

Profesor Matematika mana yang bisa memprediksi “satuan waktu” macam begini? Seharusnya tak ada.

Kalau pun ada yang bisa, mungkin cuma Tuhan dan sang pemilik pernyataan saja. Buktinya, setengah jam telah berlalu, tapi, jangankan suara percakapan, suara kemeresak pergerakan pun tak terdengar. Shelter 3 terlalu senyap. Mungkin pada malas bergerak. Atau jangan-jangan, masih pada tertidur lelap.

Pada akhirnya, bising alarm juga yang bisa memaksa semua orang terjaga. Macam komandan, suaranya menyalak galak, seakan memerintah otot-otot kami untuk segera menggeliat. Shubuh telah menjelang. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar kumandang adzan.

Satu per satu mulai berkemas-kemas. Persiapan dilakukan seperlunya. Sebatas mengunyah remah-remah sisa kemarin malam. Tak ada yang istimewa.

Gejala Altitude/Acute Mountain Sickness (AMS) masih menyerang Yeni pagi ini. Niat summit attack terpaksa dia urungkan. Perjalanan menuju puncak, terpaksa dilakukan berempat. Murdam pilih temani Yeni di Shelter 3. Mungkin takut terjadi apa-apa. Atau mungkin, mulai ada getar cinta? Ah, biarlah. Lagi pula, baginya, 1 kali rehat muncak, toh, tak berarti banyak jika dibandingkan dengan 58 (kali summit attack) lainnya.

***

Sudah menjadi kebiasaan (saya), tiap kali permulaan muncak/summit attack, di gunung mana pun, selalu saja terasa berat. Berapa pun jumlah oksigen yang disediakan alam, rasanya paru-paru ini tak pernah tercukupi. Siklus pernapasan saya selalu jadi lebih pendek dan cepat. Irama detak jantung pun jadi tak beraturan macam orkes tarkam.

Butuh sepertiga perjalanan agar napas dan irama jantung saya kembali normal. Beradaptasi kembali dengan berat dan dinginnya trek menuju Puncak Gunung Kerinci (Puncak Indrapura).

Bayangan puncak Gunung Kerinci berlatar belakang pemandangan arah barat

Bayangan puncak Gunung Kerinci berlatar belakang pemandangan arah barat

Di bawah jam 7 pagi, bayangan Gunung Kerinci di bagian barat terlihat seperti piramida yang meruncing pada bagian puncaknya. Tapi, begitu matahari meninggi, bayangannya berubah serupa Takuhatsugasa/Sandogasa, topi perang samurai Jepang yang bagian atasnya berbentuk setengah lingkaran diregang.

Selama perjalanan muncak, tiupan angin benar-benar tak bisa ditebak. Kadang sepoi, kadang hilang, tapi lebih sering berhembus kencang. Mati angin hanya sesekali. Berlindung di antara ceruk jalur dan batu besar pun tak ada gunanya. Udara bergerak ini pintar menyelusupi setiap celah yang ada.

Di kejauhan, Bayu terlihat baru menjejak garis puncak. Disusul Harry kemudian. Sementara saya dan Fery masih berjibaku menyesuaikan kecepatan masing-masing. Masih di tengah-tengah punggungan, antara Shelter 3 dan Puncak Indrapura.

Rombongan turis muda berwajah Tionghoa—belakangan diketahui berasal dari Singapura—tampak berleha-leha di kiri-kanan jalur di depan sana. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Satu sama lain bicara dalam Bahasa Mandarin. Tak mau menyia-nyiakan waktu, kami sela mereka guna menyusul teman yang dua.

Menjelang puncak, tercium bau belerang yang amat menyengat. Sumbernya berasal dari sela-sela bebatuan di sekitar jalur. Asap putih itu mengepul ke udara, kemudian mencekik leher siapa saja yang menghirupnya. Beruntung, ini tak berlangsung lama, karena selepas melewati celah tadi aroma belerang sudah tak tercium lagi.

Puncak Gunung Kerinci

Puncak Gunung Kerinci

Crater rim Gunung Kerinci

Crater rim Gunung Kerinci

View dari Puncak Indrapura 1

View dari Puncak Indrapura 1

View dari Puncak Indrapura 2

View dari Puncak Indrapura 2

View Kayu Aro dari Puncak Indrapura

View Kayu Aro dari Puncak Indrapura

Pukul 07.53 pagi saya sampai di puncak Gunung Kerinci (3,805 mdpl). Kiranya inilah puncak tertinggi ketiga saya (di Indonesia), setelah Semeru dan Rinjani.

Pemandangan alam luar biasa yang terbuka luas, membayar usaha kami impas. Kumpulan awan membumbung tinggi dari tempat kami berdiri. Tak satu pun yang menghalangi pandangan. Ke arah mana pun mata dilepaskan, selalu rasa kagum yang kembali ke hati. Kiranya saya beruntung, Tuhan telah mengijinkan saya menjejaki puncak kedua tertinggi di negeri ini.

Kawah Gunung Kerinci berlatar belakang Danau Gunung Tujuh

Kawah Gunung Kerinci berlatar belakang Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh terlihat pucat di sebelah barat. Dinding alam dari ketujuh gunung yang membendungnya terkesan mistis diselimuti kabut tipis. Pada arah jam 7, Danau Belibis (+- 1,000 mdpl) terlihat senyap dilingkari pepohonan lebat. Airnya yang menghitam begitu tenang memantulkan bayang pepohonan.

Tahukah kalian? Danau kawah seluas 2 hektar ini juga termasuk dalam daftar warisan dunia yang diajukan pemerintah Indonesia kepada UNESCO pada Juli 7, 2004 yang lalu lewat dokumen bertitel Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS).

Setelah melalui berbagai review, akhirnya THRS disetujui, kemudian ditetapkan ke dalam daftar situs warisan dunia yang terancam (List in Danger) pada tahun 2011 sampai dengan sekarang.

Jenis ancamannya cukup beragam. Mulai dari pembangunan jalan, perambahan atau alih fungsi lahan untuk pertanian, pembalakan liar, perburuan, hingga kelemahan pengawasan dari institusi dan pemerintah.

View ke arah Danau Belibis 1

View ke arah Danau Belibis 1

View ke arah Danau Belibis 2

View ke arah Danau Belibis 2

Danau Belibis yang terletak di Kecamatan Kayu Aro Barat ini berada di ketinggian +- 1,000 mdpl dengan luas mencapai 2-3 hektar

Danau Belibis yang terletak di Kecamatan Kayu Aro Barat ini berada di ketinggian +- 1,000 mdpl dengan luas mencapai 2-3 hektar

Aksesnya bagaimana? Tenang. “Pintu masuk” menuju Danau Belibis relatif banyak. Bisa lewat Sei Lintang, Gunung Labu, Kebun Baru, atau N1. Kalian boleh pilih mana suka.

***

Fery

Fery

Bayu

Bayu

Harry

Harry

Belum ada pendaki lain selain kami. Kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan. Tiap sudut Puncak Indrapura tak luput dari bidikan kamera saya.

Angin sepoi-sepoi itu kadang masih berhembus kencang. Tapi sisa yang ditinggalkannya tak pernah gagal membuat badan ini sesekali brikdens. Ubun-ubun Kerinci begitu dingin. Sangat dingin.

Sebulan sebelum kedatangan kami, Gunung Kerinci baru diubah statusnya ke level waspada. Ada peningkatan aktivitas seismik, kata mereka. Karenanya, walau di dasar kawah sana aktivitas dodol lava tampak normal-normal saja, saya tetap harus siaga.

Sepuluh menit telah berlalu. Rombongan turis asal Singapura akhirnya menyusul juga. Napas mereka terdengar memburu, tanda jantung habis dipacu. Warna kulit bengkoang membuat wajah mereka tampak lebih pucat. Maklum, jalur menuju puncak memang relatif berat.

Pada bibir kawah di ujung sana, mereka memulihkan keadaan seraya bercanda riang merayakan keberhasilan. Bahasa Inggris campur Mandarin yang sesekali tertiup angin membuat percakapan mereka terdengar samar-samar. Kadang mirip suara lebah, kadang mirip bisikan arwah.

Dalam Bahasa Inggris, salah seorang dari mereka menghampiri salah seorang dari kami (saya lupa, siapa). Maksudnya; meminta tolong difotokan, supaya rombongan mereka nanti punya kenang-kenangan untuk dibawa pulang.

Sibuk masing-masing

Sibuk masing-masing

Beberapa kali klik dengan gaya berbeda cukuplah bagi mereka. Selama diperiksa ada mereka di layar LCD kamera, hasilnya jelek pun tak mengapa. Tampaknya, perasaan sungkan bukan hanya milik manusia Indonesia. Singapura pun punya.

Selfie bersama telah selesai. Sang pemilik meminta kameranya balik. Dia berterima kasih kepada Fery (ah, saya baru ingat! Fery!) karena telah membantu mereka mengabadikan momen berharga.

Tak lupa, dia membanding-bandingkan Fery dengan saya yang saat itu kebetulan berdiri di sebelahnya. “Jadi, kalian bersaudara?” Jarinya menuding kami berdua, kemudian mengarah pada rambutnya sendiri. “Rambutnya sama.” Masih dalam Bahasa Inggris.

What The Fff…

 

Misteri Tugu Yudha

Ingatan tentang Harimau Sumatra yang katanya mulai berkeliaran kala petang, membatasi waktu kami menikmati Puncak Gunung Kerinci. Sebelum matahari terbenam, kami harus sudah keluar dari batas hutan. Karenanya, kami harus segera turun ke Shelter 3 untuk bersiap-siap dan bersegera pulang.

Trek menuju Shelter 3 01

Trek menuju Shelter 3 01

Trek menuju Shelter 3 02

Trek menuju Shelter 3 02

Trek menuju Shelter 3 03

Trek menuju Shelter 3 03

Trekking down ke Shelter 3

Trekking down ke Shelter 3

Bila proses menuju puncak terasa berat, maka kegiatan turun gunung ini boleh dibilang tak kalah menantang. Kontur curam bertabur kerikil di sana-sini membuat jalur ini terasa licin dan berbahaya. Harus selalu waspada kalau tak mau celaka.

Untuk proses naik-turun Gunung Kerinci, sebenarnya, menggunakan sandal gunung—seperti saya—pun masih bisa. Namun, demi menunjang keselamatan, penggunaan sepatu gunung sangat dianjurkan. Karena biar bagaimana pun, ia jelas lebih aman.

Pelataran Tugu Yudha 1

Pelataran Tugu Yudha 1

Pelataran Tugu Yudha 2

Pelataran Tugu Yudha 2

Belum lama trekking down, saya tiba di pelataran Tugu Yudha. Konon katanya, bila kita melambaikan tangan dari Tugu Yudha ke arah puncak sana, lambaian tersebut akan berbalas lambaian juga dari atas sana, entah dari siapa. Ucapan untuk ucapan, lambaian untuk lambaian.

Sayangnya, saya baru tahu tentang hal ini setelah sampai di basecamp Jejak Kerinci, sehingga tidak sempat mencoba untuk membuktikan kebenarannya. Kalau di antara kalian ada yang mau iseng-iseng mencoba, dipersilahkan. Yah, anggaplah hiburan.

Sebagaimana halnya di gunung lain, hamparan tanah lapang Tugu Yudha juga dihiasi berbagai macam susunan batu yang membentuk sebuah kata, kalimat, atau simbol dari para pendaki. Kurang jelas kalau dilihat dari dekat. Harus dari tempat yang lebih tinggi semisal di puncak.

Antara pelataran Tugu Yudha dan Shelter 3

Antara pelataran Tugu Yudha dan Shelter 3

Shelter 3 sudah kelihatan dari kejauhan

Shelter 3 sudah kelihatan dari kejauhan

Sudut kemiringan trek menuju Puncak Gunung Kerinci berlatar belakang Danau Gunung Tujuh

Sudut kemiringan trek menuju Puncak Gunung Kerinci berlatar belakang Danau Gunung Tujuh

Masih berjuang menghadapi medan curam menuju Shelter 3

Masih berjuang menghadapi medan curam menuju Shelter 3

Dari area Tugu Yudha, dapat terlihat ukuran Shelter 3. Tidak begitu lapang. Luasnya tak lebih dari satu lapangan badminton saja. Bentuknya memanjang dengan tepi berantakan macam Spanish Dancer fish. Lereng jurang yang malam sebelumnya selalu saya khawatirkan, tampak lebih jelas sekarang.

Dibanding jalur muncak yang kadang berpasir gembur itu, kondisi Shelter 3 lebih steril dari kerikil. Wajar, ini kan campsite. Siapa juga yang mau tidur beralaskan batu kerikil. Seiring waktu, ribuan pendaki sebelumnya tentu telah menyingkirkannya sedikit demi sedikit. Ya, termasuk kami ini.

Kondisi di sekitar trek punggungan puncak

Kondisi di sekitar trek punggungan puncak

Di balik bukit ini Shelter 3 berada

Di balik bukit ini Shelter 3 berada

Tenda Tim Jogja yang sebelumnya masih terlihat di sebelah barat Shelter 3 saat kami berangkat muncak, kini tak lagi nampak. Mereka turun lebih cepat dari perkiraan saya. Hanya 2 tenda kuning yang masih berdiri di sana—tenda kami. Warna eye catching, membuatnya lebih outstanding dibanding warna redup yang mendominasi lingkungan sekelilingnya.

Bayu sampai lebih dulu karena ia jalan paling depan. Harry dan Fery menyusul kemudian. Sementara saya lebih senang menyusul belakangan. Pemandangan di sini, terlalu sempurna untuk disia-sia. Memandangi langit sambil sesekali menatap garis horizon yang tak pernah dan tidak akan pernah bisa didatangi itu. Garisnya selalu berada di titik tak hingga. Tak seorang pun bisa meraihnya.

Kondisi jalur menuju puncak Gunung Kerinci 1

Kondisi jalur menuju puncak Gunung Kerinci 1

Kondisi jalur menuju puncak Gunung Kerinci 2

Kondisi jalur menuju puncak Gunung Kerinci 2

Kondisi jalur menuju puncak Gunung Kerinci 3

Kondisi jalur menuju puncak Gunung Kerinci 3

Shelter 3 Gunung Kerinci

Shelter 3 Gunung Kerinci

Di belakang saya, Puncak Indrapura tinggi menjulang menantang awan. Kalau kalian ada kesempatan, sebelum terjadi erupsi, bersegeralah mendaki Gunung Kerinci, sebab esok atau lusa, siapa yang berani menjamin kalau ia masih menempati posisi kedua puncak tertinggi di Indonesia.

 

Poop perjuangan

Teman-teman sudah disibukkan dengan persiapan pulang. Sebagian besar barang-barang bawaan mereka telah berada di luar tenda. Punya saya? Masih berantakan di dalam sana. Saya baru sampai di Shelter 3.

“Makan, Bem,” ajak Yeni sambil mengunyah sarapan alakadarnya. Sendok di tangan kanan, Nesting di tangan kiri. Makan, sambil berdiri.

“Ho’oh.”

Tawarannya jelas menggoda. Apalagi badan saya begitu lemas, tenaga benar-benar terkuras. Masalahnya, sejak dari Tugu Yudha, kebelet poop yang terasa, semakin merajalela. Sudah mencapai level akut. Kalau tidak segera dibuang bisa bahaya. Paling minim, keringat dingin, maksimal… haduh, gak enak ngomongnya… berak di celana.

Tidak. Itu tidak boleh terjadi, karena bisa jadi aib abadi yang akan terbawa sampai mati. #Ngeri

Waktunya cari tempat tongkrongan.

Kalau boleh jujur, saya tidak pernah menyangka, di tempat setinggi Shelter 3, onggokan “halang rintang” tersebar di mana-mana. Bukan di semak-semak, tapi di tengah-tengah jalan setapak. Kalau diumpetin sih, mending. Lah ini, dipamer-pamerin. Riya tidak pada tempatnya. Astagfirullahaladzim…

Agak sulit mencari tongkrongan ideal di tempat ini. Apalagi, kemiringan medan di sini rata-rata terjal semua. 45 derajat, minimal. Tapi, bukan berarti lahan datar tak ada sama sekali. Buktinya, nih, dapat. Tempatnya lumayan enak. Sedikit datar serba tertutup semak belukar. Tapi… ah, sial! Sudah ada ‘penghuni’-nya! Mesti cari penadah lain.

Pada salah satu lahan miring, saya temukan juga tempat tongkrongan idaman. Sekop di tangan segera bekerja menggali tanah sedalam-dalamnya. Isi perut saya semakin memberontak, mereka mulai tak sabar ingin cepat-cepat menghirup udara segar. Keringat dingin mulai bercucuran di mana-mana. Mereka harus segera keluar.

Proses eskavasi baru selesai. Waktunya ambil posisi.

Pegangan ilalang guna menghindari koprol belakang. Jongkok manis. Dan, argh!… Jangkrik bos! Tempat persembunyian Kijang 1 terekspos!

Siapa pula mereka? Kenapa tiba-tiba muncul dari atas bukit sana? Gak tau apa, kalau di sini ada orang yang hampir sekarat – kebelet berak stadium empat… Bangsattt!!!… eh, astagfirullahaladzim.

 

Kopet setan

Biar cuma sebentar, “surga dunia” itu, rasanya nikmat juga. Badan saya langsung terasa ringan. Perut tak lagi bergejolak. Dan yang terpenting, darah kembali mengalir ke wajah. Tak lagi menguning seperti yang sudah-sudah. Warnanya kembali merona, macam pinggiran koreng baru kering.

Menyusul teman-teman lain, saya pun segera packing. Beruntung, pagi ini cuaca begitu cerah, sehingga persiapan pulang kami jadi lebih mudah. Dilanjut mengisi tenaga dengan sarapan seadanya.

Demi efisiensi, alat makan sengaja tidak dikeluarkan. Nesting digunakan sebagai pengganti piring. Saos sambal dan remah-remah sudah ditaburkan di atas rebusan mie instan. Waktunya sarapan.

Suapan pertama, begitu menggugah selera. Suapan kedua, seperti ada yang berbeda. Suapan ketiga, mulai curiga. Pada suapan keempat, kecurigaan saya terbukti kebenarannya. Mie instan ini baunya agak anyir-anyir gurih gimanaaa… gitu.

Periksa punya periksa, ternyata sisa panggilan alam sebelumnya masih ada yang menyempil di sela-sela kuku jari telunjuk kiri. Bangkek! @,@

“Dul, bagi tisu basah, dong.” Dengan wajah datar seolah tak pernah terjadi apa-apa, saya minta kepada Fery yang posisinya kebetulan dekat berseberangan.

“Wah, pasti kopet nyisa, yeh, Dul.” Entah ini pertanyaan, atau pernyataan. Yang jelas, fitnahnya mengalir ringan tapi kejam. Sambil tertawa-tawa bahagia, dia mencari barang yang diminta.

“Kagak. Ini, nestingnya kotor.” Wajib menyangkal. Tak lupa pura-pura bersihkan bokong nesting—sambil sesekali curi kesempatan bersihkan sisa kotoran sendiri di jari telunjuk kiri. Ini penting. Demi harga diri.

 

Pocahontas trekking down

Wisatawan asal Singapura mendadak muncul dari punggungan jalur yang berbeda. Pasti tadi mereka, pikir saya. Sebentar berpapasan dengan kami, mereka lanjutkan turun ke Shelter 2, tempat mereka mendirikan tenda. Senyum dan salam tak lupa mereka bingkiskan. Yah, walau sebagian senyumnya masih kaku macam karyawan baru.

Packing telah selesai. Cek dan ricek barang, berkali-kali saya lakukan. Siapa tahu ada yang ketinggalan.

Perjalanan turun gunung kami mulai. Tak perlu tergesa-gesa. Hari masih pagi. Lagi pula, bagaimana mau tergesa-gesa? Jalurnya terlalu licin dan curam. Bahaya. Salah-salah pijak bisa kecengklak. Belum lagi teror gagal dengkul yang selalu standby mengintai. Siapa tak waspada, eksekusi segera.

Pada Shelter 2, kami istirahat sedikit lama. Di sana, tenda muda-mudi Singapura telah tiada. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un. Sepertinya mereka telah pergi lebih dulu, mendahului kita.

Cuaca pagi demikian cerah. Langit begitu terang hampir-hampir tak berawan. Dan kami berkelakar tentang apa saja, sampai lupa kalau materi ‘harimau’ pun terbawa-bawa. Padahal, membicarakan tentang mereka di tempat ini saja sudah dianggap tabu, lah ini, malah dijadikan bahan candaan melulu. Ah, semoga tidak terjadi apa-apa.

“Kalo gw turun sendiri, aman gak (dari harimau)?” tanya Bayu pada Murdam.

“Kalo jam segini sih, masih aman,” terang Murdam.

“Yah, nanti kalo emang diuber, jongkok aja Bay. Pura-pura ambil batu.” Nasihat bijak itu refleks terucap lewat gorong-gorong jigong saya… dan diamini teman-teman lain dalam format tawa yang tiada hentinya.

“Sialan!” yang diberitai rupanya tak senang hati.

***

Dengan kecepatan konstan, kami berenam kembali jalan beriringan. Shelter 1 menjelang, kawula-kawuli Singapura kami papas di jalan. Dibanding kami, ritme mereka lebih pelan. Sebentar jalan, lama berhenti. Terpaksa harus didahului.

Jalur normal tak bisa digunakan untuk melewati mereka. Rombongannya lumayan banyak, kurang lebih 10 orang. Kami harus pilih rute alternatif. Dinding jalur setapak (sebenarnya jalur air) yang posisinya lebih tinggi 1-3 meter, kami lalui. Belukar akar? Maju tak gentar.

Tanpa pegangan, saya terpaksa jalan sambil lompat-lompatan ke kiri dan ke kanan. “Pocahontas!” kata salah satu dari mereka saat melihat aksi saya. Mungkin sebenarnya mau bilang beruk, sialnya kosakata Bahasa Indonesia mereka belum lagi cukup.

Bayu, Yeni, dan Murdam, tambah jauh di depan. Saya, Harry, dan Fery, menyusul di belakang. Tak mengapa. Yang penting, sebelum malam menjelang, kami sudah harus keluar melewati batas hutan. Bahaya. Kawasan antara Pos 1 hingga Pos 3, dipercaya masih banyak binatang buas (harimau) berkeliaran.

Dan, tupai-tupai itu, rajin betul mereka berlari-larian pada dahan pepohonan di sepanjang perjalanan.

 

Pilih mana: penunggu pohon bolong atau Harimau Sumatra?

Benar saja. Menjelang Pos 3, tercium aroma pipis kucing besar yang membuat kepala saya jadi mabuk kepayang. Bulu kuduk merinding disko. Apalagi kalau mengingat di Shelter 2 sebelumnya, saya berkelakar tentang mereka.

Secara pasti, saya tidak berani memastikan kalau aroma ini berasal dari pipis seekor Harimau Sumatra yang kabarnya tinggal tersisa 400-500 ekor itu. Tapi, berdasarkan kesaksian Murdam yang pernah berpapasan langsung dengan induk harimau dan anaknya pada tahun 2009 silam—di Pos 3—tentu bisa saya jadikan alasan untuk sekedar deg-degan. Jangan-jangan kejadian yang menimpanya bakal terjadi pada saya.

Waktu itu, kata Murdam, wajah setiap orang dalam rombongan yang dipandunya seketika pucat anemia. Tak peduli warna kulit mukanya hitam atau putih, semuanya sama. Dia, tak terkecuali. Tak ada satu pun kata-kata yang keluar dari mulut anggota rombongannya, kecuali doa tiada henti di dalam hati. Beban seberat 15-25 kg di pundak, mungkin masih ringan mereka sandang. Tapi, berhadapan dengan binatang sebuas ini di habitat mereka?

Tulang-tulang muda mereka pun rasanya tak akan sanggup menahan berat badan sendiri. Peluang kematian ada di depan mata. Kabarnya, rasa takut itu luar biasa.

“Aku cari rejeki, kamu cari makan. Jangan saling ganggu.” Dengan suara bergetar, Murdam memberanikan diri mengajukan “Nota Kesepahaman.”

Yang diajak bicara, tak mengerti apa maksud kata-katanya. Tetapi, tatap mata tak berjeda menandakan kedua kubu saling siaga. Yang gak kedip, menang. Sang induk menjaga asuhannya, sementara Murdam dan rombongan, mengkhawatirkan nyawa mereka. Dalam kondisi seperti ini, sedikit saja salah perhitungan, nyawa bisa wassalam.

Tetap waspada, mereka putuskan menunggu. Semoga binatang itu cepat-cepat berlalu. Sayang, kenyataannya tidak begitu. Yang ditunggu-tunggu sepertinya tidak tahu. Lama ia dan anaknya berdiam diri di situ.

Beruntung. 2 jam menunggu akhirnya neraka berkaki empat itu pergi juga bersama anaknya. Kalau lebih lama lagi? Yah, mungkin mereka semua perlu beli jantung baru.

***

Setelah tercium aroma pertama, bau pipis ini rupanya masih saya temui lagi di 3 tempat berbeda. Seluruhnya berada (tercium) di antara Pos 3 sampai Pos 1. Di kiri kanan, relatif dekat dengan jalur pendakian.

Selain aroma pesing, hutan Kerinci juga menawarkan bau lain, seperti lem Power Glue, kayu terbakar, aroma herbal, dan aroma lain yang entah apa namanya. Sulit untuk mendeskripsikannya.

Gejala gagal dengkul mulai terasa sejak Pos 3. Gaya jalan saya, terseok-seok dibuatnya. Hampir pukul enam sore waktu itu. Saya baru sampai di ujung aspal. Di dalam mobil, teman-teman lain telah menunggu kecuali Bayu. Dia putuskan melanjutkan berjalan kaki sampai Basecamp Jejak Kerinci. Staminanya memang luar biasa. Dengan porter, sama. Saya tidak ada apa-apanya.

Sebelum lupa. Kalian sudah tahu tentang pohon bolong yang posisinya berada di antara Shelter 1 dan Pos 3?

Menurut pendapat Murdam, pohon bolong ini merupakan pintu gerbang menuju ke alam lain. Sudah banyak cerita mistis yang dialami pendaki-pendaki lain sebelum kami terkait pohon ini. Mulai dari ditertawai, diikuti, bahkan sampai ketempelan. Pelakunya? Yah, kalian tahu sendiri, lah. Siapa lagi kalau bukan ‘mereka.’ Iya… ‘mereka.’

Sejak kapan pohon ini dianggap angker, tidak diketahui secara pasti. Mungkin sejak pohon ini (pernah) dijadikan sebagai tempat untuk menggantung mayat para korban tewas Gunung Kerinci pada tahun 2003 yang lalu? Atau, adakah di antara kalian yang tahu?

Sebagai tambahan informasi saja. Mayat-mayat dari para korban tewas tersebut memang sengaja digantung oleh Tim SAR pada saat proses evakuasi. Tujuannya jelas, supaya tidak dimakan binatang buas.

“Loh, kan ada Tim SAR. Dijagain. Masak masih dimakan juga?”

Benar. Ada Tim SAR. Tapi, hari itu tenaga mereka telah habis terkuras, sehingga diputuskanlah untuk meninggalkan mayat para korban tewas, sementara menggantung di sana. Proses evakuasi baru dilanjutkan lagi keesokan harinya.

Bicara soal angker. Di antara beberapa gunung yang ada di Kabupaten Kerinci (seperti; Gunung Kerinci, Gunung Raya, Gunung Batuah, dan lain-lain), menurut penuturan Levi, Gunung Kunyit (juga dikenal dengan sebutan Gunung Belerang) adalah yang paling angker. Seangker apa? Silahkan tanya Levi. Atau, kalian mau mengklarifikasi dengan mencari jawabannya sendiri? :p

 

Harus ditentukan sekarang! Atau… besok? Atau…

Bayu tampak bersemangat saat kami sampai di basecamp. Pantas, dia baru selesai mandi. Teman-teman lain tak mau ketinggalan. Silih berganti mereka mengantri kamar mandi. Saya sengaja pilih barisan paling belakang. Rasa sakit dan lelah di sekujur badan, terlalu sayang untuk dilewatkan. Sementara, saya ingin menikmatinya.

Adzan Isya bergema-gema memenuhi udara desa. Setengah jam kemudian, makan malam dihidangkan di meja belakang. “Ayo, semuanya makan dulu,” undang Bu Jasna. Gak pake lama, seperangkat alat makan beserta segala isinya, cepat berpindah ke tangan saya. Bagaimana saudara-saudara? Sah?

Saahhh!!!

Alhamdulillah

Antrian mandi terakhir baru berakhir. Perut kenyang, mandi pun tenang. Karena tak ada lagi yang mengantri, maka mandi air dingin malam ini akan saya nikmati. Kalau perlu, sampai kulit pada kisut.

***

Cahaya lampu ruang tamu berpendar separuh temaram. Tuan rumah sekali lagi menjamu kami. Karena makan besar sudah, kali ini ganti cemilan; seteko seduhan teh Kayu Aro, setermos air panas, sebaki gelas berukuran sedang, dan berbungkus-bungkus kopi merk self service, dihidangkan di lantai persis di pusat gravitasi diskusi kami.

Setiap orang, tanpa terkecuali, tengah hanyut dalam diskusi. Yang fokus, cuma satu-dua. Selebihnya, multitasking semua. Ada yang menyambi menyeduh kopi. Ada yang sambil tidur-tiduran. Ada yang sibuk twitter-an. Ada pula yang sibuk membongkar-bongkar isi keril. Palugada. Apa lu mau gua ada.

Tak mau ketinggalan, saya pun masuk ke dalam barisan. Materi malam ini masih berkutat pada pendakian Kerinci yang baru selesai dan seputar itinerary yang telah disusun dari jauh-jauh hari itu. Berdasarkan jadwal, Danau Gunung Tujuh adalah tujuan kami pada hari berikutnya.

“Lu ikut gak, besok, Bem?” Bayu meragu. Ditimbang-timbangnya kondisi kaki saya yang masih cidera.

“Gak tau dah, Masbay. Kalo besok nih kaki sehat, gue berangkat.”

“Sayang kali, Bem. Udah jauh-jauh sampe sini,” jawabnya datar, sedatar wajahnya.

“Iya Bem. Ikut aja, kenapa? Sayang kan ongkosnya,” Yeni ikut menimpali.

Kalau menilai dari besarnya ongkos dan tenaga yang sudah dikeluarkan untuk bisa sampai ke tempat ini, saya akui, pendapat mereka berdua, valid adanya. Tapi, kalau menakar sektor kaki yang agak-agak oblak, saya tetap kukuh pada pendirian semula, alias tidak ikut. Daripada nanti jadi beban teman-teman, saya pilih mengalah pada keadaan.

Tak mau ketinggalan, Fery ikut meracuni kemudian. “Rugi, Dul. Beneran dah.”

“Ya udah, gue ikut.”

Lah!

 

Note:

Karena materi pendakian Danau Gunung Tujuh telah saya bahas tuntas pada artikel sebelumnya, maka kali ini tak akan saya bahas lagi. Untuk teman-teman yang penasaran dengan kegiatan tersebut, link telah saya sertakan pada paragraf ini. Silahkan dikunjungi.🙂

 

Kepala sama kaca, kuat mana?

25 jam berikutnya…

Jarum jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Karena bekal uang kontan di tangan masih cukup untuk perjalanan pulang, tak perlu kiranya kami mampir ke ATM BNI atau BRI di sekitar Desa Kersik Tuo untuk mengisi pundi-pundi.

Mobil travel warna silver yang ditunggu, baru saja parkir di halaman depan. Pada semua penghuni Basecamp Jejak Kerinci, kami pamit undur diri. Dan, hujan yang tak kunjung reda, mengiringi awal perjalanan kami menuju Bandara Internasional Minangkabau, Padang.

Di dalam mobil, firasat “ahli hisab” yang semula ada di alam pikiran, kini berubah jadi kenyataan. Sopir berperawakan mirip Bolo Yeung (Chong Li)—musuh Jean-Claude van Damme (Frank Dux), dalam Film Bloodsport yang populer pada tahun 1988 silam—itu mengeluarkan sebatang rokok, menyalakan, dan menghisapnya tanpa merasa berdosa.

Memandang ke luar sana, hujan semakin deras saja. Saya tidak bisa membuka jendela. Sementara di dalam kabin yang terasa sempit ini, 6 paru-paru sedang berjuang memperebutkan oksigen daur ulang, yang itu pun telah terkontaminasi asap rokok si Bolo-bolo.

Bagi teman-teman perokok, menghirup udara seperti ini tentu hal yang biasa. Tapi bagi saya dan seorang teman non-smoker lain, ini jelas masalah. Napas terasa sesak, kepala pun pusing bukan main. “Kabar baiknya,” perjalanan ini baru saja dimulai. “Sem-purna.” Begitu Pak Bondan bilang.

Di jalan lurus, Chong Li (untuk berikutnya, kita panggil saja demikian) dengan tenang membawa kendaraan. Keadaan ini tidak patut disia-siakan. Mata yang telah sedikit terpejam, seolah mendapat persetujuan untuk segera melanjutkan prosesnya menuju ke alam mimpi.

Sayang seribu sayang, mimpi yang datang bukanlah mimpi betulan. Ia hanya ada di angan-angan. Karena, begitu jalur perbukitan mulai berliku, ritual tidur ayam saya langsung terganggu.

Guncangan di dalam kabin begitu kencang. Leher saya kaku menahan geliat brutal kendaraan. Berulang kali kepala saya beradu dengan kaca. Sepertinya Chong Li hilang ingatan. Dia banting setir ke kiri dan ke kanan, lupa pada eksistensi kami di mobil ini.

O, God… I need that ejector seat switch right now. Very now!…

 

Bandara Internasional Minangkabau: Stupid to the max

Tokyo Drift akhirnya berakhir juga. Pukul 04.20 pagi kami tiba di Bandara Internasional Minangkabau, Padang. Di bangku sopir, Chong Li masih setia menggamit sebatang rokok di mulutnya. Sejak berangkat dari Kayu Aro, entah rokok keberapa yang kini dia nikmati. Patah tumbuh, hilang berganti.

Pagi ini bandara masih sepi. Pada teras depan, gelimpangan tubuh-tubuh kelelahan tampak mendominasi. Hampir semua tidur di mana suka. Paling banyak, di kursi tunggu. Satu dua, di lantai bandara. Jumlahnya tak begitu banyak. Namun tetap saja, sulit membedakan mana yang baru datang, dan mana yang kemalaman. Ekspresi wajah mereka sama semua.

Berdasarkan tiket, keberangkatan kami masih sekitar 5 jam lagi. Karena tak ada yang bisa dilakukan di tempat ini, ya sudah, saya tidur-tiduran lagi seperti di mobil tadi.

Matahari mulai meninggidi langit timur. Geliat bandara pagi ini mulai terasa. Sama halnya dengan rasa lapar yang mulai mendera. Kebetulan, ada satu counter (warung) makanan yang sudah buka, masih di areal teras bandara juga. Jaraknya hanya seperlemparan batu, pada arah jam 2 dari tempat saya bingung harus melakukan apa.

Kecuali lontong sayur Padang, tak ada lagi menu lain yang bisa menggugah selera saya. Padanya, pilihan saya jatuhkan. Harganya relatif murah, cuma 10,000 Rp.

Cicip punya cicip, ternyata lontong sayur ini punya cita rasa yang lumayan lezat. Karena pilihan saya tidak salah, begitu sajian di piring tandas, segera saya minta tambah. “Lontong sayurnya satu porsi lagi, ya, Mbak.”

“Lontong sayurnya habis, Mas,” jawab penjaga counter.

Lah!

Padahal, hari pun masih pagi. Pelanggan yang datang, juga baru kami. Kok, bisa-bisanya cepat habis? Macam tiket lebaran saja. Sudah diantri lama-lama, pulang gak dapat apa-apa. Atau jangan-jangan, ini sisa lontong sayur kemaren? Ah, gak boleh suudzon.

Tapi kan baru satu porsi, kenapa bisa langsung habis?

Pagi perlahan berganti siang. Dari balik kaca warung makan, tampak calon penumpang mulai berdatangan. Mundar-mandir mereka lalu-lalang. Kami harus segera check-in. Tuntaskan pembayaran harta gono-gini, terima uang kembali, sebentar kemudian kami keluar pergi.

Antrian check-in belum terlalu panjang, mungkin kami duluan datang. Gak pake lama, begitu proses check-in selesai, airport tax segera dibayar tunai. Kami menuju area boarding lounge.

Kini akumulasi somplak kaki semakin menjadi-jadi. Saya dan Fery berjalan pelan sambil terpincang-pincang. Tapi ini tidak lantas membuat kami berdua jadi manja. Buktinya, walau ada eskalator penghubung ke lantai 1, kami berdua tetap pilih tidak menggunakannya. Sebagai gantinya, hitung-hitung olahraga, kami pilih tangga biasa di sebelahnya. Bangga? Pastinya!

Kebanggaan yang kelak saya sesali sejadi-jadinya. Karena begitu sampai pada area tangga tengah, kaki yang awalnya cuma bunyi-bunyi sedikit, kini rasanya bagai dipijit-pijit belasan demit. Pedih!

“Uuuhhh… aahhh… uhh… aaah…” Pada setiap satu anak tangga yang akan dinaikinya, Fery meringis-ringis menahan nyeri. Anehnya, mimik wajah yang seharusnya bereaksi menahan sakit itu, justru menampilkan gestur muka layaknya adegan film dewasa. Mungkin saraf-saraf wajahnya salah urat juga.

“Uhhh… ahhh… uuuh… ahh…”

Lah! Kok saya juga!

Sementara saya dan Fery tertawa-tawa menahan siksa, ketiga teman lain justru tertawa-tawa karena menganggap kami berdua gila. ‘Cerdasnya’ lagi, area istirahat guna menunggu jadwal berangkat pesawat, malah kami pilih di lantai 2, yang tidak ada fasilitas apa-apa. Eskalator, tidak. Bangku, tidak. Kamar mandi pun tidak.

Jadi, setiap datang panggilan alam, kaki ini harus rela menahan siksa, karena toilet bandara adanya di lantai bawah semua! Itu pun belum menghitung panggilan boarding yang, karena kami kurang konsentrasi, baru terdengar menjelang waktu keberangkatan. Stupid to the max. [BEM]