Sekarang saya masih berada, 6 jam dari Kota Padang. Tepatnya di Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi, Indonesia. Persis di depan Perkebunan Teh Kayu Aro, yang konon kabarnya terluas kedua di dunia. Lebih tepatnya lagi, di Basecamp Jejak Kerinci.

Sisa pendakian Gunung Kerinci kemarin belum juga hilang pagi ini. Bahkan rasa sakitnya semakin ‘kencang’ saja. Sebuah keadaan yang semakin memperkuat tekad saya—malam sebelumnya—untuk tidak ikut ke tujuan kami berikutnya, Danau Gunung Tujuh. Danau yang dapat kita lihat dari area Shelter 3, dekat Puncak Indrapura, di lereng Gunung Kerinci sana.

View Danau Gunung Tujuh Dari Puncak Gunung Kerinci

View Danau Gunung Tujuh Dari Puncak Gunung Kerinci

“Liat kondisi besok aja deh. Kalo kaki gw udah bener, gw ngikut. Tapi kalo belom bener, gw di sini—basecamp—aja, nungguin kalian sambil tidur-tiduran,” ucap saya ringan, menjawab ajakan dari teman seperjalanan lain.

“Udah lu ikut aja. Tanggung, udah sampe sini,” jawab mereka seirama, seolah tidak terima kalau saya absen hadir ke tujuan terakhir.

Paksaan halus yang pada akhirnya saya terima secara sukarela. Dengan mengesampingkan kaki yang terlanjur cidera tentunya. Dan ini demi mereka.

Padahal, jangankan untuk mendaki lagi, jalan kaki perlahan di tanah datar saja sudah membuat saya berkali-kali refleks menahan napas dengan nada “uh ah uh ah.” Itupun masih harus ketinggalan di belakang. Argh!

***

Pak Sugiono, supir mobil yang kami sewa (@10,000Rp), terlambat datang pagi itu. Dari kabar yang diterima, dia sedang mengantarkan 3 orang korban kecelakaan yang baru saja terjadi, ke rumah sakit yang entah berada dimana. Pagi yang akan terasa panjang.

Setelah sarapan pagi dengan menu sayur lodeh bertabur kacang panjang yang pedasnya naudzubillah, setiap orang sibuk menghamburkan diri keluar ruangan.

Bersepeda di Kayu Aro, Depan Gunung Kerinci

Bersepeda di Kayu Aro, Depan Gunung Kerinci

Fery sibuk dengan sepeda pinjaman. Harry sibuk dengan kopi di tangan. Bayu sibuk dengan telpon genggam. Yeni sibuk bengong di pojokan. Sementara saya, sibuk kebingungan. Kombinasi sempurna, efek menunggu lama.

Kondisi alam di Desa Kersik Tuo pagi itu sulit ditebak. Sebentar gerimis, sebentar berkabut, sebentar mendung, sebentar terang. Serba tidak ada kepastian. Terutama mulai tengah malam hingga pagi menjelang. Sapuan angin dari arah barat meniup lidah-lidah seng dari setiap atap rumah yang dilewatinya. Suaranya terdengar di kejauhan, tapi sebentar kemudian sudah sampai di hadapan. Suara yang seolah menyampaikan pesan ancaman serupa, “Ini daerah kekuasaan gw. Lu mau apa?”

09.50 waktu Sumatra.

Pak Sugiono yang telah lama ditunggu kini sudah hadir di depan mata. Waktu kedatangannya terlalu siang bagi kami yang diburu waktu.

Pagi ini tak ada bekal nasi layaknya pendakian Gunung Kerinci tempo hari. Alasannya jelas, selain terasa merepotkan, tempat yang menjadi tujuan kami hari ini, sejatinya dapat ditempuh dalam waktu setengah hari pulang-pergi.

“Nanti kalo ada warung, mampir sebentar ya Pak,” pinta Yeni kepada Pak Sugiono, mewakili suara teman-teman lain.

Peta Menuju Danau Gunung Tujuh

Peta Menuju Danau Gunung Tujuh

Walau tak berbekal nasi, bukan berarti kami aman berjalan lenggang. Memang, untuk sampai di Danau Gunung Tujuh hanya membutuhkan waktu selama beberapa jam. Tapi, tanpa bekal kudapan (makanan dan minuman ringan), tentu akan berpotensi menyusahkan manakala tubuh membutuhkan asupan.

Warung berteralis coklat di kiri jalan, boleh sumringah mengalap berkah dari kami yang baru saja memulai perjalanan 5 menit yang lalu. Ukurannya memang tidak terlalu besar, tapi persediaan logistik yang ada lumayan meruah. Barisan etalasenya menyisakan celah yang sedikit sempit, sehingga membuat gerakan kami sedikit sulit.

Di balik etalase yang letaknya bersebelahan dengan pintu keluar-masuk, sang ibu pemilik warung yang merangkap kasir, melayani kami dengan ramah. Seramah uang kembalian pecahan sepuluh ribuan yang bentuknya lusuh penuh perban. Pokoknya serba memprihatinkan.

Uang kembalian yang pada akhirnya saya belanjakan kembali untuk menghindari tanggung rugi karena khawatir tidak laku lagi manakala saya harus bertransaksi di tempat selain warung ini. :p

Setelah belanja perbekalan dianggap cukup, perjalanan kami lanjutkan kembali. Menyusuri Jalan Sudirman yang dipatahkan ke arah kanan 20 menit kemudian. 2 tukang ojek yang semula duduk santai di pinggir kiri jalan, tiba-tiba saja menghamburkan diri menghampiri mobil yang kami tumpangi.

Entah apa yang mereka bicarakan, tapi, dari genggaman tangan yang disodorkan Pak Sugiono kepada salah seorang dari mereka, menyembul sedikit uang pecahan lima ribuan. Ah, transaksi upeti rupanya.

Gerbang Selamat Datang Gunung Tujuh

Gerbang Selamat Datang Gunung Tujuh

Dari perempatan jalan raya utama, pintu masuk menuju Resort Gunung Tujuh—yang masih dalam pengawasan Kementrian Kehutanan, Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Jambi, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Kerinci—ini hanya berjarak sekitar 5 menit saja. Disusul belok kiri sejauh 100 meter, maka sampailah kita di depan pintu gerbang pendakian Gunung Tujuh di Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro, Provinsi Jambi.

Kantor Pengelola Lokasi Wisata Resort Gunung Tujuh

Kantor Pengelola Lokasi Wisata Resort Gunung Tujuh

Kantor pengelola lokasi wisata Gunung Tujuh bercat kuning dengan atap yang seluruhnya dari seng itu, terlihat sepi saat kami datang. Tak ada seorang pun yang bisa ditanya.

“Coba ke rumah yang itu,” seru Pak Sugiono coba memberi solusi, seraya menunjuk ke arah kanan, rumah ketiga, yang sialnya juga sepi.

Dibutuhkan 3 kali “permisi” untuk mengundang keluar sang penghuni. Bapak tua berpeci hitam itu menyambut kami dingin. “(Retribusi masuk) satu orangnya 2,500Rp,” jawabnya singkat, setelah mendengar maksud kedatangan kami ke tempat ini.

“Terima kasih Pak,” jawab kami tak mau kalah singkat, seraya pergi meninggalkan sang bapak, untuk kemudian mempersiapkan diri demi menyambut pendakian kedua kami setelah Gunung Kerinci.

 

Starting point Gunung Tujuh

Gapura kuning merangkap pos retribusi membuka introduksi pendakian kami ke puncak Gunung Tujuh. Puncak yang juga berperan sebagai satu-satunya pintu masuk menuju Danau Gunung Tujuh yang dulunya lebih dikenal dengan nama, Danau Sakti.

Kabarnya, dari starting point ini kita bisa menggunakan jasa ojek untuk mencapai jalur setapak di dalam sana. Sepotong informasi menarik yang pada akhirnya membuat saya emosi jiwa lantaran tak satupun tukang ojek terlihat batang hidungnya. Kalau sudah begini, maka, suka atau tidak, jalan kaki adalah satu-satunya pilihan yang tersedia. Heuw…

Perjalanan kami diawali dengan jalur berbatu selebar 3 meter sejauh 20  menit trekking ringan melintasi ladang warga di kanan-kiri jalan.

Pada 5 menit pertama, kita dapat menyaksikan betapa megahnya Gunung Kerinci di bagian kiri, nun jauh di sana. Sementara pada latar depannya, ditutupi kebun sayur mayur warga.

Gapura Selamat Datang di Bumi Perkemahan Taman Nasional Kerinci Seblat

Gapura Selamat Datang di Bumi Perkemahan Taman Nasional Kerinci Seblat

Sebuah bangunan berbentuk gapura kecil menyambut kami pada akhir 1/3 perjalanan pertama. disana tertulis kalimat, “Selamat Datang di Bumi Perkemahan” yang bersanding dengan pahatan logo Taman Nasional Kerinci Seblat berbentuk lingkaran—berwarna dasar kuning, biru laut, dan biru langit—di bagian kanannya. Wujudnya begitu menyedihkan, tanda telah termakan jaman, juga kurangnya perawatan.

Akhir 1/3 perjalanan kedua ditandai dengan adanya bangunan gapura tak beratap di bagian kanan-kiri jalan. Di sini, lebar jalurnya masih cukup lumayan. Bila diukur-ukur, masih muat 1 mobil.

Jauh di depan, beberapa teman yang lebih dahulu tiba, menanti kami gelisah. Sebuah kegelisahan yang segera terhapus, manakala kami telah berada pada titik koordinat yang sama. Dan ini adalah titik terakhir 1/3 ketiga kami, sebelum akhirnya mulai memasuki jalur setapak tanah yang membelah ladang tanam warga, hingga akhirnya tiba di pintu rimba di ujung sana.

Untuk kalian yang belum pernah, mencari persimpangan menuju jalur setapak ini sebenarnya cukup mudah. Bila kalian telah menemukan sebuah rumah tua tanpa atap yang telah ditumbuhi semak belukar di dalamnya, dan hanya menyisakan bagian dinding-dindingnya saja, maka bisa dikatakan kalian telah sampai di persimpangan yang dimaksud. Berjalanlah 3 meter lagi, di bagian kiri jalan, simpang jalur setapak akan kalian temukan.

Dari persimpangan ini hingga ke pintu rimba, waktu yang kita butuhkan sekitar 10 menit saja.

 

Pintu rimba dan perjuangan sebenarnya

Raungan gergaji mesin dari dalam hutan sana terdengar jelas dari tempat kami berdiri. Bunyinya tak juga berhenti walaupun pintu rimba telah disinggahi. Suara itu baru hilang selepas 30 menit prosesi pendakian berjalan.

Dari pintu rimba, kami langsung disuguhi jalur terjal berkemiringan 55 derajat sebagai ritual pembuka. Dalam ingatan saya, kontur jalurnya akan sangat bervariasi, antara 25-55 derajat sampai di titik puncak.

Karakter jalur pendakian Gunung Tujuh (2,735m) tak jauh beda dengan jalur pendakian Gunung Kerinci (3,805m). Pepohonan tinggi menjulang menghiasi kanan-kiri jalan. Lantai tanahnya beralaskan guguran dedaunan dan akar-akar tua yang merambati jalur hutan secara tidak beraturan. Bedanya dengan jalur pendakian Gunung Kerinci hanya terletak pada absennya jalur air dan jalur pasir di tempat ini.

Di sini, segalanya serba tertutup. Kalaupun ada yang bisa dipandang-pandang, pasti hanyalah panjangnya jalur di bagian depan, juga bagian belakang. Tipikal jalur, yang bila kalian gak tahan-tahan, dijamin cepat merasa bosan.

Foto-foto Narsis

Foto-foto Narsis

Pada pendakian kali ini, berkali-kali injury time telah saya kantongi. Penyebabnya bukan hanya karena cidera kaki, tapi juga motivasi seujung jari yang telah habis tergerogoti. Di manapun berhenti, di situlah titik akhir yang sebenarnya diharapkan dalam hati. Danau Gunung Tujuh benar-benar terlempar jauh dari daftar “tujuan wajib” saya saat itu.

Kalaupun ada yang bisa memaksa motivasi tersebut bangkit kembali, itu pasti karena perasaan tidak enak kepada keempat teman lain yang sejatinya berjiwa voorijder, kemudian secara sukarela menjadi sweeper demi mengimbangi langkah lintah saya.

Harga diri saya hancur saat itu. Kondisi saya tak ada bedanya dengan kentut di ruang tertutup. Ditahan mules, tapi dikeluarkan beresiko terhirup. Serba salah rasanya.

Se-salah perasaan tidak enak yang kemudian berhasil memaksa saya mendaki Gunung Tujuh ini hingga sampai di puncaknya dalam waktu 2 jam 45 menit. Hahaha. Terima kasih teman-teman. Hiks…

Di puncak Gunung Tujuh, yang luasnya hanya seukuran lapangan badminton itu, kami ambil jeda istirahat lebih lama. Karena danau sudah ada di depan mata, jadi apa gunanya memburu masa? Sebuah alibi sempurna tanda usia tak lagi muda.

Karena penasaran dengan jalur berikutnya yang harus dilalui, saya coba intip sedikit jalur tadi. dan, satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan jalur tersebut adalah… MALES!

Kalau boleh jujur, saya lebih menyukai perjalanan menanjak yang hampir 3 jam (sebelumnya) daripada harus menuruni jalur terjal berkemiringan 65 derajat selama 15 menit ini untuk mencapai Danau Gunung Tujuh di bawah sana.

Bagi saya, jalur ini lebih mirip cobaan kehidupan ketimbang serunya petualangan. Jalur yang sepenuh hati ingin dihindari, tapi sayangnya (atau lebih tepat, sialnya), realita tidak menyediakan pilihan kedua.

Wahai kakiku,  apa kabar kalian di bawah sana…

 

Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh 1

Danau Gunung Tujuh 1

Danau Gunung Tujuh 2

Danau Gunung Tujuh 2

Selepas jalur terjal tanah yang menjadi licin akibat hujan kemarin, kami tiba di tepian barat Danau Gunung Tujuh. Di bagian kiri, air tampak mengalir menuju celah di antara 2 gunung yang membentuk mulut air terjun. Dari permukaan danau, riaknya terlihat tenang, tapi begitu melepaskan diri dari celah tebing tadi, suaranya berubah lantang bernada ancaman.

Celah Air Terjun Gunung Tujuh

Celah Air Terjun Gunung Tujuh

Area Pintu Keluar-Masuk Dari dan Ke Danau Gunung Tujuh

Area Pintu Keluar-Masuk Dari dan Ke Danau Gunung Tujuh

Bila mata kalian cukup jeli, sebenarnya air terjun yang sedang kita bicarakan ini dapat dilihat dari areal Shelter 3 hingga Puncak Indrapura, Gunung Kerinci. Tapi, gak jeli pun gak masalah, karena jaraknya yang memang cukup jauh, dan tak jarang wujud air terjun ini tersamarkan oleh kabut tebal yang meliputi area pegunungan sekitar.

Berdasarkan sebuah dokumen berjudul, “Sumatran Rhino Population and Habitat Viability Analysis Workshop” tertanggal November 11-13, 1993., yang ditulis oleh Ronald L. Tilson dan Kathy Traylor-Holzer, luas danau kawah yang berada pada elevasi 1,996m ini mencapai 1,000 ha. Dengan kedalaman yang berkisar antara 8-40m.

Bila melihat dari luas dan ketinggiannya, maka Danau Gunung Tujuh akan mirip dengan Danau Segara Anak di Gunung Rinjani, Lombok, yang memiliki ketinggian 2,000m dengan luasnya yang mencapai 1,100 ha.

Padahal katanya Danau Gunung Tujuh ini adalah danau kawah tertinggi se-Asia Tenggara, lalu kenapa dari data yang saya dapat, justru Danau Segara Anak lah yang layak menduduki posisi tersebut, padahal sama-sama danau kawahnya? Hmm…

Sesuai namanya, Danau Gunung Tujuh dikelilingi oleh tujuh buah gunung, di antaranya yaitu (dari yang tertinggi hingga terendah):

  • Gunung Tujuh (2,735m)
  • Gunung Hulu Tebo (2,525m)
  • Gunung Jar Panggang (2,469m)
  • Gunung Madura Besi (2,418m)
  • Gunung Lumut (2,350m)
  • Gunung Hulu Sangir (2,330m)
  • Gunung Selasih (2,230m)
Peta Informasi Danau Gunung Tujuh

Peta Informasi Danau Gunung Tujuh

Tempat mendirikan tenda terdapat di pesisir barat danau.

Akses yang paling mudah terletak di tak jauh dari pintu keluar-masuk danau. Jaraknya hanya 5 meter ke kanan. Lahan datar di tempat ini lumayan lapang, ia dapat menampung hingga 2-3 tenda.

Jembatan

Jembatan

Sisi Barat (Kiri) Danau Gunung Tujuh

Sisi Barat (Kiri) Danau Gunung Tujuh

Jalur Setapak Menuju Area Perkemahan Jauh

Jalur Setapak Menuju Area Perkemahan Jauh

Sementara, untuk sampai di lokasi camping ground terjauh, kita harus melipiri jalan setapak sepanjang kurang lebih 300 meter di pinggiran danau sebelah kiri. Dengan sebelumnya, harus melewati ‘jembatan’ dari sebatang pohon tumbang yang melintang, dekat dengan mulut air terjun yang juga berada di sebelah kiri.

Lokasi 'Rumah' Penduduk Yang Mendiami Danau Gunung Tujuh

Lokasi ‘Rumah’ Penduduk Yang Mendiami Danau Gunung Tujuh

Ada satu hal yang menarik dari Danau Gunung Tujuh, yaitu, adanya sebuah keluarga yang tinggal dan menetap di pinggir danau ini. Lagi-lagi, kalau mata kalian cukup jeli, letak rumah mereka ditandai dengan adanya bendera putih yang tertancap di pinggiran danau dan di atas pohon, di bagian timur nun jauh di sana.

Sayangnya, karena terbentur kaki yang terlanjur cidera, ditambah waktu yang memang alakadarnya, niatan silaturahim dengan mereka terpaksa dibatalkan. Atau lebih tepatnya, terlupakan. Bukti rasa nyeri telah berhasil mengkonsumsi niatan korespondensi.

Berenang Di Danau 1

Berenang Di Danau 1

Berenang Di Danau 2

Berenang Di Danau 2

Saat itu, kami sempat bertemu dengan sebuah keluarga bule yang terdiri dari seorang ibu dan 2 orang kakak-beradik. Mungkin sudah menjadi tabiat orang luar sana, tanpa banyak tanya bahaya atau tidak, seorang dari mereka langsung terjun ke air dari sebongkah batu besar di tepian danau, yang kemudian disusul oleh sang ibu.

Bayu dan Murdam di Tepian Danau Bagian Barat

Bayu dan Murdam di Tepian Danau Bagian Barat

Fery, Yeni, Murdam in eksen

Fery, Yeni, Murdam in eksen

4 Power Ranger 1 National Park Ranger

4 Power Ranger 1 National Park Ranger

(Gak Terlalu) Full Team

(Gak Terlalu) Full Team

Benih Cinta Mulai Ada

Benih Cinta Mulai Ada

Tuh Kan, Ada Cinta Disana

Tuh Kan, Ada Cinta Disana

Ada Orang Ketiga Disana

Ada Orang Ketiga Disana

Ada Orang Keempat Disana

Ada Orang Keempat Disana

Lagi-lagi Ada Orang Keempat

Lagi-lagi Ada Orang Keempat

Akibat Orang Ketiga dan Keempat

Akibat Orang Ketiga dan Keempat

Kegiatan eksplorasi dan mengambil foto dokumentasi terasa begitu singkat di tempat ini. Buktinya, 1 jam telah kami lalui tanpa terasa. Di atas langit sana, suara halilintar terdengar begitu riuh.  Ini artinya, kami harus segera kembali. Mumpung matahari belum beranjak pergi.

Portrait

Portrait

Landscape

Landscape

Sisi Lain Danau Gunung Tujuh 1

Sisi Lain Danau Gunung Tujuh 1

Sisi Lain Danau Gunung Tujuh 2Sisi Lain Danau Gunung Tujuh 2

Sisi Lain Danau Gunung Tujuh 2

 

Kembali ke Basecamp Jejak Kerinci

Pukul 15.20 dalam catatan saya. Urat-urat kaki yang terlanjur malas, sekali lagi, kami paksa kerja keras. Keduanya menjadi konsumen pertama jalur ngehek berkemiringan 65 derajat di depan sana. Jantung pun terkena imbasnya. Suka atau tidak, ia terpaksa bekerja sama kerasnya. Damn!

Jalur Dari Danau Menuju Puncak Gunung Tujuh

Jalur Dari Danau Menuju Puncak Gunung Tujuh

Tak berapa jauh dari Danau Gunung Tujuh, saya menemukan seekor hiburan. Ya, ‘seekor,’ bukan ‘sebuah.’ Kalian tidak salah membaca. Karena, wujud ‘hiburan’ yang dimaksud memang dalam rupa binatang.

Seekor Hammerhead Worm berwarna hitam terlihat melata di tengah perjalanan. Binatang yang—seumur-umur—nama dan wujudnya baru saya ketahui beberapa hari sebelumnya dari sebuah acara salah satu stasiun tivi swasta di Jakarta, sebelum acara pendakian ini.

Hammerhead Worm Gunung Tujuh

Hammerhead Worm Gunung Tujuh

Jadi benarlah kata pepatah, “Pucuk di acara, cacing pun tiba.” #eaa

Bentuk kepalanya persis seperti Kapak Maut Naga Geni 212 milik Wiro Sableng? Atau, kalau kalian bingung, boleh kok membandingkannya dengan struktur kepala seekor Hiu Martil—walaupun gak mirip-mirip amat. Tapi bagi saya, binatang ini lebih mirip seekor lintah ketimbang seekor cacing. #gaknyambung @,@

Tubuhnya terasa lunak dengan punggung hitam yang mengkilat. Namun, walau punggungnya tampak licin, sebenarnya ia terasa lengket cyin. Hal inipun baru saya ketahui ketika mencoba memindahkan posisi sang cacing ke tempat lain menggunakan sebatang ranting kering.

Hammerhead Worm sangat bergantung pada tanah yang lembab untuk dapat bertahan hidup. Maka tak heran bila umunya mereka akan muncul di permukaan tanah seusai hujan.

Dan perjalanan pun… kami lanjutkan.

Dari tepi danau hingga sampai ke puncak Gunung Tujuh, hanya dibutuhkan waktu sekitar 25 menit. Rentang waktu yang sama, yang digunakan kedua kaki dan jantung saya untuk menjerit-jerit.

Puncak Gunung Tujuh

Puncak Gunung Tujuh

Pe-er berikutnya tak kalah menantang. Jalur menurun yang membentang sejauh 2 jam jelas membuat saya Sherina (baca: geregetan). Untungnya, rasa solidaritas teman-teman lain masih ada, jadi, sambil menyesuaikan gaya jalan saya yang mirip aki-aki, kegiatan memungut sampah adalah alternatif yang mereka pilih.

Trekking down Gunung Tujuh telah tuntas seperempatnya. Kaki yang semula bisa diajak kompromi, kini kumat lagi. Tiap selesai istirahat, selalu saja berpotensi kram. Waktunya ganti strategi.

Ritme langkah Bayu yang begitu cepat—padahal sudah disambi dengan memungut sampah—memancing rasa iseng saya. Pola langkah yang sebelumnya perlahan, kini berganti kencang. Perubahan strategi yang ternyata cukup mumpuni. Sakit pada kaki saya lumayan berkurang, ditambah perjalanan yang semakin cepat saja sampai tujuan.

Walaupun cara ini mampu membuat perjalanan lebih singkat, yang namanya cidera memang tidak boleh dipaksa. Buktinya, begitu sampai di pintu rimba, rasa nyeri sebelumnya kumat lagi dengan kapasitas berkali. Rasanya sangat tidak karuan, padahal perjalanan menuju gapura selamat datang Gunung Tujuh masih begitu jauh.

Hujan yang turun menjelang pintu rimba hingga ladang terakhir warga, tak mau kalah berbagi ‘rejeki.’ Jas hujan murahan seharga lima ribuan yang saya gunakan harus dikembalikan ke wujudnya semula dalam bentuk lipatan layaknya kemeja di lemari pakaian. Hadeh…

Bila tidak ingat ketangguhan jas hujan curah ini—yang sudah berkali-kali digunakan mendaki—tentu saya lebih memilih beli lagi ketimbang harus mengasah skill origami.

Saya, Harry, dan Bayu adalah tim sempalan yang hadir belakangan di gapura selamat datang. Sementara Fery, Yeni, dan Murdam adalah tim pertama yang datang duluan.

Waktu menunjukkan pukul 17.40 sore itu.  Ini artinya, walaupun dengan kaki cidera, perjalanan turun gunung hanya akan membutuhkan waktu sekitar 2 jam 20 menit saja. Waktu tersebut tentu bisa dipersingkat jika kondisi kaki kalian sehat wal’afiat.

Setelah 5 menit menunggu, Pak Sugiono datang menjemput kami kembali, untuk kemudian meninggalkan area Gunung Tujuh dan kemegahan Gunung Kerinci di bagian barat nan jauh.

Dan, sebagai perayaan ‘kemenangan’ kami, Basecamp Jejak Kerinci sengaja dilewati, untuk kemudian menuju warung bakso di bagian kiri Bank BNI, yang kalo dari Simpang Tugu Macan, tempatnya masih kesono lagi. #eaa

Pada akhirnya, rintik hujan yang dikombinasikan dengan semangkuk bakso hambar rasa pedes si mbak judes lah yang menyudahi perjalanan pendakian kami ke (Danau) Gunung Tujuh di Kabupaten Kerinci ini. Salam. [BEM]