Tips Menghadapi Road Trip Panjang

Tips Menghadapi Road Trip Panjang

Sebagian besar kita, banyak yang sering bepergian (traveling) menggunakan moda transportasi umum, entah itu bus, pesawat, atau kereta. Tetapi, seberapa banyak yang pernah melakukan perjalanan panjang dengan membawa kendaraan sendiri (road trip) selama berminggu-minggu? Pasti angkanya (jumlahnya) kecil sekali, ya.

Secara sederhana, kita bisa mengartikan istilah road trip—yang pertama kali digunakan pada tahun 1953—dengan; melakukan perjalanan panjang menggunakan kendaraan (yang itu-itu saja). Bisa kendaraan roda dua, roda tiga, roda empat, dan seterusnya. Asal jangan kendaraan roda satu. Kenapa? Karena, kita ini mau jalan-jalan, bukan main sirkus.

Dan, berangkat dari pengalaman road trip panjang yang pernah saya lakukan beberapa waktu lalu, maka tercetuslah ide untuk membuat artikel ini.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas beberapa tips yang bisa dijadikan sebagai informasi tambahan untuk menghadapi segala kendala dan problematika yang umumnya akan dihadapi dalam sebuah perjalanan berkendara yang jaraknya relatif jauh.

Lantas, bagaimana dengan perjalanan berkendara yang jarak dan waktunya relatif pendek seperti touring akhir pekan? Tenang. Tips ini masih bisa kok, diterapkan. Dengan sedikit (sekali) penyesuaian tentunya.

Kira-kira, seperti apakah tips mengahadapi road trip panjang yang saya maksudkan? Berikut ini ulasannya.

 

========= PERSIAPAN =========

Riset, riset, dan riset

Kata orang, persiapan matang itu sama dengan setengah kemenangan. Bukan hanya di medan perang, hal ini berlaku juga untuk yang namanya perjalanan. Entah itu perjalanan singkat, terlebih lagi untuk perjalanan panjang. Lalu, faktor apa sajakah yang bisa kalian jadikan objek ‘penelitian’ sebelum melaksanakan road trip ini? Banyak! Beberapa contohnya adalah sebagai berikut:

  • Perkiraan biaya perjalanan (sedetail mungkin).
  • Jarak tempuh dari satu titik ke titik lain.
  • Letak pom bensin (SPBU) dan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di setiap daerah yang dilalui.
  • Penginapan (lokasi, room rate, kondisi, nomor contact person, ketersediaan kamar, fasilitas, dan lain-lain).
  • Lokasi wisata alternatif yang sejalur—dan mungkin bisa didatangi—dengan jalan yang kita lewati.
  • Jenis wisata yang rencananya akan didatangi—laut (i.e. island hoping, snorkeling, diving, banana boat, surfing, dan lain-lain), darat (i.e. gunung, air terjun, caving, dan lain-lain), atau udara (i.e. paralayang)—berikut daftar perlengkapan yang harus dibawa.
  • Informasi detail perihal setiap tempat wisata yang hendak dikunjungi. Sebisa mungkin, cari informasi ‘langka’ atau “anti-mainstream” dari tempat-tempat wisata tersebut, agar perjalanan kalian punya nilai pembeda dengan teman-teman lain yang pernah datang ke tempat tersebut.
  • Warung/toko/super market/mini market, apotik, atau apapun yang sekiranya dapat menyediakan kebutuhan perjalanan kita – terutama barang-barang yang sulit didapat selain di kota-kota besar seperti baterai A3, obat-obatan khusus, pulsa (elektrik atau voucher) operator telekomunikasi tertentu, dan lain sebagainya.
  • Letak bengkel resmi atau non resmi di setiap daerah yang dilalui. Kalau perlu, lokasi tambal ban sekalian.
  • Operator telekomunikasi mana saja yang tersedia dan berfungsi dengan baik di daerah X? Cukupkah dengan bermodalkan nomor operator yang kita miliki sekarang? Perlukah mencadangkan nomor operator lain—in case of emergency?
  • Daftar perlengkapan apa saja yang berguna dan perlu dibawa selama masa road trip berlangsung entah itu perlengkapan pribadi, maupun kendaraan.

 

Persiapan kendaraan

Dalam road trip yang demikian panjang, kendaraan merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan misi perjalanan. Tanpa kendaraan yang sehat, road trip bisa seperti orang yang sedang flu, tapi harus kerja berat. Bisa. Pekerjaannya bisa selesai. Tetapi membutuhkan effort yang lebih banyak. Ia sangat boros sumber daya, baik jiwa, raga, dana, dan sebagainya.

Sebisa mungkin, hindari penggunaan kendaraan yang sering “sakit-sakitan.” Logikanya; bila untuk perjalanan dalam kota saja (rute sehari-hari), kendaraan tersebut ‘relatif’ bermasalah, maka untuk perjalanan luar kota, dijamin, masalah yang akan dihadapi akan semakin parah.

Solusinya; bisa meminjam kendaraan kepada salah seorang kenalan kalian—sekaligus mengajaknya turut serta bila peluang “pinjaman lunak” ini sulit didapat. Atau, menyewa kendaraan (yang benar-benar fit) dari jasa-jasa peminjaman/rental kendaraan (motor atau mobil).

Bagi kalian yang kendaraannya relatif mumpuni, ada baiknya kendaraan tersebut di-service besar terlebih dahulu. Boleh di bengkel-bengkel resmi, maupun bengkel-bengkel lain yang terpercaya.

Selain mengganti oli dan busi, perhatikan juga kondisi instrumen-instrumen kelistrikan, lampu-lampu, ban, dan lain sebagainya dalam kondisi yang sangat prima. Kalau perlu, kembalikan kondisinya sedikit lebih tinggi dibanding standar operasional kendaraan harian.

Jangan lupa juga membawa cadangan fast moving part yang mudah rusak, seperti busi, rantai, ban luar dan dalam, kabel rem, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan peralatan reparasi? Sangat wajib! Minimal, usahakan membawa peralatan reparasi kendaraan standar. Lebih lengkap tentu lebih baik.

 

Packing yang baik dan benar

Packing yang baik, selain dapat menghemat tempat, juga turut mempermudah akses pencarian barang saat diperlukan. Untuk perjalanan road trip, aktifitas packing ini harus kita lakukan 2 kali. Yang pertama, mengepak barang-barang bawaan ke dalam keril/backpack/rucksack. Dan yang kedua, menempatkan backpack ini di bagasi mobil, atau buritan motor.

Untuk kendaraan jenis mobil, selama berat barang-barang bawaan kita normal, tidak overweight, packing/meletakkan barang-barang di mana saja tidak akan terlalu berpengaruh banyak pada fungsi kendali kendaraan saat di jalan. Namun, tidak demikian dengan kendaraan jenis motor. Packing yang salah, akan sangat berpengaruh pada stabilitas dan kontrol kendaraan, serta bisa sangat membahayakan.

Contoh:

Keril seberat 10-15 kg yang tidak diikat kuat, dapat menyebabkan posisi keril tersebut mudah bergeser (ke kiri atau ke kanan). Pergeseran ini, selain membuat kontrol kemudi motor menjadi liar (cenderung membuang ke kiri atau ke kanan), juga menciptakan peluang tersangkutnya kendaraan lain saat aksi selap-selip di kemacetan. Kalau tersangkutnya di mobil sebelah, mungkin yang akan celaka cuma kita. Tapi, kalau tersangkutnya di motor sebelah? Peluang jumlah korban bisa dipastikan cenderung bertambah.

Melihat dari contoh di atas, terbayang, kan, betapa packing dapat menjadi faktor penentu keselamatan nyawa kita (dan orang lain) di jalan?

 

Perhitungkan pengendara cadangan

Perjalanan road trip panjang sangat membutuhkan kondisi tubuh dan stamina yang prima. Masalahnya, se-prima apapun kondisi tubuh dan stamina seseorang, yang namanya penyakit, kalau mau ‘bertamu,’ seringnya tidak kenal tempat dan waktu. Dia bisa datang kapan saja seenak udelnya. Selain bisa merepotkan diri sendiri, kondisi ini tentu dapat mengganggu road trip timeline yang telah ditetapkan bersama.

Sebagai tindakan antisipasi, penyertaan pengendara cadangan (driver/rider) jelas diperlukan. Rasio idealnya adalah 1:1, di mana untuk setiap 1 pengendara utama dicadangkan 1 pengendara pengganti.

Atau, bila tidak memungkinkan, rasio 1:1/2 pun bisa diterapkan, dengan syarat; road trip kalian diikuti oleh lebih dari 1 kendaraan, dan dengan jumlah pengendara cadangan/pengganti sebanyak separuh jumlah kendaraan yang ikut berpartisipasi dalam konvoi road trip.

 

Pastikan membawa cadangan obat-obatan pribadi/khusus

Bagi kalian yang mengidap penyakit khusus dan membutuhkan obat-obatan yang khusus pula, yang sekiranya sulit didapat di daerah-daerah yang akan dilalui, hukum membawanya adalah WAJIB! Mengapa? Mari saya ceritakan sebuah pengalaman pribadi yang sangat menakutkan:

Suatu kali, saya pergi dengan seorang teman yang mengidap penyakit jantung. Penyakitnya ini, terakhir kambuh sekitar 6 bulan sebelum masa perjalanan tersebut kami lakukan. Sialnya, penyakit ini tiba-tiba saja kambuh di tengah perjalanan akibat ia terlalu memforsir diri.

Sialnya lagi, obat terakhir yang dibawanya, telah dikonsumsi pada masa-masa awal keberangkatan. Dan, sialnya lagi, teman kesayangan saya ini lupa membawa cadangan obat-obatan yang biasanya selalu ia selipkan entah di mana.

Yang ada di pikiran saya saat itu adalah; saya akan kehilangan dia di perjalanan ini. Tragedi ini membuat nyali saya langsung ciut setengah mati. Ini pengalaman paling menakutkan sepanjang hidup saya. Apalagi, saat kejadian, kami sedang berada di tengah-tengah hutan yang notabene jauh dari mana-mana.

Di depan mata saya, berkali-kali ia memukul-mukul dadanya sekuat tenaga, berharap rasa sakit itu segera hilang. Walau tak terdengar erangan dari mulutnya, tetapi air mata yang mengucur deras dari sudut matanya, sudah cukup untuk mengisyaratkan sakit yang tiada terkira.

Segala kemungkinan berikut solusinya, dengan cepat saya kalkulasi dalam otak. Beruntung, teman yang paling saya sayangi ini termasuk pribadi yang tangguh. Beruntung pula, masa kritisnya itu “segera berlalu”—sekitar 10-15 menit kemudian.

Pesan saya: Jangan sampai kejadian ini terjadi pada teman seperjalanan, termasuk diri kalian sendiri. Pengalaman ini cukuplah kami saja yang mengalami. Karenanya, berikan penekanan prioritas pada poin ini. Selamatkan diri dan teman-teman road trip kalian. Cegahlah sebelum segala kemungkinan yang buruk terjadi.

 

Jangan lupa membawa P3K (First Aid Kit)

Tidak seperti obat-obatan pribadi yang sifatnya lebih khusus, di Indonesia, penggunaan obat-obatan P3K biasanya hanya ditujukan untuk pengobatan luar yang sifatnya umum dan darurat seperti perawatan luka atau cidera.

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.15/Men/VIII/2008 minimal isi kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) adalah sebagai berikut:

  • Kasa steril terbungkus
  • Perban (lebar 5 cm)
  • Perban (lebar 10 cm)
  • Plester (lebar 1.25 cm)
  • Plester cepat
  • Kapas (25 gram)
  • Kain segitiga/mittela
  • Gunting
  • Peniti
  • Sarung tangan sekali pakai
  • Masker
  • Pinset
  • Lampu senter
  • Gelas untuk cuci mata
  • Kantong plastik bersih
  • Aquades (100 ml larutan saline)
  • Povidon iodin (60 ml)
  • Alkohol 70%
  • Buku panduan P3K
  • Buku catatan daftar isi kotak

Sebagian kita seringkali menganggap kotak P3K adalah sesuatu hal yang sepele. Apalagi bila perjalanan yang dilakukan dianggap sangat aman dan tidak membahayakan. Anggapan ini nilainya separuh benar dan separuh salah. Ia separuh benar kalau perjalanannya aman-aman saja dari awal sampai akhir. Dan ia pun separuh salah, kalau ternyata ditengah-tengah perjalanan terjadi insiden atau kecelakaan.

Nah! Karena yang namanya ‘insiden’ atau ‘kecelakaan’ itu sifatnya dinamis (bisa terjadi kapan saja tanpa diduga-duga sebelumnya), adalah sangat dianjurkan untuk membawanya serta, sekalipun perjalanan tersebut memiliki tingkat safety paling tinggi, misalnya. Hope for the best, plan for the worse.

 

Mencatat nomor-nomor telepon penting

Mencatat nomor telepon penting memang terkesan sepele pada awalnya. Namun, kegiatan catat-mencatat ini baru akan terasa manfaatnya bilamana terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan berada di luar kemampuan kita, dan untuk menyelesaikannya membutuhkan bantuan orang lain.

Jelas! Kita sangat tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi selama perjalanan road trip. Tapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi kemudian? Ya, kan?

Dan boleh jadi, nomor-nomor penting yang kita catat tersebut, ternyata dapat membantu bahkan menyelamatkan nyawa orang lain yang kebetulan kita temui di perjalanan. Jadi, selain jalan-jalan, kita juga bisa berbuat kebaikan untuk orang lain.

Nomor-nomor penting itu sendiri seperti misalnya, nomor telepon rumah sakit, kepolisian, pemadam kebakaran, jasa derek, bengkel (resmi dan non resmi), rental/penyewaan kendaraan, hotel atau penginapan, dan lain-lain.

Perlu dicatat: Pada saat-saat yang mendesak, segala nomor telepon atau kontak yang semula terkesan remeh (pada kondisi-kondisi normal), sangat mungkin berubah menjadi nomor telepon yang sangat penting. Terutama bila hanya itu nomor satu-satunya yang bisa kita andalkan.

 

Pertimbangkan membawa peta analog

Walaupun kita bisa mengandalkan perangkat Global Positionaing System (GPS), adakalanya perangkat tersebut tidak dapat bekerja dengan baik. Bisa karena sulitnya mendapat sinyal GPS akibat cuaca yang tidak bersahabat (hujan deras, berawan atau berkabut tebal), terhalang hutan lebat, kemampuan perangkat GPS yang melemah, kondisi geografis, dan lain sebagainya.

Walau kendala di atas bisa disiasati dengan bertanya (kepada siapapun yang kita temui di jalan), sayangnya, di lapangan, tidak selalu bisa diterapkan, terutama pada saat malam hari dan/atau posisi kita sangat jauh dari pemukiman.

Tetapi, mau bertanya pun, kepada seseorang yang kebetulan lewat, iya kalau dia bukan orang jahat. Atau, mau memberhentikan kendaraan lain di tengah gelapnya malam? Hmm… bisa juga. Bisa dikira kita sedang mencari korban.

Serba salah memang. Dan “kabar baik”-nya, apa yang baru saya utarakan ini hanyalah satu dari sekian banyak kemungkinan yang akan kita temukan di jalan. Untuk mensiasatinya, cara paling mudah yang bisa kita lakukan adalah dengan membawa serta peta analog tiap-tiap daerah yang akan dilalui. Setidaknya, dengan membawa peta analog, peluang mengira bahwa orang lain itu jahat, dan kita dikira penjahat, jadi semakin tipis.😀

 

Siapkan dana cadangan

Dari segi finansial, perjalanan panjang bisa dimasukkan ke dalam kategori variabel yang ‘dinamis’—bukan ‘statis.’ Artinya, sematang apapun perencanaan keuangan yang telah kita buat, ia masih berpeluang ‘menuntut’ pengeluaran operasional yang lebih dari perhitungan semula.

Besar kecilnya pengeluaran tak terduga ini, sangat tergantung pada situasi dan kondisi di lapangan. Semakin mendesak kepentingannya, semakin banyak (mahal) pula pengeluarannya. Karenanya, selalu siapkan dana cadangan minimal 25% dari total jenderal biaya perjalanan (termasuk dana tak terduga) road trip yang telah kita hitung sebelumnya.

Maksimalnya? Tak terbatas. Yang jelas, semakin besar dananya, semakin ringan pula beban pikiran kita bila terjadi sesuatu di perjalanan kelak.

 

========= DALAM PERJALANAN =========

Fokus pada kondisi jalan

Selain intensitas mobilitas lalu lintas, kelalaian pengendara itu sendiri, atau kelalaian pengendara lain, kondisi jalan yang tidak memadai/rusak juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kecelakaan di jalan. Di Jakarta sendiri, kontribusi kondisi jalan terhadap kecelakaan lalu lintas mencapai sekitar 10 persen dari total kecelakaan yang terjadi.

Pada kenyataannya, ‘kerusakan’ bukanlah satu-satunya kondisi jalan yang berpeluang menyebabkan kecelakaan. Masih banyak faktor-faktor lain, seperti;

  • Hujan
  • Angin
  • Tumpahan oli/minyak
  • Tikungan tajam
  • Tanjakan/turunan curam
  • Kerikil lepas
  • Penerangan jalan yang kurang atau gelap
  • Polisi tidur atau pembatas jalan yang tidak terlihat
  • Tumbangan pohon
  • Tanah longsor
  • Perbaikan jalan
  • Deposit tanah yang dibawa truk-truk pengangkut tanah dan menjadi licin saat terkena air (hujan)—biasanya terjadi di sekitar proyek pembangunan jalan tol atau bangunan/gedung pencakar langit
  • Orang atau binatang yang tiba-tiba menyeberang jalan. Mahluk halus perlu dimasukkan?
  • Benda-benda yang jatuh dari kendaraan lain yang berpotensi membahayakan lalu lintas
  • Dan lain sebagainya

Cara paling aman untuk menghindari kecelakaan akibat kondisi-kondisi jalan tersebut di atas, adalah dengan memperhatikan kecepatan laju kendaraan. Sesuaikanlah antara kondisi jalan, kecepatan kendaraan, dengan skill berkendara kalian. Bila di depan sana terlihat sesuatu yang mencurigakan, apapun itu, segera kurangi kecepatan secara gradual.

Selain itu, membekali diri dengan pengetahuan safety riding/driving adalah sangat dianjurkan. Dan satu lagi! Selalu usahakan tidak membuat manuver mendadak/tiba-tiba saat berkendara, agar terhindar dari tabrak belakang oleh pengendara lain yang biasanya (akan) terkejut dengan manuver tersebut.

 

Jaga jarak aman dengan kendaraan lain

Jarak aman antara kendaraan satu dengan kendaraan lain kurang tepat bila diukur dengan menggunakan satuan panjang. Pengukurannya lebih tepat menggunakan satuan waktu. Kenapa? Karena kecepatan antara kendaraan satu dengan lainnya—di jalan—cenderung tidak seragam. Ada yang lebih lambat, ada pula yang lebih cepat.

Contoh:

Diasumsikan, jarak aman antar-kendaraan yang ditetapkan adalah; 200 m. Kendaraan A melaju dengan kecepatan 90 km/j. Sementara kendaraan B, yang mengekor di belakangnya, melaju dengan kecepatan 100 km/j (= 100,000 m/j = 1,667 m/detik).

Dengan kondisi tersebut, bila kendaraan A tiba-tiba hilang kendali, atau mengerem mendadak, maka tumbukan antar kedua kendaraan tersebut akan terjadi di bawah 1 detik saja (200 m / 1,667 m/detik = 1/8 detik = 0.125 detik). Bila rata-rata refleks manusia adalah 0.215 detik, rasa-rasanya mustahil kendaraan B dapat menghindari kendaraan A tersebut, bukan?

Lalu, berapakah jarak aman yang dianjurkan di jalan?

Rule of thumbs jarak aman minimum yang biasanya diterapkan di jalan, pada kecepatan berapapun, adalah 2 detik.

Ingat! Ini adalah jarak minimum. Agar lebih amannya, mari kita buat saja kisaran aman tersebut menjadi minimum 3 detik. Semakin tinggi angkanya, akan semakin baik. Sehingga, walaupun dalam keadaan panik, diharapkan, kita masih bisa menghindar/bermanuver/bereaksi dengan aman.

 

Tips Menghadapi Road Trip Panjang

Tips Menghadapi Road Trip Panjang

 

Bila tubuh terasa lelah, mengantuk, dan lain sebagainya segeralah menepi

Mengantuk, lelah, sakit, atau apapun yang tubuh kita rasakan, adalah sinyal penting yang disampaikan otak agar kita segera waspada. Fungsinya seperti alarm, yang memberitahukan bahwa telah terjadi sesuatu yang “tidak beres” pada tubuh kita dan membutuhkan penanganan dengan segera.

Pada lingkungan dengan pergerakan lamban seperti di dalam ruangan, sedikit mengabaikan apa pun yang dirasakan tubuh kita, mungkin tidak akan terlalu membahayakan keselamatan nyawa. Namun, bila kebiasaan mengabaikan ini diterapkan pada lingkungan yang melibatkan pergerakan cepat, seperti berkendara, tentu bisa mengundang celaka. Entah bagi diri kita sendiri, terlebih lagi bagi orang lain yang berada di sekitar kita saat itu.

Untuk itu, bila kalian merasa lelah atau mengantuk, segeralah menepi ke area jalan yang relatif aman. Terutama bila tempat yang dituju masih cukup jauh. Mengapa? Karena tak jarang, perbedaan antara selamat dengan celaka hanya terjadi pada rentang waktu yang biasanya relatif singkat—kadang dalam hitungan sepersekian detik.

Istirahat sejenak, tidur, meregangkan otot-otot yang kaku (stretching), olahraga ringan, dan lain sebagainya, dapat membantu mengembalikan tubuh kita ke kondisi semula.

Atau, bila kalian telah memperhitungkan (menyediakan) pengendara cadangan sebelumnya, maka, pengendara ini bisa diandalkan sementara waktu, seandainya target tempat berikutnya harus disegerakan untuk didatangi. Setidaknya sampai kondisi tubuh kalian atau pengendara utama kembali pulih seperti sediakala.

Untuk interval istirahatnya sendiri—selama dalam masa perjalanan mencapai tujuan berikutnya—bisa kalian atur per satu jam sekali, per dua jam sekali, per 100 km, per 250 km, dan seterusnya. Dengan rentang istirahat sekitar 15-30 menit. Usahakanlah untuk tidak terlalu memforsir diri.

 

Tentukan interval istirahat tidur per harinya

Idealnya, dalam sehari, manusia membutuhkan waktu istirahat hingga 8 jam. Namun, sudah menjadi hal yang lumrah, jika dalam suatu perjalanan, apalagi road trip, istirahat tidur kita menjadi terganggu. Entah karena target jadwal yang terlalu ketat, atau karena kondisi jalan membuat pencapaian target yang semula direncanakan, bergeser lebih panjang beberapa jam.

Untuk mensiasati hal ini, kita bisa menggunakan sistem penjadwalan fleksibel, di mana pewaktuan (timing) pada jadwal yang telah ditetapkan, dirancang bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan tidur yang 8 jam tersebut.

Sayangnya, sistem ini punya kelemahan di mana-mana, seperti misalnya; kita harus menyediakan waktu dan dana yang relatif banyak, dan tipe atau lokasi (wisata) yang kita tuju tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu (i.e. perayaan Waisak di Borobudur, Jember Fashion Carnaval, Tradisi Ma’nene di Tana Toraja, Upacara Rambu Solok, perayaan Nyepi di Bali, dan lain sebagainya).

Namun demikian, banyak juga teman yang beranggapan, “Untuk apa kita berlibur, kalau cuma untuk pindah tidur—8 jam?”

Menurut saya pribadi, pendapat ini ada benarnya. Jika dan hanya jika! Perjalanan wisata tersebut hanya memakan waktu yang relatif singkat (1-3 hari), bukan perjalanan road trip, dan tidak melibatkan diri kita sebagai pengendara (utama/cadangan) sarana transportasinya—mobil atau motor.

Intinya, untuk setiap perjalanan road trip panjang, yang namanya kesehatan harus dijaga ekstra dan dinomorsatukan. Ingat! Kalian membawa kendaraan sendiri dalam rentang perjalanan yang demikian panjang. Tanggung jawabnya berganda. Yaitu harus menjaga keselamatan diri sendiri, penumpang (kalau ada), dan kendaraan.

 

Lakukan update status perjalanan secara rutin dan berkelanjutan

Bagi penghobi media sosial, yang namanya update status mungkin tidak perlu diajarkan lagi. Bahkan, pada tingkatan tertentu, rasa-rasanya, mereka jauh lebih ahli daripada saya—yang cenderung anti-mainstream. Lebih suka aktifitas sosial tanpa embel-embel media, alias bertemu langsung dengan lawan bicara. Tapi bukan ini maksud saya.

Update status yang dimaksud di sini, adalah mengabarkan suatu berita kepada orang-orang rumah, atau teman-teman dekat, atau siapapun yang kita percaya, perihal kondisi terkini kita selama masa perjalanan road trip berlangsung.

Fungsinya, selain mereka bisa mengetahui kondisi kita, juga berperan sebagai ‘pelacak’ seandainya sesuatu yang buruk terjadi dan butuh penanganan segera (walaupun jelas! Hal tersebut sangat tidak kita harapkan).

“Cara kerja” update status ini bisa dibilang mirip-mirip dengan perangkat GPS Tracker. Hanya bedanya, ia bekerja secara manual, dengan adanya interaksi real-time antara 2 atau lebih manusia melalui perantara telepon seluler/handphone/smartphone/perangkat komunikasi lainnya.

Informasi yang bisa kita berikan kepada mereka cukup beragam, seperti misalnya;

  • Lokasi di mana kita berada saat itu
  • Kondisi kesehatan kita (dan peserta road trip lain—bila ada)
  • Kejadian-kejadian yang baru saja, atau sedang dialami
  • Prediksi situasi dan kondisi perjalanan ke depan
  • Permintaan bantuan atau koordinasi tentang suatu hal atau masalah
  • Kalibrasi informasi riil dengan jadwal perjalanan yang sebelumnya kita beritahukan kepada mereka
  • Dan lain sebagainya

 

Bila kendaraan tiba-tiba bermasalah

Permasalahan yang terjadi pada kendaraan saat perjalanan berlangsung, tentu sangat merepotkan. Tahap pertama yang perlu kita lakukan bila kendaraan tiba-tiba bermasalah adalah dengan meminggirkannya ke tepi jalan yang dianggap aman.

Kemudian—khusus mobil dan motor dengan sespan (kereta samping)—memasang segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya, atau tanda lain (lampu darurat, senter, ranting pohon, ban serep, dan lain-lain) yang mengisyaratkan bahwa kalian sedang berhenti atau parkir dalam keadaan darurat.

Posisikan tanda tersebut sejauh 25 meter atau lebih, dari kendaraan kalian. Tujuannya, bila tiba-tiba ada kendaraan yang melaju kencang dan tidak melihat (meleng), mereka masih punya waktu untuk menghindar, sehingga kita pun bisa terhindar dari maut.

Hal berikutnya yang bisa kita lakukan adalah mengidentifikasi masalah. Dari mana asalnya, ringan atau berat, bisa diperbaiki atau tidak, mengganggu operasional kendaraan secara keseluruhan atau hanya sebagian, dan lain sebagainya.

Bila bisa ditangani sendiri, segera perbaiki. Namun, bila membutuhkan campur tangan sang ahli, ada 2 cara yang bisa kita lakukan; pertama, membawa (mendorong atau menarik/menderek) kendaraan ke bengkel terdekat. Dan yang kedua, memanggil montir/mekanik ke lokasi kerusakan, bila kemungkinan pertama tidak mungkin dilakukan.

Pesan saya; Jangan pernah memaksakan kendaraan yang sedang bermasalah—atau mengindikasikan kerusakan yang cukup berat—jika tidak ingin menanggung kerusakan yang semakin parah. Utamakan keselamatan dan tercapainya misi utama perjalanan.

 

Gunakan atribut glow in the dark

Penggunaan atribut glow in the dark (i.e. mata kucing dan stiker scotch light), selain berfungsi sebagai ‘penerangan’ sekunder, juga bisa berperan sebagai “peringatan dini” bagi pengendara lain perihal keberadaan kita.

Pada kondisi terang, fungsi atribut ini cenderung tidak kelihatan. Tetapi, pada kondisi gelap, ia bisa jadi pembeda antara selamat dan celaka, terutama pada saat putar balik, menyeberang atau memotong jalan orang lain, berhenti menepi, melintasi jalan raya yang memotong hutan, dan penerangan kendaraan kita redup atau mati.

Letakkan atribut ini di bagian-bagian yang tidak terdapat lampu, seperti pada bagian samping kiri-kanan kendaraan atau jaket dan helm bagi pengendara motor. Ini penting. Kendaraan yang tidak dilengkapi dengan atribut penerangan di sisi kanan-kiri sangat rawan tabrak samping, terutama pada saat memotong jalur pengendara lain secara bersilangan. Dan, kejadian tabrakan atau nyaris menabrak ini, biasanya terjadi pada malam hari atau pada kondisi jalan yang redup/gelap.

Ada pemeo yang menyatakan, “Di jalan raya, kemungkinannya cuma 2; kalo gak kita yang nabrak, ya, kita yang ditabrak.” Boleh jadi, ungkapan ini ada benarnya. Namun demikian, tentu kita tidak ingin ungkapan ini benar-benar terjadi, bukan?

 

Kendaraan semi offroad lebih dianjurkan

Kendaraan semi offroad biasanya memiliki ground clearance (jarak antara aspal jalan dengan bagian terendah kendaraan) yang sedikit lebih tinggi ketimbang kendaraan harian (khusus jalan raya). Untuk perjalanan road trip yang tidak melulu melewati jalan raya, tinggi ‘tambahan’ ini jelas menguntungkan, karena ia bisa memperpanjang ‘langkah’ kita ketika menemui jalur yang tidak mungkin dilalui jenis kendaraan jalan raya yang memiliki ground clearance rendah.

Terbayang, kan, betapa merepotkannya bila jalur yang kita pilih untuk mencapai Kota X, ternyata berujung pada jalan tanah berbatu yang rusak berat, yang karenanya, memaksa kita untuk memutar balik mencari jalur alternatif, yang kita sendiri pun tidak tahu harus lewat mana. Itu pun belum memperhitungkan ritual tanya-tanya kepada penduduk sekitar.

 

Hindari perjalanan larut malam

Perjalanan malam hari jelas sangat menguntungkan, karena kondisi jalannya yang cenderung lebih lengang, sehingga kita pun lebih cepat sampai di tujuan. Sayangnya, perjalanan malam seperti ini juga relatif rawan kejahatan.

Untuk mensiasatinya, kita harus mengetahui terlebih dahulu kondisi wilayah yang rencananya akan dilalui tersebut. Selama jalur yang akan kita lalui tidak ‘terpotong’ melewati area hutan atau wilayah-wilayah yang sangat sepi, perjalanan malam relatif aman dieksekusi. Namun demikian, ada baiknya jika perjalanan malam seperti ini dihindari, atau dibatasi sampai pukul 21.00-22.00 saja.

Mengapa?

Karena, pada daerah-daerah tertentu—terutama yang terpencil—aktifitas masyarakatnya akan mulai berhenti antara pukul 18.00-21.00. Sehingga, bila pada saat itu kita membutuhkan sesuatu (barang, makanan, atau pertolongan), peluang mendapatkannya (dari warga sekitar) tentu akan semakin menipis. Kalau sudah begini, usaha yang kita butuhkan untuk mendapatkannya pun otomatis menjadi lebih besar.

 

Membawa uang kontan/cash dalam jumlah yang relatif cukup

Bila di kota-kota besar saja tidak semua tempat menyediakan Automated Teller Machine (ATM), maka di kota-kota kecil atau daerah-daerah terpencil, tentu tempat-tempat yang menyediakan mesin ATM ini jumlahnya lebih sedikit lagi dan cenderung terbatas. Itupun belum memperhitungkan dari bank mana mesin ATM tersebut disediakan, dan dari bank mana pula kartu ATM kita diterbitkan.

Membawa uang cash/kontan dalam jumlah besar bisa dibilang tidak praktis dan cenderung beresiko mengundang kejahatan. Tetapi, tidak menyediakan atau membawanya dalam jumlah yang cukup, juga bisa jadi bencana.

Solusi “jalan tengah” dari kedua masalah tersebut cukup mudah. Yaitu, dengan (hanya) mengambil uang sejumlah (perkiraan) yang kita butuhkan, secara parsial, per lokasi tujuan. Tentu dengan mempertimbangkan ketersediaan mesin-mesin ATM tadi di setiap lokasi yang hendak kita datangi.

Bila di lokasi berikutnya (dan berikutnya lagi) diperkirakan tidak tersedia mesin ATM, sementara persediaan uang kontan/cash kita mulai menipis, maka segeralah mengambil uang di mesin-mesin ATM terdekat. Jangan sampai kehabisan uang, baru mencarinya. Karena tindakan tersebut akan sangat merepotkan diri sendiri.

Beberapa orang mungkin akan menganggap solusi jalan tengah ini merepotkan. Dan, lebih memilih menyediakan atau membawa uang sejumlah total jenderal yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan perjalanan road trip-nya. Sah-sah saja sebenarnya. Toh, apa yang saya kemukakan di sini sifatnya opsional/pilihan. Masing-masing punya resikonya sendiri-sendiri. Pilihannya? Tentu ada di tangan kalian.

 

Hormati pengguna jalan lain

Beberapa kali saya pernah berpapasan dengan gerombolan touring di jalan—sengaja menyebutnya dengan ‘gerombolan’ ketimbang ‘rombongan.’ Entah itu motor, entah itu mobil, lagaknya sama saja. Bukan main arogan, macam jagoan. Seolah-olah, orang lain itu cuma numpang menggunakan jalan yang dikiranya dibuat oleh dia punya bapak moyang.

Seenaknya memblokir jalan, menghalau paksa pengguna jalan lain agar memberi ruang, menggunakan dan menyalakan sirene (+ police beacon/lightbar dan sejenisnya) yang seharusnya hanya boleh digunakan untuk kepentingan tertentu, dan lain sebagainya, adalah sebuah pemandangan yang lumrah.

Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan, menyebutkan bahwa, “kepentingan tertentu” yang dimaksud di sini seperti misalnya; pemadam kebakaran, ambulans, kendaraan bermotor untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan, kendaraan pimpinan lembaga negara, kendaraan bermotor pengangkut jenazah, kendaraan bermotor petugas kepolisian, kendaraan bermotor pengawalan Tentara Nasional Indonesia, kendaraan bermotor penanganan bencana alam, kendaraan bermotor untuk pengawasan jalan tol, kendaraan bermotor untuk pengawasan sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan.

Pertanyaannya adalah; Di mana kira-kira posisi gerombolan tadi pada pasal ini? Di mana pula posisi keberhakan mereka melakukan hal tersebut, pada Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan?

Jawabannya… tidak ada!

Namun demikian, saya juga yakin tidak semua orang yang tergabung dalam aktifitas touring atau road trip yang dilakukan secara berkelompok, petantang-petenteng sok jagoan macam itu. Walau jumlahnya mungkin lebih sedikit.

Saran saya: Di manapun posisi kalian, entah pengendara sopan atau pengendara sok jagoan, berpikirlah selalu, bahwa jalan raya—di manapun—itu adalah milik bersama. Kecuali telah ditetapkan dalam undang-undang, setiap orang memiliki hak yang sama dalam menggunakan jalan raya. Tanpa terkecuali.

 

Menghemat pengeluaran biaya

Dalam perjalanan, terkadang hasrat untuk menghambur-hamburkan uang menjadi begitu kencang. Kita ingin mencoba makanan ini, objek wisata itu, fasilitas wisata apa, kamu di mana, sama siapa, semalam berbuat apa, Yolanda… pokoknya segala yang ada di depan mata inginnya dicoba.

Pun demikian dengan membeli barang-barang, yang boleh jadi tidak kita perlukan. Entah itu didasari keisengan semata atau alasan membeli bingkisan sebagai buah tangan bagi kerabat dan handai tolan sepulangnya nanti.

Sebenarnya, tak ada salahnya dengan oleh-oleh/buah tangan ini, karena ia bisa merekatkan hubungan kekerabatan dan pertemanan kita. Namun demikian, ada baiknya pengeluaran ini dipisahkan ke dalam satu pos pengeluaran khusus. Jangan disatukan dengan biaya operasional road trip kalian. Sehingga pengeluaran yang tidak perlu, yang tidak membawa manfaat bagi perjalanan road trip itu sendiri, tetap bisa dikendalikan.

 

Improvisasi

Yang terakhir dan tak kalah penting adalah improvisasi. Dalam bahasa sederhana, kita bisa mengartikan improvisasi dengan melakukan sesuatu tanpa adanya persiapan terlebih dahulu. Ia adalah sesuatu hal yang benar-benar berada di luar rencana perjalanan kita semula, dan terkadang membutuhkan kreatifitas dari para pelakunya.

Contoh:

  • Ban motor kalian tiba-tiba bocor di tengah-tengah hutan, yang dengannya, otomatis tak ada satu pun tukang tambal ban. Walaupun peralatan emergency telah kalian bawa, sayangnya ban dalam tidak terbawa. Dengan kondisi seperti ini, melanjutkan perjalanan dengan menuntun kendaraan, tentu sangat melelahkan. Tapi, mau dikendarai juga, peluang kerusakan pada sektor kaki-kaki—seperti ban luar, ban dalam, dan velg—potensinya pasti cukup tinggi. Nah! Untuk mensiasati hal ini, sebenarnya, triknya sangat sederhana, yaitu dengan ‘mengganti’ ban dalam tersebut dengan rumput.
  • Lampu utama kendaraan mati? Bisa diganti dengan senter/headlamp/lampu darurat (emergency lights).

Intinya, dengan berimprovisasi, kita dituntut untuk bersikap terbuka terhadap opsi lain manakala tujuan utama tidak didapatkan atau tercapai.

 

 ========= KEMBALI PULANG =========

Pilih rute pulang yang berbeda dengan rute berangkat

Bila memungkinkan, pilihlah rute yang berbeda antara jalur keberangkatan dengan jalur kepulangan. Tujuannya, selain bisa memperkaya pengalaman perjalanan, dengan kalian melakukan hal ini, tentu peluang kebosanan dapat dihindarkan. Dan, boleh jadi, klimaks perjalanan road trip kalian justru terjadi dalam rentang perjalanan pulang tersebut.

 

Buat ritme perjalanan pulang mengalir pelan

Kecuali ada sesuatu yang harus disegerakan, buatlah perjalanan pulang kalian senyaman mungkin, dengan ritme yang mengalir pelan. Perjalanan pulang akan terasa lebih berat kalau yang ada di pikiran kita cuma ‘rumah’ dan ‘rumah’ dan “cepat sampai.”

Jangan jadikan perjalanan pulang sebagai sebuah pencapaian tujuan yang harus disegerakan. Nikmatilah perjalanan, karena boleh jadi momen road trip panjang seperti ini tidak akan terjadi lagi di masa mendatang. Entah karena kesibukan yang jauh lebih padat, faktor umur, ketersediaan dana, dan lain sebagainya.

 

Mengirim kendaraan pulang

Walaupun terkesan janggal, pilihan ini patut pula dipertimbangkan. Terutama bila kondisinya tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan pulang, seperti misalnya; tiba-tiba sakit parah, di mana jumlah peserta road trip berbanding lurus dengan jumlah kendaraan (rasio 1:1), atau kendaraan yang kita gunakan mendadak rusak berat di tengah perjalanan.

Memang, untuk memulangkan kendaraan, membutuhkan effort yang cukup lumayan. Tapi itu masih lebih ringan ketimbang memaksakan diri membawanya pulang, sendiri.

***

Tarik napas sejenak…

Awalnya saya mengira tips menghadapi road trip panjang ini hanya akan berisi 5-9 poin saja. Namun, rupanya Tuhan berkehendak lain. Dalam perjalanan, “beberapa poin” tersebut ternyata bermetamorfosa menjadi “beberapa halaman” yang jumlahnya pun belasan. Tapi, tak mengapa lah ya, anggaplah ini sebagai budaya berbagi yang tidak setengah hati. ^_^ [BEM]