Sarapan pagi di Argasoka Bungalows

Pagi merambat cepat di langit Ubud, Bali. Hujan diluar penginapan—Argasoka Bungalows—membuat gravitasi disekeliling tempat tidur kami berempat berada di level 10G. Sulit sekali memisahkan badan dari ranjang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan.

“Besok sarapan jam delapan ya mas… mbak…”

Ingatan pada kalimat sederhana ini, ternyata mampu mengurangi gravitasi tempat tidur kami ke level 5G. Gaya travellingparlente padahal kere” yang kami anut, membuat pemberitahuan dari karyawan penginapan tersebut terdengar seperti angin surga, layaknya kata-kata pujangga di telinga. Dari sekilas survey yang kami lakukan, harga makanan di Ubud relatif mahal untuk ukuran kantong kami. Dan kata kunci “kere” ini jugalah yang akhirnya me-normalisasi gravitasi disekeliling ranjang menjadi 1G.

Argasoka Bungalows - Family Superior Room

Argasoka Bungalows – Family Superior Room

Hujan tak menampakkan gejala akan berhenti pagi itu. Tapi kami pantang terdominasi. Segala hal yang telah direncanakan malam sebelumnya harus tetap dijalankan, bagaimanapun keadaannya. The show must go on, seperti salah satu lagu Queen.

Dan kamipun sudah berada di pondok makan penginapan.

Sayangnya bahasa inggris saya kurang fasih, sehingga sulit menghafal menu sarapan pada daftar menu yang tersedia. Bahasanya “Inggris” semua, seperti mie keriting bagi saya. Maklum orang desa. Yang saya ingat hanya omelet, scrambled egg, juga pancake. Itupun sulit sekali manghapalnya. Saya baru tahu maksudnya setelah bertanya dan melihat wujud aslinya, fiuh. Roti tawar isi telur ceplok (mata sapi) akhirnya menjadi pilihan saya—bahasa keren-nya apa ya? Lupa.

Di meja tetangga, nun dipojokan sana, seorang turis asing tertawa geli setelah mengintip pesanannya yang berupa roti tawar isi pisang. Dari tempat saya duduk, “isi pisang” ini lebih mirip koyo cap cabe, tipis menempel di sela-sela roti. Mungkinkah isi pikiran si bule mirip dengan pemikiran saya? Yah siapa you know?

“Minumnya apa Mas?,” seorang karyawan penginapan tiba-tiba menginterupsi.

“Lho kok situ tahu kalo nama saya Dimas?”

“Mmm, saya pesan ini Mas, Watermelon juice. Eh, Watermelon itu apa ya?”

Bukannya menjawab pertanyaan saya, sang karyawan  ini malah melongo. Entah karena pertanyaan saya yang kurang jelas, atau ia merasa itu adalah pertanyaan jebakan. Teman-teman yang lain tiba-tiba tertawa. Entah karena melihat si karyawan tadi melongo? Atau mendengar pertanyaan saya yang terlalu cerdas? Seperti ada yang salah…, Tapi apa ya? Hmm…

 

Argasoka Bungalows (seberang Ubud Inn)

Monkey Forest Road (Jalan Wanara Wana)

Ubud 80571 – Bali, Indonesia

Telp. (0361) 970.912

Email: argasokabungalows@yahoo.co.id

 

Beberapa type kamar yang tersedia di Argasoka Bungalows

Standard Single: 1 single bed, private patio, untuk 1 orang

Standard Double: 1 double bed, private patio, berbentuk rumah asli Bali, untuk 2 orang

Superior Double: 1 double bed, open terrace, untuk 2 orang

Family Superior: 1 single bed, 1 double bed, kamar terbesar, untuk 3-4 orang. Kamar pilihan kami berempat.  345,000 Rp per-malam +1 extra bed.

 

Letak: Sebelah kiri Jalan Monkey Forest (10 menit jalan kaki dari Monkey Forest)

Suasana: Tenang, asri, hijau

Fasilitas: Kolam Renang, Taman, Restaurant

Staff: Ramah

Harga: Relatif terjangkau

Rekomendasi: Ya

Terminal Ubung – Argasoka Bungalows: 45 menit

Bandara Ngurah Rai – Argasoka Bungalows: 1 jam 30 menit

 

Transportasi Ke Ubud:

Taksi

Terminal Ubung – Ubud: 150,000 Rp (harga tawar menawar)

Bandara Ngurah Rai – Ubud: 250,000 Rp

Angkutan Umum

Terminal Ubung ke Ubud:

Terminal Ubung – Terminal Batu Bulan (Bemo): 10,000 Rp

Terminal Batu Bulan – Ubud (Elf): 25,000 Rp

Bandara Ngurah Rai ke  Ubud:

Bandara Ngurah Rai – Central Park Kuta (Taksi): 50,000 Rp (harga tawar-menawar)

Central Park Kuta – Terminal Batu Bulan (Trans Sarbagita—Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan): 3,500 Rp

Terminal Batu Bulan – Ubud (Elf): 25,000 Rp

 

Catatan kecil:

Taksi/Ojek dari Bandara Ngurah Rai, Bali relatif mahal bagi kantong backpacker wannabe seperti saya. Untuk mengantarakan ke Kuta, para supir Taksi menawarkan jasanya rata-rata 100,000 Rp. Sedangkan para tukang ojek menawarkan jasanya dikisaran 50,000 Rp – 70,000 Rp. Bila anda ingin lebih murah, berjalanlah keluar bandara—bisa melalui parkir motor. Kemudian mencari taksi di pinggir jalan, di luar bandara.

Perjalanan keluar bandara Ngurah Rai yang baru—diperluas—ini cukup jauh, sekitar 1 kilometer. Tapi sebagai reward-nya, anda bisa mengirit ongkos lumayan banyak. Dalam kasus saya, berkaitan dengan tukang ojek. Awalnya mereka meminta 70,000 Rp sebagai pengganti jasanya. Kemudian saya menawar 20,000 Rp untuk mengantarkan saya ke Kuta. Kemudian sang tukang ojek ini secara bertahap menurunkan tawarannya, mulai dari 65,000 Rp, kemudian 60,000 Rp, kemudian mentok di 50,000 Rp.

Setelah merasa proses tawar menawar tersebut sangat alot, akhirnya saya tolak tawaran jasa mereka dan mulai berjalan kearah luar bandara. Tapi sang tukang ojek ini terus mengikuti dan memaksa. Setelah putus asa, akhirnya ia menawarkan ongkos sebesar 25,000 Rp untuk mengantarkan saya sampai di Kuta. Karena semakin lama semakin jengkel dengan ulah sang tukang ojek ini, akhirnya dengan terpaksa saya menyetujui harga yang ditawarkan dan menggunakan jasanya.

 

Menuju Campuhan Ridge Walk

Setelah menunggu belasan menit, hujan akhirnya mereda. Ekspektasi optimis kami terbayar saat itu juga. Dengan perut kenyang, kami memulai perjalanan menuju Campuhan Ridge Walk. Pagi itu Jalan Monkey Forest masih terlihat sepi. Barisan kendaraan yang terparkir sesak di bahu jalan pada malam sebelumnya, kini terlihat sedikit lengang. Lalu lalang kendaraan yang melintas di jalur satu arah Jalan Wanara Wana—nama lain Jalan Monkey Forest—pun masih dapat dihitung dengan jari.

Dari pintu masuk penginapan—Argasoka Bungalows, kami berjalan kearah kiri. Disepanjang Jalan Monkey Forest, banyak sekali terdapat toko, penginapan, café, maupun restoran. Orientasinya jelas, lebih kepada turis asing. Maklum, hampir setiap malam jalan ini penuh turis-turis asing berlalu-lalang. Entah untuk makan, melepas kepenatan, atau sekedar menikmati malam. Rasanya seperti bukan berada di negeri sendiri.

Jalan Campuhan - Menuju Warwick Ibah

Jalan Campuhan – Menuju Warwick Ibah

Jalan Campuhan - Menuju Monkey Forest (arah sebaliknya)

Jalan Campuhan – Menuju Monkey Forest (arah sebaliknya)

Dipersimpangan, diujung Jalan Monkey Forest, kami kembali belok kekiri, memasuki Jalan Campuhan. Pada setengah Jalan Campuhan, toko, café, dan penginapan masih terlihat bertebaran. Namun menjelang setengah perjalanan kedua, yang ada hanyalah tembok-tembok tinggi menjulang dengan pohon-pohon beringin berukuran besar yang saling bersisian.

 

Akses masuk menuju Campuhan Ridge Walk

Dari Argasoka Bungalows hingga “pintu masuk” Bukit Campuhan, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan berjalan kaki. Bila anda belum pernah ke tempat ini, tentu akan kesulitan mencari pintu masuk yang saya maksud. Kami langsung tahu, karena pada malam sebelumnya, saya dan Ika telah melakukan survey terlebih dahulu.

Walaupun Bukit Campuhan ini cukup populer, pada kenyataannya, informasi yang tersedia di internet sangat minim. Dibutuhkan berhari-hari bagi saya untuk mendapatkan informasi pintu masuk menuju Campuhan Ridge Walk ini. Sebutan “Campuhan Ridge Walk” pun baru saya ketahui setelah berada di Ubud, Bali. Damn!

Warwick Ibah Luxury Villas and Spa

Warwick Ibah Luxury Villas and Spa

Bagi anda yang belum pernah ke tempat ini, jangan khawatir, saya akan memberikan patokan mudahnya. Dari Jalan Monkey Forest, lurus terus hingga menemukan perempatan pertama. Kemudian belok ke kiri, ke Jalan Campuhan. Sampai anda menjumpai tembok-tembok yang menjulang tinggi dengan feature pohon beringin besarnya, mulailah lajukan kendaraan anda secara perlahan. Menjelang turunan yang mengarah kekiri, perhatikan bagian jalan di sebelah kanan. Temukan papan nama Warwick Ibah Luxury Villas & Spa. Disitulah letak pintu masuknya.

Sebagai catatan saja, tidak ada lahan parkir disekitar area ini. Oleh sebab itu, anda bisa memarkirkan kendaraan disekitar Jalan Monkey Forest atau menumpang parkir di Warwick Ibah Villas—itupun bila diijinkan.

Kiri Pura Gunung Lebah, Kanan Warwick Ibah

Kiri Pura Gunung Lebah, Kanan Warwick Ibah

Pura Gunung Lebah Kiri, Bukit Campuhan Kanan

Pura Gunung Lebah Kiri, Bukit Campuhan Kanan

 

Dari depan papan nama Warwick Ibah Villas, ambillah jalan menurun dibagian kiri. Begitu sampai di jembatan, ambil jalur setapak menurun dibagian kanan jembatan—bila lurus, anda akan masuk ke Pura Gunung Lebah. Sekitar lima menit dari jembatan, anda sudah memasuki area Bukit Campuhan atau Campuhan Ridge Walk. Jangan khawatir, anda tidak akan tersesat ditempat ini. jalurnya hanya satu. Membentang dari selatan ke utara.

 

Pura Gunung Lebah

Pura Gunung Lebah adalah jenis pura Kahyangan Desa atau pura yang letaknya berada di desa pakraman (desa adat). Dan Ubud termasuk kedalam tipe desa adat.

Dari Bandara Ngurah Rai, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam 30 menit untuk mencapai pura ini. Letaknya masih satu arah dengan pintu masuk menuju Bukit Campuhan.

Dibandingkan dengan pura-pura yang lain, Pura Gunung Lebah memiliki keunikan tersendiri, yaitu letaknya yang berada di lembah, dekat dengan sungai. Padahal, pada umumnya, pura-pura di Bali dibangun disuatu tempat yang lebih tinggi—sebagai  simbol kesucian dan kesuburan.

Tukad Yeh Wos Tengen

Tukad Yeh Wos Tengen

Lembah dimana pura ini berada merupakan titik pertemuan dua buah sungai, yaitu Tukad Yeh Wos Kiwa dan Tukad Yeh Wos Tengen. Kedua sungai tersebut bertemu dan menjadi satu menjadi Sungai Campuhan (pecampuhan). Walaupun posisinya berada di lembah, orientasinya tetap, yaitu kearah Gunung Batur. Dan Pura Gunung Lebah inilah yang disebut-sebut sebagai cikal bakal Desa Ubud. Dalam perjalanan saya ke Ubud, pura ini sedang dalam proses revonasi.

Ada sebuah cerita rakyat yang cukup menarik berkaitan dengan Pura Gunung Lebah ini. Alkisah, pada jaman dahulu kala, disekitar pura, hiduplah dua raksasa; laki-laki (muani) dan perempuan (luh). Keduanya sering memakan penduduk yang sedang ngayah (melakukan pekerjaan tanpa mendapatkan upah) di Pura Gunung Lebah. Masyarakat kemudian mengetahui hal itu. Mereka marah dan membunuh keduanya. Raksasa laki-laki mati di pacul (perkakas bertani) di sebuah desa yang sekarang disebut Penestanan. Sedangkan raksasa perempuan mati karena goa tempatnya tinggal—di aliran Sungai Tukad Yeh Wos Kiwa—dibakar oleh masyarakat setempat.

 

Menyusuri Campuhan Ridge Walk

Bagian Awal Jalur Bukit Campuhan 1

Bagian Awal Jalur Bukit Campuhan 1

Bagian Awal Jalur Bukit Campuhan 2

Bagian Awal Jalur Bukit Campuhan 2

 

 

“Tepi Campuhan aku sendiri, menahan hening redup senja ini

Tepi Campuhan aku menyepi, Menahan dingin kabut senja ini

Disini aku sendiri… Disini ku saat ini… Nikmati sepi…”

Bukit Campuhan adalah versi saya. Campuhan Ridge Walk adalah versi turis asing. Sementara Bukit Suci Gunung Lebah adalah versi masyarakat setempat. Apapun sebutannya, Bukit Campuhan menawarkan kedamaian persis seperti yang tertuang dalam lirik lagu “Tepi Campuhan” dari Slank tersebut. Bising kendaraan tidak terdengar dari tempat ini. Segalanya serba hijau. Sepi. Tempat yang cocok untuk menentramkan diri.

Berfoto Sejenak di Campuhan Ridge Walk

Berfoto Sejenak di Campuhan Ridge Walk

Bukit Campuhan biasanya digunakan para turis asing untuk jogging. Selain udaranya yang sejuk bebas polutan, panorama alamnya juga sangat memanjakan mata. Sementara turis domestik yang datang ketempat ini, selain sekedar sight seing juga memanjakan hasrat fotografi mereka—baca: narsis.

Menikmati Sepi di Bukit Suci Gunung Lebah

Menikmati Sepi di Bukit Suci Gunung Lebah

Membutuhkan waktu sekitar 1 jam 30 menit untuk menyusuri Bukit Campuhan dari ujung-ke-ujung. Mulai dari Pura Gunung Lebah, hingga Villa Lembah Giri yang berada dibagian utara.

Trek disepanjang Bukit Campuhan tidaklah sulit. Kontur jalur yang melandai membuat jalur ini cocok untuk berbagai usia. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Jalur paving block selebar 120 centimeter ini pun cukup aman untuk dilalui ketika hujan,

Menjelang akhir perjalanan, kami memergoki sepasang muda-mudi sedang asik pacaran dibawah sebuah pohon rindang. Kok, jadi kepingin ya

 

Starting Point: Pura Gunung Lebah atau Warwick Ibah Luxury Villas & Spa. Dibagian selatan.

Ending Point: Neka Gallery, Sangingan. Dibagian utara.

Durasi trekking: 3-4 jam. Perjalanan santai.

Waktu terbaik: Musim panas. Golden moment (pagi/sore hari)

Kondisi trek: Paving block. Lebar +- 120 centimeter.

Yang dibawa: Air minum, topi, makanan ringan, dan uang cash.

Biaya masuk: Gratis

Guide: Tidak perlu

Layanan disepanjang jalur: toko kerajinan tangan, villa, rumah makan, dan warung.

 

Campuhan Ridge Walk – Akhiran dan Awalan

Beberapa anak tangga mengakhiri trekking Campuhan Ridge Walk kami berempat. Menjelang anak tangga terakhir, didepan Villa Lembah Giri, kami menyadari satu hal, akhiran ini adalah sebuah awalan trekking yang baru. sebuah perjuangan mencapai jalan raya utama nun entah dimana. Glodak

Ujung Utara Bukit Suci Gunung Lebah

Ujung Utara Bukit Suci Gunung Lebah

Jalan Desa Bangkiangsidem, Ubud, terasa sepi siang itu. Walaupun tidak banyak, saya melihat beberapa art shop dan penginapan di sepanjang perjalanan kami.

15 menit telah berlalu selepas Campuhan Ridge Walk.

“Oh, masih jauh itu!” jawab seorang warga ketika ditanya seberapa jauh jalan raya utama dari tempat kami berada kala itu.

“Gimana ini?” tanya salah seorang teman sambil tertawa. “Yaudah, kita balik lagi aja kalo gitu,” jawab saya singkat dengan nyengir mengembang ala iklan pasta gigi. Setelah sekian jauh perjalanan yang ditempuh,  kami baru sadar kalau kerongkongan kami ini ternyata sudah memasuki status dahaga satu. Sadarnya pun setelah melihat sebuah warung milik warga, yang menjajakan minuman beraneka rasa nan menggugah selera. Alhamdulillah Ya Allah…

Petak Sawah di Pinggir Jalan Desa Bangkiangsidem, Ubud

Petak Sawah di Pinggir Jalan Desa Bangkiangsidem, Ubud

Burung Kokokan di Petak Sawah Desa Bangkiangsidem

Burung Kokokan di Petak Sawah Desa Bangkiangsidem

 

Waktu checkout penginapan semakin mendekat. Sambil menyeruput minuman aneka rasa, kami juga menggelar rapat kecil-kecilan. Musyawarah untuk mufakat menyimpulkan, bahwa kami harus menyewa kendaraan untuk kembali ke penginapan. Dari Bangkiangsidem ke Jalan Monkey Forest, Pak Wayan Mudiana—pemilik warung—biasa mematok harga 90,000 Rp. Sementara dari Bangkiangsidem ke Sanur, ia mematok harga 200,000 Rp.

“Ya sudah kalau begitu, karena sesama bangsa sendiri, okelah 250,000 Rp sampai Sanur.” Pak Wayan (0878.6012.5218) akhirnya menyetujui harga yang diajukan. Ia kemudian mengantarkan kami ke penginapan untuk packing dan checkout, dan langsung menuju Sanur.

Gallery Rare Angon Milik Pak Wayan Mudiana

Gallery Rare Angon Milik Pak Wayan Mudiana

Sejatinya, Pak Wayan adalah seorang pelukis—dengan bendera Rare Angon. Tapi, karena atmosfer pariwisata di Bali relatif baik, ia juga membuka jasa guide plus sewa kendaraan.

Awalnya Pak Wayan Mudiana hanya melukis dirumah. Namun karena semakin hari semakin banyak saja lukisan yang ia miliki, akhirnya pada tahun 2000 yang silam, ia membeli sebuah pondok di Desa Bangkiangsidem, Ubud, dan menjadikan rumah tersebut galeri, sekaligus tempat tinggalnya bersama keluarga—tempat yang sama ketika kami melepas dahaga.

“Melukis dirumah. Suatu saat punya lukisan banyak. Lebih. Taruh dirumah ndak ada yang nengok. Makanya taruh disana. Di tepi jalan,” ujarnya dengan logat Bali yang sangat kental.

 

Dari Monkey Forest ke Sanur

Perjalanan menuju penginapan kami, Argasoka Bungalows di Jalan Monkey Forest, Ubud memakan waktu sekitar 30 menit. Sesampainya di penginapan, dengan gerak cepat, kami packing dan langsung checkout saat itu juga. Disepanjang jalan, Pak Wayan bercerita panjang lebar tentang dirinya. Ia mengenal dunia melukis sejak bangku Sekolah Dasar. Darah seni ia peroleh dari kakeknya.

“Memang saya pernah sekolah lukis di Denpasar,” ujarnya.”SMA-nya di Ubud. SMSR, Sekolah Menengah Seni Rupa. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Seni di Sukawati, Denpasar. Baru semester 5, istirahat. Ndak lanjut. Sampe sekarang,” tambahnya lagi.

Dalam menjual karya-karya lukisnya, cara Pak Wayan cukup unik. Ia tidak pernah mematok harga. “Kalau ada yang suka dengan goresan tangan saya, ya saya kasih. situ punya duit berapa, kalau memang suka, boleh silahkan ambil. Makanya ndak bisa kaya,” sambil tertawa ia menjelaskan. Karena sikapnya ini pulalah, tak jarang sang ibu memarahinya, karena menetapkan harga semaunya. Luar biasa.

Tak terasa, matahari telah sedikit bertukar posisi. Angka “13.25” tertera pada layar telpon genggam saya. Kami telah tiba di Pantai Sanur. Terima kasih Pak Wayan untuk cerita dan keramahannya. Semoga setiap usaha yang anda jalankan semakin sukses kedepannya. Amin. [BEM]