Lima  hari kursus selam di Global Dive Center, Senayan, yang diajar langsung oleh Bang John Edward Sidjabat, Course Director sekaligus member National Association of Underwater Instructor (NAUI) telah selesai.

Hari ini waktunya saya dan sembilan teman lain diuji di laut terbuka. Selain ujian praktek, rencananya, ujian teori juga akan dilaksanakan di Pulau Kotok Besar. Karena ternyata, waktu sebanyak lima hari yang kami gunakan untuk belajar terlalu padat, sehingga bila ujian dilaksanakan pada saat penyampaian materi tersebut, dikhawatirkan akan banyak materi yang terlewat.

Seperti yang telah disepakati sebelumnya, meeting point ditetapkan di Dermaga 15, Pantai Marina Ancol. Niat awal menggunakan transportasi bus Transjakarta tidak jadi saya ambil. Alasannya klasik, saya terbiasa menggunakan kendaraan pribadi untuk pergi ke mana-mana, sehingga, bila tiba-tiba memutuskan untuk menggunakan angkutan umum, ujung-ujungnya pasti bingung.

Karena waktu berkumpul yang ditetapkan terlalu pagi—jam 06.00—akhirnya saya putuskan untuk menggunakan motor, yang kemudian diparkir di sebuah tempat parkir khusus. Jarak antara tempat parkir motor dengan Dermaga 15, Pantai Marina Ancol tidak terlalu jauh, yaitu hanya sekitar 25 meter saja.

Untuk memenuhi kebutuhan logistik, di sekitar dermaga ini juga terdapat sebuah mini market. Letaknya pun tidak terlalu jauh, yaitu hanya sekitar 30 meter.

Pagi ini, saya benar-benar mengantuk. Maklum, malam sebelumnya tidak berani tidur. Karena, begitu tidur dengan pulas, dijamin bablas, alias batal ikut Open Water Exam. Bila sudah begitu, kesempatan saya untuk berkenalan dengan Pulau Kotok Besar pun turut sirna. Pokoknya banyak ruginya.😀

Saat saya datang, rupanya Meilani telah sampai duluan. Namun setelah memarkirkan kendaraan, Adhi pun mulai kelihatan, disusul Dzulfikar yang muncul kemudian. Masih menahan kantuk yang teramat sangat.

Semakin siang, orang-orang yang datang saling bersusulan. Mulai dari Tim Viva, Bro Gumilar Ekalaya dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Tim Divemag, Tim ANTV, dan yang terakhir, Tim Global Dive.

Dermaga utama Pulau Kotok Besar

Dermaga utama Pulau Kotok Besar

Pak Boy (Resort Manager) dan beberapa anak buahnya dari Alam Kotok Island Resort, terlihat sibuk dengan jumlah bagasi penumpang yang begitu banyak. Satu persatu ia beri label, untuk memastikan antara barang bawaan dengan nomor kamar yang telah dipesan tidak tertukar.

Matahari semakin meninggi di timur sana. karena tak ada lagi peserta yang tersisa, Pak Boy memberikan instruksi agar kami semua segera naik ke kapal untuk segera berangkat menuju Pulau Kotok Besar.

Baru boarding ke speedboat

Baru boarding ke speedboat

Absen peserta

Absen peserta

Kondisi dalam kapal

Kondisi dalam kapal

Kontrol panel kapal

Kontrol panel kapal

Mesin Yamaha V6 200

Mesin Yamaha V6 200

Kapal yang kami tumpangi saat itu cukup besar. Ia bisa menampung hingga 50 orang penumpang. Dengan dibekali empat buah mesin Yamaha V6 200, tak heran bila perjalanan yang kami tempuh hanya memakan waktu selama 1.5 jam.

 

Pulau Kotok Besar

Waktu mendekati pukul 10 pagi. Langit Pulau Kotok Besar terlihat putih keabu-abuan dengan matahari yang mulai bersinar tanpa awan.

Unloading

Unloading

Masih unloading

Masih unloading

Semua orang terlihat sibuk memutasikan barang bawaan ke bahu dan lengan masing-masing. Saya pun secara sukarela menceburkan diri di dalamnya. Di bibir dermaga utama, beberapa orang karyawan Alam Kotok Island Resort berhamburan membantu, agar kapal mudah sandar. Sementara seorang karyawan lagi, tak henti mengembangkan senyumnya sambil membawa baki berisi bergelas-gelas air kelapa segar sebagai ritual penyambutan.

Mee dan Fi

Mee dan Fi

Dari tempat saya berdiri, hanya Pulau Kotok Kecil yang terlihat begitu menarik, karena selebihnya hanyalah lautan. Ia berjarak sekitar 1,137 meter dari dermaga utama Pulau Kotok Besar. Bila kalian menghadapkan pandangan ke utara, maka posisi Pulau Kotok Kecil ini akan berada pada arah jam 11.

Mulai dari titik ini, semua yang terjadi harus terekam kuat-kuat dalam memori otak. Tak boleh ada yang terlupa. Karena, destinasi eksistensi diri di tempat ini adalah untuk mengkonversi tridaya (cipta, rasa, karsa) alam-manusia menjadi sebuah karya tulis nyata. Semangat!

Kotok Main Pier

Kotok Main Pier

“Halaman depan” dermaga terlihat begitu lapang. Pada salah satu sisi, di bagian timur dermaga, berdiri sebuah gazebo beratap rumbia, yang bisa digunakan sebagai tempat berteduh sebelum/sesudah aktifitas ‘melaut’ dilakukan. Kabarnya, dari dermaga ini, kita bisa melihat kawanan lumba-lumba di kejauhan sana.

Bila lumba-lumba tak terlihat juga, padahal kalian telah menunggu lama, jangan khawatir, karena di pulau ini, ada atraksi lain yang tak kalah menariknya, yaitu melihat Biawak berenang di lautan.

Sementara beberapa orang karyawan resort terlihat sibuk membongkar muatan, Bang John mengumpulkan setiap orang untuk pembagian jatah kamar masing-masing. Saya dan Harris mendapatkan jatah kamar nomor 4B.

Sebuah nomor salah dengar. Karena yang benar—ternyata—adalah kamar nomor 4D. :p

Jembatan dermaga utama

Jembatan dermaga utama

Fi

Fi

Menuju Kotok Blue Lagoon

Menuju Kotok Blue Lagoon

Ratusan papan kayu selebar kurang lebih 1 meter berbaris rapi, mendaulat kami hingga bibir pantai penginapan. Panjang dermaga yang dibentuk layaknya kurva “Z” yang direntang paksa ini mencapai 115 meter, dengan hiasan lampu-lampu taman nan artistik di beberapa titik, yang sayangnya, sebagian besar telah rusak termakan usia.

Gapura selamat datang Pulau Kotok Besar

Gapura selamat datang Pulau Kotok Besar

Pada pangkal dermaga, sebuah gapura kayu terlihat berdiri tegap. Tak peduli ada yang disambut atau tidak, tugasnya hanya satu, menjadi perpanjangan ucapan salam dari pihak pengelola bagi seluruh tamu pulau ini.

“Welcome

To

ALAM KOTOK ISLAND”

Pantai bagian utara

Pantai bagian utara

Dua buah gazebo beratap rumbia, terlihat berdiri di bibir pantai, di sebelah kiri dermaga. Selain berfungsi sebagai tempat santap makan, gazebo-gazebo berlantai kayu ini, juga biasa digunakan oleh para tamu resort untuk sekedar bermalas-malasan sambil menikmati lautan.

Gazebo 1

Gazebo 1

Gazebo 2

Gazebo 2

Pada bagian atapnya, terlihat tudung lampu berbentuk corong minyak terbalik yang terbuat dari anyaman bambu. Ada pula tudung lampu yang terbuat dari buah kelapa utuh, yang dipotong ¼ bagiannya membuatnya seperti rambut palsu yang sedang dipajang.

Peta Pulau Kotok

Peta Pulau Kotok

Pulau Kotok Besar

Pulau Kotok Besar

Dengan jarak sejauh 57-58 kilometer, pulau yang termasuk dalam kelompok pulau-pulau busur belakang sistem geotektonik Indonesia barat ini berada pada arah barat laut Pantai Marina Ancol. Atau tepatnya, pada koordinat 5°42’58″S 106°37’30″E.

This island owned by Faisal Hasyim who now lives in Bali,” kata Mama Tini, yang berkebangsaan Afrika Selatan, dan baru sebulan menjadi General Manager Alam Kotok Island Resort. “This, is the only island owned by local people among thousands of other island in Kepulauan Seribu,” imbuhnya lagi.

Luas pulau ini mencapai 20.75 hektar, atau setara dengan luas lapangan golf yang berada di Kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan. Dengan luas sebesar itu, pulau yang dikelilingi perairan laut dangkal ini otomatis menjadi satu-satunya pulau terbesar yang dimiliki Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Sebuah bangunan dermaga yang hanya menyisakan kerangka terlihat di pesisir pantai selatan bagian timur. Sementara keempat dermaga yang masih aktif, seluruhnya berada di pesisir pantai utara Pulau Kotok Besar. Bila diurutkan dari barat ke timur, maka susunannya akan tampak seperti:

  • Dermaga barat (133 meter)
  • Dermaga Kotok Besar Lagoon (8 meter)
  • Dermaga tengah/utama (115 meter)
  • Dermaga timur (70 meter)
Dermaga barat

Dermaga barat

Dermaga barat 2

Dermaga barat 2

Dermaga Utama 1

Dermaga Utama 1

Dermaga Utama 2

Dermaga Utama 2

Dermaga timur

Dermaga timur

Di ujung timur Pulau Kotok Besar, terdapat area rehabilitasi Elang Bondol (Brahminy Kite/Haliastur Indur) yang menjadi maskot Ibukota DKI Jakarta. Berkaitan dengan kegiatan rehabilitasi/konservasi, tahukah kalian, selain di Pulau Kotok Besar, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu sejatinya juga memiliki beberapa lokasi penangkaran, di antaranya adalah:

  • Pulau Pramuka: pnangkaran Penyu Sisik (Eretmochelys Imbricata) dan Kupu-kupu.
  • Pulau Kelapa Dua: penangkaran Penyu Sisik.
  • Pulau Sepa: penangkaran Penyu Sisik.
Pantai di depan blue lagoon

Pantai di depan blue lagoon

Pantai di depan blue lagoon

Pantai di depan blue lagoon

Lokasi yang paling cocok untuk bermalas-malasan di tepi pantai, adalah area di sekitar Blue Lagoon. Bila kalian menghadap ke arah dermaga tengah/dermaga utama, maka posisinya akan berada di sebelah kiri.

Kotok Blue Lagoon

Kotok Blue Lagoon

Kanopi alam yang terbentuk dari rimbun dedaunan pepohonan membuat pantai ini begitu teduh walaupun siang telah menjelang. Ditambah dengan adanya sebuah hammock dan beberapa kursi pantai untuk bermalas-malasan, tentu pantai ini akan membuat liburan kalian tambah menyenangkan.

Mangrove introvert

Mangrove introvert

Mangrove introvert lain

Mangrove introvert lain

Biawak 2

Biawak 2

Biawak besar baru selesai berenang

Biawak besar baru selesai berenang

Walau tempat tersebut terasa nyaman untuk bermalas-malasan dipinggir pantai, ada baiknya kalian tetap siaga, karena boleh jadi, Biawak yang banyak berkeliaran di sekitar pulau ini, tiba-tiba saja ikut rebahan di samping kalian. :p

Kotok blue lagoon

Kotok blue lagoon

Sekitar 90 meter dari bibir pantai tersebut, terdapat struktur penghalang ombak layaknya angka ‘17’ bila kita menghadapkan wajah ke arah utara. Namun, bentuknya akan berubah layaknya huruf kapital ‘L’ dan ‘I’ yang diletakkan secara paralel, bila kita melihatnya ke arah selatan. Dan, struktur penahan ombak inlah yang kemudian membentuk Kotok Besar Lagoon.

Halaman depan Alam Kotok Island Resort

Halaman depan Alam Kotok Island Resort

Pulau Kotok Besar

Pulau Kotok Besar

Pandan Cafe

Pandan Cafe

Kawasan perairan pantai di Indonesia, rata-rata memiliki suhu maksimum antara 30.8-34.5 derajat celcius. Namun demikian, tahukah kalian, kalau Pulau Kotok Besar pernah mencatat rekor suhu tertinggi di antara pulau-pulau lain di Indonesia? Bagi yang belum tahu, peristiwa tersebut terjadi pada April 22, 2011 yang telah silam, dengan suhunya yang mencapai 38.3°C!

Bagi kalian yang penasaran dengan pulau yang bentuknya dipengaruhi fenomena meteorologi angin monsun barat dan monsun timur ini, berikut adalah spesifikasinya:

  • Panjang daratan (barat – timur) = 1,076 meter
  • Panjang daratan plus pantai (barat – timur) = 1,469 meter
  • Lebar daratan terpendek (utara – selatan) = 65 meter
  • Lebar daratan terpanjang (utara – selatan) = 246 meter
  • Keliling daratan = 2,405 meter
  • Keliling keseluruhan = 3,659 meter

Note: pengukuran menggunakan aplikasi Wikimapia

Pengalaman diving di Pulau Kotok

Setelah mengambil kunci bernomor 4B di bagian resepsionis, saya dah Harris langsung menuju kamar kami yang letaknya cukup jauh di bagian timur. Di depan teras kamar nomor 4B Defi terlihat senyum-senyum melihat kedatangan kami berdua.

“Lho, kamarmu di sini (4B) Fi?” tanya saya.

“Iya. Aku dapet di sini sama Meilani, sama Vinda,” jawabnya.

“Tuh kan. gw bilang juga apa,” kata Harris sambil tertawa geli.

“Wah, berarti bener Ris. gw salah denger. Hahaha…”

***

Selain sebagai mitra Global Dive Center, Alam Kotok Island Resort memang sengaja dipilih agar didapat kondisi yang lebih private, sehingga harapannya, pada saat mengikuti Open Water Exam, konsentrasi dan kenyamanan para peserta lebih terpelihara. Beberapa kali sesi selam pun sengaja dilakukan pada satu tempat yang sama, dengan tujuan agar adaptabilitas kami—sebagai diver pemula—terhadap “lingkungan baru,” lebih mudah dicapai.

Kita bisa menganalogikannya proses belajar menyelam ini layaknya proses belajar menyetir mobil. Kira-kira, apa yang akan terjadi kepada kalian bila setiap kali latihan, mobil yang digunakan selalu berbeda? Ya. Betul. Proses adaptasi yang telah kalian lakukan untuk mobil sebelumnya, mau tidak mau harus dimulai dari nol lagi setiap berganti mobil lain. Efek sampingnya, tentu saja proses pembelajaran kalian akan semakin panjang.

Diving adalah individual activity, artinya, divemaster hanya bertugas membantu menunjukkan ‘jalan’ tapi, berkaitan dengan kontrol nyawa adalah tugas masing-masing kita. Pada dasarnya, diving itu mudah. Syaratnya hanya satu, “follow the rules.” Jangan pernah mencoba-coba sesuatu yang telah dinyatakan berbahaya pada pelajaran yang sudah kalian terima, sebab kalau tidak, celaka adalah akibatnya.

Let's Enjoy Jakarta

Let’s Enjoy Jakarta

Dive 1 (Open Water Exam)

Pada awalnya, saya sedikit tidak percaya diri menghadapi Open Water Exam ini. Salah satu penyebabnya, tentu kalimat Bang John, yang mengatakan bahwa ujian akan dilakukan di kedalaman 18 meter, pada penyampaian materi kelas terakhir, sehari sebelumnya.

Saat itu pilihan yang ada di pikiran saya hanya dua, antara melarikan diri dari kenyataan, atau menghadapi ujian ini dengan senyuman. Sayapun mulai menimbang-nimbang.

Perjuangan yang saya lakukan sudah sejauh ini, rasanya sayang kalau disia-sia begitu saja. Selain itu, saya butuh untuk menulis. Saya butuh untuk mendatangi Pulau Kotok Besar. Saya butuh kemampuan menyelam yang baik dan benar, untuk bisa mengeksplorasi dunia bawah air Indonesia. Dunia yang hanya saya kenal melalui aktifitas snorkeling saja.Tarik napas dalam-dalam…

OK! Saya siap!

Lain di mulut, lain di hati.

Setelah pengarahan singkat dari Bang John mengenai apa dan bagaimana proses ujian dilaksanakan, setiap peserta sibuk memasang peralatan scuba mereka, termasuk saya. Setiap peralatan sudah diberi label sesuai dengan nama masing-masing. Karena telah disesuaikan sehari sebelumnya, maka seharusnya, hari ini tidak ada lagi yang tertukar ukurannya.

Berdirikan tabung scuba. Pasang Buoyancy Compensator (BC). Pasang Regulator (first stage). Pasang selang inflator. Buka katup udara tabung scuba hingga mentok, kemudian putar kembali searah jarum jam sebanyak 2-3 kali. Tes inflate/deflate BC. Tes Regulator (second stage). Tes Octopus (alternate air source). Pastikan tekanan pada Submersible Presure Gauge (SPG) >= 200 bar (3,000 psi—per square inch). Bila kurang dari 200 bar, kembalikan. Selesai.

Setelah semua prosedur pemasangan dan pengecekan dianggap aman, kini tiba saatnya saling mengecek perlengkapan selam buddy masing-masing. Pengecekan perangkat Buoyancy Compensator Device (BCD) buddy, sama dengan pengecekan yang dilakukan pada perangkat BCD kita sendiri. Prosesnya, seperti yang telah saya sebutkan pada paragraf di atas. Bila dirasa telah aman, langkah selanjutnya adalah memakai BCD.

Tugas buddy berikutnya adalah membantu proses mengangkat BCD yang beratnya mencapai 10-20 kg tersebut, dan menjadi sandaran pegangan buddy ketika memasang kedua fins mereka.

Dzulfikar, buddy saya telah siap. Dengan metode giant stride entry, dia masuk ke air lebih dahulu—setelah area entry dianggap aman.

Dermaga tengah 1

Dermaga tengah 1

Dermaga tengah 2

Dermaga tengah 2

Saya pun tidak mau ketinggalan. Pasang masker. Pasang second stage (biasa disebut regulator/mouthpiece). Inflate jaket BC. Pastikan area entry aman. Tahan masker dan regulator menggunakan telapak dan jari tangan kanan. Tahan stabilitas BC dengan tangan kiri. Pandangan lurus ke depan. Dan, hap! Giant stride entry, ikut saya lakukan.

Semua orang telah berada di air. Bang John memberi aba-aba, agar kami segera turun ke bawah permukaan laut. Deflate BC perlahan-lahan, sambil melakukan equalizing setiap kedalam bertambah 1.5 meter. Hingga akhirnya, kami semua telah berada di dasar laut sedalam 5-7 meter.

Sejak praktek di kolam renang, 5 menit pertama masuk ke bawah air, adalah waktu-waktu yang sangat saya benci. Tekanan air yang menekan dada saya rasanya berat sekali, napas terasa memburu. Untungnya, setelah “masa kritis” tersebut berlalu, barulah saya bisa bernapas lebih lega layaknya di udara terbuka. Tanda proses adaptasi telah tercipta.

Kebiasaan Bang John adalah, sengaja membuat peserta menunggu sedikit lama di dalam air, sebelum segala kegiatan underwater dilakukan. Hal ini bukan tanpa tujuan. Ia ingin setiap peserta merasa nyaman terlebih dahulu terhadap lingkungan baru mereka. Jika motto NAUI adalah, “Dive safely through education,” maka mottonya adalah, “Dive comfortably and safety through education.” Ia selalu berusaha menerapkan standard yang lebih tinggi dari pakem-pakem yang berlaku kebanyakan.

Padahal standard keamanan yang diterapkan NAUI sudah cukup tinggi. Tapi Bang John menginginkan standard yang lebih tinggi lagi. Ini dilakukan untuk ‘menjamin’ dirinya, dan semua peserta didiknya dapat menyelam dengan nyaman dan aman. Tanpa masalah sekalipun.  “Scuba diving itu sifatnya recreational. Kalau kita tidak merasa nyaman, walaupun aman, untuk apa liburan,” begitu kira-kira katanya.

Orang lain boleh takut kehilangan murid, dengan tidak menginformasikan betapa bahayanya aktifitas menyelam itu. Tapi tidak demikian dengan Bang John. Ia tidak segan-segan mengatakan betapa bahayanya aktifitas menyelam walau kami masih di kelas pemula. “Menyelam itu baru berbahaya kalau dilakukan tanpa pengetahuan yang cukup,” tambahnya lagi.

Setelah semua grup (1 leader, 2 peserta) berada di dalam air, aba-aba untuk membuka masker kemudian diberikan. Tanda Open Water Exam baru saja dimulai. Satu persatu peserta mendapat giliran menunjukkan Mask skills yang telah dipelajari.

Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa mask skill diperlukan saat menyelam? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa alasan yang membuat mask skill (mask clearing) begitu penting, diantaranya yaitu:

  • Embun. Kondisi tubuh masing-masing orang berbeda. Ada yang maskernya mudah mengembun. Ada yang lama sekali baru berembun. Dan ada juga yang tidak mengembun sama sekali. Bila embun dalam masker dibiarkan begitu saja, tentu lama kelamaan akan mengganggu pandangan. Bila pandangan kita terganggu terlalu lama, kemungkinan terbesar berikutnya adalah vertigo. Bila vertigo ini masih didiamkan saja, lama kelamaan ia dapat menyebabkan blackout. Pingsan. Bila sampai pingsan di dalam air, dan tidak segera mendapat pertolongan, kemungkinan paling fatal tentu saja kematian.
  • Perubahan bentuk permukaan wajah. Biasanya terjadi karena seseorang tertawa, atau senyum. Perubahan bentuk permukaan wajah ini tentu akan membuka celah-celah yang dapat membuat air masuk.
  • Bersenggolan. Dalam kegiatan menyelam, kadangkala kita akan mengalami yang namanya menyenggol atau disenggol. Bila bagian yang tersenggol adalah masker, maka, kemungkinan besar air akan masuk.

Bayangkan, bila insiden di atas terjadi pada kedalaman 20-25 meter. Tanpa memiliki kemampuan membersihkan masker di dalam air, tentu hal ini akan sangat merepotkan.

Ada dua cara yang biasa digunakan untuk membersihkan masker, yaitu:

  1. Dalam keadaan masker masih terpakai. Masukkan air sedikit demi sedikit, dengan membuka bagian atas masker. Setelah air mencapai ketinggian tulang pipi, atau sedikit di bawah mata, tutup kembali masker. Langkah berikutnya adalah menunduk sambil menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan ke kanan. Tujuannya, supaya air yang masuk tadi membasuh seluruh permukaan masker dan menghilangkan embun yang mengganggu pandangan. Setelah masker bersih tidak berembun lagi, mendongaklah. Tahan bagian atas masker sambil menghembuskan napas lewat hidung, hingga semua air tadi keluar melalui bagian bawah masker.
  2. Buka masker seluruhnya. Kemudian bersihkan menggunakan tangan. Bila perlu, sekalian kencangkan strap masker. Satu yang harus diingat, usahakan tidak menghirup udara lewat hidung, karena bisa mengakibatkan kalian panik. Setelah semua dirasa oke, gunakan masker kembali. Perhatikan rambut-rambut halus yang mungkin masih terjebak di antara kulit wajah dan sekat pada masker, sehingga bisa membuat air masuk kembali. Selanjutnya, mendongaklah. Pegang bagian atas masker sambil menghembuskan napas lewat hidung, hingga semua air tadi keluar—persis seperti poin nomor 1 di atas.

Untuk ketrampilan pertama ini, semua peserta berhasil melakukannya tanpa kesulitan yang berarti. Ketrampilan yang diujikan berikutnya adalah regulator skills.

Tahapan regulator skills terbagi dua, yaitu; ketika regulator terlepas dari mulut, dan cara memasangnya kembali. Aturan yang harus diingat bila tiba-tiba regulator terlepas dari mulut, adalah, jangan panik! Karena perasaan panik hanya akan memperburuk keadaan.

Untuk regulator yang terlepas dari mulut, ada 2 metode yang bisa kita lakukan untuk mencarinya, yaitu:

  1. Swipe. Yang pertama harus diingat adalah, regulator (second stage) dan octopus (alternate air source) akan selalu berada di bagian kanan. Jadi, tangan yang digunakan untuk menyapu, juga harus menggunakan tangan kanan. Perlahan-lahan, telusuri BC menggunakan tangan kanan, hingga menyentuh bagian belakang tabung scuba. Luruskan tangan kanan (dari belakang tabung scuba), kemudian gerakkan tangan ke arah luar-atas, seraya membentuk lingkaran besar. Dengan cara ini, regulator akan ‘tersangkut’ di tangan kanan kita, sehingga mudah untuk meraih dan memakainya kembali.
  2. Reach. Bila pemasangannya benar, maka regulator akan berada dalam jangkauan tangan kanan kita. Posisinya akan sejajar dengan pundak, atau sedikit ke bawah. Caranya, tekuk tangan kanan, dan arahkan ke bagian regulator (first stage), atau kepala tabung. Setelah selang diraih, renggangkan pegangan, sambil menyisir pelan-pelan menuju kepala regulator (second stage). Setelah didapat. Gunakan kembali.

Yang perlu dicatat adalah, ketika proses pencarian regulator berlangsung, kalian harus tetap menghembuskan napas, sedikit demi sedikit. Hal ini dilakukan untuk mencegah Lung Over Expansion bila tiba-tiba kita naik tanpa sadar.

Penyebab terlepasnya regulator cukup beragam, namun, yang paling umum adalah karena tersangkut sesuatu, atau pada saat menyelam kita mencapai titik rileks yang cukup tinggi, sehingga lupa menggigit regulator mouthpiece hingga terlepas dari mulut.

Setelah regulator mouthpiece diraih, yang harus dipikirkan kemudian adalah cara memasangnya ke mulut. Untuk itu, ada 2 cara yang bisa kita gunakan, yaitu:

  1. Purge. Bila saat terlepas, udara yang tersisa di paru-paru tinggal sedikit, maka metode ini bisa dilakukan. Caranya, gunakan kembali regulator sambil menekan tombol purge yang berada pada bagian depan regulator.
  2. Blast. Bila saat terlepas, udara yang tersisa di paru-paru masih cukup, maka metode ini bisa dipilih. Caranya, setelah mouthpiece digigit, hembuskan napas lewat mulut. Gunanya, untuk mengeluarkan air yang ikut masuk saat kita menggunakan kembali regulator.

Namun, agar hasil yang dicapai lebih maksimal, kadang, saya mengkombinasikan keduanya.😀

Uji regulator skill telah selesai. Kami memasuki materi ujian ketiga, yaitu; BCD skills. Materi kali ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang, bila pengaturan buoyancy kita sudah tepat. Susah, bila ternyata, udara dalam BC terlalu banyak—yang menyebabkan BCD cenderung mengambang ke permukaan setelah terlepas dari badan.

Simulasi dilakukan dengan melepas chest strap terlebih dahulu, kemudian melepas kedua waist strap, dan yang terakhir, melonggarkan shoulder strap bagian kiri, agar BCD mudah dilepaskan. Ketika melepaskan pun, harus diperhatikan. Arahnya harus selalu ke kanan. Karena, selang regulator yang menuju mulut, melingkar pada bagian kanan. Kalau kita melepaskan BCD ke arah kiri, maka, bisa dipastikan leher kita akan terjerat selang regulator.

Sampai di titik ini, empat materi praktek telah diuji. Kami masuk ke materi terakhir dan yang paling penting, yaitu Emergency Swimming Ascent (ESA).

Tak jarang, para penyelam lupa melakukan pengecekan Submersible Pressure Gauge (SPG) tiap interval 5 menit sekali, sehingga seringkali tak sadar kalau sisa udara di tabung sana, sudah tidak ada. Ini, biasanya lebih banyak terjadi karena lingkungan bawah air yang terlalu mempesona, sehingga membuat mereka terlupa.

Bila hal ini terjadi pada diri kita, dan buddy tidak berada dalam jangkauan, untuk bisa berbagi udara (seharusnya tidak boleh terjadi, dimana buddy terlalu jauh dari buddy-nya), maka kita bisa melakukan ESA ini, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Yang pertama kali harus diingat adalah, pertahankan laju ke permukaan dengan kecepatan tidak melebihi 9 meter per menit. Untuk menghindari bahaya decompression sickness.
  2. Angkat inflator hose ke atas dan tahan. Tujuannya adalah, bila saat menuju ke permukaan, gerakan renang kita terlalu cepat, maka, dengan inflator/deflator di tangan, kita dapat dengan mudah mengurangi udara yang mungkin masih tersisa di jaket BC. Tujuannya tentu saja untuk membantu memperlambat laju renang kita menuju ke permukaan. Fungsi lain mengangkat inflator hose ke atas adalah, untuk ‘mengumpulkan’ udara sisa yang mungkin masih ada di dalam BC, untuk kemudian menggunakannya sebagai alternate air source, bila dalam perjalanan menuju permukaan, kita telah kehabisan udara.
  3. Bila diperlukan, weight belt bisa kita buang.
  4. Melihat ke atas—arah jalur menuju permukaan. Tujuannya, untuk menganalisa, adakah sesuatu yang dapat menghalangi dan membahayakan diri kita saat ascent ke permukaan, sehingga kita bisa menghindari insiden tambahan—dengan berenang mengambil jalur berbeda yang dirasa lebih aman. Contoh halangan saat kita berenang menuju permukaan, yaitu; peselam lain, batu karang, badan bawah kapal, dan sebagainya.
  5. Kicking sambil mengeluarkan udara dalam paru-paru sedikit demi sedikit, dengan mengucapkan huruf ‘E’ hingga muncul di permukaan air.

Hal lain yang perlu diperhatikan ketika sampai di permukaan air adalah, hindari berada di bagian depan kapal—bila kegiatan menyelam melibatkan penggunaan kapal, dan jaga jarak aman, antara diri kalian dengan propeller kapal. Usahakan posisi kalian terlihat oleh nahkoda, untuk menghindari tertabrak kapal, bilamana nahkoda lengah.

Berkaitan dengan aktifitas diving yang melibatkan penggunaan kapal/speedboat, ada beberapa hal yang perlu dikoordinasikan dengan nahkoda. Di antaranya yaitu:

  1. Arah penyelaman yang akan dilakukan. Apakah di satu titik yang sama, atau bergerak menuju lokasi berbeda.
  2. Prosedur penjemputan. Pada beberapa lokasi penyelaman, kita bisa meminta nahkoda kapal untuk menjemput ke titik surface  di mana kita berada. Namun di sebagian tempat lain, tak ada yang namanya prosedur penjemputan ini. Artinya, begitu kapal lego jangkar, sejauh apapun pergerakan menyelam kita dari posisi kapal, maka, kita sendirilah yang harus mengayuh untuk mencapai kapal.

Khusus untuk lokasi penyelaman di mana penjemputan dengan kapal bisa dilakukan, tanyakan bagaimana biasanya nahkoda menjemput para penyelam. Pastikan cara yang dilakukan nahkoda kapal sudah benar dan aman bagi para peselam. Yaitu, selalu melakukan prosedur penjemputan dari sisi luar zona aman penyelam.

prosedur penjemputan

prosedur penjemputan

Sebab, bila nahkoda melakukan penjemputan dengan memasuki zona aman penyelam, dikhawatirkan, penyelam lain yang kebetulan baru saja akan sampai di permukaan, terkena propeller kapal di bawah sana. Bang John pernah mengalami hal ini. Untungnya ia segera berenang kembali ke kedalaman sehingga akibat fatal seperti luka serius, bahkan sampai pada kematian bisa dihindarkan.

Semua materi Open Water Exam telah selesai dilakukan. Bang John memberi aba-aba agar masing-masing team leader membawa peserta, touring ke arah timur, seraya menggerakkan jari telunjuk kanan dan jari tengah, naik-turun beberapa kali.

Tujuan touring, selain untuk mengurangi rasa dingin akibat terlalu lama berdiam di satu tempat, juga membantu kami, para peserta ujian ini, mengenal lebih dekat bagaimana kehidupan dunia bawah air itu.

***

Open Water Exam dan touring telah selesai. Bang John memimpin 3-5 menit safety stop di kedalaman 4-5 meter, sebelum kami semua menuju ke permukaan.

Safety stop/deco(mpression) stop adalah proses berhenti sejenak yang dilakukan para penyelam, sebelum melanjutkan ke permukaan. Tujuannya untuk mengurangi gelembung udara yang masuk ke dalam jaringan kulit dan darah akibat menghirup udara terkompresi dan adanya tekanan air yang cukup besar.

Agar hasil dari proses dekompresi optimal, berenang ringan selama masa dekompresi sangat dianjurkan, karena terbukti dapat mengurangi kadar gelembung udara dalam pulmonary artery secara signifikan.

Penting pula untuk diketahui, profile penyelaman yang baik, adalah sebagai berikut.

profile penyelaman yang benar

profile penyelaman yang benar

jangan biasakan menyelam dengan profile zigzag naik-turun. Karena biasanya, kepala kita akan merasakan pusing bila menggunakan profile seperti itu. Percayalah, karena saya sudah membuktikannya. :p

Jalur naik ke darat ditetapkan menggunakan tangga yang berada di bagian timur dermaga. Satu persatu, kami naik ke darat, dengan terlebih dahulu melepas weight belt, yang disusul dengan Buoyancy Compensator Device (BCD), kemudian fin.

Bila dalam sehari, ada beberapa dive, selalu biasakan, setelah dive pertama selesai, segera ganti tabung saat itu juga, sehingga, pada saat dive berikutnya dimulai, kita tidak disibukkan dengan merakit BCD. Dengan demikian, waktu yang kita gunakan tentu akan semakin optimal.

Mee santai di dermaga

Mee santai di dermaga

Calon profile picture nih kayaknya

Calon profile picture nih kayaknya

Mee dan Harris

Mee dan Harris

Adhi dan Je

Adhi dan Je

Efek Narkosis kah

Efek Narkosis kah

Dive 2 (Materi praktek terakhir – Rescue)

Rehat makan siang yang cukup panjang telah usai. Semua peserta, berikut team leader grup masing-masing, kembali ke dermaga utama. Materi berikutnya adalah tentang cara penyelamatan (rescue).

Saya adalah tipikal orang yang menganut paham, “Hope for the best, plan for the worst.” Karenanya, tingkat kenikmatan mempelajari setiap materi yang serupa seperti ini, jauh lebih tinggi daripada materi-materi lain yang sifatnya lebih umum dan dapat dilakukan dengan resiko ringan.

Sebelum masuk ke air, seperti biasanya, Bang John memberikan informasi dive plan terlebih dahulu, kemudian menyampaikan materi tambahan berupa cara penyelamatan yang baik dan benar, sambil sesekali bertanya, untuk memastikan adakah peserta didiknya yang belum paham terhadap materi yang baru saja disampaikan.

Untuk mempermudah mempelajari materi yang telah disampaikan oleh Bang John, saya akan membagi setiap langkah penyelamatan berdasarkan poin-poin penting yang akan kami praktekkan di bawah air sana:

  • Pegang pergelangan tangan korban dari arah luar. Maintain jarak aman dari jangkauan korban. Bila yang dipegang adalah pergelangan tangan kiri korban, maka, tangan yang kita gunakan untuk memegang, harus tangan kiri juga. Begitu pun sebaliknya. Bila yang dipegang adalah pergelangan tangan kanan korban, maka, tangan yang kita gunakan untuk memegang pun harus tangan kanan. Hal Ini dilakukan untuk mengantisipasi bilamana korban—yang biasanya panik—tiba-tiba melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan kita, seperti misalnya; mencoba meraih regulator atau diri kita secara membabi-buta. Tujuan memegang pergelangan tangan korban dari arah luar dan jangkauan aman tadi dimaksudkan agar kita dapat dengan mudah menarik tangan korban dan ‘membuangnya’ sejauh mungkin—untuk menciptakan jarak jangkauan aman—bilamana, kondisi membahayakan tersebut terjadi. Ingat! (a) Aturan penyelamatan nomor 1 adalah, hindari bertambahnya korban.  (b) Hindari menghampiri korban dari arah depan. Karena, bila korban masih/tiba-tiba sadar, kemudian panik, tentu akan sangat membahayakan penolongnya. (c) Jangan pernah lepas pegangan/kuncian tangan kita dari korban.
  • Tepuk pundak korban sebanyak 3 kali, dengan interval—satu repetisi = dua tepuk. Bila korban tidak sadar, maka lakukan langkah selanjutnya.
  • Lambaikan tangan sebanyak 3 kali naik-turun, tepat di depan wajah korban. Lihat, apakah ada reaksi atau tidak. Bila tidak beraksi, maka,
  • Kunci tangan korban. Caranya, posisikan ruas pangkal tangan kiri korban agar berada persis di bawah ketiak kiri kita—Ingat! Kiri dengan kiri. Kanan dengan kanan—kemudian posisikan tangan kiri kita membentuk siku seperti orang yang sedang adu panco. Tujuannya, agar lengan korban terkunci kuat-kuat, sehingga, bila korban tiba-tiba sadarkan diri dan berusaha untuk berontak, kita telah menguasai keadaan.
  • Raih inflator/deflator pada Buoyancy Compensator (BC) kita. Pegang dengan tangan kiri.
  • Buang weight belt korban.
  • Posisikan tombol inflator/deflator korban, pada tempat yang mudah kita raih—dengan tangan kanan.
  • Inflate BC korban bila memang diperlukan. Tujuannya, untuk membantu agar kita tidak terlalu lelah ketika mengayuh fin, membawa korban menuju ke permukaan. Namun, bila mereka terlalu cepat naik, dan kita tidak bisa mengontrol kenaikan tersebut, lepaskan saja. Tetap kontrol kenaikan kita pada kecepatan 9 meter per menit. Jangan menjadi korban kedua.
  • Pegang handle BC korban.
  • Kepakkan fin untuk membawa korban menuju ke permukaan. Lakukan perlahan-lahan. Sekali lagi, Ingat! Tidak boleh lebih dari 9 meter per menit.
  • Sambil menuju ke permukaan, lakukan underwater Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR) dengan tahapan sebagai berikut: (a) Dorong tulang dagu korban ke atas, menggunakan otot jempol kita (bagian menonjol di pangkal telapak tangan, persis di bawah jempol). Untuk membukan saluran pernapasannya. (b) Tekan tombol purge pada regulator korban dalam interval 5 detik sekali, menggunakan jari telunjuk dan jari tengah. Tiap satu interval = 2 tekanan kontinyu-cepat tombol purge regulator korban.
  • Begitu sampai di permukaan, inflate BC kita terlebih dahulu, kemudian inflate BC korban.
  • Posisikan lengan kanan lurus dan menyilang di atas dada korban, sambil menekan dada korban agar posisinya terlentang. Tujuannya agar wajah korban menghadap ke atas dan membuka jalur pernapasan korban.
  • Beri sinyal untuk meminta bantuan.
  • Buka masker kita.
  • Buka masker korban.
  • Perhatikan, apakah korban masih bernapas atau tidak.
  • Bila korban tidak bernapas, teruskan CPR menggunakan regulator korban/octopus kita.
  • Bila jarak ke exit point relatif dekat, bawa korban ke sana. Namun, bila jauh, tunggulah sampai bantuan datang.
Tabung scuba

Tabung scuba

Merapikan perlengkapan selam

Merapikan perlengkapan selam

Kini tiba saatnya praktek lapangan. Saya bertugas menjadi korban terlebih dahulu, sementara Dzulfikar buddy saya, berperan sebagai tim rescue. Dari poin 1 hingga 9, sang buddy ini tidak mengalami masalah yang berarti. Namun begitu masuk ke poin sepuluh, yaitu, mengayuh fin untuk membawa korban ke permukaan sulit ia lakukan. Mungkin saya terlalu berat. Hahaha.

Untuk membantu agar simulasi ini berjalan sempurna, saya, sebagai korban, ikut mengepakkan fin hingga tiba di permukaan. Absurd memang. Tapi kan ini latihan, dan bukan betulan.

Bukan begitu Brader Dzul? :p

Berikutnya adalah giliran saya. Dzulfikar (buddy) dan Ajis (team leader) ikut menyertai turun ke dasar laut berkedalaman 5-7 meter.

Di lantai laut, secara perlahan, saya mencoba langkah demi langkah sambil mengingat-ingat bilamana ada satu poin yang terlewat. Poin 1 sampai 9, saya tidak menemukan kendala yang berarti. Namun begitu masuk ke poin 10, kejadian yang baru saja dialami Dzulfikar, ikut saya alami. Hahaha. Ternyata memang tidak mudah membawa korban sambil mengayuh fin ke permukaan. Saya butuh lebih banyak latihan. :p

Lalu bagaimana dengan poin 11 sampai 19? Tenang, poin-poin tersebut tetap kami lakukan kok. Memang, berdasarkan simulasi barusan, hanya poin nomor 10 lah yang membutuhkan tenaga lebih banyak, ketimbang poin-poin lainnya.

Di permukaan, Ajis mengkonfirmasi apakah kami telah paham langkah demi langkah penyelamatan yang baru saja dilakukan. Dan tentu saja, saya dan Dzulfikar telah paham. Karena menurut saya, setiap penjelasan yang disampaikan oleh Bang John, cukup mudah untuk dimengerti walau materinya kadang sedikit sulit.

Sebagai hiburan, tiap selesai latihan, kami semua touring menyusuri dasar laut Pulau Kotok Besar hingga kedalaman 16-18 meter, walau kadang-kadang, satu dua orang tidak sadar, bahwa ia telah menyelam lebih dalam dari titik yang telah ditentukan. Maklum, namanya juga penyelam pemula. Wong penyelam kawakan saja kadang lupa, apalagi kita yang menyelam pun baru-baru ini saja. Alibi pembenaran diri.😀

Puas touring ke arah timur (lagi), Bang John memberi isyarat dua kali ketukan menggunakan tank rattle, yang artinya, “Ikuti saya.” Sambil merambat pelan ke kedalaman sekitar 5 meter, Bang John kembali memberikan isyarat agar kami berhenti untuk melakukan decompression stop (safety stop), untuk mengurangi gelembung udara dalam jaringan kulit dan darah yang masih tersisa.

Begitu masa dekompresi selesai, masing-masing ascent ke permukaan, untuk menuju daratan, tanda aktifitas diving kedua telah selesai dilaksanakan. Dan semua orang berbahagia.  -)

Kelas selam privat Defi

Kelas selam privat Defi

Kelas khusus selam hampir selesai

Kelas khusus selam hampir selesai

Bagi yang belum terbiasa, atau kelas pemula seperti saya, setiap kali selesai diving tentu akan mengalami kondisi di mana mulut terasa kering. Kondisi ini adalah normal. Karena, pada saat pengisian tabung-tabung scuba yang kita gunakan, udara dikompresi sedemikian rupa hingga kadar air (kelembaban) yang terkandung di dalamnya benar-benar hilang, atau nol. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi bagian dalam tabung scuba dan regulator dari kemungkinan korosi.

Penyebab lain, yaitu, begitu udara dalam tabung tersebut kita hirup, ia ikut mengambil sebagian kelembaban dari paru-paru dan kerongkongan kita, yang kemudian ikut terbuang saat kita menghembuskan napas. Atau dengan kata lain, dalam setiap siklus bernapas, ketika menyelam, saat itulah proses dehidrasi sedang berlangsung—secara gradual.

Karenanya, minuman-minuman yang mengandung alkohol, soda, dan kafein tidak dianjurkan untuk dikonsumsi selama kegiatan menyelam berlangsung, karena jenis minuman tersebut dapat menyebabkan dehidrasi, bahkan sebelum kegiatan menyelam dilakukan.

***

Kami kembali ke kamar masing-masing untuk mandi dan bersih-bersih, kemudian berkumpul lagi di restoran untuk makan malam sambil mengerjakan ujian tertulis berisi 85 soal yang baru dibagikan setelah selesai makan.

Menuju Kamar 4D

Menuju Kamar 4D

Candid Fi

Candid Fi

Dalam kondisi pusing seusai diving, ditambah kantuk yang teramat sangat akibat kurang tidur malam sebelumnya, jelas membuat konsentrasi saya benar-benar sulit dikontrol. Untungnya, soal nomor 82 adalah bonus, karena memang tidak ada jawabannya. Jadi setidaknya, saya telah ‘berhasil’ mengantongi sebuah nilai yang kadar bantunya tentu tak seberapa. Sedih.

Levitasi Dzulfikar

Levitasi Dzulfikar

View dari cafe

View dari cafe

View dari cafe 2

View dari cafe 2

Satu jam kemudian, lembar soal berikut lembar jawaban, dikumpulkan. Raut kusut yang semula menggelayut pada setiap wajah peserta ujian kini tampak cemerlang, tanda ketegangan yang merambati sulur-sulur otak, telah menghilang.

Malam ini, kami mengisi waktu luang dengan melakukan permainan “Rakyat-Sherif-Wolf” yang diinisiasi oleh Harris. Permainannya cukup seru. Saking serunya, kami semua sampai tidak sadar bahwa jam telah menunjukkan pukul 12.00 malam.  Waktunya beranjak ke pembaringan.

Dive 3 & 4 (Fun Dive)

Ini adalah hari kedua saya berada di Pulau Kotok Besar. Rencana hunting sunrise malam sebelumnya telah gagal, gara-gara bangun terlalu siang. Keraguan untuk ikut turun menyelam pun datang kemudian. Penyebabnya hanya satu, pusing yang teramat sangat, sisa diving hari kemarin yang masih terasa menjalar di bagian kepala.

Semua orang telah berada di rumah makan untuk sarapan. Sementara saya masih harus berjuang menahan sakit kepala yang begitu menyiksa, sambil menyiapkan perlengkapan diving, untuk mengantisipasi bila kemudian saya berubah pikiran.

Menu ikan tidak pernah absen dari atas meja makan berukuran panjang—sejak hari pertama. Bagi penikmat protein laut, ini adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh terlewatkan. Tapi bagi saya yang notabene seorang vegetarian jadi-jadian, tentu harus rela menyantap apapun hidangan hijau klorofil yang tersedia di atas meja.

Buah-buahan pencuci mulut selalu berganti ragam setiap kami makan. Selalu begitu sejak kami datang. Yang ada di pikiran saya hanya satu, saya harus makan lebih banyak untuk menghilangkan rasa pusing yang terlalu berat. Ditambah bercangkir teh hangat, saya berharap sakit ini segera minggat.

Kucing kuning layaknya Garfield masih saja mengeong di bawah meja. Tak bosan-bosan ia mengharap lemparan daging ikan atau ayam dari atas meja makan. Setiap lemparan, akan menghentikan suaranya yang mengeong untuk sementara waktu. Namun itupun masih tergantung dari ukuran daging yang ia terima. Bila potongannya cukup besar, satu kali mengeong pun cukup untuk membuatnya diam, kemudian pergi. Tapi bila potongannya terasa sedikit, ia akan berusaha menatap mata siapa saja sebagai tanda ia siap menerima makanan apa saja yang kami lemparkan kepadanya.

Pikiran saya kembali berubah setelah perut terasa begah. Secara bergiliran, beberapa teman berlalu satu persatu, menuju dermaga utama di depan sana. sementara saya masih harus disibukkan dengan berganti pakaian sebelum melakukan penyelaman.

Rencananya pada penyelaman ketiga, kami akan menyisir area barat Pulau Kotok Besar. Kemudian pada penyelaman keempat, bergantian menyisiri  area timurnya. Kedalaman ditetapkan antara 16-18 meter saja. Dengan alasan, selain kami ini masih tergolong diver pemula, juga dimaksudkan agar Surface Interfal Time (SIT) tidak terlalu lama, sehingga waktu tersisa sebelum berangkat kembali ke Dermaga Marina, bisa digunakan lebih optimal.

Masa-masa adaptasi pada permulaan kegiatan menyelam adalah hal yang begitu saya benci. Karena pada masa-masa tersebut, tubuh saya ‘dipaksa’ untuk adaptasi terlebih dahulu terhadap lingkungan baru. Untungnya,, kondisi ini hanya berlangsung selama 5 menit saja, sementara sisanya, tentu kalian tahu jawabannya. -)

Tim lain menyatakan bahwa mereka melihat Sotong, bahkan ada pula yang melihat Lionfish. Tapi, bagi saya yang tidak tahu apa-apa, sebanyak apapun ikan yang melintas di depan mata, jelas tak ada bedanya dengan tidak melihat mereka. Karena bagi saya, wajah mereka semua sama.  Jadi, untuk sementara ini, apapun nama mereka, biarkanlah saya menyebut mereka dengan panggilan ‘ikan’ saja ya.

Diving terakhir telah selesai

Diving terakhir telah selesai

Intinya, dive 3 dan 4 yang saya lakukan pada hari kedua, adalah sekedar untuk membiasakan diri dengan dunia baru saya, yaitu underwater world. Bagi kalian yang penasaran dengan keindahan bawah laut Pulau Kotok, maka segeralah datang ke tempat ini.

Berbagi kesalahan, demi kecerdasan kalian

 

Note:

Bagian ini saya khususkan bagi kalian yang punya keinginan coba-coba menyelam, tanpa memiliki pengetahuan sama sekali—seperti saya dahulu.

Warning:

Walaupun tawaran menyelam tanpa lisensi dan pengetahuan terasa menggiurkan. Ada baiknya dihindari. Karena, tanpa pengetahuan yang cukup, menyelam akan sangat berbahaya, bahkan bisa berakibat kehilangan nyawa. Kasus ini hanya sebagai contoh, dan bukan untuk ditiru.

Beberapa kali, saya mendengar beberapa teman yang dengan bangganya menceritakan pengalaman diving pertama mereka di suatu lokasi yang dianggap sangat indah kehidupan bawah airnya. Padahal, pengetahuan tentang diving pun, sama sekali mereka tak punya. Bahkan, kedalamannya ada yang hingga 30 meter! First dive, zero-knowledge!

Walau kedalaman diving pertama saya tidak se-ekstrim itu, rasa bangga yang dihasilkan, dijamin tak kalah dengan sang teman yang menyelam hingga 30 meter tadi. Namun, begitu mempelajari dan sedikit mengerti perihal efek yang ditimbulkan dari ‘kebanggaan’ atas ketidak-tahuan ini, kiranya, saya beruntung masih bisa melihat senyum manis kamu—khusus reader cewek—di depan monitor, di seberang sana. #eaaa

Bagaimana pengalaman saya, dan apa saja resiko yang ada di dalamnya?

Ikuti terus ceritanya…

Dulu sekali, pada jaman jahiliyah, beberapa teman bercerita tentang betapa indahnya dunia bawah laut sana. Dari setiap cerita mereka, tak satupun yang tidak membuat saya iri. Rentetan pengalaman itu terdengar begitu menggiurkan. Se-menggiurkan tawaran diving gratis yang datang kemudian.

“Lu bisa diving kan?” tanyanya kepada saya.

“Belom bisa,” jawab saya lemas., khawatir tawaran itu lenyap begitu saja. “Tapi gw pengen banget. Gimana ya caranya?”

“Ya sudah. Kita tes besok. Kira-kira, bisa apa enggak lu diving.”

Keesokannya…

Wet suit sudah saya kenakan. Diving gear pun telah disiapkan. Satu-satunya hal yang absen hanyalah pengetahuan standard tentang penyelaman—kecuali equalizing. Celakanya, hal terakhir yang baru saja disebutkan, adalah hal terpenting yang dengan senang hati saya abaikan.

Dive guide merangkap buddy, dengan peralatan selam lengkap, telah menunggu saya di air. Dari bawah dermaga, ia memberi aba-aba agar saya mengenakan peralatan menyelam segera, kemudian bergabung bersamanya.

“Ok, siap ya? Kita mulai dari 2 meter, terus ke 5 (meter), terus ke 7 (meter).” Tujuannya jelas, dia ingin melihat, kira-kira, apakah saya siap untuk diajak menyelam ke kedalaman yang mencapai belasan meter nanti.

“Siap!” sambil mengacungkan jempol kanan. Tanda bukti, buta pengetahuan dasar menyelam.

Dengan segala peralatan asing yang melekat pada diri saya, ditambah bayangan “dunia baru” di bawah—air—sana, tak salah kiranya, kalau kemudian, kemampuan diri sendiri pun saya ragukan.

Dua meter pertama baru saja dimulai. Rasa panik di permukaan, masih saja terbawa hingga menit kedua. Satu meter di depan sana, dive guide menggabungkan ujung jari telunjuk kanan dengan ujung ibu jarinya, sehingga membentuk huruf ‘O,’ sementara tiga jari lainnya dibiarkan lurus ke atas. Apa maksudnya ini?

Dengan sigap, saya membalas kode tersebut, dengan cara yang sama layaknya yang dia lakukan – mengaitkan ujung jari telunjuk dengan ujung ibu jari, dan tiga jari lainnya dibiarkan lurus ke atas. Sok OK.

Belakangan, saya ketahui maksud dari hand signal tersebut. Bila berupa pertanyaan, maka akan berbunyi, “Situ oke?” sementara, bila berupa jawaban, maka akan berbunyi, “Oke Bro!”

Menjelang kedalaman kedua—5 meter—rasa panik yang semula ada, telah hilang entah kemana. Dunia baru itu terasa nyaman bagi saya, bahkan hingga meter ketujuh. Kode tangan tanda pertanyaan—dari dive guide—pada setiap perubahan kedalaman pun selalu saja terjawab oke dari terkaitnya kedua jari saya. Dia langsung yakin, bisa membawa saya ke dive spot pertama. Saya pun tak kalah yakinnya.

Dive spot pertama. Rasa panik kembali melanda pada detik-detik pertama penyelaman. Butuh beberapa menit untuk memperoleh kembali rasa nyaman sebelumnya. Kepanikan saya ikut lenyap bersamaan dengan datangnya perasaan nyaman tersebut. Di lantai laut—berpasir, dive guide memandu saya mengikuti gerakannya – berdiri menggunakan lutut. Saya menurutinya.

Indahnya kehidupan air dengan ikan-ikan yang berkeliaran, membawa perasaan nyaman saya ke tingkat yang lebih nyaman lagi. Saking nyamannya, sampai-sampai tak sadar, kalau sang dive guide telah menghilang dari samping saya. Mengedarkan pandangan sejauh visibility level pun, hanya berakhir sia-sia.  Saya tidak menemukannya di mana-mana. Alhamdulillah. T_T

Bila ditanya panik tidaknya, jawaban saya jelas terbaca – panik!

Open water, dengan kedalaman belasan meter, tak berlisensi, plus diving untuk pertama kali, ditambah lagi ditinggal sendiri. Sungguh sebuah kombinasi sempurna untuk membuat jantung saya deg-degan gak karuan. Lautan yang semakin ke belakang, warnanya semakin gelap saja (baca: dalam), melayangkan imajinasi saya, bahwa dunia baru ini siap melahap saya kapan saja. Hidup-hidup pula. (fobia kedalaman/bathophobia).

Butuh sekian menit untuk menetralisir keadaan. Kehidupan dunia baru yang begitu memanjakan mata di sekeliling saya, ikut membantu meraih ketenangan yang sempat hilang. Lagi pula, saya baru saja nyemplung ke laut, deposit udara di tabung scuba di belakang sana tentu masih berlimpah. Lalu, apa perlunya rasa takut? “Fear profits a man nothing,” kata pepatah.

Sepuluh menit kemudian, dive guide yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba telah berada di samping saya (lagi). Perasaan tenang yang sebelumnya saya miliki, jelas semakin tinggi—hingga habisnya udara dalam tabung scuba, yang otomatis membawa saya kembali ke permukaan dalam waktu kurang dari 1 menit. Padahal dalam hitungan normal, yang namanya ascend itu, tidak boleh melebihi 9 meter per menit.

Dive spot kedua. Kedalaman +- 20 meter. Perasaan exciting yang lahir dari penyelaman sebelumnya, membuat perasaan takut terhadap gelapnya lautan, dan ditinggal sendirian, tidak lagi saya rasakan. Yang ada di otak hanyalah slogan-slogan semacam, “Let’s play (even) harder.”

Mesin kapal telah dimatikan. Kami tiba di spot kedua. Seorang Divemaster—menumpang pada satu kapal yang sama—dengan buddy-nya, telah menceburkan diri beberapa menit yang lalu. Dan saya, masih bersama dive guide yang sama.

Tabung kedua dan peralatan selam telah siap pada posisinya. Dive guide saya melakukan back roll entry. Bermodal ‘penglihatan’ barusan, saya pun tak mau ketinggalan, sambil mengingat-ingat gerakannya, saya memberanikan diri mencoba pelajaran hasil mencuri tadi. Yang sialnya, … berhasil! Hahaha…

Sudah mulai terlihat kan, sombongnya. :p

Mengintip ke bawah sana, kehidupan laut di lokasi diving kedua, jelas lebih berwarna. “Oke. Siap ya. Nanti ikuti saya,” kata dive guide plus buddy saya.

“Oke.” Sambil mengacungkan hand signal, membentuk huruf ‘O’ yang baru dipelajari. Tanda pertanyaan telah berbalas jawaban ‘Siap!’ layaknya para penyelam kawakan.

Dia menyelam lebih dahulu, dengan saya menyusul di belakangnya. Di kedalaman 15 meter, kami kayuh fin, merapatkan barisan ke lokasi di mana kedua diver sebelumnya—yang turun lebih dulu—berada . Masing-masing khusyuk dengan indahnya kehidupan bawah lautan. Sesekali, dive guide saya menunjukkan ikan yang bersembunyi, atau berkamuflase dengan lingkungan sekitar.

Kedua diver tadi berpindah lokasi, kami pun ikut mengiringi. Kedalamannya bertambah 5 meter lagi. Sibuk mengikuti kedua diver di depan sana, sang buddy sepertinya lupa kalau tengah menyelam bersama saya. #lah

Berada pada kedalaman 15 meter, tubuh saya tidak menunjukkan gejala apa-apa. Segalanya masih terasa baik-baik saja. Ditambahkan kedalamannya 1 hingga 2 meter  lagi pun masih tak mengapa. Equalizing yang dilakukan dalam interval waktu tertentu, masih menunjukkan fungsinya. Gendang telinga saya tidak merasakan sakit. Tapi, begitu masuk ke meter ketiga, saya merasakan sesuatu yang sangat mengganggu…

Tiba-tiba saja kepala ini sakitnya luar biasa. Penambahan sedikit kedalaman tersebut pun membuat pandangan saya berubah buram. Sehingga, sampai pada titik ini, saya berinisiatif untuk tidak menambah kedalaman lagi.

Sambil berdiam diri di tempat tadi, saya berusaha menahan sakit. Berharap rasa tersebut akan segera lenyap setelah beberapa saat. Yang sialnya, hal itu tidak terjadi. Semakin ditahan, rasa sakitnya semakin tidak karuan. Sementara mereka bertiga, semakin jauh di depan.

Dengan kondisi seperti itu, yang ada di pikiran saya hanya satu, mengejar ketertinggalan untuk kembali masuk ke dalam barisan.

Agar cepat sampai, benda pipih layaknya kaki katak, yang diciptakan Leonardo da Vinci sekitar 5 abad yang lalu, saya kayuh sekuat tenaga, secepat-cepatnya. Sayangnya, semakin fin dikayuh, masalah baru kembali muncul. Siklus napas terasa semakin memburu. Akibatnya jelas, keseimbangan (buoyancy) ikut terganggu. Gerakan saya mulai kacau.

Panik? Pasti!

Jeda saya ambil kembali. Dengan maksud, agar detak jantung lebih cepat kembali ke kondisi normal, saya harus menahan napas, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Tapi kenyataan yang terjadi malah sebaliknya. Deru napas semakin memburu saja. Polanya dalam dan sangat cepat.

Karena dianggap sia-sia, usaha tersebut pun saya hentikan, untuk kemudian mengikuti pola napas tak beraturan barusan.

Setelah detak jantung dirasa (agak) sedikit lebih baik, saya mencoba mengulangi lagi percobaan sebelumnya, mengejar ketinggalan dengan mengayuh fin sekuat-kuatnya. Kali ini, tubuh saya tidak memberi toleransi lagi. Peringatan-peringatan dini yang muncul sebelumnya, terasa kian menyiksa, dengan kapasitas berkali lipatnya.

Untungnya (celakanya?), saya ‘diselamatkan’ dengan daya apung otomatis yang entah dari mana datangnya. Tanpa safety stop, dari kedalaman belasan meter, saya langsung meluncur ke posisi nol meter.

Di atas kapal, penderitaan saya bertambah satu, dengan datangnya rasa mual yang begitu hebat, yang hampir-hampir tak sanggup saya tahan. Dan ini masih berlangsung selama berjam-jam, walaupun saya sudah berada di daratan.

***

Setelah mengikuti kursus diving beberapa waktu lalu, pengetahuan yang diperoleh dari sana membuat saya menyadari satu hal, bila terjadi satu kesalahan lagi, maka pengalaman tersebut bisa menjadi malapetaka yang siap meminta nyawa saya. Untung gak ‘lewat’… T_T

Lalu, seperti apa kira-kira kejadian tersebut, bila dilihat dari sudut pandang pengetahuan menyelam? Berikut adalah sedikit penjelasannya:

  • Pelanggaran konsep buddy system

Sistem buddy adalah sebuah prosedur di mana dua orang penyelam bersepakat untuk saling bekerja sama sebagai satu tim dalam suatu kegiatan menyelam. Tujuannya, agar dapat saling memonitor dan membantu, manakala suatu insiden/kecelakaan yang tidak diharapkan, terjadi—selama masa menyelam—sehingga akibat yang ditimbulkannya dapat dihindari/dikurangi.

Secara psikologis, seseorang akan merasa lebih nyaman saat menghadapi masalah, dengan kehadiran seorang teman yang sekiranya dapat diandalkan manakala ia membutuhkan bantuan.

Mari kita ambil salah satu contoh sederhana. Saat menyelam bersama-sama, secara tidak sadar, buddy kehabisan udara—saat posisi masih berada di kedalaman. Sebelum dia panik, dengan adanya kita sebagai buddy-nya, tentu dapat segera memberikan pertolongan.

Pertolongan seperti apa? Yaitu, pertama; dengan cara memberikan regulator sekunder—biasa disebut dengan octopus/second stage—yang terpasang pada regulator unit tabung scuba kita (octopus method). Atau dengan cara kedua, yaitu buddy breathing method, di mana kita dan buddy, secara bergantian—setiap dua kali napas—menggunakan regulator utama.

Tanpa buddy system, dan dengan insiden seperti itu, sama saja artinya dengan, secara sukarela mengambil nomor urut untuk segera dijemput malaikat maut.😀

Pada contoh pengalaman di atas, saya jelas-jelas telah melanggar “aturan 1 menit,” yaitu, bila dalam satu menit, buddy tidak terlihat/ditemukan, maka, kita harus segera naik ke permukaan. Hal ini dilakukan untuk memastikan keselamatan kedua belah pihak.

Bila segalanya berjalan dengan baik, maka, normalnya, dengan menerapkan “aturan 1 menit” ini, kita akan segera melihat/menemukan sang buddy di permukaan. Namun, bila dalam 5 menit, sang buddy tidak juga kita temukan di permukaan, maka diasumsikan, ia sedang mengalami masalah di bawah sana.

Dengan menjadi orang yang lebih dulu tiba di permukaan, kita dapat menolong buddy yang (diasumsikan) sedang mengalami masalah, dengan melaporkan kejadian kepada dive master yang bertugas, atau mencoba mencari bantuan lain.

Atas dasar faktor keselamatan inilah, tanpa buddy system, kegiatan menyelam sangat tidak dianjurkan.

  • Fobia

Kadangkala, kita baru mengetahui, apakah diri kita memiliki rasa takut terhadap sesuatu atau tidak, ketika kita berhadapan langsung dengan sesuatu tersebut. Reaksi tiap orang terhadap fobia tentu berbeda-beda, ada yang panik, tiba-tiba berteriak, seluruh tubuhnya kaku, detak jantung tak terkendali (hingga serangan jantung), menangis, dan lain-lain.

Pada contoh kasus di atas, saya baru menyadari bahwa ternyata diri saya memiliki fobia terhadap kedalaman (bathophobia). Untungnya, saya adalah tipikal orang yang cenderung tenang dan mudah mengubah mindset. Sehingga, tidak butuh waktu yang lama untuk mengubah ketakutan menjadi keberanian.

Bila saya (atau kalian) baru menyadari memiliki rasa takut terhadap kedalaman saat berada di dalam laut, dan tidak memiliki ketenangan, serta ‘kemampuan’ mindset switching seperti yang saya sebutkan barusan, tentu kita bisa menduga, apa yang akan terjadi pada saya (atau kalian) selanjutnya.

  • Hyperventilation

Untuk memberi gambaran lebih mendetail mengenai apa yang dialami pada pengalaman menyelam yang telah lalu, saya akan mengulangi sedikit cerita di atas. Tapi kali ini dilengkapi dengan informasi-informasi pendukungnya. Jangan bosan dulu ya.😀

hyperventilation

hyperventilation

Berikut ini adalah kondisi yang terjadi saat itu:

  • Kedalaman saya = 15 meter
  • Kedalaman dive guide = 20 meter
  • Jarak vertikal antara saya dengan dive guide = 5 meter
  • Jarak horizontal antara saya dengan dive guide = 10 meter, dan terus bertambah

Sebagai seorang yang baru pertama kali menyelam, pautan jarak tersebut saya anggap lumayan jauh. Karenanya, kemudian saya berusaha sekuat tenaga menyamakan posisi dengan mereka, baik secara vertikal, maupun horizontal.

Sayangnya, usaha yang harus dikeluarkan tak semudah yang saya kira, sehingga membuat percobaan pertama gagal. Posisi saya, tidak bergerak sama sekali. Percobaan kedua, saya mencoba mengulangi cara yang sama. Hasilnya, sama saja—tak bergerak. Begitupun dengan percobaan ketiga hingga keempat. Seluruhnya tidak membawa hasil.

Beberapa percobaan—mengayuh fin secara brutal—tersebut, pada akhirnya membuat detak jantung saya terpacu tinggi. Siklus napas yang semula normal, kini berpola dalam dan cepat (hyperventilation).

Walaupun masih terpasang dengan baik di mulut, saya merasa regulator tidak mampu lagi mensuplai udara yang dibutuhkan (air starvation). Bila dibanding-bandingkan, maka rasanya akan sama seperti berlari sprint sejauh 100 meter tanpa pemanasan, kemudian dipaksa bernapas dengan mulut, melalui selang air.

Untuk mengurangi debar jantung tersebut, saya mencoba menahan napas. Hasilnya, saya punya masalah baru – pusing. Bila dalam kondisi normal saja, menahan napas sangat berbahaya dan tidak dianjurkan, maka, dalam kondisi hyperventilasi seperti ini, paparan celakanya tentu berlipat sekian kali.

Selain resiko luka akibat paru-paru yang mengembang melebihi batas normal, menahan napas juga dapat meningkatkan kadar karbon dioksida dalam tubuh. Peningkatan kadar karbon dioksida ini akan berakibat pada ketidakmampuan tubuh untuk menghirup udara yang cukup, dengan nyaman.

Efek jangka panjangnya, tubuh akan terus menggunakan oksigen, namun tingkat karbon dioksida yang diperlukan oleh tubuh tidak akan mencapai titik di mana otak menerima sinyal bahwa sekaranglah saatnya bernapas. Karenanya, saya bisa pingsan akibat kekurangan oksigen sebelum tubuh merasa butuh untuk bernapas.

  • Gejala Decompression Sickness

Decompression sickness dapat muncul bila tubuh kita menyerap nitrogen dalam jumlah berlebih  kemudian naik ke permukaan terlalu cepat. Ketika naik ke permukaan, tubuh kita akan mengurangi kadar nitrogen yang tersisa di tubuh secara otomatis. Namun, bila di permukaan kadarnya masih cukup tinggi, maka ia akan membentuk gelembung.

Bila merujuk pada pengalaman di atas, saya telah melanggar 2 kaidah penyelaman yang seharusnya digunakan sebagai tindakan pencegahan terjadinya decompression sickness. Yaitu, naik ke permukaan dengan kecepatan tidak melebihi 9 meter per menit, dan yang kedua, melakukan safety stop (decompression stop) selama 3-5 menit pada kedalaman 4-5 meter.

Nyatanya, tidak satupun dari aturan tersebut saya patuhi. Akibatnya jelas, kepala saya terlalu berat, pandangan sedikit kabur, dan begitu naik di atas kapal, rasa mual tak henti-hentinya menyerang. Badan pun terasa lelah. Bila merujuk pada situs marinemedical.com, maka gejala yang saya alami tersebut adalah gejala decompression sickness tipe 2, cerebral effect.

Saya pernah menceritakan peristiwa ini kepada beberapa teman kursus diving yang ternyata, mereka juga pernah melakukan hal yang sama. Dan kami baru menyadari bahaya di dalamnya setelah mengikuti kursus tersebut.

Karena perbuatan menyelam tanpa pengetahuan ini dapat menimbulkan efek berantai bagi diri sendiri, maka, saya sebagai orang yang pernah mengalami, dan mempelajari pengetahuan tentang diving, sangat menganjurkan, agar kalian tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Bila kalian memang memiliki keinginan untuk bisa melakukan kegiatan diving, saran saya, ambillah kursus tersebut. Pelajari segala pengetahuannya. Ingat! “Dive comfortably and safety through education.”

Elang Bondol sang maskot Ibukota DKI Jakarta

Selain Salak Condet (Salacca Zalacca), Provinsi DKI Jakarta juga memiliki maskot lain, yaitu; Elang Bondol (Haliastur Indus).

Pada masa pemerintahan Gubernur Wiyogo Atmodarminto (1987-1992), atau yang biasa dipanggil Bang Wi—gubernur kedua-belas DKI Jakarta—keduanya ditetapkan sebagai identitas/maskot DKI Jakarta pada tanggal 29 Desember 1989 melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1796 Tahun 1989.

Walaupun isi Surat Keputusan Gubernur tersebut sudah jelas, tak jarang saya menemukan informasi—pada beberapa website—yang mengatakan bahwa penetapan Salak Condet dan Elang Bondol sebagai maskot Ibukota Jakarta dilakukan oleh Gubernur Ali Sadikin (1966-1977) saat menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta kesembilan.

Jadi, yang mana yang benar?

Pencatatan paling awal perihal eksistensi burung ini di Pulau Jawa, dilakukan oleh Friedrich baron von Wurmb pada tahun 1779-1782. Uniknya, selain burung ini memiliki nama lain “Brahminy Kite,” Baron memiliki julukan sendiri untuk Sang Elang Bondol ini, yaitu; “Pencuri Ayam.”

Di Kepulauan Seribu, pusat rehabilitasi Elang Bondol hanya ada satu. Dan itu pun, satu-satunya di Indonesia. Lokasinya berada di wilayah timur Pulau Kotok Besar.

Femke den Haas, anggota sekaligus salah satu founding father Jakarta Animal Aid Network (JAAN), melalui sebuah interview via email yang saya lakukan beberapa waktu lalu mengatakan—walaupun JAAN secara resmi berdiri pada Februari 2008, namun—program penyelamatan dan re-introduksi Brahminy Kite telah berlangsung sejak tahun 2004 silam.

“Dengan re-introduksi mereka kembali ke alam, kita kembalikan populasi Elang Bondol yang sudah punah pada tahun 2004 di wilayah DKI dan kita menjaga kesimbangan alam,” terang Femke. Kemudian ia menambahkan, “burung ini maskot DKI yang terancam punah, burungnya indah jika di alam bebas, burungnya menderita dan tidak pernah cocok jika di pelihara di kandang! Burung ini juga ada fungsi penting di alam, menjaga kesimbangan alam.”

Karakter yang paling mencolok dari Elang Bondol adalah, burung ini berani hidup berdampingan dengan manusia (membuat sarang di wilayah yang dekat dengan manusia), memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan tak ragu mencoba hal-hal baru (curious). Rupanya, curiousity don’t just kill the cat.  It ‘kills’ the eagle as well.

Melihat karakternya yang begitu mirip dengan Burung Garuda—lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia—mungkinkah pemilihan Elang Bondol (Haliastur Indus) ini sebagai maskot Ibukota, didasarkan atas kesamaan karakter tersebut? Hmm…

Dalam menjalankan program penyelamatan dan re-introduksi Elang Bondol, JAAN yang digagas oleh Femke den Haas, Pramudya Harzani, Izul, dan Sudarno ini, menjalin kerjasama dengan pengelola Taman Nasional Kepulauan Seribu, dan pemilik pulau (Kotok Besar?).

Elang-elang Bondol yang masuk pada pusat rehabilitasi ini, biasanya didapat dari hasil penyitaan oleh pemerintah. Bila ia punah, dampak yang ditimbulkan cukup serius, “Banyak penyakit muncul. Elang ini membantu menjaga keseimbangan alam. Satwa kecil yang lemah atau sakit, dimakan sama dia,” ucap Femke.

Beberapa langkah yang biasa dilakukan dalam proses rahabilitasi sang maskot Jakarta, untuk menentukan layak atau tidaknya mereka dikembalikan ke habitat aslinya, yaitu:

  • Karantina. Seluruh elang yang baru masuk, akan diperiksa kesehatannya secara menyeluruh, untuk menjamin mereka tidak membawa penyakit yang dapat menulari elang-elang lain yang lebih dahulu masuk. Penyakit yang biasanya diderita Elang Bondol diantaranya adalah: Newcastle disease, Avian influenza, Parasite, Bumblefoot infection, dan lain
  • Kandang isolasi. Observasi karakter dan gerakan (umumnya 30 hari).
  • Kandang sosialisasi. Observasi perilaku sosial terhadap elang lain dan mengembalikan kemampuan menangkap mangsa secara alami.
  • Kandang pra-pelepasan atau kandang-laut. Pada kandang ini (panjang = 35m, lebar= 12m, tinggi = 8m), elang dilatih untuk dapat bertahan hidup layaknya di alam bebas, seperti misalnya; menangkap ikan sambil terbang. Bila dinyatakan berhasil, kemudian mereka akan dilepas-liarkan.
  • Sanctuary. Proses ini hanya akan diambil bila Elang Bondol dianggap tidak bisa dilepaskan kembali ke alam liar, seperti misalnya; memiliki cacat fisik, atau terlalu tua.

Tidak sembarangan orang yang boleh melakukan rehabilitasi. Dari setiap tahapan di atas, JAAN menempatkan seorang staff khusus (dedicated) yang harus mengetahui secara presisi perihal kebutuhan, dan karakter setiap Elang yang ditanganinya.

Sejak dimulainya program penyelamatan dan re-introduksi Brahminy Kite,  sebanyak 67 ekor Elang Bondol berhasil dilepas-liarkan. Dan, bukan itu saja, “Elang yang di-release ada yang berkembang biak di alam dan itu membuktikan bawa mereka bisa hidup kembali bebas di alam,” jelas Femke, ketika ditanya sejauh mana keberhasilan rehabilitasi yang telah dicapai oleh tim mereka.

Sayangnya, setelah Elang-elang ini berhasil dilepas-liarkan, masih ada saja yang kembali menjadi pasien pusat rehabilitasi. Penyebabnya, mulai dari ditangkap oleh masyarakat untuk dipelihara/diperjual-belikan (kembali), hingga berkelahi dengan Elang lain. “Langsung ada warga yg melapor ke kami. Ternyata Elangnya terlalu berani sama manusia,” tambah Femke.

Ukuran Elang Bondol yang mereka tangani rata-rata berada pada kisaran 600 gram – 800 gram. Namun, pernah ada juga yang masih anakan, sampai yang sudah berumur (baca: tua).

Makanan pokok Elang Bondol di alam liar, terutama adalah ikan, dan serangga. Pada kandang pra-pelepasan, ikan-ikan hidup yang menjadi makanan pokok mereka dilepaskan di dalam air (laut), dengan tujuan, agar mereka dapat belajar menangkap mangsa layaknya di alam liar. Kandang pra-pelepasan ini sengaja dibuat sedikit lebih luas dan berdinding jaring-jaring. Posisinya sengaja diletakkan sedikit menjorok ke laut dengan tujuan untuk mensimulasi habitat asli mereka.

Ikan-ikan yang menjadi makanan pokok mereka selama berada di pusat rehabilitasi tentu tidak datang dengan sendirinya. Biasanya Femke dan kawan-kawan mendapatkan ikan-ikan tersebut dengan cara membeli kepada nelayan yang sedang memancing. Sementara untuk serangga, mereka seringkali mencarinya dari sekitar Pulau Kotok Besar.

Kendala terbesar yang dihadapi dalam upaya merehabilitasi Brahminy Kite ini, terbilang klasik, yaitu; perdagangan ilegal (black market). Untuk mengurangi hal ini, Femke dan kawan-kawan tak bosan-bosannya melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk membangkitkan kesadaran mereka perihal pentingnya burung ini, menggalang dukungan dari berbagai pihak, hingga memperjuangkan legal action agar masalah pelestarian Elang Bondol dapat segera teratasi.

“Kami tidak akan berhenti, sampai perdagangan gelap dihentikan dan sampai masih ada burung dibawah tanggung jawab kami yang membutuhkan perawatan,” jawab Femke, ketika saya tanya, sampai kapan JAAN akan terus aktif merehabilitasi Elang Bondol kebanggaan Provinsi DKI Jakarta ini.

Lantas, apa parameter keberhasilan JAAN dalam merehabilitasi Burung Elang Bondol?

Femke menjawab, “Banyak langkah yang perlu di ambil sebelum rehabilitasi dan melepas satwa kembali ke alam. Di Pulau Seribu, program berhasil, karena burung-burung yang dilepas membuktikan bisa mandiri sampai juga beranak di alam bebas. Masyarakat di Pulau Seribu sadar bahwa burung ini dilindungi dan tidak boleh ditangkap, karena kami melakukan sosialisasi masyakarat (kunjungan sekolah, kelompok nelayan dll) sejak tahun 2005. Di Pulau Pramuka pun anak-anak terlihat catat di tembok; Selamatkan Elang Bondol Kebanggaan Kita! Itu luar biasa.”

Nah, bagi kalian yang ingin turut serta berpartisipasi dalam usaha rehabilitasi burung yang menjadi kebanggaan Kota Jakarta ini, dapat melakukannya dengan cara menjadi sukarelawan yang giat mengkampanyekan bahwa satwa ini dilindungi undang-undang.

Masak sih, sebagai warga Jakarta yang baik, kalian gak mau mendukung upaya pelestarian Elang Bondol (Haliastur Indus/Brahminy Kite) ini. Kalau upaya rehabilitasi ini berhasil, kemudian ktia bisa melihat elang-elang ini mengangkasa di langit Jakarta, bukankah itu akan menjadi kebanggaan kita bersama?

Selain itu, manfaat yang bisa diambil dengan pulihnya populasi Elang Bondol, masyarakat tentu akan memiliki satu lagi pilihan alternatif wisata di Kota Jakarta. Dan tentu saja, ini akan menjadi sumber pemasukan kas baru bagi pemerintah daerah, layaknya Burung Kokokan yang menjadi daya tarik wisata Desa Petulu, di Bali sana. Semoga.

***

BIAYA-BIAYA

***

 

Tarif masuk Taman Impian Jaya Ancol

  • Tiket per-orang = 17,500Rp
  • Motor = 15,000Rp
  • Mobil = 20,000Rp

Untuk informasi tiket masuk Taman Impian Jaya Ancol yang lebih detail, bisa dilihat di sini.

***

Transportasi

Transportasi utama biasanya sudah termasuk dalam satu paket perjalanan. Namun, bila jumlah kalian cukup banyak dan ingin menyewa kapal sendiri, maka, perhitungannya akan menjadi seperti ini:

  • Biaya sandar kapal = 350,000Rp / hari
  • Biaya per-orang = 100,000Rp / hari

Kapal yang dimiliki Alam Kotok Island Resort ada 2, yaitu:

  • Speedboat besar berkapasitas 50 penumpang, dengan dapur pacu Yamaha V6 200 sebanyak 4 buah.
  • Speedboat kecil berkapasitas 15 penumpang, dengan tipe dapur pacu sama, yaitu Yamaha V6 200 sebanyak 2 buah.

Kuota minimum jumlah penumpang, agar bisa jalan yaitu:

  • Speedboat besar = 22 orang
  • Speedboat kecil = 11 orang

Bila kuota tersebut tidak terpenuhi, maka, pihak Alam Kotok Island Resort biasanya akan bekerja sama dengan pemilik speedboat lain untuk mengantarkan tamu-tamu mereka ke pulau, atau kembali ke Dermaga 15, Marina Ancol. Sementara, untuk jadwal keberangkatannya, adalah sebagai berikut:

Hari kerja (Senin – Jum’at)

  • Berangkat (Dermaga 15, Marina Ancol – Pulau Kotok Besar) = 08.00 am
  • Pulang (Pulau Kotok Besar – Dermaga 15, Marina Ancol) = 14.30 pm

Akhir pekan (Sabtu – Minggu)

  • Berangkat (Dermaga 15, Marina Ancol – Pulau Kotok Besar) = 08.00 am
  • Pulang (Pulau Kotok Besar – Dermaga 15, Marina Ancol) = 15.00 – 15.30 pm

Note:

Untuk kondisi di mana penumpang tidak memenuhi kuota minimun, maka jadwal berangkat dari Dermaga Marina akan sangat bervariasi, mengikuti jadwal keberangkatan pihak ketiga—dalam hal ini, perusahaan transportasi mitra Alam  Kotok Island Resort.

Dari Pulau Kotok Besar pun sama. Bila jumlah penumpang tidak memenuhi kuota, maka tamu-tamu Alam Kotok Island Resort akan dialihkan ke perusahaan transportasi mitra Alam Kotok Island Resort. Bila hal ini terjadi, maka dari Pulau Kotok Besar, biasanya akan berangkat pada pukul 14.00 pm.

***

ALAM KOTOK ISLAND RESORT

***

FULL BOARD PACKAGE  (2 Hari 1 Malam)

Weekdays = 1,225,000Rp – 1,750,000Rp (per night/pax)

Weekends = 1,325,000Rp – 1,850,000Rp (per night/pax)

Extend per malam = 700,000Rp – 1,100,000Rp (per night/pax)

Suplemen = 25% dari malam pertama

Included

  • Akomodasi 1 malam
  • Sarapan 1 kali
  • Makan siang 2 kali
  • Makan malam 1 kali
  • Tiket kapal pulang-pergi (Pulau Kotok – Dermaga Marina)
  • Welcome drink
  • Tax & service charge

ONE DAY TOUR (850,000Rp)

Included

  • Makan siang 1 kali
  • Tiket kapal pulang-pergi (Pulau Kotok – Dermaga Marina)
  • Welcome drink
  • Tax & service charge

DIVING PACKAGE

One Day Splash Dive (1,500,000Rp)

Included

  • 1 Kapal
  • Tabung dan isi
  • Pemberat
  • Dive buddy
  • Tiket pergi-pulang (Pulau Kotok – Dermaga Marina)
  • Makan siang
  • Tax & service charge

Plunge Package Per Person (2,400,000Rp)

Included

  • 3 kapal
  • Tabung dan isi
  • Pemberat
  • Dive buddy
  • Tiket pergi-pulang (Pulau Kotok – Dermaga Marina)
  • Akomodasi satu malam (standard room), twin sharing
  • Makan siang 2 kali
  • Sarapan 1 kali
  • Makan malam 1 kali
  • Tax & service charge

***

Type kamar

Private Bungalow (AC + Air panas)

Private Bungalow (Kipas angin)

New Superior Room (AC + Air panas)

Superior Room (AC + Air panas)

Standard Room ( AC)

***

Contact Person

Yusach Ananta (Boy) – Resort Manager

Head office:

Jl. Musyawarah No. 32

Kebon Jeruk, Jakarta Barat – 11530

Telp: (021) 530.5442

Fax: (021) 530.5442

HP: 0856.1195.195 / (021) 9701.6357

Email: anantaboy@alamkotok.co.id / info@alamkotok.co.id

Yang perlu dibawa

  • Obat-obatan pribadi. Wajib! Jangan pernah meremehkan point ini bila kalian mengidap suatu penyakit tertentu yang ternyata membutuhkan jenis obat-obatan tertentu juga. Percayalah, kambuhnya penyakit khusus yang kalian derita (bila ada), akan menimbulkan rasa takut yang teramat sangat bagi teman seperjalanan yang lain. Saya pernah mengalaminya, ketika seorang teman penyakitnya kambuh di tengah-tengah pendakian. Rasanya seperti menunggu detik-detik kematian sang teman, tanpa bisa melakukan pertolongan.
  • Lotion anti nyamuk. Gigitan nyamuk pulau sedikit berbeda dengan nyamuk di perkotaan, selain menyebabkan rasa sakit, gigitannya akan menimbulkan rasa gatal yang sangat mengganggu. Apalagi, wilayah Kepulauan Seribu belum sepenuhnya terbebas dari malaria.
  • Sunscreen lotion. Lindungilah kesehatan kulit kalian, karena radiasi ultraviolet berlebih dapat membuat permukaan kulit terasa perih.
  • Thermos cangkir. Untuk menampung minuman hangat.
  • Kaca mata hitam.
  • Dry bag.
  • Wind breaker. Supaya gak masuk angin.😀
  • Handphone + charger.
  • Kamera (underwater) + charger.
  • Tripod.
  • Plastik. Untuk membungkus pakaian kotor.
  • Wash bag. Pastikan isinya lengkap, seperti; sikat gigi, pasta gigi, shampoo, sisir, dan lain-lain.
  • Madu sachet. Untuk menghilangkan rasa perih, bila kulit kalian terlanjur terbakar.

Tips

  • Sebelum berangkat, pastikan seluruh barang-barang yang diperlukan telah di-packing dan tak ada yang tertinggal satu pun.
  • Datanglah ke dermaga lebih pagi. Karena kalau kesiangan, bisa jadi kalian gak kebagian jatah kursi.
  • Bagi kalian yang hobi fotografi, tidur cepat agar bisa bangun lebih cepat, sangat disarankan.
  • Bila kalian mudah mabuk laut, jangan lupa membawa obat anti mabuk.
  • Untuk mengembalikan kesegaran, bawalah minuman hangat dalam botol termos—untuk menjaga suhunya. Minuman ini dapat mengembalikan kehangatan tubuh setelah menyelam untuk waktu yang relatif panjang.
  • Sebelum kegiatan menyelam dilaksanakan. Ada baiknya kalian membiasakan diri bernapas lewat mulut. Salah satu cara yang menyenangkan, adalah dengan rutin berenang.
  • Bulan-bulan yang baik untuk berkunjung ke Pulau Kotok Besar adalah antara bulan Juni hingga September.

DAFTAR REFERENSI

Pulau Kotok

  • Badan Pusat Statistik Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Katalog BPS: 1102001.3101. Kepulauan Seribu Dalam Angka 2010.
  • Atika Lubis dan Mira Yosi. Kondisi Meteorologi Maritim Dan Oseanografi Di Perairan Sekitar Pulau Kotok, Kepulauan Seribu: April 2011. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 4, No. 1, Juni 2012.
  • Neritic Zone. http://en.wikipedia.org/wiki/Neritic_zone

Elang Bondol (Haliastur Indus)

Diving