“Eh, katanya di Tana Toraja mayat bisa jalan sendiri yah?”, begitu kira-kira pertanyaan yang selalu dihadiahi oleh kawan-kawan baru saya, ketika mereka mengetahui tanah kelahiran saya.

Saya memang orang Toraja, kakek dan nenek saya tinggal di sebuah desa kecil di Toraja Utara. Keluarga Ayah berasal To’ Yasa Akung dan keluarga Ibu berasal dari Lempo. Namun, walaupun keluarga kedua orang tua Saya berasal dari sana, Saya sendiri belum pernah melihat prosesi tersebut. Rasa penasaran lah yang membuat saya kemudian mencari jawabannya. Internet menjadi titik awal pencarian. Merasa menemukan beberapa informasi, saya pun meng-klarifikasikan informasi tersebut kepada ayah Saya __yang notabene orang asli Tana Toraja. Namun, informasi dari internet, dengan keterangan yang disampaikan ayah Saya ternyata berbeda. Informasi dari internet mengatakan bahwa, pada jaman dahulu kala, ketika masyarakat Toraja masih menganut kepercayaan menyembah dewa-dewa yang dikenal dengan Aluk To’dolo, masyarakat Toraja membangunkan mayat tersebut, kemudian mayat tersebut akan berjalan ke kuburannya sendiri. Ternyata kenyataannya bukan seperti itu.

Ayah saya adalah salah satu orang yang “beruntung”, karena pernah melihat kejadian tersebut dua kali sewaktu masih tinggal di Toraja. Tujuan prosesi membangunkan mayat ini adalah untuk mempercepat membawa mayat tersebut ke keluarganya. Prosesi biasanya dilakukan dalam kondisi seperti, contoh, ada tiga orang yang melakukan perjalanan jauh. Sebagai contoh, kita gunakan perjalanan dari Jakarta ke Bogor sebagai permisalannya. Pada jaman dahulu, perjalanan sejauh itu dilakukan dengan berjalan kaki, dan biasanya melewati perbukitan. Ketika diperjalanan ada salah satu dari ketiga orang ini yang jatuh sakit, kemudian meninggal dunia, dalam sejarahnya, orang Toraja tidak akan pernah meninggalkan mayat anggota keluarganya. Karenanya mereka harus membawanya serta si mayat, bagaimanapun kondisinya pada saat itu. Proses meng-gotong mayat dengan jarak tempuh sejauh itu, ditambah medan yang cukup berat, sudah barang tentu akan memakan waktu yang cukup lama. Dan seandainya sampai di rumah, mayat tersebut pasti sudah membusuk. Pun, mereka akan kehilangan banyak waktu untuk memberitahukan berita duka kepada kerabatnya. Karenanya, mayat tersebut kemudian “dihidupkan” kembali, untuk dapat berjalan sendiri kembali ke rumahnya (rumah dalam hal ini adalah benar-benar rumah yang didiami oleh keluarganya bukan kuburan atau yang lainnya). Pada mayat tersebut biasanya diberi tanda, berupa ikatan kain hitam atau merah di dahinya. Ketika mayat sudah mulai berjalan, ia harus di dampingi oleh satu atau dua orang yang bertugas untuk memberi informasi kepada orang lain yang ditemui di sepanjang perjalanan yang akan dilalui si mayat. Pendamping tersebut bertindak sebagai “pembuka jalan” bila posisinya berada didepan mayat, dan akan berlari terlebih dahulu seraya memberitahukan kepada orang-orang yang ditemuinya bahwa akan ada orang sakit yang hendak melewati jalan tersebut. Dan bila posisi pendamping berada dibelakang mayat, ia bertugas sebagai “Sweeper”, dengan memberikan informasi yang sama seperti “pembuka jalan”, bilamana ada orang yang ingin mendahului dari belakang.

Dan orang-orang yang ditemui selama perjalanan pun biasanya akan langsung mengerti, bahwa ada mayat yang sedang di bawa oleh anggota keluarganya untuk pulang kerumah, hanya dengan melihat tanda ikatan kain hitam/merah di dahi si mayat. Mayat tersebut akan berjalan seperti robot hanya kedua kakinya saja yang bergerak sementara kedua tangannya tidak bergerak sehingga menyebabkan ia akan terlihat berjalan seperti tersentak-sentak. Selama perjalan mayat tersebut juga tidak boleh disentuh atau ditegur oleh siapapun (iseng amat negor begituan, ngeliatnya aja udah serem kali, hehe). Nah, bila mayat tersebut sudah tiba di rumah, biasanya, begitu ia memasuki pintu rumah ia akan terjatuh dan kemudian prosesi mayat berjalan pun selesai sudah.

Terjawab sudah pertanyaan teman-teman saya dan saya sendiri tentang prosesi mayat berjalan di Tana Toraja. Namun prosesi ini sudah tidak pernah dilakukan lagi, karena pada saat ini masyarakat Toraja sudah hampir keseluruhannya beragama. Dan rata-rata mereka beragama Kristen dan Katholik. Didukung pula oleh sarana transportasi yang memungkinkan mereka untuk mengadakan perjalanan yang cukup jauh. Yang masih tersisa dari adat istiadat asli Tana Toraja saat ini adalah upacara penguburan secara adat yang di biasa sebut dengan Rambu Solok, yang akan saya ulas ditulisan berikutnya, semoga. (IKA)