Gunung Sintren Wonogiri

Gunung Sintren Wonogiri

Gunung Sintren ini letaknya hanya 30-40 menit berjalan kaki dari tempat saya menginap di Dusun Timoyo, Desa Bero. Ketinggiannya saya perkirakan seperempat kali dari Gunung Margoboyo. Cara mencapai kesana pun cukup mudah. Dengan menyusuri jalan-jalan desa yang telah dibeton sebagiannya.

Ditengah perjalanan…

‘Itu suara apa mas? Tau gak?’, Mendut tiba-tiba memecah keheningan dengan menanyakan sumber suara yang bunyinya seperti orang sedang menebang pohon dengan menggunakan kapak.

‘Lho, disini banyak juga toh yang nebang-nebang pohon?’, saya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

‘Bukan mas, itu Burung Pelatuk’, jawab Mendut. ‘ohh, Burung Pelatuk toh. Lho kamu gak coba tangkep tuh burung terus dijual?’, Tanya saya lagi.

‘Yah, kalo Burung Pelatuk sih ga ada harganya mas, nyapek-nyapek-in doang, hehe’, Mendut kembali menjawab. ‘Yang harganya mahal itu malah Ayam Hutan mas, tapi sekarang susah banget carinya, mungkin gara-gara sering diburu, makanya jumlahnya udah ga sebanyak yang dulu’. Oh, I see, I see.

 

Back to Gunung Sintren…

 

Puncak Gunung Sintren

Puncak Gunung Sintren

Dari starting point jalur awal ‘pendakian’, hanya butuh sekitar 10-15 menit trekking menuju puncaknya. Kesulitan justru hadir ketika saya hendak mendatangi goa yang berada dibagian lembah Gunung Sintren ini. Tingkat kesulitan untuk mencapai Goa Sintren tidak lebih mudah dari Goa Margoboyo tempo hari. Letaknya dibagian lembah, dibalik puncak gunung, dan kita pun butuh sedikit menganalisa jalur ‘termudah’ untuk mencapainya, karena memang tidak memiliki jalur setapak.

Tumbuhan duri, kemiringan 70-80 derajat, jurang, serta licin akibat lumut dan hujan, adalah beberapa hambatan yang harus kita lalui ketika berencana menuju goa Gunung Sintren ini.

Goa Gunung Sintren

Goa Gunung Sintren

Didalam goa, saya mendapati kawat sisa ban mobil bagian luar. Ban ini sengaja dibawa untuk kemudian dibakar di dalam goa. Fungsinya? Sudah barang tentu menghalau Musang supaya keluar dari persembunyiannya (baca: berburu).

Sayangnya, pada saat saya mencapai goa tersebut, pemandangan disekitar mulut goa tertutup oleh kabut tebal, sehingga hamparan sawah, perkampungan, dan danau yang letaknya jauh dibawah sana tidak terlihat.

Jalur menuju goa ini cukup sulit untuk dilalui, begitupun ketika kita hendak kembali, jadi kehati-hatian adalah wajib hukumnya.

Pemandangan Dusun Timoyo dari puncak Gunung Sintren

Pemandangan Dusun Timoyo dari puncak Gunung Sintren

Waktu yang baik untuk berada dipuncak Gunung Sintren ini adalah pada pagi dan sore hari. Luas puncak batu-nya hanya sekitar 3×0.5 meter. Dari sini kita bisa melihat sekeliling Desa Timoyo dengan sudut pandang sebesar 360 derajat. Kabarnya pula, beberapa minggu sebelum kedatangan saya kesini, ada yang terjatuh dari puncak ini dan meninggal, dan jasadnya baru diketemukan seminggu kemudian. ‘Gimana gak serem coba? Hehehe’.

Ilustrasi Harimau Tidur di Dusun Timoyo

Ilustrasi Harimau Tidur di Dusun Timoyo

Hampir lupa, ternyata pada era tahun 1970-1980an dahulu, ayah dan anak pemilik rumah tempat saya menginap pernah bertemu dengan seekor Harimau yang sedang tertidur di ladang mereka ketika hendak memanen cabai. Bayangkan! Seekor harimau saja bisa kesiangan, sampai-sampai tertidur di ladang milik penduduk, sepertinya harimau ini seekor —bukan seorang— pekerja keras. Untuk mengusir Harimau tersebut, petani itu mengambil jarak yang cukup aman, kemudian menimpuknya dengan batu supaya pergi.

Saya jadi berpikir, ‘Seperti apa ya kira-kira kondisi desa ini pada jaman itu? Jangan-jangan pemilik rumah ini juga pernah bertemu dengan Tarzan?’, Who knows…

Saya tidak tahu persis bagaimana reaksi anda bila hal ini terjadi pada diri anda. Tapi kalau seandainya hal ini terjadi pada saya, saya akan lebih memilih push-up daripada harus bertengkar dengan harimau ini, walaupun untuk sekedar membangunkannya dari tidur, eh eh eh.

Ada satu cerita lagi yang saya dapatkan berkaitan dengan harimau, tapi bukan Dusun Timoyo yang menjadi tempat kejadian perkaranya, melainkan dusun lain, sebut saja namanya Dusun Ngasem.

And this is true story!

Waktu itu seorang petani pergi keladangnya pada pagi hari, namun ia dikagetkan dengan seekor anak harimau yang terjebak kedalam sebuah kubangan berlumpur. Anak harimau ini sepertinya tidak dapat keluar dari kubangan tersebut walaupun sudah mencobanya sekuat tenaga. Mengetahui hal ini, kemudian petani tersebut menolongnya.

Setelah dimandikan, kemudian anak harimau tersebut diangkat kedataran yang lebih tinggi, dengan maksud dijemur supaya kering. Setelah itu sang petani ini meneruskan menggarap ladangnya seperti biasa. Namun setelah selesai menggarap ladangnya dan kembali ketempat dimana ia menjemur anak harimau tadi, anak harimau tersebut ternyata sudah menghilang.

‘Ah sudahlah mungkin dia sudah lari kedalam hutan’, begitu pikir sang petani. Namun yang terjadi dipagi hari berikutnya lebih mengejutkan lagi. Karena ternyata didepan pintu rumah sang petani telah tergeletak seekor kijang, yang dipercaya dirinya dan warga sekitar adalah sebagai balas budi dari orang tua Harimau yang telah ditolongnya kemarin.

Bayangkan, bahkan binatang pun mengerti tentang balas budi. Luar biasa!

Seandainya pemerintah daerah setempat cukup aware dengan potensi wisata yang dimiliki Dusun Timoyo ini, dan membangun sarana dan prasarana wisata yang memadai, sudah barang tentu perekonomian desa bisa sedikit terangkat, dan ini artinya pemasukan kas daerah pun bertambah.

Tidak perlu jauh-jauh. Gunung Sintren ini sebenarnya bisa dijadikan objek wisata ‘percobaan’ di Dusun Timoyo. Bisa dimulai dengan membangun sarana dan prasarana sederhana seperti warung, membersihkan areal Gunung Sintren dan membuatnya lebih sedap dipandang mata, menyediakan informasi tentang Gunung Sintren dan sejarahnya, dan lain-lain.

Tiba-tiba blank …

Tak terasa, dua hari telah saya lalui di Dusun Timoyo, Desa Bero – Wonogiri, kini saatnya saya pulang lebih cepat. Perjalanan selama 24 jam sebelumnya cukup menyisakan ‘efek jera’ bagi saya, karenanya saya harus bergegas. Goodbye Wonogiri, Welcome Jakarta.

Eh, satu lagi, boleh ya…😀

Entah karena kebetulan atau apa? Akhir-akhir ini, saya justru lebih menikmati wisata-wisata non mainstream seperti ini daripada yang telah saya jalani beberapa tahun kebelakang. Dan sepertinya anda juga harus mencobanya. Ketempat-tempat dimana ‘the road less traveled’. So, I encourage all of you to come and visit this village. Dusun Timoyo. [BEM]

_____Tamat_____

Daftar isi “Wonogiri Blind Trip’:

  1. 4 Kejutan 1 Perjalanan
  2. Objek Wisata Seperti Apa?
  3. Gunung Margoboyo, Monyet dan Ritual
  4. Gunung Sintren, Dusun Timoyo dan Harimaunya