Wonogiri… mungkin banyak dari anda yang bertanya-tanya, objek  wisata seperti apa sih yang bisa dikunjungi di Wonogiri?

Walaupun Wonogiri terkenal dengan rawan kekeringannya, tapi jangan salah, Wonogiri juga menyimpan beberapa potensi objek wisata yang patut dikunjungi lho. Mari kita inventaris satu persatu:

Wisata pantai:

  1. Pantai Sembukan
  2. Pantai Nampu

Wisata goa:

  1. Goa Ngantap
  2. Goa Putri Kencono
  3. Goa Tembus
  4. Goa Sodong

Wisata Sejarah dan Budaya:

  1. Tugu Pusaka
  2. Prasasti Nglaroh
  3. Museum Karst
  4. Museum Wayang
  5. Monumen Bedol Desa
  6. Gunung Giri

Wisata Air:

  1. Air Terjun Sentren
  2. Sendang Siwani
  3. Sendang Asri
  4. Waduk Gajah Mungkur
  5. Kahyangan

Lantas dari daftar beberapa objek wisata yang dimiliki Wonogiri tersebut diatas, yang manakah yang akan saya bahas?… Tidak satupun!. ‘Lah gimana sih ini?!…’, begitu mungkin reaksi anda. ‘Ehh, suka-suka dong, kan saya yang nulis artikelnya…’, hehe.

Tenang, saya justru akan membahas potensi wisata non mainstream yang dimiliki oleh Kabupaten Wonogiri, khususnya Dusun Timoyo dan Dusun Banasan.

Mengapa saya menyebutnya sebagai non mainstream? Karena tempat yang saya datangi ini memiliki potensi yang cukup besar untuk dijadikan sebuah objek wisata yang bisa menambah ‘devisa’ pemerintah daerah setempat. Selain itu, tempatnya pun relative jarang dikunjungi orang, bahkan oleh penduduk local sekalipun.

Sebelum saya ulas lebih lanjut, mari kita bahas Dusun Timoyo sebagai bagian dari Wonogiri terlebih dahulu…sistem penggajian lurah desa

Wonogiri (baca: Dusun Timoyo)… Seperti membicarakan padang pasir, namun dalam bentuk batuan besar. Dalam bentuk gunung kapur. Yang walaupun dapat ditumbuhi beberapa jenis tanaman, sangat sulit bagi penduduknya untuk sekedar mendapatkan air bersih. Bahkan dimusim penghujan sekalipun. Daerah ini juga sangatlah rawan kekeringan.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mayoritas warga Dusun Timoyo menggunakan selang air berukuran sangat kecil (sebesar selang ukur bangunan). Salah satu ujung selang-selang ini biasanya akan di letakkan pada sumber air yang posisinya lebih tinggi dari lokasi rumah mereka, dan dianggap bisa mensuplai kebutuhan air secara continue dalam rentang waktu yang relative panjang. Sementara ujung lainnya di letakkan pada bak penampungan dirumah masing-masing. Semakin jauh jarak antara rumah warga dengan sumber air, semakin panjang pulalah sambungan selang-selang tersebut. Beberapa bahkan mencapai lebih dari 1 Km.

Warga yang memiliki kemampuan lebih biasanya akan membuat sumur airnya sendiri, kemudian dipasangi mesin pompa air untuk mempermudah memperoleh air bersih.

Pekerjaan penduduk Dusun Timoyo pada umumnya adalah petani dan peternak (skala sangat kecil). Yang masih kuat tenaganya, biasanya juga bekerja menjadi pengangkut kayu hasil tebangan hutan disekitar dusun mereka. Sebagian warganya pun ada yang memilih merantau ke kota-kota besar untuk mengadu nasib. Ada yang menjadi buruh kasar, karyawan swasta, pedagang dan lain sebagainya. Yang paling mudah dikenali biasanya adalah ‘Bakso Wonogiri’, betul tidak?

Di Dusun Timoyo sangat jarang terlihat aktivitas pemuda setempat, kecuali ada event-event besar tertentu seperti pertandingan sepakbola antar warga/desa, acara 17-an, hajatan, dan lain sebagainya.

Ada yang tergabung dalam klub motor, ada pula yang hobi berburu. Umumnya mereka berburu burung, ayam hutan, musang, dan monyet. Alas an berburu pun beragam, mulai dari motif ekonomi hingga iseng belaka. Bila sedang beruntung, mereka bisa menjual (burung) buruannya hingga seharga 250,000 rupiah perekor, tergantung dari jenisnya. Alat berburunya pun beragam, mulai dari ketapel, pulut (getah), dan ada juga yang menggunakan senapan buru.

Ada satu lagi keunikan yang saya temui di dusun ini. Lurah setempat tidak mendapatkan gaji berupa uang tunai dari pemerintah daerah, melainkan mendapatkan tunjangan sebidang sawah yang cukup luas untuk digarap selama masa jabatannya berlaku. Bila sudah tidak menjabat sebagai Lurah, sebidang sawah tersebut akan dikembalikan lagi ke pemerintah daerah setempat, untuk kemudian diberikan kepada Lurah berikutnya yang menggantikan. Sebuah system penggajian yang cukup unik bagi saya,😀.

‘Cukup Dusun Timoyo-nya!!!, mana objek wisatanyaaa???!!!…’

‘Oke, oke, yuk kita bahas satu persatu…

Eh, tapi tunggu episode berikutnya ya, pokoknya seru deh’, hehe… [BEM]

Bersambung

Daftar isi “Wonogiri Blind Trip’:

  1. 4 Kejutan 1 Perjalanan
  2. Objek Wisata Seperti Apa?
  3. Gunung Margoboyo, Monyet dan Ritual
  4. Gunung Sintren, Dusun Timoyo dan Harimaunya