Pernah mendengar istilah ‘burning day’? yah, setidaknya saya dan teman-teman backpacker yang tergabung dalam satu komunitas menyebutnya seperti itu. Sebuah ritual copy-paste antar-teman  perihal foto-foto kegiatan yang telah selesai dilaksanakan sebelumnya.

Lalu apa yang membedakan burning day kali ini? Bedanya terletak pada ‘kepemilikan’ tujuan wisata akhir pekan. Hampir semua teman memiliki rencana perjalanan wisatanya masing-masing, kecuali saya, hiks.

Long weekend tanpa tujuan ibarat menonton film Charlie Chaplin. Tanpa suara, tanpa warna, semuanya serba two tone. It’s a ‘dead beat’.

Peta Kabupaten Wonogiri

Peta Kabupaten Wonogiri

Tidak mau kalah dengan yang lain, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke Wonogiri, sebuah tempat yang memang sejak lama saya ingin datangi, namun belum juga terwujud.

Walaupun sudah lama sekali saya ingin ke Wonogiri, tapi sebenarnya perjalanan ini bisa dianggap trip dadakan, karena saya tidak merencanakannya sama sekali. Dan tidak tahu sama sekali potensi objek wisata non mainstream apa yang dimiliki oleh Kabupaten Wonogiri. Motivasi awalnya, saya hanya ingin mengunjungi saudara saya yang tinggal disana, bila kemudian ada informasi objek wisata ‘unik’ yang bisa saya capai, saya anggap hal itu sebagai bonus perjalanan kali ini.

Tidak seperti trip-trip saya beberapa tahun kebelakang, sulitnya mendapatkan tiket kereta api ekonomi sebagai akibat perubahan regulasi oleh PT. KAI plus status long weekend seringkali membuat saya mengurungkan niat untuk melakukan perjalanan wisata (saya biasa menyebutnya dengan backpacking trip). Namun kedua alasan tersebut diatas berhasil saya tepis kali ini. Ya, saya memutuskan alternative transportasi lain yang biasanya (juga) saya hindari, yaitu melakukan perjalanan backpacking menggunakan bus antar kota.

Kali ini saya sok kaya, boleh dong sekali-sekali nge-trip pake bus, AC pula (baca: terpaksa)… yah walaupun pada akhirnya ‘memiskinkan’ saya di ujung-ujungnya, :p.

Entah bagaimana caranya, tiket Bus Gajah Mungkur jurusan Wonogiri tiba-tiba sudah berada dalam gengaman tangan saya (sengaja dilebih-lebihkan).

Atas dasar ungkapan ‘sia-sia itu adalah temannya setan’, maka, saya harus memaksimalkan perjalanan ini se-optimal mungkin. Tidak boleh ada sepeser pun uang yang telah dikeluarkan menjadi sia-sia (boleh dibaca itung-itungan atau pelit kok, hee…)

And the journey begin…

Berdoa bersama, like never before

Bus Gajah Mungkur ini biasanya akan melapor dulu ke pool mereka yang berada di daerah Cibitung untuk kemudian melanjutkan perjalanan keluar kota.

Dan disinilah saya mendapati kejutan pertama saya.

Sepanjang saya melakukan aktifitas traveling beberapa tahun ini, tidak pernah ada satupun armada transportasi umum yang mengajak penumpangnya untuk berdoa bersama terlebih dahulu sebelum melakukan sebuah perjalanan panjang, ke tujuan masing-masing. Entah itu kereta api, pesawat, kapal laut, pun demikian juga dengan bus.

Sampai saat saya menulis artikel ini, setidaknya saya belum pernah mendapati armada apapun yang melakukan hal tersebut (mengajak berdoa seluruh penumpangnya). Dan bila ini bisa diterapkan ke setiap armada transportasi umum lainnya, sudah barang tentu ini akan menjadi suatu nilai tambah bagi armada tersebut.

Dengan value added seperti ini, bila kemudian saya diajukan kepada sebuah pertanyaan,  ‘Dengan fasilitas bus yang sama persis, armada bus mana yang akan anda pilih?’, tentu saya akan memilih Bus Gajah Mungkur ini sebagai armada transportasi. Dan faktor penentu terbesarnya tentu saja ‘ritual’ do’a bersama tersebut.berdoa bersama

Please note!, ini bukan promosi lho ya, saya hanya menyampaikan apa yang menjadi opini saya berdasarkan pengalaman sendiri, hehe.

Satu hal yang sangat saya sayangkan dari bus yang saya tumpangi ini, walaupun kelas bisnis, tapi AC-nya tidak terasa sama sekali. Angkutan umum non-AC justru lebih nyaman menurut saya.

Saya tidak tahu persis apakah semua armada Bus Gajah Mungkur seperti ini atau tidak, tapi di point ini, saya cukup kecewa. Semoga hal ini bisa menjadi perhatian bagi pihak manajemen perusahaan bus Gajah Mungkur kedepannya.

Setiap saya memilih bus sebagai alat transportasi, saya akan memilih kelas yang satu tingkat (atau lebih) diatas kelas ekonomi dan berpendingin AC. Hal ini saya lakukan untuk menghindari hak saya menghirup udara bersih dirampas oleh orang-orang yang merokok didalam kabin bus sepanjang perjalanan berlangsung. Dan saya sangat bersedia membayar lebih demi menjaga kesehatan saya sendiri. Untuk apa saya membayar sedikit lebih murah bila harus dibarter dengan buangan nafas (baca: asap rokok/penyakit) orang lain.

Bukan, saya bukanlah orang yang anti rokok, selama merokok dilakukan diruang terbuka, dan asapnya tidak mengenai saya, I’m fine with it. Banyak teman saya yang juga perokok, namun mereka menghargai hak saya menghirup udara bebas asap rokok, dan karenanya juga saya menghargai hak merokok dan niat baik mereka.

Dan saya selalu berprinsip…

‘gw gak ngambil hak lu untuk ngerokok,silahkan aja, jadi tolong jangan ambil hak gw juga untuk menghirup udara bersih yang bebas dari asap rokok lu!’

… sesederhana itu.

Dan bila suatu saat nanti seluruh bus ekonomi pun bebas asap rokok, tentu saya akan jauh lebih senang menggunakan bus berkelas ekonomi ketimbang kelas bisnis, karena ini artinya pengeluaran saya bisa ditekan sehemat mungkin, hehe.

Sebagai caatatan tambahan, bila anda berencana bepergian dengan menggunakan bus, dan tujuan/trayek anda tersebut dilayani oleh armada Bus Pahala Kencana, saya sangat merekomendasikan Bus Pahala Kencana ini bagi anda (setidaknya sampai saat tulisan ini dibuat).

Beberapa alasannya yaitu;

  1. Jarak antar-bangku depan-belakangnya cukup renggang,
  2. AC-nya terasa dingin. Sangat dingin malah.
  3. Bangkunya yang cukup nyaman. Untuk duduk juga untuk tidur. Reclining seat.
  4. Kelas minimal mereka adalah bisnis AC, jadi seandainya pun ditengah jalan di-oper, anda masih akan mendapatkan bus dengan kelas yang sama atau malah diatasnya.
  5. Dan yang terakhir, berdasarkan pengakuan seorang teman yang pernah bekerja di Pahala Kencana, pihak manajemen sangat memperhatikan kondisi kelayakan seluruh armadanya. Dan itu telah saya buktikan sendiri dengan beberapa kali menggunakan bus ini.

Tapi ada kelemahan lain yang saya ketahui dari penumpang setia Bus Pahala Kencana ini. Si bapak sering terlambat sampai tujuan, karena armada bus ini dianggapnya terlalu banyak ngetem.

Masih berdasarkan pengalaman (buruk) saya sendiri. Satu-satunya bus yang tidak akan pernah lagi saya gunakan adalah Bus Sinar Jaya, kecuali saya ada dalam kondisi yang sangat-sangat amat terpaksa.

Strategi marketing pedagang keripik kentang

anomali privileged pedagang asonganSeperti yang diharapkan sebelumnya, saya akhirnya berhadapan dengan karakter long weekend yang sangat kental, apalagi kalau bukan kemacetan panjang. Tapi, justru disinilah saya mendapatkan kejutan saya yang kedua. Pedagang asongan. Terasa aneh dikuping? Bagaimana bisa pedagang asongan memberi kejutan kepada penumpang? Haha, memang demikianlah adanya. Paling tidak, itulah yang saya rasakan kala itu.

Musik tradisional yang semula diputar begitu hingar oleh awak bus yang saya tumpangi, tiba-tiba menghilang ketika pedagang asongan ini masuk. ‘seberapa special sih nih pedagang? Kenapa juga cd player-nya harus dimatiin?’, begitu kira-kira yang ada dipikiran saya.

Saya yang semula emosi jiwa dengan kemacetan pun secara sukarela menekan tombol pause untuk sekedar memberi perhatian lebih atas anomaly privileged yang diberikan kepada pedagang asongan ini.

Layaknya seorang MC kondang, setiap pedagang asongan biasanya telah memiliki standar script masing-masing. Dan itulah yang mereka sampaikan kepada para penumpang ketika pertama kali membuka acara ‘asongan’-nya, dimana merekalah yang menjadi host-nya.

Tapi, apa yang terjadi kemudian membuat saya cukup surprise, bagaimana tidak? Pedagang ini dengan antusiasnya membuka dua bungkus dagangannya dan kemudian membagi-bagikan isinya kepada para penumpang untuk sekedar mencicipinya sebagai sample gratis. Sebuah pertaruhan besar untuk keuntungan yang belum pasti dan tidak seberapa menurut saya.

Setelah ia membagi-bagikan sample dagangan kepada para penumpang, kemudian ia membagi-bagikan sebuah plastik kresek berisi 3 bungkus dagangannya. Seperti seolah-olah, para penumpang telah bersedia membayar apapun yang ditawarkannya.

Saya menyebut sample tadi sebagai ‘sample antusiasme’, kenapa saya sebut demikian? Karena jelas-jelas mindset sang pedagang ini lebih maju one step ahead daripada calon pembelinya. Mindset yang ‘memaksa’ calon pembeli untuk berkata ‘ya, saya beli’.

Dan diferensiasi strategi marketing inilah yang pada akhirnya memaksa saya untuk kembali terkenyut (tersenyum sekaligus terkejut, hehe), karena diluar ekspektasi saya, dagangannya justru habis laku terjual.

Saya jadi curiga, ‘jangan-jangan pedagang ini salah satu petinggi Markplus and Co yang ahli dalam hal strategi marketing?’, ah sudahlah kita tidak boleh berprasangka buruk.

Setelah dagangannya habis terjual, alunan musik tradisional pun kembali mengalun keras. Sungguh sebuah privileged yang ajaib bagi seorang pedagang asongan.

Pedagang jeruk… dan jeruk kotaknya

Tanpa sadar, bus telah terbebas dari kemacetan panjang…

Dipemberhentian bus selanjutnya, kembali naik satu pedagang asongan, namun tidak seperti pedagang asongan sebelumnya, ketika pedagang ini masuk, awak bus tidak mengecilkan volume cd player-nya.

Adalah pedagang jeruk…

Pertama naik ke bus, pedagang ini juga terlihat biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Semula ia menawarkan jeruknya sebesar 1000 rupiah/buah dan sekantong plastiknya berisi 20 buah. Dia menawarkan dagangannya hingga ke bagian belakang, namun tidak ada yang berminat. Kemudian dia tambahkan lagi ‘bonus’ sebanyak 3 buah bila ada yang membeli sekantong plastik dengan harga 20,000 rupiah. Kembali dia menawarkan sampai kebagian belakang bus, namun kejadian yang sama terulang lagi, tidak ada yang berminat untuk membeli.

Formulanya adalah…

Tambahkan sedikit demi sedikit jumlah jeruknya. Harga tetap sama. Jajakan.

Begitu seterusnya, hingga jeruk itu kini berjumlah 30 buah sekantong plastiknya.

Namun entah kesal yang dibalut guyon, atau memang pada dasarnya pedagang ini suka membanyol, akhirnya keluarlah curahan hatinya… ‘kok pada diem semua ini… kayaknya saya salah ya bapak ibu ya, coba saya bawa obat sariawan, pasti laku keras ini’, dengan wajah datar, culun plus logat tegal medok-nya. Silahkan anda bayangkan sendiri seperti apa kondisinya? Hehe.

Spontan orang-orang dalam satu bus tertawa geli, tapi ajaibnya, justru dari sinilah terjadi perubahan respon para penumpang yang semula acuh tidak acuh menjadi sedikit tergugah untuk membeli.

Formulanya kini berubah menjadi…

Tambahkan sedikit demi sedikit jumlah jeruknya. Harga tetap sama. Jajakan sambil guyon.

Setelah ia menambahkan menjadi 31 buah perkantongnya, dan menggunakan formula kedua sambil meneriakkan yel yel… ‘ayo buk/pak manis jeruke yakinlah… Pokoke kalo ada yang kothak satu aja, boleh dituker, beneran, serius ini!’, masih dengan wajah  datar, culun plus logat tegal medok. Silahkan bayangkan (lagi) kondisinya, hehe.

Daya beli penumpang tiba-tiba semakin meningkat dari yang saya perhatikan…

Hingga akhirnya perdagangan jeruk hari itu ditutup pada kisaran 25,000 rupiah perkantong jeruknya, naik 40 point pada sesi penutupan. Yang semula pada sesi pembukaan dibuka pada kisaran 20 point (baca:buah) perkantong plastiknya. Dan… semua senang.

Kejadian ini menjadi daftar ‘ajaib’ ketiga dalam perjalanan wisata saya ke Wonogiri. Sungguh sebuah persistensi yang patut ditiru. Menjajakan tanpa memaksakan. Terus mengubah strategi, sampai target penjualan tercapai, hehe.

Long story short…

Tibalah saya di Desa Bero, Dusun Timoyo, Wonogiri. Dan disinilah kejutan terakhir saya dapatkan dari perjalanan wisata ke Wonogiri ini. Ternyata saya telah melewati 24 jam perjalanan solid untuk sampai disini. Jumlah yang sama untuk perjalanan pergi-pulang menggunakan kereta api ekonomi jurusan Jakarta-Yogyakarta. Bahkan ke Kota Surabaya pun, saya ‘Cuma’ membutuhkan waktu sekitar 18 jam perjalanan kereta api. Sebuah simulasi sempurna perjalanan mudik lebaran, hiks.

Lantas objek wisata non mainstream seperti apa yang bisa kita kunjungi di Wonogiri? Kenapa pula saya sebut perjalanan wisata kali ini dengan ‘blind trip’? apa pula yang mendasari saya untuk datang ke Wonogiri? Akan saya ulas semuanya di artikel berikutnya tentang objek wisata Wonogiri ini, ditunggu ya… [BEM]

Bersambung

Blup! blup!… commercial break!…

Karena artikel ‘Wonogiri Blind Trip’ ini ternyata sangatlah panjang, supaya tidak membosankan untuk dibaca, saya akan bagi menjadi 4 bagian, yaitu:

  1. 4 Kejutan 1 Perjalanan
  2. Objek Wisata Seperti Apa?
  3. Gunung Margoboyo, Monyet dan Ritual
  4. Gunung Sintren, Dusun Timoyo dan Harimaunya

Anda bisa membacanya secara parsial, namun saya sangat menyarankan anda membacanya secara berurutan, supaya anda mendapatkan gambaran utuh dari dari awal hingga akhir perjalanan wisata saya ke Wonogiri ini. :D…

Trrrttt!!!… commercial not break!…