Tak lengkap rasanya membaca kelanjutan cerita pendakian ke Puncak Mahameru ini tanpa teman-teman sekalian melibatkan dua artikel sebelumnya, yaitu; artikel yang bercerita tentang berhari-hari perjuangan/perjalanan kami menuju Desa Ranu Pani sebagai titik awal pendakian Gunung Semeru—yang terpaksa harus terdampar satu malam terlebih dahulu di Desa Tumpang, Malang. Dan artikel yang bercerita tentang bagaimana kami benar-benar hampir miskin di Desa Ranu Pani.

Kedua artikel yang cukup panjang tersebut sebenarnya masih menjadi satu kesatuan cerita dengan artikel kali ini. Cerita yang terkandung pada keduanya jelas mengakhiri fase suka-duka perjalanan panjang kami. Tapi bukan berarti kami ‘terbebaskan.’ Karena pada kenyataannya, begitu kami menginjakkan kaki di Gunung Semeru (memulai pendakian), fase suka-duka tadi otomatis tereskalasi menjadi fase duka-duka – dalam artian; duka, ya duka. Suka, ya duka. Keduanya terasa sama, sampai sulit bagi kami membedakannya.

Kira-kira, bagaimanakah cara kami melalui beberapa fase menyedihkan ini?

***

SEMERU – July02, 2012

06.30    Bangun pagi

Ranu Kumbolo pagi itu cukup dingin.  Jaket, sleeping bag, sarung tangan dan kaus kaki masih berpegang erat pada tubuh kami layaknya kekasih yang sedang kasmaran. Tidak mau berpisah walau sebentar saja.

Sarapan Pagi di Ranu Kumbolo

Berpijak pada teori “Sebelum beraktifitas lakukanlah stretching terlebih dahulu supaya tidak terjadi kejang otot,” maka kamipun segera melakukannya. Stretching  dengan format memasak teh panas dari dalam tenda __walaupun kadang iseng keluar juga. Stretching ala pemalas tentunya.

Dan karena istirahat malam tadi masih terasa kurang, kamipun terpaksa mencukupkannya dalam pikiran saja. Yah, apa boleh buat.

Air panas plus teh hangat telah siap. Kini tiba saatnya kami sarapan. Bungkus kedua nasi putih kemarin terhampar menggoda dilantai tenda. Deg-deg-an kami lucuti satu persatu karetnya __padahal karetnya cuma satu.

Setelah terlucuti dengan sempurna…

Indah bukan main nasi ini, serasa ingin memeluknya. Hasrat kami bertiga sontak membabi-buta. Sorge dunie, orang betawi bilang.

“Woiiii!, itu nasi, bukan nganu2!”

Ahhh, suara itu lagi. Sungguh menyebalkan.

“Iya-iya!, kami juga tau itu!… bletakkk!”

Rendang kering dan orek teri-tempe menu favorit hari sebelumnya juga ikut berkomplot merayakan sejuknya Ranu Kumbolo pagi itu. Hari pertama pendakian Gunung Semeru kami.

Layaknya Piranha kelaparan, tidak butuh waktu lama memutasikan butiran-butiran nasi tadi kedalam perut-perut lapar kami. Cacing-cacing didalam perut sanapun melakukan hal serupa. Menengadah demi mengalap berkah. Senang bukan kepalang.

Lantas, seperti apa nikmatnya? Wuih, mantap pokoknya.

Apalagi setelah kami sadar, bahwa itu adalah bungkus kedua dari hanya tiga bungkus nasi yang kami bawa untuk pendakian beberapa hari kedepan. What?!…

“Biasa dong reaksinya. Terus gw harus bilang wow gitu?”

“Plakkk!!!”

Mari kita sedikit menjadi orang bener. Kita coba analisa kekuatan persenjataan kita. Laporan Stock Opname kelengkapan logistik menyajikan statistik yang cukup menggembirakan:

  • Beberapa botol air mineral
  • Sebungkus nasi putih
  • ¾ toples rendang kering
  • ¾ bungkus orek teri-tempe
  • I kaleng sarden
  • 5 bungkus indomie
  • 2 bungkus nutrijell
  • 1 bungkus nutrisari
  • Beberapa bungkus teh celup
  • Beberapa bungkus kecil gula putih
  • Beberapa bungkus kopi
  • Berbagai macam makanan ringan aneka rasa
  • Beras? Alhamdulillah tidak ada
  • Sayur? Apalagi. Jangan ditanya.
  • 3 orang pendaki dengan gaya makan se-level Piranha
  • Beberapa hari (lagi) masa pendakian, dan …
  • Summit attack puncak Mahameru sebagai misi inti operasi

Bila keseluruhan data diatas kami jabarkan menggunakan bahasa yang lebih indah, maka tahap survival sesungguhnya adalah tinggal menunggu hitungan jam. Dan dari hasil peneropongan kami waktu itu, didapatkan fakta bahwa hilal survival pasti terlihat, tidak lama setelah kami sampai di Kalimati. Atau lebih tepatnya ketika nasi bungkus ketiga sudah habis.  Super!!!… __pinjam istilahnya sebentar ya Pak Mario.

Untuk sejenak, mari kita tinggalkan ‘kesempurnaan’ diatas tadi dengan sebuah tragedi. Tragediyang juga cukup untuk membuat aliran darah dalam tubuh berhenti barang sejenak. Tragedi yang dengan sangat amat terpaksa, saya dan Ika harus alami.

Ketika ritual packing berlangsung didalam tenda …

Dari kejauhan, ekor mata saya menangkap sebuah gradasi warna yang cukup menyilaukan mata. Objek gradasi yang sedang dijinjing Fery tersebut tidak begitu jelas dari sudut pandang saya, karenanya teropong bintang pun menjadi andalan. Keker punya keker, diketahui kemudian, objek gradasi tersebut masing-masing berwarna merah jambu hingga ungu. Ahhh, ternyata cuma beberapa onggok celana dalam murahan khas Pasar Tanah Abang.

Tapi kenapa Fery yang pegang?

Kok Ika gak malu ya titip-titip celana dalam dikeril Fery?

Kenapa juga warnanya harus genit begitu?

Lamunan saya tiba-tiba diretas dengan pertanyaan singkat dari Ika,“Itu celana dalem elu Fer?”

“Iyak,” jawab Fery datar

Glodhakkk!!! @#$%^&* …

Tuhan!… Cobaan macam apalagi ini?!…

“Jadi tu celana dalem yang warnanya genit- genit punya elu Fer?”, saya tak kalah kaget dari Ika menanggapi jawaban Fery barusan

“Iye, jadi gue kan gak harus cium-cium celana dalem bekas gw kalo mau ganti. Biar kagak ketuker, kan warnanya beda-beda”, timpal Fery lagi tanpa merasa bersalah

Pertanyaan kembar tiba-tiba muncul dari otak saya dan Ika, “Dari begitu banyaknya pilihan warna, kenapa juga warnanya harus nge-pink sampe ungu doang? Emang gak ada warna laen?,” geli, malu, campur emosi membalut pertanyaan kami berdua.

Sebuah pertanyaan yang hanya berbalas senyuman dari teman berdarah AB ini. Teman yang memaksa saya dan Ika menanggung rasa malu teramat sangat karenanya, hiks.

10.30    Mulai trekking menuju Kalimati

Berbekal air mineral, teh manis hangat, beberapa makanan ringan, dan … (menarik napas panjang) tragedi celana dalam sebelumnya, kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimati.

Terik mentari menyengat panas siang itu. Berbanding terbalik dengan suhu dikala pagi. Panas, kering dan berdebu.

Tanjakan Cinta Ranu Kumbolo

Tanjakan Cinta adalah gerbang pertama yang harus kami lewati selepas Ranu Kumbolo. Mitosnya, bila anda berhasil melewati Tanjakan Cinta ini dengan menahan napas dan tanpa menoleh kebelakang, maka, segala keinginan anda (yang berkaitan dengan urusan percintaan tentunya) akan terkabul. Percaya atau tidak, saya kembalikan kepada pribadi anda masing-masing. Saya sendiri menganggap ini sebagai hiburan saja. Terkabul alhamdulillah, gak terkabul ya jangan lah.

Bermodal mitos ini pula, banyak yang iseng menggoda pendaki-pendaki Tanjakan Cinta demi menggagalkan rencana mereka dengan membuatnya menoleh kebelakang.

Panggilan dari Ranu Kumbolo serupa “Mas/Mbak! … barangnya ketinggalan nih!”, tidak jarang membuat para pendaki Tanjakan Cinta menoleh kebelakang, dan ketika tersadar mengumpat sejadi-jadinya karena rencana cinta mereka telah gagal saat itu juga.

Membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 30 menit untuk sampai dibagian tertinggi Tanjakan Cinta, dan bila telah tercapai, Oro-oro Ombo pun tersaji didepan mata sedemikian luasnya.

Oro-oro Ombo

Untuk mencapai Oro-oro Ombo anda bisa menggunakan jalur menurun terjal tapi cepat atau menggunakan jalur melipir tapi memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan jalur pertama.

Kuning rumput liar yang tersengat terik matahari kemarau dan bunga-bunga liar berwarna ungu mendominasi Oro-oro Ombo dalam penglihatan kami.

Bunga Berwarna Ungu di Oro-oro Ombo

Jalur Oro-oro Ombo Siang Hari

Bila kondisi cuaca sedang cerah dan waktu anda memungkinkan, gunakanlah keduanya untuk mengabadikan momen tersebut, karena berdasarkan pengalaman saya, cuaca di Gunung Semeru ini benar-benar tak terduga, jangan sampai anda menyesal tidak mengabadikan momen ketika kondisi cuaca sedang cerah, sementara dikemudian hari berkabut atau turun hujan.

12.34    Cemoro Kandang

Menjelang Cemoro Kandang

Setelah memasuki areal Cemoro Kandang, Ika secara tiba-tiba kehilangan harapan aka drop. 5 hari perjalanan sebelum mendaki Gunung Semeru, stamina yang terkuras, cuaca yang sangat panas dan sangat dingin serta perjalanan yang sangat panjang cukuplah menjadi alibi sempurna pengibaran bendera putih darinya.

Istirahat di Cemoro Kandang

Menya-menye bibir atas bawah seperti baru terkena air bah. Gesit gerakan pramuka berganti gontai gerakan alay. Tampang lempang menyebalkan berganti tenang lagi menyenangkan. Suara bisingnya pun berubah menjadi hening. Kami telah memasuki kondisi ideal pendakian sepertinya.

Tapi tunggu dulu …

Bila hal ini terjadi pada Ika, itu sama artinya dengan malapetaka.

Kalo dia ngambek trus minta pulang gimana?

Iya kalo ngambek trus mau jalan sendiri, nah kalo minta gendong?

Berarti gw gak bisa ngeliat Puncak Mahameru dong?

Berarti … Arghhh @#$%^

Yaudah Ka, kita istirahat dulu aja dah”, tiba-tiba Fery memberi instruksi, hal serupa yang memang telah saya pikirkan sebelumnya.

“Iya Ka, kita nyantei dulu deh disini, kita istirahat agak lama aja, keluarin dah makanan, kita foya-foya dulu”, sahut saya mengamini pemikiran Fery sebelumnya. Aba-aba yang langsung diterima Ika dengan senang hati tentunya.

Lepas keril. Keluarkan makanan ringan. Menikmati alam dan… istirahat lebih panjang demi mengembalikan stamina teman kami Ika kekondisi semula.

Oro-oro Ombo di Kejauhan Jalur Cemoro Kandang

Begitu dirasa Ika telah siap, perjalanan ke Kalimati pun kami lanjutkan kembali. Radio butut itu kini kembali berkicau… ahhh…

15.30    Kalimati

Kalimati

Tanjakan Cinta, savanna Oro-oro Ombo dan hutan Cemoro Kandang yang hampir seluruh jalannya berdebu telah kami lalui. Akhirnya sampai juga kami di Kalimati.

Dalam ingatan saya, Kalimati mirip dengan Surya Kencana di Gunung Gde. Lahan terbuka berumput dan pasir yang dikelilingi pepohonan rindang hutan.

Selesai mendirikan tenda, bungkusan terakhir nasi putih yang kami bawa dari Ranu Pani pun siap disantap. Nasi bungkus yang sama, yang kelak mengantarkan kami dari nikmatnya dunia kepada redupnya bertahan hidup. Sebuah kondisi yang ajaibnya kami rangkul dengan sepenuh jiwa.

Entah tersengat apa otak kami masing-masing saat itu, satu yang pasti, Sang Survival telah gagal menyaksikan wajah-wajah menyesal kami.

Dua hari lagi perjalanan pulang ke Ranu Pani. Tanpa beras untuk dimakan. Makanan ringan seadanya. Air mineral secukupnya. Sungguh sebuah konsep sempurna untuk menyembah tanda menyerah. Sebuah konsep yang kami kunyah dengan lahap secara berjamaah. Masih dengan topping rendang kering dan orek teri-tempe pastinya.

19.00    Makan malam

Terang Bulan Purnama di Kalimati

Tak terasa, sore telah berganti malam. Udara dingin Kalimati membuat cadangan devisa lemak didalam perut kembali defisit. Dua bungkus indomie dan sekaleng sarden yang menjadi tabungan hari tua kami selama di Gunung Semeru akhirnya terpaksa digunakan. Makan mie tanpa nasi tentu bukan kebiasaan kami walaupun terlihat padat dengan sekaleng kecil ikan sarden.

“Lho, katanya nasi bungkusnya abis?”

“Iya betul, emang kenapa?”

“Terus gimana caranya makan, tanpa nasi?”

Imagination is more important than knowledge bro. Use your head! Use your right brain!

Pertama-tama, angkatlah nesting berisi dua bungkus mie dan sekaleng sarden matang tadi, kemudian letakkan dibagian tengah tenda. Duduklah secara melingkar dengan nesting sebagai titik tengahnya. Kemudian bayangkan bersama-sama, ada sebakul nasi putih disebelah nesting tadi.

Bila dirasa sulit, maka cobalah pancing imajinasi anda dengan mampir ketenda tetangga. Yang sedang makan nasi pastinya. Dan ingat! Bukan untuk meminta-minta, tetapi untuk melatih daya imajinasi otak kanan kita.

Ketika mereka menyiapkan nasi di nesting-nesting mereka, bayangkan itu adalah kita. Ketika mereka menyendok nasi, bayangkan itu adalah kita. Dan ketika mereka mengunyah nasi, bayangkan itu adalah kita. Aktifkanlah kelima indra yang kita miliki ketitik paling optimal mereka, setidaknya untuk saat-saat seperti ini.

Begitu kejadian-kejadian tadi terpatri disetiap indra anda, segeralah kembali ketenda. Makanlah mie dan sarden tadi ditambah imajinasi tentang nasi yang baru saja dipraktekkan. Sesederhana itu.

Apakah hal itu terasa sangat sulit bagi anda? Bila ya, berarti kita senasib… Damn!

Jangankan menggunakan otak kanan, otak kiri kamipun tak pernah tergizi. Nasi imajiner yang bahkan tak terjangkau oleh kedua otak kami, kanan, dan juga kiri.

Wahai nasi… tunggulah balas dendam kami. Begitu sampai di Ranu Pani nanti, akan kami balas kalian berkali. Bersiap-siaplah kalian!… Arghhh!…

20.00    Istirahat tidur

Tidur hanya menjadi label dari angka “20.00” dibagian kanannya. Setidaknya itu berlaku untuk saya. Begitu cepat Fery terlelap seusai menyiapkan perangkat perang guna summit attack ke Puncak Mahameru malam nanti.

Saya yang seharusnya istirahat tidur, mau tidak mau harus rela terjaga. Ika yang sulit tidur mengundang paksa saya untuk mengobrol. Jelas hal ini membuat stamina saya pelan tapi pasti jebol.

Bagaimana tidak? Modal summit attack dengan jalur seberat itu hanya berbekal 2 bungkus indomie plus sarden yang itupun masih dibagi tiga orang. Makannya? Jam tujuh malam pula. Bila diinventarisir, maka modal kami (saya dan Fery) summit attack Mahameru adalah sebagai berikut;

  • 1 botol kecil nutrijel berkuah nutrisari
  • 1 botol kecil air putih
  • 2 bungkus kecil oreo
  • (Indomie + Sarden) / 3 = Makan malam kami. Itupun jam 19.00
  • Tidak tidur semenjak pagi dari Ranu Kumbolo, dan…
  • Stamina drop

Entah mengapa komposisi ajaib selalu bahagia berada dekat-dekat dengan kami dimanapun berada, T_T.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah Fery dan saya mampu mencapai Puncak Mahameru dengan kondisi demikian? Ikuti terus ceritanya.

22.10    Summit attack menuju Puncak Mahameru

Waktu terlalu cepat berlalu. Dan kini saatnya keluar dari tenda menyambut dinginnya malam Kalimati.

Sejatinya, Ranu Kumbolo adalah satu-satunya tujuan kami waktu itu. Namun entah kenapa, hati merasa terpanggil untuk mendaki sedikit lebih jauh menuju Kalimati. Target setelah Ranu Kumbolo pun sebenarnya hanya Kalimati, titik. Tapi kini… titik telah berganti koma, dan inilah saya, bersiap mendaki Puncak Mahameru. Puncak yang bila tergapai mujur, tidak pun nyusul.

Karena Ika memutuskan untuk tidak ikut, maka yang berangkat hanyalah saya dan Fery. Sebentar menyapa tenda tetangga, kemudian kami mendaki bersama-sama.

Baru sebentar berada diluar, tangan saya terasa dingin dan mati rasa. Tapi setelah memasuki hutan, kondisinya sedikit lebih hangat. Setidaknya jari-jari tangan saya kembali terasa. Karena saya dan Fery masih menerapkan metode pendakian sebelumnya, yaitu “pelan tapi pasti,” tim dari Kota Malang yang tadinya berangkat beriringan itu, kini menghilang dikejauhan.

23.24    Arcopodo

Tak peduli siang, tak peduli malam, debu-debu jalur tetap saja berterbangan. Debu yang walaupun menyulitkan, namun selalu saja mengintai. Dari penglihatan saya sepanjang perjalanan, walaupun Arcopodo cukup spooky, beberapa lahan datar tetap saja penuh ter-okupasi tenda-tenda para pendaki malam itu.

***

SEMERU – July03, 2012

24:00    Kelik

Sepanjang jalur Arcopodo hingga Kelik, saya menemui beberapa nisan dari para pendaki yang meninggal disekitar areal ini. Dan masbro Kelik merupakan salah satunya, ___yang kini namanya dijadikan sebagai nama tempat ini.

Perjalanan mencapai batas vegetasi Kelik tidak terasa berat walaupun cukup terjal. Karena sistem pendakian yang digunakan memang kami design untuk menjaga otot-otot kaki kami agar tidak cidera. Sistem “alon-alon asal kelakon” yang cukup efektif untuk pendaki foya-foya macam kami ini.

Baru sebentar kami beristirahat, harum semerbak jagung bakar begitu menggoda. Saya pun berinisiatif mencari sumber bau tadi. Ahahaha!… tidak ada siapa-siapa ditempat ini selain kami, glek!.

Spooky? Pasti. Menakutkan? Ahhh, enggak, biasa aja. Sebuah alibi tahan malu juga jaga gengsi.

Eksistensi kawan lain dilokasi dan dinginnya batas vegetasi lebih menguasai otak saya ketimbang rasa ngeri. Tapi, seandainya saya berada dibatas vegetasi Kelik seorang diri, lari kembali ke Kalimati sudah bisa dipastikan menjadi hobi dadakan yang akan saya lakukan dengan sepenuh hati.

00.15    Jalur pasir menuju Puncak Mahameru

Kini saatnya ketahanan pangan kami diuji. Modal minimal untuk summit attack, yang parahnya, juga harus terbagi tiga, tanpa nasi, sekaleng kecil Sarden, plus dua bungkus Indomie sore tadi, sanggupkah kalian menghadapi jalur ini hingga mencapai puncak? Kita lihat nanti.

Sepertiga pertama

Sesampainya dibatas vegetasi, adrenaline saya kembali menggelegak tanda siap muncak. Namun heningnya Cemoro Tunggal dibayangi temaram sinar bulan purnama, kebetulan, membuat gelegak adrenaline saya kembali tenang (sungguh adrenaline yang labil).

Dua minggu sesudahnya, di Jakarta…

“Lah lu katanya baru tau tadi “Cemoro Tunggal”, pas gw cerita. Tapi ditulisan lu kok so yu nau banget gitu?!,” Fery tiba-tiba interupsi.

“Yah namanya juga ngarang bebas Fer, kan biar seru ceritanya,” jawab saya sekenanya.

Ok, kembali kecerita semula…

Saya cukup beruntung kala itu. Karena pendakian menuju puncak dikawal terang sinar bulan purnama. Sinar yang sama, yang juga menghadirkan fatamorgana pada diri saya. Sinkronisasi pandangan mata dengan jejak kaki yang kemudian ter-disorientasi. Puncak terlihat begitu dekat, tapi semakin saya hampiri, semakin pula ia menjauhi… arghhh! … benarlah pepatah yang mengatakan dekat dimata jauh dihati.

45 derajat sepertiga pertama jalur pasir telah saya lalui. Bara didada masih menyala sama. Dua pertiga lagi pe-er besar yang harus saya hadapi.

Beruntung Ika berstatus in absentia. Seandainya Ika turut serta, bukan cuma menangis yang dia bisa, pingsan ditempat pun pasti dilakukannya. Terlalu sadis ya? Baiklah, saya tingkatkan sedikit levelnya…

Beruntunglah kami, karena Ika tidak disini. Bila dia ikut mendaki, bukan cuma turun ke Kalimati yang dia tangisi, langsung kembali ke Ranu Pani pasti jadi harga mati. Dan bila sudah begini, akan saya sambut push-up seratus kali* tanpa berhenti daripada gagal mendaki. (*: sok aksi, biar dianggap olahragawan sejati)

Sepertiga kedua

Kali ini jalur begitu menggugah selera. Kemiringan 50-75 derajat, pelan tapi pasti membuat iman saya sekarat. Beberapa kali istirahat masih tercatat dengan baik dalam buku tamu otak kiri saya. Jalur lembah-an yang seharusnya dihindaripun, akhirnya kami cicipi. Demi menghemat tenaga yang tidak seberapa, jalur ini ternyata mampu membuat ciut Fery punya nyali. Padahal dia sudah berkali kemari.

Rasain lu Fer…

Walau rasa khawatir tertutupi dengan baik, nyali saya yang tadinya gagah mau tak mau terkikis goyah melihat kekhawatiran yang tampak dari wajah teman sebelah. Terhitung berkali kami mencoba kembali kepunggungan jalur, tapi berkali juga kami kembali tersungkur. Sampai pada akhirnya usaha kami tidaklah sia-sia. Wajah gelisah Fery pun kini kembali sumringah.

Duduk dibatu alam, sangat sedikit kudapan ringan, bermandi terang bulan… sungguh sebuah anugrah Tuhan yang tak terlupakan… yang juga mengantarkan kami kedepan pintu gerbang kepedihan ketika menatap setengah lagi curam perjalanan kedepan. Damn!

Dari tempat kami berpijak, lampu senter dari para pendaki lain dibawah sana terlihat meng-ular. Di hutan Arcopodo. Ular yang tiba-tiba menyapa dan mendahului kami yang sudah berjam-jam lebih dulu memulai pendakian. Whattt?!

“Ular apaan tuh?”

“Ngomong aja lu bauk!… bletakkk!”

Sepertiga ketiga

Dua pertiga jalur pasir telah kami lalui. Rasa kantuk yang teramat sangat pun menggelayuti kedua kelopak mata saya dengan seksama.

Berdiri dikemiringan 70 derajat dalam rasa kantuk berbalut lapar membuat tegak tubuh saya seringkali miring kekiri, juga miring kekanan. Sepoi memang gerakannya, tapi sedikit lengah, gelar “S. Alm” (baca: sudah almarhum) sangat besar kemungkinan saya dapatkan.

Seram dan terjal jalur dibelakang membuat usaha saya membelalakkan mata terasa lebih mudah. Jauh lebih mudah daripada harus menyandang gelar almarhum sudah. Tapi perjuangan belum berakhir kawan, rintangan masih harus diterjang walaupun kantuk ini berkepanjangan. Sungguh jalur yang sulit, bahkan untuk sekedar memanjakan silit (baca: duduk).

Dan… Fery pun mulai tertinggal dibelakang.

Beberapa kali Puncak Mahameru berhasil ia daki, sangat mungkin untuknya berkata “Udah ah, gw cukup sampe disini.” Asumsi yang pada akhirnya membuat saya memisahkan diri dari negara kedaulatan Ika Bembi Fery.

Walaupun boyband menjadi trend mutakhir belakangan hari, tetap, saya memilih bersolo karir sebagai jalan terakhir. Dan Fery pun saya tinggalkan dibelakang tanpa sangu (bekal __dalam Bahasa Jawa) apa-apa. Lagipula mau sangu apa? Bekal tersisa pun hanya setengah botol kecil air akua (tanpa ‘q’, takut dibilang kampanye terselubung).

Tidak seperti pemikiran saya sebelumnya, muncak ke Mahameru yang tadinya sunnah, telah berubah menjadi wajib sesampainya di sepertiga terakhir jalur pasir. Bekal setengah botol kecil air mineral memang menyedihkan, tapi puncak sudah dipelupuk mata gajah!… arghhh!

“Lah mana Gajahnya?”

“Mau tau aja si lu, pegi sanah!

Jalur ngehekkk! Kagak sampe-sampe!…, setan dalam hati kembali berkeluh-kesah.

Menatap kearah puncak. Jauh dibagian kiri jalur, jingga diufuk timur sudah terlihat sedikit menganga. Matahari seolah berkonspirasi dengan Mahameru untuk mengalahkan saya. Mereka boleh berkonspirasi, tapi saya langsung melakukan eskalasi. Dan Tuhan YME adalah tujuan saya.

“Ya Allah SWT, pokoknya saya harus sampai Puncak Mahameru sebelum matahari terbit, bantu saya ya… aminnn”

Doa yang bahkan siapapun tidak dapat mencegahnya untuk terjadi. Tidak Mahameru, tidak juga Matahari. Doa yang bahkan saya sendiripun tidak menyangka akan menjadi nyata. Doa yang mengantarkan saya mencapai Puncak Mahameru dengan rasa syukur yang tak terkira. Puncak yang setengah jalurnya saya maki-maki secara membabi buta.

Tepat waktu, Matahari memancarkan sinarnya sesampainya saya dipuncak.

Niat hati ingin melakukan sujud syukur tanda terima kasih kepada Sang Pencipta. Tapi tonjolan urat miskin disekujur kaki ditambah terpaan udara dingin, cekatan menahan rasa ingin saya. Jangankan sujud syukur, bergerak sedikit saja sudah membuat kaki saya sangat tersiksa. Sepertinya saya tergejala penyakit ketinggian, Acute Kaki Sickness. Yah, maklumlah, pendaki pemula.

Sebelum melanjutkan kecerita berikutnya, saya akan berbagi sedikit tips summit attack, yaitu:

  • Bila memungkinkan, sampailah di Kalimati lebih siang. Hal ini dimaksudkan supaya anda memiliki waktu lebih banyak untuk bersosialisasi dengan rekan pendaki lain, menikmati pemandangan Kalimati, dan melakukan persiapan sebelum mendaki seperti; re-packing khusus untuk summit attack dan menyiapkan perbekalan makanan (bila ada yang harus dimasak).
  • Tidur atau istirahatlah lebih cepat untuk menjaga stamina tetap fit.
  • Bangunlah satu jam lebih awal sebelum jam keberangkatan summit attack, hal ini dimaksudkan untuk membiasakan fisik anda terhadap suhu sekitar, atau biasa disebut dengan aklimatisasi.
  • Selain pakaian penghangat tubuh, pertimbangkanlah untuk membawa barang-barang sebagai berikut; masker + cadangan, kacamata kedap udara , dua botol kecil air mineral, headlamp + battery cadangan, madu, makanan ringan, jas hujan, topi rimba, dan sarung tangan
  • Jaga hidrasi tubuh anda selama summit attack. Minimal dua botol @600 mililiter. Satu botol untuk pendakian, yang lainnya untuk turun kembali. Perbanyaklah minum. Dingin adalah bentuk lain dari panas. Walaupun tidak terasa, tetap, dingin akan membuat anda dehidrasi. Semakin dingin temperaturnya, semakin cepat dehidrasinya. Penyakit ginjal adalah penyakit yang paling banyak diderita oleh pendaki-pendaki veteran. Alasannya cuma satu, mereka meremehkan arti dehidrasi. Karenanya, sayangilah ginjal anda selagi bisa dengan memperbanyak minum.
  • Gunakan jaket waterproof sebagai antisipasi bila tiba-tiba turun hujan. Jaket waterproof biasanya juga memiliki fungsi sebagai wind-breaker. Bila tidak ada, bawalah jas hujan. Atau minimal sekali bawalah jas hujan plastik sekali pakai.
  • Buatlah mindset anda selalu dalam kondisi fit. Ini adalah penting!. Dari pengalaman beberapa kali mendaki gunung, tak pernah sekalipun saya menggunakan sleeping bag, maaf, bukan bermaksud sombong. Ini hanya sebagai gambaran ekstreme saja. Memang belum banyak gunung yang saya daki, namun dengan saya tidak pernah menggunakan sleeping bag, saya dapat membandingkan, bahwa gunung terdingin yang pernah saya daki adalah Gunung Lawu dan Gunung Semeru ini. Dan dengan “modal” mindset inilah, saya mampu menghalau dinginnya gunung-gunung di Pulau Jawa dengan perlengkapan penghangat tubuh alakadarnya. Mindset yang fit akan membawa anda kemanapun anda mau, walaupun kondisi tubuh dan perlengkapan yang anda sandang alakadarnya. Tapi bila mindset anda lemah, walaupun kondisi tubuh fit, dan perlengkapan penghangat tubuh over maksimal, tetap, tidak akan membawa anda mencapai Puncak Mahameru.
  • Walaupun masih memungkinkan untuk menggunakan sandal gunung selama proses summit attack, saya tidak akan merekomendasikannya. Kerikil yang masuk ke sela-sela antara telapak kaki dengan sandal seringkali sulit dikeluarkan dengan hanya mengibas-ngibaskan kaki. Seringkali kita harus mengambil kerikil itu dengan tangan, dan hal ini sudah barang tentu akan sangat merepotkan. Tambahkan ritual kerikil ini dengan intensitas yang tinggi, sadar atau tidak, emosi anda sedkit banyak terpengaruhi. Ingatlah baik-baik! Jalur pasir Semeru tiga kali lebih berat daripada jalur pasir Rinjani. Dari tiga langkah yang anda jejakkan, rata-rata dua langkahnya adalah merosot kembali kebelakang.
  • Gunakan sepatu hiking ber-hak tinggi dengan tinggi minimal semata kaki. Bila memungkinkan, gunakanlah Gaiter, hal ini dimaksudkan agar kerikil dan pasir tidak mudah masuk kedalam sepatu anda.
  • Dalam perjalanan summit attack saya tak sengaja menemukan tehnik yang bisa membuat pendakian dijalur pasir terasa lebih mudah, yaitu; Hujamkan dalam-dalam ujung sepatu anda kepasir tiap kali menjejakkan kaki. Usahakan, lebar siku antara telapak kaki dengan tulang kering anda tetap 90 derajat. Usahakan telapak kaki anda tetap lurus horizontal, terhadap kemiringan medan. Dengan begini, anda akan menghemat tenaga juga mempercepat pendakian. Namun ada kelemahan dari cara ini, yaitu; kemungkinan ujung sepatu anda akan jebol dan angkle kaki anda akan terasa sakit karena harus menahan beban tubuh dan bawaan anda. Bila sudah begini, istirahatkanlah kaki, jangan dipaksakan.
  • Gunakan trekking pole, atau batang pohon yang ringan tapi kuat untuk membantu menopang beban anda selama dijalur pasir.
  • Gunakan masker dan kacamata yang tertutup rapat macam kacamata renang. Ini berguna untuk menghalau terbangan debu dari jejak tapak pendaki lain masuk ke saluran pernapasan juga mata anda.

05.36    Puncak Mahameru

Sunrise di Puncak Mahameru

Adam dingin –saya kan cowok, kalo saya cewek, baru pake ‘hawa’– dipuncak mempermainkan tulang-tulang ringkih saya dengan cara menusuk-nusuk. Mentari pagi yang sebelumnya berkonspirasi pun kini menatap saya hangat. Perjalanan berat berhari menjadi tak berarti ketika saya bisa menikmati hidup diketinggian belasan ribu kaki. Pulau Jawa dipuncaknya yang tertinggi.

Sementara Fery masih menghela napas dijalur pasir, saya mati-matian menahan dingin hembusan angin Puncak Mahameru.

Kontur Puncak Mahameru

Matahari timur berada dikanan saya. Kalimati berada di utara, jauh dibawah sana. Sedikit serong kekanan ketitik tak terhingga terpampang Oro-oro Jambangan, Cemoro Kandang, Oro-oro Ombo, dan… Ranu Kumbolo yang tertutup bukit dikejauhan.

Cendawan Kawah Jonggring Saloko

Beberapa kelompok pendaki terlihat beristirahat ditengah puncaknya. Beberapa lainnya menikmati dengan sight seeing dan berfoto-foto. Satu orang drop. Satu orang menghampiri tempat bersemayamnya para dewa (baca: Jonggring Saloko). Dan saya termasuk dalam kelompok beberapa yang kedua.

“Oiii!!!…,” tiba-tiba saya merasa terpanggil. Frekwensi cempreng macam kaleng rombeng yang saya kenal dengan baik tentunya.

“Sampe juga lu keatas Fer, gw pikir lu males muncak, ” asumsi saya sebelumnya patah saat itu juga.

Ngehek, maen tinggal-tinggal aje!.” Keki dia rupanya.

“Lah kan lu yang suruh gw duluan aja tadi!.” Tak kalah sengit saya membalas.

“Gw aus bener tadi. Aer lu bawa’. Akhirnya gw jd gepeng sementara tadi, ngemis-ngemis sama siapa aja!.” Tambah sengit dia punya keki rupanya.

“Hahahahaha…”

Sebagai catatan saja, ‘ngemis-ngemis’ dalam konteks diatas adalah meminta-minta sambil melakukan gerakan-gerakan seperti: menggabungkan semua ujung jari tangan, kemudian dekatkan kemulut, setelah itu, buka lebar-lebar telapak tangan sambil ditangkup (seperti sedang memegang mangkuk imajiner) kearah orang yang hendak diminta uang, minuman, atau makanannya. Jangan lupa! Buat wajah kita semelas-melasnya untuk menciptakan efek kasihan. Dan lakukanlah hal ini berulang kali sampai mendapatkan apa yang diminta.

Kami di Puncak Mahameru

Sangat disayangkan Ika tidak bersama kami di Puncak Mahameru kala itu. Namun hal ini tetap harus kami syukuri, karena pada akhirnya, ketidak-sempurnaan tim  juga lah yang menyempurnakan misi kami bertiga. Mendaki ke Puncak Mahameru.

Trekking pole, keril, dan botol minum milik Ika yang kami bawa cukuplah merepresentasikan kehadiran dirinya dipuncak, walaupun sejatinya ia sedang terlelap nyenyak di Kalimati sana.

In Memoriam – Soe Hok Gie dan Idhan Lubis

Tim Guru dari Pasar Tumpang Malang

Di puncak kami bertemu dengan Tim Guru dari Tumpang, juga mahasiswa pecinta alam dari STEKPI, Jakarta.

Tiba-tiba, ada yang mengusik pandangan saya kala itu. Asik sekali Fery mengunyah remah-remah ditangannya. Entah darimana dia mendapatkannya? Tiba-tiba pula saya menjadi kepo (baca: selalu ingin tahu urusan orang)

“Dapet darimana lu? Tuh makanan? Perasaan kita kagak punya apa-apa dari kapan tau juga!”

“Dapet dong. Gw gitu lho,” Jawaban singkat teman berdonor AB ini jelas membuat nada darah saya yang semula rendah, menjadi treble setinggi langit. Harap diingat, ini adalah ‘gejala amarah’ dan bukan ‘cita-cita’.

“Dapet darimane?!” mendidih darah saya luar biasa

“Nih masih ada bang,” tiba-tiba seonggok suara muncul dari belakang, menepuk pundak saya sambil menyodorkan sebuah bungkusan plastik berisi kudapan ringan.

Sialan!… malu gw!… damn!

Lagipula tau darimana ni orang kalau nama gw abang-abang?

Aahhh, masa bodoh… terlanjur sudah

“Tuh dapet dari diye.” Iringan jawaban jebakan dari Fery berikutnya jelas membuat rating ke-‘malu’-an saya sebelumnya semakin meninggi.

Tapi kok gak enak ya bahasanya? Ke-ma-lu-an?

Ah, biarlah, biar Tuhan yang balas. Amin.

“Silahkan bang, ambil aja, kita masih punya banyak kok”

Hey! stop calling me that! I’m not abang becak yu nou!

“Ahh, iya… iya… terima kasih, gak usah,” saya berusaha menolak. “Udah gak papa bang ambil aja,” ia kembali memaksa

‘Bang!?’… again!?… ok, I give up. Terserah lu aja dah…

“Iya, gak usah udah terima kasih,” sekali lagi saya berusaha menolak.

Memang tangan kiri saya memberikan sinyal penolakan, tapi disebelah satunya, tangan kanan saya, bergerilya masuk keplastik kudapan ringan yang berada dipegangan tangan diseberang sana.

Ahhh, lumayan… dapet se-genggam.

Padahal sejatinya adalah dua genggam yang diremas-remas menggunakan sebuah teknik rahasia, sehingga, ketika tangan berisi remasan tadi keluar dari kantong plastik, hanya terlihat seperti satu genggam. Yah, daripada lapar mendera, bulus sedikit tak mengapa.

“Aduh, terima kasih ya,” ucap saya cepat. “Sama-sama bang, ” ia kembali menjawab.

Not again!… Please…

Please note! Cerita diatas hanyalah fiktif belaka. Bila ternyata terjadi kesamaan dalam dunia nyata, tentu itu bukan salah kami, tapi salah anda.

Satu lagi!… Kids… Please do try this at home!. Because it’s very… very fun!

Kembali ke cerita…

Selain menawarkan makanan ringan, orang yang sama juga menawarkan saya Sprit, Panta, dan Cola-cola. Pendaki-pendaki luar biasa mereka ini, pikir saya. Dan karena saya tahu kesempatan tidak datang dua kali, mari kita manfaatkan kesempatan ini selagi bisa…

Selidik punya selidik, tahulah juga saya pada akhirnya. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa STEKPI dari Jakarta. Terima kasih Stek (STEKPI maksudnya)… makanan kalian tidak akan kami lupakan.

“Oiiii!!!… Kebaikan!!!… Kebaikan!!! Harusnya!”

Diem aje lu udeh, gw kepret nih!”

Yah… Begitulah nasib pendaki Sudra macam kami ini. Survival kemana-mana mencari pendaki Brahma. Selalu berusaha mengalap berkah, walaupun hanya tersisa remah-remah. Ahhh… gemas-nya pendakian kali ini…

Untunglah saya cowok, kalau saya cewek, bunyinya pasti tidak enak. Tidak percaya? Mari kita buktikan:

Cowok = Mas, jadi tulisannya sudah tepat “ahhh… geMas-nya pendakian kali ini…”. Sekarang kita bandingkan bila saya, yang menulis cerita ini adalah seorang wanita. Cewek = Mbak, sehingga tulisannya menjadi “Ahhh… geMbak-nya pendakian kali ini…” Jelas tidak enak didengar bukan? Gak penting ya? Yasudah, abaikan saja. Hiks.

Seandainya ada kolam renang disini… __gejala AMS tiba-tiba mulai menggerayangi

07.10    Trekking down ke Kalimati

Turun dari Puncak Mahameru ke Kalimati

Puas kami memelas-melas, sekarang saatnya menjadi pendekar (baca: turun gunung). Lagi-lagi… kami yang duluan turun, tapi kami juga yang ketinggalan dibelakang. Ada apa sebenarnya dengan kami?

Atau jangan-jangan… karena teman bergigi ala Freddie Mercury disebelah saya ini?

Tiba-tiba saya curigation kepada teman seper-melas-an ini ___sambil melirik kearahnya, dengan mata genit dipicingkan sedikit.

Tidak… saya tidak boleh berprasangka buruk

“Eh sebentar… sebentar… Freddie Mercury apanya Poppy Mercury ya?”

“Ngomong lagi gw!!!… Wattaaaa!!!”

Bila muncak mengandalkan ujung jari kaki dan angkle, kini prosesi turun melulu mengandalkan tumit. Bagaimana dengan dengkul? Naik-turun jelas terpakai, namun abaikan dulu sementara waktu.

Muncak menggunakan sandal gunung jelas-jelas menyusahkan. Turun pun demikian. Kerapnya kerikil yang mampir disela-sela telapak kaki dan sandal, lama-kelamaan jelas membuat emosi saya meradang. Ingin ku teriak aaa….

Rocker juga manusiaaa… punya sandal dan emosiii…

Jangan samakan dengannn… para pendakiii…

Cut!!! Fokus!… Fokus!…”

“Ok! Ok!”

Jalur Pasir Gunung Semeru

Ketika mendaki, puncak jelas terasa menantang. Tapi begitu prosesi turun, jalur curam berujung jurang, seramnya bukan kepalang. Salah sedikit minimal rumah sakit. Salah banyak? Yah, siap-siap saja bertemu malaikat.

Bila ‘sedikit’ dan ‘banyak’ tadi adalah pilihan pada soal ulangan. Saya ikhlas gagal ujian dan mengulangnya disemester depan.

Jadi saran saya, bila anda berniat untuk mendaki hingga Puncak Mahameru, usahakanlah memakai sepatu gunung, juga gaiter, karena keduanya akan sangat mempermudah proses pencapaian menuju puncak __kenapa tiba-tiba seperti Indonesia Mencari Pembokat?. Sekali lagi saya tekankan, sepatu gunung, dan gaiter. Wajib.

Tak punya uang? Bisa pinjam teman. Tak punya teman? Mintalah kepada Tuhan.

Menuruni jalur pasir Semeru bukanlah perkara mudah, walaupun melangkah dengan sangat hati-hati, terbukti dua kali pantat saya rebah. Begitu juga hal-nya dengan Fery dibelakang sana, beberapa kali sudah dia menengadah. Orang-orang bisa saja melihat kami kasihan, tapi bagi kami aksi bangun-rebah macam ini adalah sebuah hiburan __alibi tahan malu, sejatinya.

Pada setengah jalur pasir…

Ingin rasanya saya berlama-lama dijalur pasir ini.

Seandainya tenda kami berada disini, hmm…

Dari tempat saya berpijak, memang pemandangannya sangatlah menyejukkan mata. Tapi bukan itu alasan sebenarnya dari rasa yang baru saja. Bukan pula saya seorang pendaki perkasa. Ini lebih kepada demo besar-besaran urat-urat miskin dialun-alun kaki sana. Sakitnya bukan main. Acute Kaki Sickness kembali mendera saya. Seperti dicubit-cubit Hulk berjuta, rasanya tiada terkira.

Disaat saya beristirahat, saya mulai mengingat-ingat… jarak ideal antara pendaki satu dengan yang lainnya, selama prosesi muncak maupun turun adalah sekitar 25 meter. Walaupun tidak seratus persen hilang, namun dengan jarak tersebut debu-debu yang berterbangan dari pijakan kaki rekan pendaki lain sudah lumayan berkurang. Ini sudah barang tentu memudahkan anda melihat jalur kedepan, juga memberikan ruang napas yang sehat bagi paru-paru anda.

Kembali kejalur…

Setelah dirasa kaki-kaki saya cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan kembali, saya tidak lantas pergi. Saya sengaja menunggu Fery yang sedang berjuang dibelakang sana. Dari kejauhan, sedikit nyegir kuda, wajahnya mirip sekali dengan Freddie Mercury. Tapi begitu mulai mendekat, wajahnya lebih mirip mekanik ber-make-up oli. Berantakan tidak karuan.

Kali ini saya biarkan dia memimpin. Tapi semakin ia didepan, semakin saya ditinggalkan. Kutu kupret!

08.15    Sampai batas vegetasi

Batas Vegetasi Kelik

Dari batas vegetasi ini, kontur jurang terlihat tidak seragam. Untuk sampai kedasarnya, terlebih dahulu anda harus bermain prosotan layaknya di Dufan, dengan kemiringannya antara 40-50 derajat kira-kira. Setelah pasir prosotan habis,kemudian berubah menjadi tebing vertical. Dan didasar jurang sana, saya rasa malaikat maut tidak akan sungkan-sungkan mendaftarkan anda dibuku tamunya.

Jadi bisa dikatakan, bagian kritis pendakian Gunung Semeru berada diantara batas vegetasi Kelik hingga Puncak Mahameru. Inipun tentu hanya berlaku bila Gunung Semeru berstatus normal. Karenanya, tingkatkanlah kehati-hatian anda begitu tiba diarea tersebut.

Diwaktu yang berdekatan…

Deposit remah-remah hasil memelas diatas defisit sudah. Mengais-ngais sekujur kantong, jelas melompong. Kami memasuki masa kritis perbekalan. Saatnya mengatur strategi. Masih mengandalkan data intellijen yang sama, kami mendapati sedikit peluang.

“Ahh, ini dia!… Tim Guru dari Pasar Tumpang bisa kita jadikan andalan!” kompak kami menunjuk ilusi data yang sama.

“Koordinat terakhir, mereka ada di Arcopodo Fer! Gitu ganti! Kreekkkk!!!”

Yoi coy… 86! Kita merapat kebarisan!”

Bulus memang. Tapi demi bertahan hidup, hina sedikit juga tak mengapalah. Damn! T_T

Walaupun bahan bakar diperut sudah tak bersisa, namun jejak kaki kami semakin saja menggila. Seperti maling dikejar massa, cepat geraknya naudzubillah!

 

09.00    Sampai di Arcopodo

Dan Sampai jugalah kami kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa. Mengantarkan perut lapar kami kedepan pintu gerbang sarapan dari teman-teman asal Pasar Tumpang.

Sambutan meriah mereka berubah haru biru dihati kami seketika. Tentu tanpa melepaskan ekor mata kami melata kesana-kemari demi mencari seplastik roti. Tanpa menunggu lama, aksi basa-basi langsung kami skenariokan.

“Sampe disini (Arcopodo) kapan mas?” Fery membuka percakapan.

“Kemaren sore mas”

“Oh, pake tiga tenda ya?”

“Iya, kita pake tiga tenda”

“Tadi berangkat jam berapa?”

“Kita berangkat jam satu pagi mas. Makanya buka tenda disini, biar hemat tenaga”

“ooowww…,” dengan mata jelalatan mencari makanan. Masih.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka menawarkan kami roti tawar. Sebuah tawaran yang sudah barang tentu tidak kami lewatkan begitu saja. Secepat kilatan, plastik roti tadi telah berpindah tangan. Tangan Fery akan tetapi.

“Waduh, terima kasih mas, kebetulan kita laper banget nih,” sahut Fery tanpa sedikitpun merasa grogi.

Dan sayapun, tentu tak mau rugi, harus juga ikut berpartisipasi. Tapi, begitu beberapa gigit, saya menyadari sebuah kejanggalan. Tenang, ini bukan tentang makanan. Juga bukan tentang teman-teman kami dari Pasar Tumpang. Sialnya, kejanggalan ini justru datang dari teman sendiri. Ohhh, not again!

Sambil melahap roti, sisa pembakaran napas yang jelas-jelas tidak sempurna itu terlihat meng-gelayut bebas diujung knalpot pernapasan teman saya, Fery. Separuh berupa adonan mentah, separuhnya lagi, kerak jadi.

Tuhan! Cobaan macam apalagi ini?! Kenapa juga harus selalu saya yang mengalami?!

Rasa lapar yang semula mendera begitu hebatnya, hilang seketika demi menyaksikan fenomena memalukan semacam tadi. Tanpa butuh logika, nafsu makan pun bernasib sama. Ingin rasanya mencubit kerak gelayutan tadi dengan ujung panah beracun, arghhh!!!

Bencana kemanusiaan barusan mencukupkan selembar roti tawar bagi saya. Walaupun tawaran susu coklat plus lembar roti tawar berikutnya begitu menggiurkan, entah mengapa, sisi solidaritas saya tidak bisa menerimanya. Bagaimana saya bisa enak-enakan makan, sementara Ika di Kalimati sana senasib keadaannya?

Lain saya, lain pula Fery. Standar ganda donor AB jelas tidak perlu membeda-bedakan antara solidaritas dan tidak. Keduanya bermakna sama baginya. Sekarang lapar, ya makan. Soal solidaritas? Siap! 86!

Ajaib memang. Tapi lebih ajaibnya lagi, saya dan Ika tidak merasa keberatan sama sekali dengan kelakuan-kelakuan absurd-nya setelah sekian kali __masih ingat tragedi celana dalam di Ranu Kumbolo? Yah, sepertinya cuma pengertianlah yang Fery butuhkan, dan itulah yang saya dan Ika berikan. Sungguh tim yang aneh.

Setelah berlembar roti habis dilahapnya, kini giliran saya kembali merasa lapar. Tapi apa mau dinyana, perut saya rasanya seperti mau meledak. Tak sanggup lagi rasanya melahap lembar kedua roti tawar tadi. Apalagi ditambah belum pup selama berhari-hari. Sungguh dilematis memang. Wahai makanan (padahal tidak punya sama sekali)… Tunggulah pembalasan saya selesai pup nanti.

“Udah kenyang nih, terima kasih yak. Kita mau langsung turun ke Kalimati,” tanpa basa-basi Fery memecah keheningan.

Glodak!!!

Masih perlukah kalian mempertanyakan dimana letak ajaibnya? Saya kira tidak.

Saya yang terpaksa menahan malu pun, mau tidak mau harus juga mendukung pernyataan teman satu ini. Dan akhirnya kami kembali ke Kalimati dengan sedikit berlari. Bedanya, perut Fery penuh roti. Sedangkan perut saya… ah sudahlah, tak perlu dibahas.

10.30    Sampai Kalimati

Kalimati Siang Hari

Dua belas jam lebih kami keluar main dari tenda. Untunglah mama yukero aka Ika tidak marah kepada kami, anak-anaknya ini.

Selama perjalanan turun gunung, kondisi saya sebenarnya sudah drop. Karenanya begitu sampai ditenda kami, saya memutuskan untuk langsung merebahkan badan.

“Makan dulu nih Bem!” undang Ika dari kejauhan

“Iye Ka, ntar dulu dah, nge-drop nih gw,” jawab saya sekenanya.

“Oh, yaudah, lu rebahan aja dulu,” jawabnya lagi.

“Iye-iye”

Lu kira dari tadi gw ngapain? Narik Odong-odong? … Arghhh!

Saya jelas tak menyangka, modal dua bungkus indomie plus sakaleng sarden kemarin sore __dan itupun masih dikeroyok kami bertiga, ternyata mampu menjalankan mesin tubuh saya dan Fery, mulai dari Kalimati hingga ke Puncak Mahameru pergi-pulang. Walaupun begitu, bukan berarti tidak ada konsekwensinya. Tampang lusuh kami jelas terlihat makin kumuh. Urat-urat miskin pun tak mau kalah, nongol mereka semua disegala penjuru tubuh.

Jalur ngehek! Kagak bakal gw muncak Semeru lagi! Liat aja!

Ekspresi patah hati saya jelas tak terbendung lagi. Tapi bila dimasa depan nanti saya ter-karma karenanya, mungkin dengan senang hati akan saya daki kembali Puncak Mahameru. Absurd? Yah, begitulah.

10.45    Gagal tidur nyenyak

Baru mencoba menutup mata barang sejenak, terdengar suara radio diluar tenda sana memekakkan telinga saya. Satu-satunya stasiun radio yang tertangkap pancaran sinyalnya. Di Kalimati, juga dikuping saya. Radio Republik Ika.

Oh, gerangan apa dosa saya? Tak cukupkah penderitaan saya yang sudah-sudah?

Saya yang semula berniat istirahat pun, terpaksa rela terjaga demi mendengar ceritanya…

“Tadi pagi, pas lu pada kagak ada. Gw mau masak, ehh, aer abis, yaudah gw siap-siap dah ngambil aer ke Sumber Mani. Yah, dua botol gede cukuplah gw kira yak,” Ika bercerita berapi-api. Untung tidak sampai membakar tenda kami.

“Karna gw gak tau tempatnya, gw nanya dong sama pendaki laen yang ada disekitar tenda kita. ‘Mas, arah Sumber Mani kemana ya?’, begitu gw bilang,” masih dengan nyala api yang sama.

“’Oh jauuhhh mbak! Emang butuh berapa?’, si-mas-nya balik nanya ke gw gitu. Ya gw bilang aja, lumayan banyak sih mas. Eh, tiba-tiba dia minta satu botol kosong yang gw bawa, ‘Yaudah sini botolnya mbak, kita masih punya banyak nih’. Begitu dia bilang.”

“Gak mungkin lu dikasih begitu aja Ka, pasti pake trik lu yak?” Fery bertanya dengan rasa tidak percaya

Saya pun membathin “amin” untuk pertanyaan serupa pernyataan yang baru saja Fery kemukakan. Bahkan bisa dibilang, bulus-nya Ika itu lebih luar biasa daripada Fery dan saya.

“Iya sih, muka gw melas-melasin gitu, trus jalan gw lemes-lemesin,” jawab Ika lagi mengamini kecurigaan kami berdua tanpa rasa berdosa.

Tuh! Kan! Kagak ada ceritanya ni anak kagak bulus, @,@

“Tapi masak cuma satu botol doang? Gw kan butuh paling enggak dua botol gede. Buat masak, sama buat bekel kita ke Ranu Kumbolo entar.”

Akal-akalan apalagi yang bakal dia lakuin nih?

“Eh, abis gitu, gw ngeliat temennya satu lagi sakit. Gw Tanya aja, ‘itu temennya sakit apa mas?’. Dia bilang, ‘oh, diare mbak. Daritadi buang-buang aer melulu. Lemes dia. Ini makanya kita mau pulang.’ Gw inget-inget, kita punya Norit, makanya gw coba tawarin Norit ke dia. ‘Nih mas, saya punya Norit ambil aja, kasian tuh temennya.’ Eh dia malah bilang gini… ‘Wah mbak, terima kasih banyak ya. Eh, itu tadi botolnya satu lagi mana? Sini biar saya tambahin lagi.’”

Kasihan si mas tadi. Mau-maunya masuk jebakan Ika. Dua kali… dan secara sukarela pula.

“Asikkk. Akhirnya dapet aer banyak kan gw?! Gak perlu ke Sumber Mani segala, wekkk,” bangga Ika bercerita. Tapi kali ini ekspresi liciknya mulai kentara.

Bener kan gw bilang!!!

Bagaimana ya, kira-kira, bentuk visual aksi tipu-tipu yang dilakukan teman saya satu itu? Hanya dia (baca: Ika), si-mas, dan Tuhanlah yang tahu.

Oh, tambahkan lagi, saya dan Fery. Yah, walaupun saya dan Fery tidak menyaksikan kejadiannya secara langsung, tapi algoritma bulus kami bertiga jelas dari satu sumber yang sama. Bila dikonversi menjadi bilangan matematika, mungkin persamaan kami menjadi “Bulus pangkat tiga”. Ya, huruf “B” diikuti angka “3” kecil dikanan atasnya. Kalau cuma kuadrat, lewatlah mereka bila melawan kita.

Fiuh… Malangnya nasib kami ini ___memang harus Malang. Karena Semeru berada di Malang. Bukan di Surabaya. Bukan pula di Semarang.

Baru dua hari mendaki, tapi selalu saja survival ugal-ugalan seperti ini. Hey Ka… Fer… adakah pendaki lain mengalami kejadian serupa, semacam kita? Saya meragukan jawaban “ada”, bila kalian menjawabnya demikian.

Memang, kami ini bukan pendaki sejati. Tapi bicara soal survival ala Wanadri, jelas selalu kami simulasi. Please God help me

Tak berapa lama setelah Ika selesai siaran, saat itu juga kesadaran saya mulai menghilang…

14.00    Bangun siang

Panasnya suhu didalam tenda, membuat saya mau-tidak-mau kembali terjaga. Suhu dingin Kalimati malam sebelumnya, berubah panas dan juga kering pada siang hari. Maklumlah musim kemarau.

Masih dengan kepala berat dan sekujur badan yang rasanya tidak karuan, perlahan saya melata keluar tenda. Walaupun tampak menggiurkan, sisa indomie dan jelly kopi pagi malas saya sentuh. Ternyata keadaan diluar tenda tidak lebih baik daripada didalam. Panasnya menyegat gila.

Flashback kehari sebelumnya…

“Ah, disini aje nih enak. Adem.” Kata Fery sambil menunjuk calon tempat mendirikan tenda kami. “Iya nih adem kayaknya,” sahut Ika kemudian. Dua lawan satu, jelas saya kalah. Akhirnya sayapun mengalah. “Oke! Ayo Fer kita diri’in tendanya!.” Tanpa melirik kanan-kiri depan-belakang atas-bawah lagi, dengan gerak cepat, saya dan Fery mendirikan tenda kami.

Selesai mendirikan tenda…

“Wah, adem juga ya disini?” sambil membanggakan tempat pilihan Fery tadi.

“Iye dong, gw gitu lho!” sahutnya jumawa.

Tapi, begitu siang menjelang…

Melirik kebagian atas tenda, jelas tak terlindung apa-apa. Menerawang kesekitar, pohon-pohon besar berdiri dengan rimbunnya dalam radius 5 meter. Melingkari dan bukan malah melindungi tenda kami. Sementara tenda lainnya teduh terlindung, tenda kami justru disoroti satu buah lampu panggang (bukan panggung) berukuran luar biasa besarnya. Matahari. Fokusnya? Apalagi kalau bukan tenda kami. Macam selebriti kelas teri saja.

Cerdasnya kami ini…

Saya jadi penasaran, kira-kira berapa ya IQ kami bertiga? Hmmm…

Selesai menggalau, suara predator dari lubuk perut sana semakin lama semakin nyaring saja bunyinya. Tanda harus ter-asupi. Indomie pagi tanpa nasi akhirnya saya sikat juga tanpa sisa.

Karena langit siang mulai berganti jaga dengan langit sore, maka kamipun memulai berkemas-kemas (khusus untuk saya dan Fery) juga berkembak-kembak (khusus untuk Ika seorang diri).

15.21    Mulai trekking menuju Ranu Kumbolo

Dari Kalimati Bersiap Menuju Ranu Kumbolo

Walaupun sudah pukul setengah empat sore, terik matahari masih saja menyengat pedas kebumi. Membuat debu-debu jalur semakin kering dan mudah terbang jika terinjak sedikit saja.

Satu tim pendaki lain berangkat dengan waktu yang hampir bersamaan dengan kami, namun karena derap langkah mereka lebih cepat lagi perkasa, sebentar saja kami sudah tak melihat apa-apa. Jelas sekali perbedaan antara pendaki sejati dengan pendaki imitasi macam kami.

Tiba-tiba perut saya bergejolak, tanda panggilan alam harus segera diangkat. “Gw kebelet nih Fer,” ucap saya membuka pembicaraan. Tapi kenapa gejolak didalam perut saya justru semakin menjadi ketika melihat tampang kasihan teman satu ini? Ah, pasti ini cuma halusinasi saya saja.

“Iye, sama nih gw juga,” jawabnya cepat.

Pup dimane nih enaknya yak?” Tanya saya lagi

“Ah, gw tau, kita pup di Oro-oro Jambangan aja Bem, tempatnya enak, pokoknya mantep dah!” jawabnya lagi penuh semangat. Jawaban yang juga saya amini bila bicara soal tempat. “Wah, iya juga yak, boleh dah. Sippp!.”

Dan seketika itu juga, semakin melangkah, semakin cepatlah derap kaki kami bertiga. Jadi inikah fungsi lain kebelet? Menarik juga ternyata…

16.30    Oro-oro Jambangan

Menjelang Oro-oro Jambangan, kami bertemu lagi dengan tim pendaki sejati sebelumnya. Tak butuh waktu lama, akhirnya kami mengekor tepat dibelakang mereka.

Ayok, jalan terus lu pada…

Jalan teruusss…

Sedikit lagi….

Ahhh! Damn! Ini seharusnya tidak boleh terjadi!

Berantakan sudah rencana pup kami di Oro-oro Jambangan. Isi perut yang semula berada ditengah, kini telah bergeser kebawah. Apalagi ditambah jalan setengah berlari dari Kalimati tadi. Rasanya? Jangan ditanya. Gelisah luar biasa. Lama sedikit, bisa-bisa berubah kuning wajah kami ini. Harus segera atur siasat.

Menebar gas beracun layaknya mata-mata, ngobrol keras-keras, lalu-lalang disekitar mereka, pokoknya apapun kami lakukan demi ‘mengusir’ mereka supaya lekas pergi dari Oro-oro Jambangan. Dan tak berapa lama kemudian, usaha skeptis kami akhirnya berbuah manis. Mereka pergi tanpa diminta. YES!

Kesempatan emas yang tidak kami sia-siakan begitu saja. Secepat serdadu baru, gesit gerakan kami tanpa cela. Dua tiga lembar tissue, merayap dibelantara semak-semak, hap! Sempurnanya jamban alam ini. Luasnya? Tiada bandingan. Tarik napas dalam-dalam… lakukan persiapan… pejamkan mata… dan, ahhh… nikmatnya tak terbeli!.

Tak berapa lama kemudian…

Lho? Semerunya mana?…

Kampret! Saya salah arah! Semeru-nya malah dibelakang sana… Arghhh!

Walaupun mungkin, tapi saya putuskan untuk tidak memutar arah. Karena salah-salah bisa merekah kemana-mana adonan dibawah sana. Paling maksimal tipis ter-duduki.

Sejatinya, belum pernah sama sekali saya pup di gunung manapun. Walaupun terasa, biasanya akan saya tahan sekuat tenaga, setidaknya hingga turun kembali keperadaban dan menemukan toilet untuk merelakannya. Tapi karena Gunung Semeru ini begitu indah, sekali saja tidak ada salahnya mencoba.

Saya ada trik tersendiri untuk masalah pup di gunung ini. Bagi anda yang sama tak terbiasanya seperti saya mungkin bisa mencobanya, yaitu;

  • Sebelum mendaki, usahakan pup terlebih dahulu
  • Setelah pup, kurangi porsi makan. Atau bisa mengganti makanan berat anda dengan kurma dan madu. Selain ringan, keduanya juga mampu mensuplai kebutuhan kalori sebagai sumber tenaga dalam jangka waktu yang cukup lama. Atau, bisa juga mempertimbangkan biskuit ransum militer. Tapi soal rasa, jangan ditanya, militer namanya juga.

Selesai pup, badan saya terasa nyaman dan ringan bukan main. Seberat itukah deposit remah-remah selama berhari? Ah, sudahlah.

“Oiii!… Beeemmm!,” seonggok suara tiba-tiba memanggil saya dari kejauhan.

“Ambilin gw tissue lagi dong!… tissue gw kurang nih!,” ternyata nyeni suara Fery.

“Hahahahaha…” sontak saya dan Ika ngakak tak tertahankan. Bagaimana bisa, memperhitungkan jumlah tissue untuk diri sendiri saja meleset? Terbiasa survival, okelah. Tapi bicara soal pup? Lain cerita!.

Saya yang ujung-ujungnya tak tega pun akhirnya membantu mengambilkan tissue yang dia minta. “Lu butuh berapa Fer?!” Tanya saya keras-keras, supaya terdengar dari ujung sana. “Ambilin gw dua aja!” Fery menjawab lebih keras. “Ok Fer!” saya amini jauh lebih keras lagi.

“Ini sebenernya apa si? Maen keras-kerasan suara begini?”

“Biasa dah, audisi Preman Mencari Bakat, hehe”

Satu dua lembar tissue saya dapat, sayapun mulai mendekati letak administratif dimana Fery berada. Sekitar lima meter lagi sampai…, “Udah disitu aja! Lempar sini tissue-nya!,” gelisah Fery memberi aba-aba.

“Yang bener nih Fer? Lempar aja?,” sambil pura-pura mendekat, tak tahan rasanya bila saya tidak menggodanya. “Iya bener udeh sinih! Lempar aja! Cepettt!,” panik jawabannya jelas tidak dibuat-buat. “Yaudah nih, gw lempar yak!”

Setelah saya lempar tissue tadi…

“Hahahahaha, sori Fer!, kagak sengaja! Benerin dah!” … “Hahahahaha…” tak kuat saya menahan geli demi menyaksikan kebodohan sendiri. Dua lembar tissue yang saya lempar, jatuh tak jauh dari tempat saya berdiri. Bila bermain sedikit matematika sederhana, kira-kira jaraknya masih 3,5 meter dari posisi jongkok Fery.

“Udah! Biar gw ambil sendiri!” jawab Fery jengah. “Yang bener nih Fer, lu mau ambil sendiri?” walaupun geli, gatal rasanya bila tidak memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Dan dalam waktu yang seketika, iseng menggoda tiba-tiba saja menjadi hobi favorit saya.

“Iyak! Udah sana!” lengking suara Fery jelas meninggi. “Hahahahaha… iyak! Iyak! Gw pergi!… hahahahaha,” puas sudah saya mempermainkan kebodohan teman ajaib satu ini.

Di Oro-oro Jambangan Kami Bertiga

Setelah ritual “buang sial” selesai. Berfoto sebentar, kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan.

16.55    Mulai trekking kembali dari Oro-oro Jambangan

Terang langit kian meredup ketika kami memulai kembali perjalanan. Hujan abu ringan pun mengantarkan keberangkatan kami dari Oro-oro Jambangan. Selepas “bongkar muatan”, perjalanan trekking terasa begitu nyaman dan ringan. Perjalanan ini pun… terasa semakin panjang…

17.11    Cemoro Kandang.

Walaupun langit Cemoro Kandang sedikit kelabu, jalurnya masih jelas terlihat oleh mata saya. Tapi begitu mendekati Oro-oro Ombo, kabut turun begitu pekatnya. Jarak pandang yang hanya tersisa 5 meter tersebut membuat saya dengan sigap mengeluarkan headlamp, yang sebelumnya memang telah saya siapkan.

“Bem, headlamp lu gw pake sinih!” Ika tiba-tiba meng-interupsi.

Glodak!

Headlamp yang tinggal sepersekian detik menclok di kepala saya itupun, mau tidak mau harus berpindah kewarganegaraaan sementara ini. Bagaimana perasaan saya? Capek aaajah… @,@.

Sulit memang, menyusuri jalur Cemoro Kandang dan Oro-oro Ombo tanpa headlamp, apalagi ditambah malam berkabut tebal. Walaupun begitu, saya justru senang. Apa pasal? Ya, karena dengan begini, saya bisa sambil melatih ketajaman penglihatan. Entah sejak kapan, namun yang jelas sudah sejak lama sekali saya senang melatih mata supaya lebih tajam dalam melihat.

Bila anda berminat mencobanya, akan saya berikan salah satu contoh yang biasa saya lakukan; bukalah Microsoft Word. Pastikan “Zoom Level”-nya 100%. Dengan jarak antara mata dan layar berkisar 50-70 centimeter, kemudian aturlah ukuran font menjadi 7 point.  Untuk yang tidak terbiasa, pasti sangat sulit menulis atau membaca dengan font seukuran ini. Tapi bila dibiasakan, minimal mata kita menjadi sedikit lebih tajam daripada rata-rata orang kebanyakan. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Bila sedang kumat, saya malah menggunakan ukuran font yang lebih kecil lagi, yaitu 5 point, entah  untuk menulis artikel atau sekedar membaca. Tapi, lebih sering dikisaran 7 atau 6 point. Ukuran nyaman bagi mata saya.

Penasaran? Silahkan coba. Tapi ingat! Resiko tanggung sendiri ya, hehe.

kembali ke Oro-oro Ombo…

Selepas Cemoro Kandang, jalur setapak bisa dibilang datar, tapi panjang. Dari tempat kami menapak, terlihat jejak cahaya dari senter pendaki lain diujung sana. Layaknya lampu suar, pendar nyala kayu bakar dan senter tersebut pun tak kami sia-siakan sebagai petunjuk jalan.

Sisa mendaki Puncak Mahameru kembali lagi. Persendian kaki saya pedas bukan main, seperti mau lepas saja rasanya. Ditambah lagi dengan modal fakir berupa sebotol air, tambah lengkaplah daftar kami berkeluh-kesah.

18.45    Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo malam ini lebih ramai daripada malam sebelumnya. Okupasi tenda lebih banyak terkonsentrasi disekitar bangunan Pos Ranu Kumbolo.

“Bembi…” … “Bembi…” … “Bembi…” tiba-tiba terdengar suara misterius yang berulang kali memanggil-manggil nama saya. Tidak begitu jelas suaranya, tapi panggilan ini jelas-jelas membuat bulu-bulu rinding saya meremang. Kenapa harus ditempat segelap ini? Macam banci operasi di Taman Lawang saja. Dari sekian banyak manusia di Ranu Kumbolo, kenapa juga harus nama saya yang dipanggil-panggil? Sedemikian fanatiknya kah dengan saya, lelembut ini? Ya Tuhan, tolong bantu saya…

Walaupun tubuh saya gemetar hebat, namun saya memberanikan diri menoleh kearah kiri. Arah asal suara-suara tadi.

Ngeh! Hek!!!… Umpat saya dalam hati menjadi-jadi.

“Elu Pan?,” ternyata suara tadi berasal dari teman saya Taufan. Teman yang baru saja saya kenal di Jakarta ketika kami sama-sama kepayahan mengantri tiket kereta.

Lalu, gemetar dan merinding tadi asalnya darimana? Hmm, sepertinya lebih karena suhu dingin Ranu Kumbolo nih, brrr!…Alibi jaga gengsi supaya dibilang berani. Hasil olah dramatisasi.

19.00    Rintik di Ranu Kumbolo

“Kesini aja dulu Bang. Ada teh manis panas nih,” ajak Taufan seraya mengundang kami mampir ke tenda mereka.

Rupanya sengaja dia berdiri dipinggir jalur sana, hanya untuk menunggu kami bertiga. Ya, kami memang sudah sepakat untuk bertemu sebelumnya, entah di Ranu Kumbolo, entah di Kalimati. Namun karena hari kemarin tim mereka belum juga tampak batang hidungnya, maka kami bertiga memutuskan untuk langsung menuju ke Kalimati tanpa mereka.

Dua tiga teguk teh panas telah terlampaui. Walaupun belum sepenuhnya, tenaga kami sedikit banyak kembali lagi. Waktunya mendirikan tenda.

Diiringi rintik hasil olah rasa kabut setempat, saya dan Fery mendirikan tenda. Ika? Jadi mandor jaga seketika.

19.15    Makan malam?

Tak berapa lama, tenda kami telah berdiri begitu megahnya. Kini waktunya menghangatkan diri. Letih yang tiada henti sedikit demi sedikit hilang seiring waktu istirahat kami.

“Kita makan apa nih?” Ika tiba-tiba memecah keheningan.

Makan rumput enak kayaknya Ka. Udah jelas-jelas kita gak punya apa-apa, pake tanya-tanya segala.

“Emang kita masih punya makanan?” sahut saya sekenanya.

“Masih si, rendang kering sama orek teri-tempe tuh. Tapi gimana makannya kalo gak pake nasi?” walaupun tanpa aba-aba, pernyataan Ika baru saja, kompak mengundang kata ‘amin’ dalam hati kami bertiga. Kata ‘amin’ jugalah yang kemudian mengaktifkan akal bulus kami selayaknya di Kalimati siang tadi.

“Waktunya sosialisasi!” yel yel favorit kami kembali menggema diudara. Padahal sejatinya adalah gaung survival terselubung.

Sigap bersiap-siap, kemudian mendarat ditenda rekan-rekan sejawat. Tak begitu jauh, hanya disebelah.

Hal-hal remeh selama perjalanan, mulai dari Jakarta hingga Semeru pun seperti tidak habis-habisnya jadi topik perbincangan kami malam itu. Tak lupa, setiap terdeteksi sedikit celah, kami sisipkan kata-kata hipnotis layaknya mentalis disetiap kalimat yang kami ucap, sambil fokus, menatap mata mereka guna mengirim sinyal-sinyal ala Dedy Corbuzer. Sinyal semisal, “Lu musti bagi gw beras, gw gak punya beras, gw mau makan nasi!”.

Setelah interaksi dirasa memadai, kami pun pamit kepada mereka untuk segera kembali ketenda. Tentu sambil berharap-harap cemas akan hasil positif dari usaha kami sebelumnya.

Dan, tak lama kemudian…

“Om-om, kakak-kakak… kita ada beras nih. Sori yak gak bisa ngasih banyak-banyak, soalnya kita masih berapa hari lagi disini. Segini gapapa ya?” Taufan tiba-tiba menyambangi tenda kami dengan segelas beras ditangan.

“YES!!!” kompak kami teriak kegirangan. Dalam alam pikiran kami masing-masing tetapi. Apalagi alasannya bila bukan pencitraan diri. Walaupun kedudukan kami bisa dibilang sudra, tapi soal jumawa harus tetap terjaga.

Umpan telah dimakan, tak mungkin kami sia-siakan. Secepat kilat Ika menyambar gelas diseberang sana. Skor sekarang berubah menjadi 1-0 bagi kami.

“Wah… terimakasih ya Pan. Jadi gak enak nih,” balas Ika sok wibawa. “Iya Pan, jadi gak enak nih,” ucap saya dan Fery turut mengamini.

“Santei aja om. Oke deh, ane balik kandang lagi ya,” jawab Taufan sambil beranjak menuju tenda yang dimaksud. “Sekali lagi, tengkyu banget yak Pan!,” masih dengan perasaan tidak enak kami berteriak. “Ok om! Sip,” jawab Taufan kembali sambil mengacungkan jempol kearah kami bertiga.

Semudah inikah menjadi seorang mentalis?

Ya Tuhan, berdosakah kami melakukan ini semua? Mudah-mudahan tidak ya? Amin.

“Lu masih ada makanan gak Bem?” Tanya Ika kepada saya. “Gak ada Ka. Makanan kan semua di elu bukan? Sama Fery juga tuh?” jawab saya cepat.

“Coba kita kumpulin makanan yang masih ada yoh!,” Fery kemudian angkat bicara. Dan saat itu juga kami semua menggeledah isi keril masing-masing. Berharap menemukan sedikit keajaiban disana.

Rendang kering… Orek teri-tempe… Kopi bubuk… Teh celup… Sedikit makanan ringan…

Dengan intonasi khas logat betawi, Fery mengajukan pertanyaan kepada saya dan Ika, “Mane makanan nye?.” Pertanyaan yang kemudian memicu gelak tawa kami bertiga secara spontan. Sudah sebegini susahnya, bukannya berpikir, kami malah tertawa. Dasar orang gila.

“Lah lu kan juga disitu? Berarti lu juga gila dong?”

“Eh, iya ya… mmm, biarin dah, gapapa, hee :D”

Tidak berapa lama kemudian, Taufan kembali lagi ke tenda kami. “Om, kita masak nasi kebanyakan nih, mau gak?.”

Tuhan! Terlalu buluskah mantra yang kami ucapkan kepada mereka? Kami kan cuma mengincar berasnya saja? Tapi kenapa juga dapat nasi? Maafkanlah segala dosa-dosa kami ya, Ya Tuhan… aminnn.

Macam iklan salah satu operator telekomunikasi, kami pun menjawab tantangan tadi dengan singkat, padat, dan penuh semangat. “Mau! Mau! Mau!”

Seperti de javu, kami bisa makan kembali dengan menu serupa seperti diawal-awal waktu mendaki. Nasi, rendang kering, juga orek tempe-teri. Ahhh… akhirnya….

Benarlah kata-kata “Keadaan sulit seringkali membuat orang menjadi kreatif.” Setidaknya itulah yang sedang (atau lebih tepatnya, selalu) kami alami selama masa-masa mendaki ke Gunung Semeru ini. Situasi “bertahan hidup” macam ini jelas tidak ada dalam itinerary semula. Tapi, begitu ia datang, kami sambut ia dengan gelak tawa. “Elu jual, gue borong” istilahnya.

Selesai makan malam, kabut di Ranu Kumbolo semakin pekat, karenanya kami memutuskan untuk beristirahat lebih cepat. Lagi.

***

SEMERU – July04, 2012

06.30    Bangun pagi.

Begitu membuka mata, kulit tenda terlihat terang menyala. Tidak seperti malam pertama di Ranu Kumbolo yang telah lalu, kali ini saya tidak tertipu ilusi mata. Hari pasti telah berganti. Dan benar saja, jingga langit timur sejuk terlihat mata. Ini berarti, waktunya bangun pagi!. Pernyataan yang lebih sering terkonversi menjadi “ntar ah, sebentar lagi!,” ditangan kami. Dan bila sudah begitu, sama artinya dengan tidur kembali.

07.15    Bangun pagi. Lagi.

Bonus tidur sudah kami genapi, sekarang saatnya menghirup udara segar. Sebagai pemanasan, saya mencoba membuka restleting tenda perlahan, kemudian mengeluarkan thermometer alam (baca: tangan) sebentaran.

Krekekkk!

Wuih, dinginnya luar biasa. Baru sebentar saja tangan seperti mati rasa. Mindset “tahan dingin” andalan selalu saja tidak berfungsi disaat-saat seperti ini, sungguh menyebalkan. Selepas bangun tidur, biasanya butuh waktu hingga satu jam supaya mindset saya bekerja kembali.

Namun, karena hari ini adalah hari terakhir kami mendaki Gunung Semeru, maka saya paksakan diri menyambut pagi disekitar Danau Ranu Kumbolo. Kamera dan tripod telah siap ditangan. Waktunya berperang!

Entah kondisi saya yang sedang drop, atau memang suhu di Ranu Kumbolo pada pagi hari memang sedingin itu, yang jelas dinginnya serupa dengan dingin Puncak Mahameru. Hampir tak tertahankan rasanya. Seluruh ujung jari saya terasa kebas, hampir-hampir mati rasa.

Kilau Keemasan di Selatan Ranu Kumbolo

Bagian timur Danau Ranu Kumbolo masih tampak gelap terlihat. Tapi bagian selatannya menyala kuning keemasan ditembus cahaya mentari. Refleksinya pepohonan tertangkap dipermukaan danau yang begitu tenang. Uap dingin diatas danau pun tak mau kalah aksi, meliuk-liuk mereka sejak tadi dihembus semilir angin pagi.

Anak Lokal di Ranu Kumbolo

Mata saya terus menjelajah. Saya mendapati seseorang sedang duduk berjongkok dipinggir sana. Modalnya hanya sarung yang melilit tubuh, kupluk, kaleng bekas cat tembok, dan sebuah alat pancing yang entah sejak kapan telah terpasang. Penduduk setempat rupanya. Saya cukup mengerti, karena proses aklimatisasi telah mereka lakukan sejak bayi, maka pantaslah bila mereka mampu menahan dingin seperti ini.

Penduduk Lokal Memancing di Ranu Kumbolo

Kemudian saya mencoba mendekati. Ah, masih anak-anak rupanya. Menatap lebih keselatan lagi, ternyata dia tidak sendiri, beberapa orang dewasa juga melakukan hal yang sama. Memang Ranu Kumbolo ini kerap didatangi oleh penduduk sekitar, walaupun sekedar untuk memancing ikan, yang besarnya pun tak seberapa. Penduduk lokal yang luar biasa.

Sambil menjelajahi pinggir Danau Ranu Kumbolo, saya berusaha mencari-cari wajah terbaiknya untuk diabadikan. Begitu dirasa cukup lumayan, cepret!, shutter button kamera pun akhirnya terokupasi.

Sebenarnya Ranu Kumbolo sangat kaya dengan limpahan angle-angle foto terbaik, namun karena kaki-kaki saya rasanya seperti dicubit-cubit puluhan tarzan, terpaksa saya urungkan niat meng-eksplorasi kekayaan hayati ini lebih jauh lagi. Selain juga waktu terbatas yang kami miliki, karena harus segera kembali ke Ranu Pani.

Melulu landscape tanpa model rasanya terlalau statis. Untuk membuatnya dinamis, saya daulat Fery dan Ika sebagai model tembak. Model pas-pasan, juga tanpa pengetahuan. Ditambah fotografer kacangan yang berlagak macam Ansel Adam. Ah, tak mengapalah, yang penting kami punya kenang-kenangan bukan?

Sengat cahaya matahari yang semakin kuat, ditambah beberapa kali ‘take’ membuat kami lama-lama bosan juga, saatnya kembali ketenda.

09.00    Sarapan pagi.

Sarapan dan Packing

Kali ini kami sedikit lega, karena beras raskin hasil tipu daya malam sebelumnya telah berada dalam genggaman. Ika kebagian jatah masak, sementara saya dan Fery packing ditempat.

Dipinggir danau sana banyak berkumpul beberapa kelompok pendaki lain. Ada yang dihukum oleh seniornya, entah karena apa. Ada yang sekedar bercanda riang menikmati Ranu Kumbolo pagi dengan berenang-renang ditepian. Ada yang mencuci sisa-sisa olah makanan dan minuman. Ada yang mengobrol. Ada yang baru saja datang. Ada yang pulang ke Ranu Pani. Ada yang melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Ada yang memancing. Dan ada juga yang hanya duduk-duduk dipinggiran sekedar menikmati pemandangan.

Suhu udara pukul sembilan di Ranu Kumbolo terasa kering, dan panasnya pun tidak terkira. Sangat kontras dengan suhu udara kala paginya. Maklum, pengaruh musim kemarau.

Tak berapa lama Fery dan saya selesai packing, beras raskin karya chef Ika pun telah berubah bentuk menjadi segumpalan nasi. Nasi yang, matang tidak, mentah pun tidak. ‘Kletis’ bahasa kerennya.

Tak peduli bagaimana bentuknya, dan sialnya juga… rasanya, nasi tetaplah nasi bagi kami. Selama tidak perlu lagi melakukan tipu daya, kehadiran nasi tersebut tetap kami anggap surga dunia.

Demi efisiensi, kami hanya mengeluarkan rendang kering juga orek tempe-teri. Bagaimana yang lain mau dikeluarkan? Lah, yang tersisa juga hanya tinggal dua lauk tadi. Malangnya nasib kami ini. Déjà vu lagi… déjà vu lagi, hiks.

Walaupun air Danau Ranu Kumbolo terlihat jernih, sulit bagi otak saya menerima konsep ‘air daki’ sisa jeguran pendaki lain. Karenanya, selesai makan, kembali Ika kami daulat untuk memasak air Danau Ranu Kumbolo sebagai bekal perjalanan pulang ke Ranu Pani

Dibantu suhu panas alam sekitar, air yang ditanak cepat sekali masak. Kini saatnya Ika packing, sementara Fery dan saya membongkar tenda La Fuma tercinta.

Tampak dari sudut pandang saya, seluruh warga dadakan Danau Ranu Kumbolo juga beranjak pergi. Sebagian ke Kalimati, sebagian lagi ke Ranu Pani. Dan Ranu Kumbolo pun kembali sepi. Benar-benar sepi.

10.50    Mulai trekking ke Ranu Pani

Bersama Tim Kereta Dari Jakarta

Bersiap Menuju Ranu Pani

Setelah yakin seluruh barang-barang bawaan kami aman, kini waktunya kembali ke Ranu Pani. Tidak lupa kami melakukan ikrar janji setia. Janji yang berbunyi, “pokoknya nanti di Ranu Pani, kita balas dendam! Kita makan yang banyak! Kurang,… nambah! Kurang,… nambah! Kagak mau tau pokoknya!” statement yang berbuntut “aminnn!” sekeras-kerasnya dari kami bertiga.

Tapi baru sebentar saja kami berjalan…

Sialan! Ini kaki kenapa berat banget dibuat jalan yak! Gumam saya dalam hati.

Terlalu banyak istirahat membuat otot-otot kaki saya memasuki zona nyaman sepertinya. Zona yang sekalinya mencengkram sulitlah ia untuk dilepaskan. Tapi perjalanan baru saja dimulai, karenanya mau tidak mau harus saya paksakan.

11.30    Pos IV

Sampai di Pos IV, lenguh napas saya berantakan iramanya. Tanda adaptasi belum lagi sempurna. Walaupun tidak terlalu jauh dari Ranu Kumbolo, tetap saja yang namanya istirahat, wajib kami taati. Motto “pelan tapi pasti” pun masih kami pegang teguh hingga saat ini.

‘Pintu Masuk’ Jalur Ayek-ayek

Sebelum menanjak ke Pos IV, sebenarnya kami melewati ‘pintu masuk’ jalur Ayek-ayek. Jalur yang biasa digunakan penduduk lokal untuk pergi dan pulang Ranu Kumbolo-Ranu Pani. Ingin rasanya menjajal trek yang belum pernah kami lalui itu, namun sayangnya tidak satupun dari kami pernah lewat sana. Tanpa guide, ibarat kontrak mati, bila kami memaksakan pulang lewat jalur tadi.

Jalur Menuju Pos IV Semeru

Entah bagi teman-teman lain, tapi bagi saya, lebih baik menapaki jalur menanjak daripada harus berhadapan dengan jalur menurun. Maklum dengkul tua, tak sanggup lagi ia menahan beban berlebih ketika harus menjejak turun. Ika ternyata juga memiliki sindrom yang sama dengan saya. Sindrom “mendaki lebih baik daripada menurun”. Sedangkan Fery? Entahlah, apakah kuatnya sungguhan, atau dibuat-buat. Tapi, bicara gelagat, sepertinya lebih kepada pura-pura, demi menjaga wibawa.

Ranu Kumbolo di Kejauhan

Menanjak dari Pos III ke Pos IV, saya akui cukup berat. Tapi menjejak dari Pos IV ke Pos III, saya amini jauh lebih berat lagi. Terutama dijalur menurun. Meng-iba pun pasti sia-sia, karena suka atau tidak, tetap saja jalur ini harus kami lalui. Oh, indahnya.

12.20    Pos III

Begitu sampai di Pos III, ritual istirahat kami jalani kembali. Selang beberapa waktu, datanglah dua orang pendaki dari Padang. Seorang laki-laki dan seorang perempuan berjilbab. Misi mereka adalah mendaki gunung-gunung berketinggian lebih dari 3,000 meter, dimulai dari Rinjani dan berakhir di Semeru. Dan semuanya dilakukan dalam waktu satu bulan. Semeru adalah gunung ke empat yang mereka daki, sekaligus gunung terakhir sebelum mereka kembali kekota asalnya. Jadi dengan kata lain, satu minggu satu gunung. Sehat lah mereka tampaknya.

Tak berapa lama kami berbincang, mereka pamit kembali melakukan perjalanan. Masing-masing dari mereka membawa keril berkapasitas 70-90 liter. Sementara keril bermerek Eiger yang dibawa si lelaki jelas sekali terdengar mengernyit. Suara pertanda kelebihan muatan dari kapasitas yang seharusnya. Hal yang belakangan saya hindari bila harus mendaki bersama wanita.

Haruskah selamanya sang pria membawa beban jauh lebih berat daripada sang wanita? Inikah yang namanya emansipasi wanita? Dipercaya menjadi kuli angkut, malah merengut. Sungguh ter… lha… lhu…

Begitu mereka hilang dari pandangan, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Tak ada cerita yang menarik selepas Pos III, jadi, mari kita biarkan saja.

13.32    Pos II

Jalur dari Pos III ke Pos II relative landai. Tidak membutuhkan effort berlebih layaknya jalur Pos III ke Pos IV hingga setengahnya.

Lagi-lagi, disetiap pos kami selalu berhenti untuk beristirahat sambil sesekali menghela napas.

Sejak Pos III, Ika kami paksakan berjalan sedikit berlari, sehingga, sesampainya kami di Pos II, sudah tak tampaklah batang hidungnya. Entah karena emosi jiwa, atau dorongan balas dendam, harus makan enak di Ranu Pani, yang jelas langkahnya cepat tak menyisakan cela.

Sementara, Fery dan saya enak-enakan di Pos II, dengan bekal sisa setengah botol kecil air hasil karya Ika yang rasanya seperti plastik tapi berbentuk cair. Slurpppss… uahhh!….

Karena terlalu lama Fery dan saya beristirahat, semakin banyaklah pendaki-pendaki lain yang kami temui di Pos II. Ada hendak ke Ranu Kumbolo, tapi tak sedikit juga yang pulang  ke Ranu Pani. Pertanyaan-pertanyaan semisal, “dari mana mas?”, “berapa orang?”, “baru mau naik apa sudah turun?”, “masih jauh mas?”, “banyak yang nenda mas?,” tak bosan-bosannya kami tanyakan, juga kami jawab. Pertanyaan-pertanyaan standar supaya terlihat akrab.

Puas mewawancara juga di wawancara, saya dan Fery pamit undur diri. Baru saja saya bersiap-siap, Fery sudah menjejak secepat kilat.

Ahhh, pasti akal-akalan lagi nih…

Saya yang terakhir pamit pun, tanpa ragu-ragu mendukung gelagat jejak teman satu ini. Begitu sedikit mendekat, “Ayo buruan Bem!,” ajak Fery tanpa menoleh. “Sippp!,” jawab saya sembari mempercepat langkah.

Macam maling kepergok warga, “Wuih, dia lari!”… “woi, dia lari tuh!,” terdengar sayup-sayup suara takjub dari pendaki lain meneriaki kami, dari Pos II yang baru saja ditinggalkan.

Begitu kami sampai dibelokan jalan, dan Pos II tidak lagi kelihatan… “Dah! Kite jalan santei lagi. Udeh kagak keliatan kan?,”  kata Fery tanpa dosa. “Yoi coyyy!,” dosa yang terduplikasi sempurna… sepertinya.

Tuh kan! Bener gw bilang! Bulusnya kagak kira-kira!!!

“Hahahahaha, begoooo!!!,” tawa kami serentak lepas. Baru dipancing sedikit, umpan langsung dimakan, entah siapa yang bego, kita atau mereka, yang penting hati kami bahagia. Hahaha.

14.05    Pos I

Pos I menjelang. Melihat kami datang, Ika terlihat girang dari kejauhan. Saya bisa memastikan, kalau ia baru saja menang akal-akalan. Jalur cukup landai mulai dari Pos II hingga ke Pos I, karenanya kami ambil santai trekking kali ini. Sambil menerka-nerka, apa gerangan yang baru dimenangkan teman berakal bulus diujung sana.

Dan benar saja. “Gw punya aer dooonggg!,” jumawa ia memberitai kami.

“Kok ‘memberitai’ sih, kan gak enak kedengerannya?,” seonggok suara yang berhari sudah kami tak jumpa kini muncul lagi.

“Kalo gw sisain 3 huruf dibelakangnya, trus gw unyeng-unyeng ke mungke lu gimana?,” kesal saya dibuatnya.

“Yey, gitu aja mutung…

“Wattaaaaa!!!”

Saya yang pura-pura penasaran, langsung melayangkan pertanyaan, “Dapet dari mana lu?.” Pertanyaan yang terjawab, “tadi ada anak-anak Malang ketemu dijalan. Aus gw, daripada kelenger nungguin lu-lu pada, gw minta aja sama mereka. Gw Tanya deh mereka, ‘mau turun ya mas?,’ pas mereka bilang ‘iyak’, wah kebetulan nih dalem hati gw. Langsung aja gw bilang, ‘mas punya aer gak? Saya aus banget nih, temen-temen saya jauh banget masih dibelakang’, eh dikasih sama mereka sebotol, ya gw sikat, hehehe”

Saya akan memberikan sedikit klarifikasi: Sebenarnya kami masih punya sisa air mineral setengah botol, tapi karena rasanya lumayan gurih macam plastic kresek, teman saya Ika ini dengan belagu menolak untuk meminumnya. Padahal modal trekking kami ya hanya itu.

Sekarang pertanyaannya? Kok, bisa-bisanya dia beralasan teman-temannya masih jauh dibelakang? Jelas-jelas dia kabur duluan. Lalu, kami masih punya setengah botol air mineral, kenapa juga ia tak mau membawa satu-satunya harta paling berharga (selain keluarga) yang kami punya saat itu?

Saya sudah memberikan beberapa clue, sisanya, silahkan anda putuskan sendiri, orang macam apa teman saya yang satu ini?

Selesai Ika bercerita, kami lanjutkan dengan bincang-bincang ringan bersama mahasiswa-mahasiswi? Dari Universitas Brawijaya, Malang. Dan ternyata, seluruhnya berasal dari Jakarta. Sungguh sempitnya dunia, revisi: Indonesia. Ke ujung timur Pulau Jawa kami berkelana, ketemunya manusia-manusia dari Jakarta juga.

Sejak pertama kami berjumpa, cuma satu dari kelima mahasiswa tadi yang menarik perhatian saya. Entah karena saya bodoh atau apa? Yang jelas, sulit bagi saya memastikan, masuk kategori apa manusia yang satu ini? Pria? Atau wanita? Raut wajahnya berada dipersimpangan antara keduanya. Suaranya? Jelas pria. Gerak-geriknya? Mirip wanita. Rambut? Pendek. Dada? (maaf) rata. Postur tubuh? Layaknya wanita.

Ah sudahlah… &%#@… Sampai jumpa ya, kami lanjutkan perjalanan kembali ke Ranu Pani. Dadahhhh!… seraya melambaikan tangan tanda selamat jalan kearah mereka.

Selepas istirahat, gerak langkah Ika bertambah cepat saja, macam bajing loncat. Tak berapa lama pun ia hilang ditelan rerimbunan. Sementara Fery dan saya tetap jalan santai sambil mengatur siasat, seandainya ada lagi yang bisa kami kerjai. Lama kami berjalan, tapi tak satupun kami temukan pendaki lain, yang baru akan naik, juga kembali turun.

Menjelang Jalan Aspal Ranu Pani

Menjelang jalan aspal, pemandangan hijau dikiri jalur sangat memanjakan mata saya. Satu dua jepretan kamera berbunyi sudah. Kini waktunya kembali menapaki jalur menurun berdebu, menuju jalur aspal didepan sana. Dan tak lupa, mengosongkan deposit siasat yang baru saja terbentuk dipojok-pojokan otak.

Jalur Aspal Menjelang Pos Ranu Pani

15.20    Ranu Pani

Ranu Pani

Menjelang kami tiba, semua mata tertuju kearah kami. Entah aneh, entah apa, saya tidak ambil peduli. Satu misi lagi yang harus kami sudahi! Balas dendam mencari nasi!.  Semangkuk bakso, sepiring nasi, segelas teh panas. Akhirnya dendam kami terbalas!.

Tapi begitu menjelang sendokan kedua…

Ah, sialan! Langsung kenyang!

Hahaha! Ternyata kemauan tak berbanding lurus dengan kemampuan. Akhirnya, walaupun sedikit ngap-ngapan, pelan tapi pasti, kami lumat habis semua menu tadi, rata dengan tanah!… Apa sih?!

Selesai makan siang, kami kembali mengurus perijinan di Pos Registrasi Ranu Pani. Sekedar memberitahukan bahwa itinerary Semeru kami telah sesuai dengan kondisi real dilapangan. Datang hari ini, pulang hari itu. Ini sampahnya. Ini surat ijinnya. Dan… selesai.

Strategi bertahan hidup kami ternyata cukup mumpuni. Bahkan, dari lima bungkus indomie untuk pendakian selama tiga hari, herannya, masih saja tersisa satu bungkus. Sungguh, survival yang mengalahkan logika. Terima kasih Ya Tuhan, karena Engkaulah kami mampu mempertahankan diri.

Nasi putih 2 bungkus = 10,000 Rp

Gorengan 9 buah = 6,000 Rp

Bakso Malang 3 mangkok = 18,000 Rp

Air mineral 2 botol kecil = 6,000 Rp

Teh manis panas 4 gelas = 8,000 Rp

Selesai membayar semua kewajiban, kami ambil kembali barang titipan kami diwarung milik Pak Gareng. Selesai berbagi harta gono-gini, tibalah waktunya menyongsong tujuan berikutnya. Bromo.

16.25 – 17.45    Ranu Pani – Cemoro Lawang, Bromo.

Selesai sudah semua kepentingan kami di Ranu Pani. Kini kami melanjutkan perjalanan menuju Bromo, via Cemoro Lawang.

Awalnya, kami dijanjikan biaya sewa jeep sebesar 400,000 Rp oleh Pak Puji (0821.4040.3939). Harga tersebut hanya berlaku untuk mengantarkan kami bertiga dari Ranu Pani ke Cemoro Lawang. Tapi ditengah obrolan, kami mendapati tambahan 5 orang teman yang memiliki tujuan sama, Bromo. Karena adanya tambahan tim dari Bandung ini, maka biaya sewa semula berubah menjadi 600,000 Rp.

Jadi bila dibagi delapan, perorangnya hanya kena 75,000 Rp. Masih jauh lebih murah daripada perhitungan semula. Ahhh, senangnya… tapi Ika… justru bersungut-sungut karenanya.

“Katanya kalo udah disewa, suka-suka kita, jeep mau di-gimana-in aja! Mana buktinya?!”. Hahaha, Fery dan saya cukup mengerti mengapa Pak Puji minta tambahan upeti. Fery dan saya pun… sangat  mengerti maksud hati teman satu ini.

Kalau sudah begini ceritanya, lebih baik kami diam, daripada diamuk massa (baca: Ika). Hahaha.

Setelah cerita perjalanan pendakian Gunung Semeru ini tuntas, ingin rasanya melanjutkan seluruh cerita perjalanan kami selama dua minggu di Jawa Timur. Perjalanan yang lebih banyak seru-nya ketimbang biasa-biasanya. Mulai dari mencicil mandi siang di Bromo, menginap di pos Visitor Center Baluran, diwawancara intel berkumis tebel, menumpang bus yang larinya macam setan, hampir pula kecelakaan, sambutan meriah anak kalajengking saat bangun pagi dikamar hotel yang lebih mirip kandang anjing di Jember, hingga ditraktir ongkos angkot oleh ibu-ibu penumpang yang duduk disebelah saya.

Tapi… sepertinya tidak perlu ya? Hahaha… [BEM]

This is true story. Trust me!… eh jangan deh, musrik nanti.

TAMAT