So far, ini adalah perjalanan pendakian terpanjang saya dari Jakarta. Bahkan untuk bisa sampai ke Ranu Pani, butuh waktu berhari-hari. Dibilang melelahkan, iya. Dibilang menyenangkan, juga bisa. Manut bawaan mood.

Asbabun nuzul…

Mengantri dua pagi tak juga membuat dewi fortuna menghampiri. Tiket kereta tujuan Malang lagi-lagi ludes dalam waktu kurang dari satu jam. Tidak menyisakan satu pun untuk saya, Ika, Fery dan keempat teman baru kami, Tim Cawang (Taufan, Ilham: adik kandung Taufan, Ubay, dan Panjang). Terpaksa beli seadanya, walau cuma sampai Semarang.

KA Tawang: Stasiun Senen, Jakarta – Stasiun Poncol, Semarang = 33,500 Rp

Pukul 19.30 tepat KA Tawang masuk Stasiun Senen, Jakarta. Sebentar bongkar muat penumpang, kemudian kembali jalan.

Entah mengapa, perjalanan kereta kali ini terasa lebih cepat dari perkiraan saya sebelumnya. Mungkin karena tak berhenti di tiap stasiun seperti biasanya.

 

Semarang (Day 1)

Warung soto ayam didepan stasiun poncol

Perjalanan berjam-jam dari Jakarta membikin perut kami lapar. Sesampainya di Semarang kegiatan pertama yang mesti dilakukan tentu saja mencari sarapan. Kebetulan, di depan stasiun sana ada warung soto ayam. Minumnya teh manis hangat, biar tambah semangat.

Begitu mau bayar…

“Udah, gak usah.”

“Hah?”

“Biar saya aja,” kata Bang Doni, teman baru kami, nawarin mbayarin. Style-nya parlente. Kami kenal dia di atas kereta. Rupanya dia mengalami nasib serupa. Sama-sama kehabisan tiket. Berangkat dari topik ini, tak terasa obrolan kami berkelanjutan sampai Semarang. Mungkin dari sinilah muncul cita-citanya mentraktir kami semua.

Soto Ayam = @6,000 Rp

Teh manis panas = @1,500 Rp

Total = Gratis

Delapan variasi menu sarapan gratis sudah habis. Sekarang waktunya berpisah. “Terima kasih, Bang!”

Tak ada bus jurusan Surabaya di rute sekitar Stasiun Poncol, karenanya kami putuskan mencarinya ke Terminal Terboyo, Semarang.

Sewa angkot: Stasiun Poncol – Terminal Terboyo = 55,000 Rp dibagi 6 orang

Menurut perkiraan, waktu tempuh dari Semarang ke Surabaya memakan waktu sekitar 8-11 jam, sudah termasuk macet. Karenanya kami putuskan menumpang bus kelas ekonomi AC, dengan harapan perjalanan kali ini bakal terasa lebih nyaman.

Agen bus Terminal SemarangBerdasarkan informasi, bus yang bakal kami tumpangi ternyata masih beberapa jam lagi baru akan masuk Terminal Terboyo. Diperkirakan sekitar pukul 13.30 siang. Saat ini masih pukul 08.45 pagi. Lumayan lama juga. Untungnya kantor agen bus ini kosong, jadi bisa dimanfaatkan untuk istirahat sementara, sambil men-charge handphone masing-masing.

Bus ekonomi AC: Terminal Terboyo, Semarang – Terminal Purabaya, Surabaya = @65,000 Rp

 

Surabaya (Day 2)

Sekira pukul 21.30 malam kami tiba di Kota Surabaya. Perjalanan sekitar kurang lebih 8 jam ini tak ayal membuat ayam di perut mulai sibuk kukuruyuk. Sambil menunggu jemputan (atau lebih tepatnya, kedatangan) seorang teman, Mugi aka Dwi Wasdiyanto (adik kandung Ubay), kami putuskan makan malam di sekitar Terminal Purabaya, Surabaya.

Soto Ayam, Nasi Rawon, 2 gelas teh tawar, 1 teh botol = 35,000 Rp

Pulsa = 26,000 Rp

45 menit menjelang, sang teman datang. Demi menghemat biaya, satu angkot kami sewa untuk mengantarkan ke rumah kost Mugi di jalan Ketintang no. 54, Surabaya.

Sewa kendaraan (tawar—menawar, wajib):

Terminal Purabaya – Jalan Ketintang 54 = 50,000 Rp dibagi 6 orang

Ternyata angkot terlalu sempit untuk bisa diisi 6 orang plus 6 keril berukuran lumayan besar. Sebagai solusi, Ika terpaksa membonceng Mugi. Gak gampang rupanya mencari-cari jalan Ketintang sendirian (tuan rumah, Mugi, terlanjur ngacir duluan), karenanya kami terpaksa tanya sana-sini.

Sekira setengah jam istirahat, saya dan Ika pamit keluar kost-an. Alibinya sih untuk belanja plus makan malam, padahal aslinya untuk atur strategi. Dikarenakan sesuatu hal yang bersifat bahaya dan rahasia, yang terjadi di luar dugaan kami berdua.

Intinya, besok pagi-pagi benar, saya dan Ika harus sudah keluar dan melanjutkan perjalanan ke Kota Malang.

Cheetos, GreenTea, Roti = 18,500 Rp

Cheetos, Teh Botol = 12,000 Rp

Counterpain, Sikat gigi  = 63,000 Rp

Soto ayam 2 mangkok + 2 teh tawar  = 14,000 Rp

 

Surabaya (Day 3)

Sesuai rencana malam sebelumnya, pagi ini saya dan Ika menyengajakan diri bangun lebih pagi dari kelima teman lain. Setelah mandi dan packing, segera pamitan dengan Tim Cawang.

Kami jalan kaki menuju jalan raya. Di tengah perjalanan gak sengaja nemu warung Pecel Madiun Bu Indah, yang posisinya di sisi kanan jalan Ketintang 1. Karena cukup menggoda, akhirnya kami putuskan untuk sarapan pagi di warung ini.

08.30 – 09.00 – Sarapan di Jalan Ketintang 1

2 piring Pecel Madiun + 2 gelas teh tawar = 15,000 Rp

09.00 – 09.15 – Menuju Stasiun Wonokromo, Surabaya.

Dari selentingan informasi yang pernah saya dengar, lalu lintas di area lumpur Lapindo, Sidoarjo cukup terkenal dengan kemacetannya. Sebagai antisipasi, kami pilih alternatif  moda transportasi: Kereta Api (Listrik?). Kebetulan letak stasiun terdekat hanya sekitar 13-15 menit pejalanan angkot.

Kabar buruknya, seluruh tiket jurusan Malang hari ini sudah ludes terjual. Setelah saya tanya kenapa, rupanya lantaran saat ini penumpang dari Stasiun Wonokromo sudah bisa memesan tiket sejak H-3 hari keberangkatan mereka.

Angkot: Pertigaan Ketintang – Stasiun Wonokromo = @3,000 Rp perjalanan 15 menit

Gak mau buang-buang waktu, akhirnya kami putuskan naik taksi menuju Terminal Purabaya—sambil mampir ke warung Pecel Madiun Bu Indah, untuk mengambil kacamata yang ketinggalan setelah sarapan pagi tadi. Dori gitu loh.

Taksi: Stasiun Wonokromo – Terminal Purabaya = 36,000 Rp

09.50 – Sampai di Terminal Purabaya, Surabaya.

10.00 – Berangkat menuju Terminal Arjosari, Malang

Bus Patas AC: Terminal Purabaya, Surabaya – Terminal Arjosari, Malang = @15,000 Rp

 

Malang (Day 4)

12.08 – Sampai di Terminal Arjosari, Malang

Terminal Arjosari, Malang

Bus Patas AC, plat nomor N 7277 UA, telah mengantarkan kami berdua tiba dengan selamat di Kota Malang. Sambil menunggu kedatangan Fery dari Jakarta, kami putuskan makan siang Bakso Malang gerobakan pinggir jalan. Aroma uapnya terlalu menggoda untuk dilewatkan begitu saja.

TehBotol = 8,000 Rp

Aqua = 4,000 Rp

Bakso Malang 2 mangkok  = 12,000 Rp

Turun di Stasiun Malang, Fery langsung menumpang angkot menuju Terminal Arjosari. Karenanya waktu tunggu kami berdua gak terlalu lama.

Meleset jauh dari rencana semula, ternyata mencari penginapan di sekitar Terminal Arjosari gak segampang yang kami kira. Itulah sebabnya kami bertiga sepakat mencarinya di sekitar Stasiun Malang, Jl. Trunojoyo, sekitaran alun-alun tugu kota.

Sayangnya, rute angkot yang tersedia cuma mentok sampai persimpangan/prapatan Pasar Klojen (Jl. Trunojoyo – Jl. Pattimura). But it’s ok, toh kami tetap bisa memulai pencarian penginapan dari sana.

13.00 – Menuju Klojen

Angkot. Terminal Arjosari = perempatan Klojen = @3,000 Rp

13.20 – Sampai di Hotel Setiabudi, Prapatan Klojen

Di sekitar Klojen pun rupanya jarang penginapan (murah). Sekalinya ada, tampak mukanya gak terlalu meyakinkan. Tapi ini pun masih lebih baik daripada jadi gelandangan di pinggir jalan.

Setelah negosiasi susah-susah gampang, akhirnya kami berhasil mendapatkan kamar VIP, yang semula hanya diperuntukkan bagi dua orang, bisa diisi tiga orang.

Dan, dengan mengucap Bismillahirohmanirrohim, sah! Kami bermalam di sini: Hotel Setia Budi, Jl. Pattimura 71A, Malang. No. Telp.: (0341) 366.478.

Penginapan: VIP Room = 150,000 Rp bertiga

Note:

Dari beberapa hotel yang sebelumnya sudah di-survey Fery, didapati Hotel Setiabudi inilah yang paling murah.

Hotel Setiabudi, prapatan Klojen

Room rate Hotel Setiabudi, Klojen19.30 – 20.40 – Plesiran malam

Suasana di sekitar Hotel Setiabudi malam ini tak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Setelah puas tidur siang tadi plus bersih-bersih, kami putuskan thawaf di sekitar alun-alun Tugu/Bundar Kota Malang sampai Museum Brawijaya, Jalan Ijen—dengan berjalan kaki.

Bakso Solo Kanjeng Doso

Banyak jajanan murah di sekitar perempatan Klojen. Sebagai pemanasan, kami putuskan mencicip bakso Solo, Kanjeng Doso, yang letaknya sekitar 100 meter dari perempatan Klojen—arah stasiun, di seberang jalan, sebelah kanan.

Rasanya lumayan. Baru habis semangkok, mulut pingin nambah. Tapi kantong ogah. Ya, udah.

Taman Kota Malang berbentuk lingkaran, yang posisinya tepat dua blok di seberang-depan stasiun, jadi spot singgah pertama. Suasananya agak remang-remang, kurang lampu penerangan. Agak sepi memang. Tapi masih ada tuh, yang duduk-duduk sendirian. Ada yang pacaran. Ada juga yang cuma bisa nonton doang. Kasihan.

Nah, untuk kalian yang belum tahu, alun-alun tugu ini dahulu dibangun oleh seorang Belanda bernama Thomas Karsten pada tahun 1920.

Kami teruskan perjalanan ke barat tanpa Sun Go Kong. Arah Stadion Gajayana. Melewati kawasan perumahan mewah yang mbuh apa namanya, hingga mentok di pertigaan Jl. Besar Ijen, dekat Museum Brawijaya. Waktu tempuh: satu jam lebih.

Ternyata banyak anak nongkrong di sini.

Mumpung tempat ini lagi happening, kami bertiga ikutan hangout di trotoar jalan bareng mereka. Gak ada getok-getokan harga di sini. Semua jajanan kaki lima masih terjangkau kantong sempit anak muda, juga anak tua.

Kopi 2, Teh manis 1 = 7,000 Rp

For some reason, somehow, malam di kota ini mengingatkan saya pada kenyamanan Jogjakarta. Udaranya sejuk, suasananya pun tenang. Gak terlalu ramai, juga gak terlalu sepi. Kehidupan seakan berjalan lambat di sini. Dan yang paling penting, jajanannya enak, terjangkau kantong cekak. ~Ya, gimana gak terjangkau? Wong jajannya cuma kopi sama teh manis.

Sepertinya saya bakal betah tinggal di kota ini…

Dan, PR terbesarnya sekarang adalah… balik ke hotel, jalan kaki. T_T

22.00 – Trekking kembali menuju penginapan

24.00 – Alun-alun tugu Bundar Kota Malang

Bunga Teratai di kolam alun-alun Kota Malang

Sesampainya di alun-alun tugu, depan Gedung Balaikota Malang, kami dapat kejutan. Bunga-bunga teratai yang 2 jam tadi masih kuncup, kini mengembang bermekaran.

Buat kalian yang belum tau. CMIIW. Bunga teratai yang ada di kolam ini termasuk dalam family Nymphaeaceae, dan cukup populer sebagai tanaman hias akuarium atau kolam. Sebutan resminya sih; White Lotus, atau Tiger Lotus, atau White Water Lily.

01.00 – Kejutan kedua

Urban trekking malam ini lumayan bikin lemes badan. Sampe-sampe, cacing-cacing dalam perut saya ikut kelelahan. Sebelum mereka meninggal semua, kayaknya, pecel lele di ujung sana, enak juga.

Pecel Lele = @15,000 Rp

Sampai di penginapan, ternyata ada kejutan kedua. Entah bercanda atau gimana, gak satu pun lampu penginapan yang masih menyala. Pintu hotel tertutup. Pintu pager dikunci.

Nangis bareng enak kayaknya.

Seumur-umur nginep di hotel, belum pernah sekali pun ngerasain jadi anak tiri macem gini.

Sebagai anak yang tangkas dan juga pemberani, kalo gak bisa masuk lewat pintu depan, kan masih ada pintu belakang. Karenanya, saya coba menelusuri sekeliling bangunan penginapan, mencari-cari celah untuk bisa masuk ke dalam. Masak udah bayar, tidur di luar.

Petualangan dimulai dari gang samping, terus ke belakang, dan kembali lagi ke depan. Semoga gak ada yang neriakin ‘Maling!’.

Hasilnya: gagal.

Pilihan terakhir sekarang adalah menelpon nomor resepsionis hotel. Sukur-sukur belum pada tidur. Alhamdulillah, diangkat. Kami bertiga diarahkan masuk lewat pintu belakang.

Saat itu penjaga malam beralasan, waktu kami pergi gak ada pemberitahuan. Ya, maap. Kita kan gak you know. Wong resepsionisnya aja gak bilang, kalo keluar malem mesti laporan.

 

Malang (Day 5)

06.30 – 08.00 – Bangun pagi sekaligus packing

Sambil ngantri kamar mandi, kegiatan pagi ini kami isi dengan re-packing. Sementara pengganjal perutnya: segelas teh hangat ditemani sepotong roti—diantar ke kamar oleh karyawati hotel tugas pagi. Cukup lah untuk sekedar menghangatkan badan setelah semalaman diterjang 16 derajat dinginnya AC penginapan.

08.00 – 09.30 – Sarapan di Pasar Klojen, Malang

Roti hiburan barusan belum bikin perut kenyang. Kami harus keluar penginapan cari sarapan tambahan.

Hmm… kota Malang pagi ini ternyata lumayan sejuk. Kabar baiknya lagi, Pasar Klojen dekat-dekat sini. Masak iya gak ada pedagang makanan di sekitar sana.

Nah, kan! Di seberang jalan sana ada warung makan. “Kita ke sana.”

“Eh! Tunggu dulu, Bem!”

“Kenapa lagi?”

“Ini lucu. Potoin, potoin.” Kata Ika waktu melewati sebuah VW Kodok kuning terparkir nganggur di pinggir jalan, gak lama setelah nyebrang.

“Siyaaap!!!” seraya hormat bendera.

Warung Nasi Rawon interlokal, di Pasar Klojen

Warung nasi rawon ini terasa sempit. Dindingnya terbuat dari bambu, dilengkapi dengan 2 buah meja lipat, 1 kursi warteg panjang, dan 4 kursi plastik abu-abu.

Dan yang paling menggoda… warung ini juga menyebarkan aroma kue yang begitu semerbak tiada duanya. Kue-tek.

Saya refleks gak percaya diri, mengendus-endus ketek sendiri. Masak badan gue bau gini, kan baru mandi… Alhamdulillah, salah.

Saya lihat reaksi Fery, biasa aja. Kayak gak ada apa-apa. Hmm… layak jadi tersangka…

Begitu Ika kelar mengklarifikasi badan sendiri, rupanya kami berbagi kecurigaan yang sama: pasti Fery nih biang keladinya.

Target endus berikutnya, siapa lagi kalo bukan Fery. Dan kesimpulannya… kita bertiga baik-baik aja. Sori ya, Fer. ~sungkem

Terus, bau ini datang dari mana? Bathin saya.

Jangan-jangan, bude-bude yang datang duluan itu… hmm…

“Ka! Kita nyebrang ke pasar dulu yok! Cari logistik. Biar Peri yang tunggu sini,” ajak saya.

“Ayok!” sambut Ika, semangat.

Sadar kalo dirinya sengaja diumpanin, Fery cuma bisa mendesis ‘taaiiii…’. Pingin teriak, doi gak enak sama Bude Kue.

Kue camilan = 8,000 Rp

Jahe = 5,000 Rp

Sandal Jepit = 15,000 Rp

Rawon 3 piring + Peyek 1 = 22,500 Rp

Selesai sarapan Rawon ‘Kue’, kami kembali ke hotel/penginapan untuk persiapan checkout dan meneruskan perjalanan ke Pasar Tumpang.

11.00 – Checkout Hotel Setiabudi

Persediaan uang cash makin menipis. Harus cari mesin ATM untuk isi ulang. Problemnya, gak ada ATM Mandiri di sekitar Pasar Klojen, jadi mau gak mau kami harus trekking cukup jauh sampai ke Rumah Sakit Umum Lavalette di Jl. Wage Rudolf Supratman.

11.30 – 12.00 – Menuju Terminal Arjosari

Angkot: ADL/AG. RSU Lavalette – Terminal Arjosari = @3,000 Rp

12.05 – 12.55 – Menuju Pasar Tumpang

Angkot: Terminal Arjosari – Pasar Tumpang. =  @6,000 Rp

Sesampainya di Pasar Tumpang, tak terlihat satu pun tanda-tanda adanya pendaki lain. Baik yang akan naik atau yang baru turun. Sambil menunggu kedatangan Jeep ke Ranu Pani (kadang juga ditulis Ranu Pane) kami belanja logistik di mini market terdekat—persis di seberang Pasar Tumpang.

Sekian lama menunggu, tak satu pun jeep yang terlihat. Perut mulai keroncongan. Kami putuskan tetap menunggu sambil makan siang, sementara hati berharap-harap cemas gak karuan.

13.39 – Makan siang di Pasar Tumpang

Nasi, Orek TempeTahu, Tempe = 5,000 Rp

Nasi, Ayam, Oseng Tahu = 5,000 Rp

Nasi, Telor, Tempe = 5,000 Rp

Teh Manis 3 gelas = 3,000 Rp

Selesai makan siang, jeep yang diharapkan, belum juga datang. Alamat, nih…

14.05 – Membuat surat sehat di UGD Puskesmas Tumpang

UGD Puskesmas Pasar Tumpang

Mumpung masih di sekitaran Pasar Tumpang, sambil menunggu (sekali lagi) kemungkinan jeep bakal datang, kami mampir sejenak ke pusat kesehatan terdekat: Puskesmas Tumpang. Tujuannya untuk membuat Surat Sehat. Bekal mendaki sore nanti. Atau apes-apesnya… esok hari.

Surat sehat = @5,000 Rp

Bagi kalian yang berencana mendaki Gunung Semeru, ada informasi nih dari petugas puskesmas Tumpang: bahwasanya pelayanan pembuatan surat sehat hanya dilayani sampai jam 21.00 setiap harinya. Namun demikian, layanan gawat darurat tetap 24 jam.

15.23 – Telat datang

Fixed! Kami kesiangan datang. Karena jeep yang hendak kami tumpangi tidak ada, maka diputuskanlah untuk sementara numpang menginap di rumah Cak Nu (Rusenu)—yang kemudian diketahui beralamat di Gang Flamboyan III, Tumpang.  Sementara perjalanan ke Ranu Pani terpaksa diundur sampai esok hari.

Angkot: Pasar Tumpang – Gang Flamboyan III = @3,000 Rp

By the way, mumpung temanya Ranu Pani. Sebagai tambahan informasi aja, nih. Kalau kalian search kata kunci “Jakarta ke Ranu Pani” di mesin pencari Google, kedua titik ini terpaut jarak sekitar 894.3 km. Sedangkan waktu tempuh  yang dibutuhkan untuk berkendara sejauh itu memakan waktu sekitar 11 jam 47 menit, lewat Jalan Tol Salatiga – Kertosono.

Tersesat mencari rumah Cak Rusenu

Ide numpang bermalam di rumah Cak Nu ini aslinya dari Fery. Dulu, entah kapan tau, masih dalam rangka pendakian Semeru, pernah satu kali dia numpang menginap di sana.

“Banyak kok pendaki yang sering nginep di rumah die,” kata Fery dalam logat Betawi. Dan sebagai anak bawang, tugas saya sama Ika cuma mengiyakan saja.

Kami naik angkot ke arah sebaliknnya (arah Terminal Arjosari). Lewat beberapa menit, pak supir dapet kode. “Kiri, Pak!” teriak Fery.

“Deket, yak. Gue kirain jauh.”

“Iye. Kalo gak salah.”

LAHHH!!?

Fery celingak-celinguk coba mengais-ngais alamat Cak Rusenu bertahun-tahun lalu dari ingatannya. Sial, gak ketemu. Gak kehabisan akal, dia tanya-tanya warga sekitar. Alhamdulillah, gak ada yang tau.

Gak mau putus asa, ditelurusinya sisi jalan raya tempat kami berhenti, gang demi gang. Tak disangka, informasi pasti perihal kediaman Cak Nu justru didapat dari salah seorang pengendara motor fans Aremania. “Oh, rumahnya di sana,” seraya menuding jauh entah ke mana. “Ayo, saya anter.”

Yang luar biasa dari teman Aremania ini, begitu tau kami bertiga, diajaknya satu orang temannya yang pada saat itu entah sedang ada di mana, untuk bantu mengantar. “Sebentar ya, Mas. Saya panggil temen saya satu lagi. Biar motornya pas,” katanya.

Suwun, sekaligus salute untuk arek-arek Aremania.

15.40 – Sampai di rumah Cak Rusenu

Perasaan yang pertama muncul saat sampai di rumah Cak Nu: awkward. Belum pernah saya numpang menginap tanpa ijin terlebih dahulu di rumah orang yang belum pernah saya kenal. Saya yakin, perasaan tuan rumah pun mutual. Tapi, apa boleh buat. Demi bertahan hidup sehari lagi, kami mesti menikmati kehinaan ini.

Dirumah Cak Nu

Kami dipersilahkan menempati kamar tengah paling depan yang lebih mirip gudang. Gelap dan pengap. Tapi gak papa. Ini pun masih mendingan daripada tidur di jalanan.

Matras saya gelar. Sambil tidur-tiduran dengan mata menerawang, kami mulai sibuk berbalas ghibah tentang kehinaan malam ini.

Dari meja makan, di luar kamar sana, irama piring dan sendok gak henti-hentinya saling beradu. Di kuping terdengar merdu. Mengingatkan saya, kalau kami bertiga sedang kelaparan.

“Kok kita gak diajak makan, ya?” celetuk Ika.

MENURUT NGANAAAA!!!?

20.00 – Makan Malam di seberang Gang Flamboyan III

Warung Mbah Kumis depan Gg Flamboyan 3

Mimpi makan gratis malam ini melayang. Terpaksa, harus cari makan di luaran. Beruntung, tak jauh dari rumah Cak Nu, tepat di seberang gang Flamboyan III, ada warung Mbah Kumis—yang sudah berdagang di tempat yang sama bertahun-tahun lamanya.

Nasi Goreng 1

Nasi Rawon 2

Tempe, Mendoan, Telor dadar

Total  = 27,500 Rp

Selesai makan malam, kami kembali ke rumah Cak Rusenu. Sementara yang lain kelelahan, tinggal saya sendiri yang menonton TV. Sudah seperti rumah sendiri di sini. Tapi dalam hati, saya tetap merasa gelisah, tersangkut perasaan gak enak sama tuan rumah.

Kabarnya, rumah ini sering digunakan menginap sementara oleh para pendaki Gunung Semeru yang kemalaman sampai di Tumpang. Seperti base camp tidak resminya pendaki-pendaki Semeru. Mungkin poin inilah yang membuat gelisah saya sedikit berkurang.

Malam ini saya dapat teman mengobrol baru, Pak Yanto Bathok namanya. Dari pembukaan obrolan dengannya, saya mengetahui kalau ia memiliki banyak channel mobil sewaan di sekitar Malang dan Banyuwangi. Kalau butuh kendaraan sewaan, kalian bisa menghubunginya di nomor 0816.451.8847.

Selain itu, pak Yanto juga biasa membawa tamu asing ke Gunung Agung dengan biaya USD200, atau ke Gunung Semeru dengan biaya USD100. “Sampeyan tau Indra Azwan? Si Pencari Keadilan yang jalan kaki keliling Indonesia. Itu teman saya,” katanya, penuh bangga.

Dari obrolan dengan pak Yanto, saya juga mendapati informasi, bahwasanya seminggu yang lalu ada yang tenggelam di Danau Ranu Regulo. Namanya Ukasyah (20), mahasiswa asal Malang. Peristiwa tersebut terjadi ketika korban iseng hendak berenang menyebrangi danau. Tapi belum sampai di tengah, tiba-tiba saja tenggelam.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Kepada Pak yanto, saya pamit undur diri. [BEM]

Bersambung: Ranu Pani ==> Pendakian Semeru