Perjalanan Panjang

Dari wacana menjadi nyata. Begitulah kira-kira asal mula perjalanan ini bisa terlaksana. Perjalanan pendakian terpanjang yang baru kali ini saya alami. Pendakian yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk memulainya setelah lepas dari Jakarta. Pendakian Gunung Semeru di Kota Malang, here I come!!!

Tapi tunggu dulu…

Dikarenakan catatan perjalanan menuju pendakian Gunung Semeru ini ternyata cukup panjang, mau-tidak mau-harus mau, saya membaginya dalam tiga artikel terpisah, dimana ketiganya masih dalam satu kesatuan yang utuh; pertama – tentang perjalanan mencapai Kota Malang (artikel ini,) kedua – tentang perjalanan menuju Ranu Pani, dan ketiga – tentang suka duka selama berada di Gunung Semeru. Semoga menghibur …😀

Kembali ke cerita semula…

Mengantri selama dua malam tidak juga membuat kesempatan menghampiri. Tiket kereta api menuju Malang tandas dalam waktu singkat. Tidak menyisakan ruang sama sekali untuk saya dan enam teman lainnya.

Harapan selalu berujung ketidak pastian bila bicara tiket Kereta Api. Dan pada akhirnya hanya akan membuat perjalanan ini semakin panjang. Hilang kesempatan bukan berarti patah arang. Tiket kereta api ke Malang tidak didapat, tujuan Semarang pun akhirnya menjadi pilihan.

KA Tawang. Stasiun Senen,Jakarta – Stasiun Poncol, Semarang = 33,500 Rp

Pukul 19.30 tepat KA Tawang berhenti di Stasiun Senen, Jakarta. Sebentar bongkar muat penumpang, kemudian kembali jalan.

Entah karena apa, perjalanan kereta kali ini terasa lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Ajaibnya lagi tidak berhenti disetiap stasiun seperti biasanya. Lajunya pun tidak jauh berbeda dibandingkan kereta api kelas bisnis.

Semarang

Warung soto ayam didepan stasiun poncol

 

Perjalanan kereta api berjam-jam dari Jakarta ke Semarang membuat cacing-cacing dalam perut saya dalam siaga penuh pagi ini. Membutuhkan semangkuk soto ayam panas plus teh manis panas untuk membuat mereka bungkam. Warung soto didepan stasiun pun menjadi sasaran empuk serdadu cacing saya.

Soto Ayam = 6,000 Rp

Teh manis panas = 1,500 Rp

Total = 0 Rp

Pasti anda bertanya-tanya, bagaimana bisa hasil penjumlahan diatas bernilai nol? Hitungan matematika standar tentu tidak bisa menjawab logika ini, tetapi matematika social dapat menjawabnya dengan mudah.

Tim saya terdiri dari tiga orang, Ika, Ferry, dan saya sendiri. Di loket pembelian tiket kereta, kami bertemu dengan tim lain, Taufan, Ubay, Ilham (adik kandung Taufan), dan Panjang, yang juga memiliki tujuan serupa. Semeru.

Perkenalan singkat dengan mereka menggenapkan jumlah kami menjadi 6 orang. Diatas kereta, beberapa dari kami bertemu dan mengobrol dengan penumpang lain yang mengalami kejadian serupa seperti kami. Kehabisan tiket.

Bagaimana? Sudah melihat polanya? Belum? Ok, long story short, nilai nol tersebut berasal dari penumpang ini, Bang Doni namanya. Dari obrolan diatas kereta, mulai dari Jakarta hingga Semarang membuat beberapa teman seketika akrab dengan Bang Doni. Dan berangkat dari sinilah, Bang Doni akhirnya bersuka cita men-traktir kami semua. “Entertainment” murah untuk seorang parlente macam dirinya tentu.

Delapan variasi menu sarapan gratis kami lahap habis. Sekarang waktunya berpisah.

Karena sulit mencari bus yang langsung ke Surabaya dari sekitar Stasiun Poncol, Semarang, maka kami putuskan untuk mencarinya di Terminal Terboyo, Semarang.

Sewa angkot. Stasiun Poncol – Terminal Terboyo = 55,000 Rp dibagi 6 orang

Dikarenakan jarak antara Semarang dengan Surabaya memakan waktu sekitar delapan hingga sebelas jam, maka kami memutuskan untuk menggunakan bus ekonomi AC, dengan harapan perjalanan berikutnya akan terasa lebih nyaman.

Agen bus Terminal Semarang

Bus yang ditunggu ternyata masih beberapa jam lagi sampai di Terminal Terboyo. Sekitar pukul 13.30 siang. Waktu tunggu yang tidak kami sia-siakan begitu saja. Kantor agen bus tempat kami membeli tiket pun akhirnya menjadi markas transit temporer mulai pukul 08.45 pagi ini. Charge handphone, mendengarkan musik plus selingan istirahat sekedarnya untuk melepas penat setelah perjalanan panjang pagi tadi.

Bus ekonomi AC. Terminal Terboyo, Semarang – Terminal Purabaya, Surabaya = @65,000 Rp

Surabaya – hari pertama

Sekitar pukul 21.30 kami sampai di Kota Surabaya. Perjalanan delapan jam ini kembali membuat cacing-cacing dalam perut berkicau garang. Sambil menunggu seorang teman (Mugi aka Dwi Wasdiyanto___adik kandung Ubay) menjemput, sambil pula kami makan malam disekitar Terminal Purabaya, Surabaya.

Soto Ayam, Nasi Rawon, 2 gelas teh tawar, 1 teh botol = 35,000 Rp

Pulsa = 26,000 Rp

Sekitar 45 menit kemudian sang teman datang. Bayar makanan, sewa kendaraan, bergegas menuju rumah kost Mugi dijalan Ketintang no. 54, Surabaya. Sistem pembayarannya? Tawar menawar pastinya.

Sewa kendaraan. Terminal Purabaya – Jalan Ketintang 54 = 50,000 Rp dibagi 6 orang

Karena tidak mungkin dimuati enam orang plus keril yang lumayan besar, Ika membonceng Mugi menuju rumah kost. Walaupun sempat kesulitan mencari rumah kost Mugi, setelah Tanya sana-sini, akhirnya rumah kost tersebut kami temukan. Meletakkan keril, sejenak beristirahat, kemudian pergi belanja sambil makan malam.

Cheetos, GreenTea, Roti = 18,500 Rp

Cheetos, TehBotol = 12,000 Rp

Counterpain, Sikat gigi  = 63,000 Rp

Soto ayam 2 mangkok + 2 teh tawar  = 14,000 Rp

Sekembalinya ke kamar kost. Asap rokok telah memenuhi tugasnya menyelimuti kamar. Dari tujuh orang penghuni sementara kamar kost ini, hanya saya dan Ika yang tidak merokok. Pusing dan sesak jadi santapan kami berdua, karenanya saya putuskan untuk segera hengkang menuju Kota Malang keesokan paginya.

Surabaya – hari kedua

Pagi ini saya dan Ika bangun lebih cepat dari kelima teman lainnya. Mandi, packing, kemudian berpisah dengan tim Taufan.

08.30 – 09.00    Sarapan di Jalan Ketintang 1

Dalam perjalanan kaki menuju jalan raya, kami menemukan warung Pecel Madiun Bu Indah di sisi kanan jalan Ketintang 1. Karena cukup menggoda, akhirnya kami putuskan untuk mampir sarapan pagi terlebih dahulu diwarung ini.

2 piring Pecel Madiun + 2 gelas tehtawar = 15,000 Rp

09.00 – 09.15    Menuju Stasiun Wonokromo, Surabaya.

Untuk menghindari kemacetan yang mungkin terjadi di jalur lumpur Lapindo Sidoarjo, maka kami mencoba peruntungan dengan mencari tiket kereta api jurusan Malang distasiun terdekat. Namun ternyata semua tiket telah habis terjual. Dan dari informasi yang kami dapatkan, untuk menuju Malang, penumpang dari Stasiun Wonokromo bisa memesan tiket mulai dari H-3. Dan inilah alasan kenapa kami tidak kebagian tiket menuju Malang.

Angkot, Pertigaan Ketintang – Stasiun Wonokromo = @3,000 Rp perjalanan 15 menit

Tidak mau membuang-buang waktu, akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi menuju Terminal Purabaya, dengan terlebih dahulu kembali ke warung Pecel Madiun Bu Indah, untuk mengambil kacamata yang tertinggal setelah sarapan pagi tadi.

Taksi. Stasiun Wonokromo – Terminal Purabaya = 36,000 Rp

09.50    Sampai di Terminal Purabaya, Surabaya.

10.00    Berangkat menuju Terminal Arjosari, Malang

Bus Patas AC.  Terminal Purabaya, Surabaya – Terminal Arjosari, Malang = @15,000 Rp

Malang – hari pertama

12.08    Sampai di Terminal Arjosari, Malang.

Terminal Arjosari, Malang

Bus Patas AC ber-plat N 7277 UA telah mengantarkan saya dan Ika tiba dengan selamat di Kota Malang. Sambil menunggu kedatangan satu orang teman kami Ferry, ritual mengisi perut harus segera dilaksanakan demi menenangkan perut yang sudah keroncongan ini. Celingak sana celinguk sini, akhirnya kami menemukan seonggok gerobak Bakso Malang yang dari aromanya memancarkan cita rasa yang luar biasa. “Baksonya dua bang!” … tak lama kemudian, mangkok bakso pun punai ditangan dan akhirnya tandas diperut.

TehBotol = 8,000 Rp

Aqua = 4,000 Rp

Bakso Malang 2 mangkok  = 12,000 Rp

Selesai makan, kami menunggu Fery datang dari Stasiun Malang untuk kemudian bergabung. Mencoba mencari penginapan disekitar Terminal Arjosari, Malang tidak semudah perkiraan kami sebelumnya. Seperti pohon buah yang sedang meranggas, tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya kami bertiga sepakat mencarinya di sekitar stasiun Malang, dekat dengan alun-alun. Tepatnya di sekitar perempatan Klojen.

13.00    Menuju Klojen

Angkot. Terminal Arjosari = perempatan Klojen = @3,000 Rp

14.00    Sampai di Hotel Setiabudi, Prapatan Klojen

Hotel Setiabudi, prapatan Klojen

Dari beberapa hotel yang sebelumnya telah disurvey oleh Fery, didapati Hotel Setiabudi yang paling murah, karenanya kami memutuskan untuk menginap di hotel ini. Setelah negosiasi akhirnya kami berhasil memenangkan tawar-menawar kamar yang tadinya hanya untuk dua orang, menjadi tiga orang. Kamar VIP.

Room rate Hotel Setiabudi, Klojen

Menginap di Hotel Setiabudi. Jalan Pattimura 71A, Malang. 0341-366.478 = 150,000 Rp bertiga

19.30 – 20.40    Plesiran malam menuju Alun-alun Kota Malang hingga Musium Brawijaya, Jalan Ijen.

Suasana disekitar Hotel Setiabudi malam itu  tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Setelah puas tidur siang tadi plus bersih-bersih kami memutuskan untuk menjelajahi Kota Malang dengan berjalan kaki.

Bakso Solo Kanjeng Doso

Banyak jajanan murah disekitar perempatan Klojen. Dan sebagai pemanasan, kami putuskan untuk mencoba Bakso Solo Kanjeng Doso yang letaknya sekitar 100 meter dari perempatan Klojen, kearah stasiun disebelah kanan.

Hilangnya tenaga siang tadi lenyap sudah diganjal jajanan murah Kota Malang. Jelajah alun-alun Kota Malang pun siap dilaksanakan.

Beberapa kesan yang saya tangkap sekilas tentang kota ini adalah, jajanan murah dan enak, kenyamanan Kota Jogjakarta terasa disini, tidak terlalu ramai juga tidak terlalu sepi, ramah, dan sepertinya kehidupan berjalan lambat dikota ini.

Tak terasa, jalan-jalan malam kami sudah satu jam lebih lamanya. Taman kota, stadion, kawasan perumahan mewah, dan kami pun sampai di Jalan Ijen. Kawasan yang cukup populer sebagai tempat nongkrong. Salah saru lokasi hang out –nya anak-anak muda Kota Malang.

Jajan di tempat tongkrongan seperti ini di Kota Malang, jangan takut harga anda akan di getok, bukan tipikal mereka melakukan hal itu. Dan ini adalah salah satu alasan kenapa saya merasa betah berada dikota ini walaupun baru sehari.

Kopi 2, Teh manis 1 =    7,000 Rp

22.00 – Trekking kembali menuju penginapan

Setelah dirasa cukup puas, akhirnya kami memutuskan untuk kembali kehotel. Membayangkan satu jam perjalanan dari hotel hingga Jalan Ijen, sungguh sebuah Pe-eR besar untuk kembali lagi kehotel dengan berjalan kaki malam ini … @,@.

24.00 –Alun-alun Kota Malang.

Bunga Teratai di kolam alun-alun Kota Malang

Sampai di alun-alun Kota Malang, depan Gedung Balaikota Malang, saya cukup surprise dengan bunga-bunga Teratai yang bermekaran di kolam taman, padahal bunga-bunga tersebut masih kuncup ketika saya lewat kolam ini sebelumnya. Berfoto sejenak, kemudian melanjutkan berjalan kaki menuju penginapan.

01.00    Jajan Pecel Lele

Urban trekking malam ini ternyata cukup menguras kesabaran cacing-cacing dalam perut saya. Saya pun tidak dapat berbuat banyak selain membahagiakan mereka dengan sebungkus Pecel Lele hangat. Karena bisa dipastikan, kebahagiaan mereka adalah juga kebahagian saya. Eehehe.

Pecel Lele = 15,000 Rp

Sampai di penginapan kami mendapatkan door prize yang luar biasa diluar perkiraan. Luar biasa gaya bercanda hotel ini. Tidak ada satupun lampu penginapan yang masih menyala!!!. Pintu pagar dan pintu hotel pun terkunci rapat. @,@

Sungguh sesuatu yang “sesuatu banget”. Seumur-umur menjadi customer hotel, dimanapun itu, baru kali ini saya dipaksa merasakan jabatan seorang hansip. Karena tidak bisa masuk kedalam sama artinya dengan berjaga diluar. Sebuah tugas strategis seorang hansip. Dimanapun diseluruh Indonesia.

Tidak bisa masuk lewat pintu depan, bukan berarti putus asa. Kemudian saya menelusuri sekeliling bangunan hotel tersebut, mencari sedikit celah untuk bisa masuk kedalamnya. Dimulai dari samping, terus kebelakang, dan kemudian kembali lagi kearah depan. Dan entah mengapa, saat ini saya merasa lebih seperti maling daripada hansip. Glekkk…

Beberapa usaha yang saya lakukan untuk bisa masuk gagal. Pilihan terakhirnya sekarang adalah menelpon petugas hotel. Dan untunglah usaha terakhir ini membuahkan hasil.

Singkat cerita, akhirnya saya berhasil masuk, tapi melalui pintu belakang hotel. Alasan penjaga malam waktu itu adalah karena saya tidak memberitahukan resepsionis perihal keluar hotel malam itu. “Ini hotel atau sekolah taman kanak-kanak, mau keluar harus ijin dulu?”, sungguh hotel yang aneh. Sedikit lomba berkicau dengan petugas hotel, kemudian berlanjut istirahat tidur.

Malang – Hari Kedua

06.30 – 08.00 Bangun dan menikmati pagi di kamar hotel

08.00 – 09.30    Sarapan pagi di Pasar Klojen, Malang

Pagi di Kota Malang cukup sejuk, apalagi ditambah AC bersuhu enam belas derajat celcius yang bekerja secara romusha mulai malam tadi.

Selesai mandi dan packing, sarapan pagi ala kompeni hadir menghiasi kamar hotel kami. Sepotong roti disanding segelas teh hangat. Diantar sendiri oleh noni pribumi berseragam yang bertugas dihotel ini.

Tapi apa mau dikata, pribumi tetaplah pribumi, sarapan pagi ala kompeni tetap tidak bisa merubah mindset cacing-cacing didalam perut saya. Tanpa nasi sama artinya dengan belum sarapan pagi.

Sejalan dengan pemikiran cacing-cacing peliharaan sejak kecil itu, akhirnya saya memutuskan untuk mencari restoran sederhana bertaraf interlokal (ya, bertaraf interlokal bila menyertakan Jakarta sebagai kota asal saya) disekitar Pasar Klojen.

Warung Nasi Rawon interlokal, di Pasar Klojen

Saya langsung jatuh hati dengan restoran mewah bergaya kaki lima diseberang jalan sana. Ruang sempit, dinding bambu, dua buah meja dan kursi memanjang, serta semerbak aroma kue (tek) dari pengunjung lain yang tiba-tiba saja menggerogoti rasa lapar yang tercipta sebelumnya. Dan pada akhirnya merubahnya menjadi rasa kenyang yang teramat sangat @,@.

“Pantang pulang sebelum padam”. Slogan pemadam kebakaran yang tiba-tiba merasuk dipikiran saya akhirnya kembali merubah segalanya. Aroma kue (tek) itu bertransformasi menjadi sebuah batu loncatan untuk meraih perut kenyang yang lebih baik.

Tehniknya sederhana saja, tahan lapar lebih lama sekitar tiga puluh menit-an ___waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk seorang dewasa melahap sepiring makanan plus meminum segelas air putih. Kemudian masuk kembali ke warteg, eh, restoran yang saya idam-idamkan tadi. Aroma kue (tek) telah hilang, pengunjung lain senang, perut pun kenyang. Problem solved.

Kue = 8,000 Rp

Jahe = 5,000 Rp

Sandal Jepit = 15,000 Rp

Rawon 3 piring + Peyek 1 = 22,500 Rp

Selesai sarapan, kami kembali kehotel untuk bersiap-siap checkout dan meneruskan perjalanan ke Pasar Tumpang.

11.00    Checkout Hotel Setiabudi

Uang cash semakin menipis. Sasaran berikutnya adalah mesin ATM. Namun karena tidak ada mesin ATM Mandiri disekitaran Pasar Klojen kami pun harus trekking cukup jauh hingga Rumah Sakit Umum Lavalette di Jalan Wage Rudolf Supratman.

11.30 – 12.00    Menuju Terminal Arjosari

Setelah uang cash ditangan dirasa cukup, maka kami meneruskan perjalanan menuju Terminal Arjosari, Malang.

Angkot ADL/AG. RSU Lavalette – Terminal Arjosari = @3,000 Rp

12.05 – 12.55    Menuju Pasar Tumpang

Angkot. Terminal Arjosari – Pasar Tumpang. =  @6,000 Rp

Sesampainya di Pasar Tumpang, saya tidak melihat adanya pendaki lain, entah yang akan naik, atau yang baru turun. Sambil menunggu Jeep ke Ranu Pani kami belanja logistic dimini market yang berada persis diseberang Pasar Tumpang.

Lama menunggu, perut lapar, dan tak satupun jeep yang terlihat. Akhirnya kami putuskan untuk makan siang sementara berharap-harap cemas.

13.39  Makan siang di Pasar Tumpang

Nasi, Orek TempeTahu, Tempe = 5,000 Rp

Nasi, Ayam, Oseng Tahu = 5,000 Rp

Nasi, Telor, Tempe = 5,000 Rp

TehManis 3 gelas = 3,000 Rp

UGD Puskesmas Pasar Tumpang

Selesai makan siang, namun belum satupun juga jeep yang diharapkan datang. Akhirnya kami putuskan untuk membuat surat sehat terlebih dahulu di Puskesmas Tumpang sementara menunggu Jeep menuju Ranu Pani.

14.05    Membuat surat sehat di UGD Puskesmas Tumpang

Surat sehat = @5,000 Rp

Berdasarkan informasi dari petugas puskesmas, pelayanan pembuatan surat sehat hanya dilayani sampai jam 21.00 setiap harinya, namun layanan gawat darurat tetap 24 jam.

15.23    Karena jeep yang hendak kami tumpangi tidak ada, maka diputuskan untuk menumpang menginap di rumah Cak Nu (Rusenu)  yang berada di Gang Flamboyan III, Tumpang. Dan perjalanan menuju Ranu Pani akan diteruskan esok harinya.

Angkot. Pasar Tumpang – Gang Flamboyan III = @3,000 Rp

Tersesat mencari rumah Cak Rusenu

Ternyata disini kami salah turun. Setelah mencari dan mendapatkan info perihal kediaman Cak Nu, kami dibantu oleh teman-teman aremania yang baru saja kami kenal. Dengan menggunakan 2 motor mereka mengantarkan kami menuju rumah Cak Rusenu.

15.40    Sampai dirumah Cak Rusenu

Perasaan saya pertama kali sampai disini adalah … ANEH. Karena belum pernah saya menumpang menginap sebelumnya tanpa ijin terlebih dahulu atau setidaknya kenal dengan pemilik rumah yang hendak saya tumpangi.

Apa boleh buat. Demi bertahan hidup, saya harus membiasakan diri dengan kemungkinan-kemungkinan yang terpikir pun tidak untuk kemudian menjadi mungkin. Dan dari sinilah sandi operasi perjalanan panjang saya terformulasi, … sebuah sandi bertajuk “Survival”. Sebuah sandi yang akhirnya terbawa-bawa hingga akhir perjalanan kami menjelajahi Jawa Timur dalam waktu dua minggu. Ahhh, sungguh menariknya T_T.

Dirumah Cak Nu

Lepas keril, gelar matras, kemudian istirahat. Sambil berharap-harap cemas mendapat panggilan sayang dari pemilik rumah serupa “ayo dik, pada makan dulu, sudah malam” … sebuah ajakan yang akhirnya menjadi kenyataan, …dalam dunia mimpi kami masing-masing.

20.00    Makan Malam didepan Gang Flamboyan III

Malam sudah menjelang. Mimpi makan gratis pun ikut melayang. Akhirnya dengan berat hati kami bertiga melangkah ke depan gang, berharap ada penjual makanan enak malam hari ini.

Warung Mbah Kumis depan Gg Flamboyan 3

Ah, Tuhan ternyata mengabulkan doa kami, dengan mengirimkan Warung Mbah Kumis___yang sejatinya telah berdagang ditempat yang sama selama bertahun-tahun___ persis didepan Gang Flamboyan III, tempat dimana kami mengadu lapar.

Nasi Goreng 1

Nasi Rawon 2

Tempe, Mendoan, Telor dadar

Total  = 27,500 Rp

Selesai makan malam, kami kembali ke rumah Cak Rusenu. Sementara yang lain kelelahan, tinggal saya sendiri yang menonton TV. Sudah seperti rumah sendiri disini, walaupun saya sebenarnya gelisah, karena tidak terbiasa dengan situasi “survival” macam begini.

Kabarnya rumah ini juga sering digunakan untuk bermalam bagi pendaki-pendaki Gunung Semeru yang kemalaman sampai di Tumpang. Seperti base camp tidak resminya pendaki-pendaki Semeru.

Malam ini saya mendapat teman mengobrol, Pak Yanto Bathok (0816.451.8847). Dari preambule obrolan dengan pak Yanto, saya mengetahui kalau ia memiliki banyak channel mobil sewaan disekitar Malang dan Banyuwangi. Kita bisa menghubungi yang bersangkutan bila membutuhkan kendaraan sewaan.

Pak Yanto biasa membawa tamu asing ke Gunung Agung dengan biaya 200 USD, atau ke Gunung Semeru dengan biaya 100 USD. Ia ternyata adalah teman dari pejalan kaki pencari keadilan dari Malang, Indra Azwan.

Dari obrolan dengan pak Yanto juga, saya mendapati informasi bahwa seminggu yang lalu ada yang tenggelam di Danau Ranu Regulo. Korban yang bernama Ukasyah (20) warga Malang tersebut, mampu berenang ketepi danau sebelah sana, namun ketika mencoba berenang kembali ketepi danau semula, ditengah-tengah danau, ia tiba-tiba tenggelam.

Tak terasa malam sudah menyapa pagi, waktu telah menunjukkan jam dua, saya pamit pada pak Yanto untuk istirahat lebih dulu.

Lalu, bagaimana kami bertiga ber-improvisasi selama kekurangan bahan makanan selama pendakian di Gunung Semeru (baca: “survival”)? Tunggu kisahnya diartikel mendatang. Eh eh eh …😀

To be continued …