Perjalanan mereka bertiga telah memasuki hari kelima. Perjalanan dari Jakarta ke Ranu Pani, yang semestinya hanya makan waktu satu hari itu, molor jadi lima hari. Berbagai macam hambatan tak bosan-bosannya datang. Satu masalah selesai, masalah lain mengganti. Begitu seterusnya. Beruntung, tim kecil ini punya DNA easy going. Sehingga seberat apa pun masalah yang datang, ujung-ujungnya selalu jadi bahan candaan.

Hari ini rencana perjalanan panjang mereka keliling Jawa Timur terancam batal. Biaya transportasi Pasar Tumpang – Ranu Pani mendadak membengkak jadi 5 kali lipat. Bagaimana cara mereka menghadapinya? Akankah pendakian Semeru ini bakal jadi akhir rencana perjalanan panjang mereka?

(Version 2.0 – Updated: July 27, 2017)

***

Malang

Semeru: July 01, 2012

***

 

06.15    “Checkout” rumah Cak Nu — Jalan Panglima Sudirman Gang III, Jeru.

Pagi terlalu cepat datang. Sialnya, lelah perjalanan panjang menuju Tumpang belum juga hilang. Mata ini masih ngantuk berat. Durasi istirahat kami terlalu singkat. Tak ada pilihan, harus dilawan. Pagi ini kami sudah terikat janji dengan Pak Puji.

Di luar sana, sebuah kendaraan 4WD, Toyota Hardtop pick-up warna putih baru saja parkir di pelataran rumah Cak Rusenu. “Ayo, kita berangkat, biar gak terlambat,” seru Pak Puji, sang pengemudi. “Saya udah ada janji, mau jemput orang di Ranu Pani.”

Kami segera berkemas-kemas memenuhi permintaannya. Dalam sekejap, seluruh perabotan lenong lengkap segera berpindah tempat. Dari kamar belakang ke bak belakang kendaraan.

Ika pilih duduk di samping pak supir yang sedang bekerja. Sementara saya dan Fery sengaja pilih berdiri di bak belakang. Niatnya sih biar sekalian bisa liat pemandangan di sepanjang perjalanan nanti.

Setelah chit-chat sebentar dengan Cak Nu, Pak Puji masuk ruang kemudi, “Kita berangkat.”

Ranu Pani, here we come!

Begitu sampai di depan gang, kami baru sadar telah melakukan satu kesalahan fatal – belum sempat berpamitan dengan Cak Nu. Bahkan bilang terima kasih untuk paksaan mabit semalam pun tidak!

Astaghfirullahaladzim, dasar tamu perkutut terkutuk!

Jalan raya Panglima Sudirman yang terletak persis di depan gang rumah Cak Nu terlihat lengang pagi itu. Terbilang, dua kali Pak Puji menyempatkan berhenti. Pada orang-orang (tetangga?) yang dia temui, disempatkannya bertanya, adakah kiranya yang mau sekalian menumpang ke Ranu Pani. Jawaban mereka semua, serupa; “Ndak ada.”

Di tengah perjalanan menuju Pasar Tumpang, perut saya tiba-tiba terasa lapar. Wajar, kami belum sempat sarapan. “Gue laper nih, Dul.”

“Sama. Gue juga,” sahut Fery.

“Kita makan dulu di Tumpang, ntar, yak.” Pilihan berbagai menu sarapan semisal rawon, nasi jagung, pecel kawi, mie ayam, dan bubur ayam, membayang-bayang di pikiran saya. Kalau gak ada, cemilan macam lupis, cenil, getuk, atau putu lanang pun gak papa.

“Sippp!”

 

Pak Puji – pemilik Jeep

Pasar Tumpang sudah kelihatan. 200 meter di depan. Alhamdulillah, akhirnya bisa sarapan juga. Perkiraan saya, ragam pilihan menu sarapan di Pasar Tumpang pasti gak jauh beda dengan pasar-pasar tradisional di Jakarta. Yah, minimal banget, bubur ayam lah.

Begitu sampai di depan Pasar Tumpang…

“Lah!? Hahaha!!!”

Saya dan Fery tertawa pedih.  Pedih sekali. Perkiraan kami meleset. Boro-boro sarapan bubur ayam, mobilnya berhenti juga kagak.

“Gimane nih, Dul?”

“Aaaukkk…”

“Mampus!” #RaupTelek

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Pasar Tumpang merupakan meeting point paling populer di antara mayoritas pendaki Gunung Semeru untuk mencapai Pos Ranu Pani – selain titik kumpul Cemoro Lawang dan Lumajang.

Dan, dari Pasar Tumpang ini, kita mengenal dua metode pemberangkatan yang umum digunakan, yaitu; sistem kolektif, atau sistem sewa.

Kolektif artinya kendaraan 4WD tumpangan (Toyota Land Cruiser lawas atau Hardtop pick-up, Jeep, truk, dan sejenisnya) baru akan berangkat setelah kuota maksimal terpenuhi, yaitu antara 10-15 orang. Tergantung kapasitas kendaraan.

Kelebihan sistem ini, biaya transportasi yang ditanggung masing-masing pendaki jadi lebih murah. Per-orang hanya dikenakan biaya 35,000 rupiah. Namun kekurangannya, waktu keberangkatan sangat ditentukan oleh kedatangan penumpang terakhir atau suka-sukanya supir.

Sebaliknya dengan sistem sewa, kita bisa berangkat kapan saja, suka-suka kita, tanpa perlu menunggu kuota maksimal tercapai.

Namun demikian, sistem sewa ini juga punya kekurangan, yaitu; biaya transportasi otomatis jadi lebih mahal. Sekitar 450,000 rupiah/kendaraan, sekali jalan (rute Pasar Tumpang – Ranu Pani, atau sebaliknya). Ini pun masih dibatasi dengan jumlah maksimal penumpang antara 3-5 orang saja, serta sangat tergantung pada situasi dan kondisi pada saat itu – apakah telah memasuki musim pendakian (ramai), atau belum (sepi).

Sampai di sini, sudah terbayang ya letak ‘mampus’-nya di mana?

Pertama: kami gak sempat sarapan di Pasar Tumpang. Dengan demikian—dan inilah yang menjadi concern utama saya—otomatis kami juga tidak bisa membeli perbekalan minuman dan makanan untuk modal pendakian nanti. Kalau sudah begini, kemungkinan yang akan terjadi berikutnya (di gunung) cuma dua; kalau gak kelaparan, ya jadi gelandangan (baca: minta-minta, terutama beras, sama tetangga).

Kedua: tim kami cuma bertiga, dan mobil yang kami tumpangi tidak berhenti di Pasar Tumpang untuk menunggu dan mengangkut penumpang tambahan. Dengan kondisi seperti ini, jika merujuk pada ilustrasi sebelumnya, maka hampir bisa dipastikan kami bertiga bakal kena sistem sewa—450,000Rp/3 = 150,000Rp/orang. Artinya apa?

Artinya, dengan kondisi keuangan yang sudah sangat cekak begini, begitu sampai di Ranu Pani nanti, bisa dipastikan saya bakal langsung merapat ke barisan Bang Hamdan ATT, bersama orang-orang termiskin di dunia.

Niatnya mau berhemat, malah jadi miskin mendadak. Fak!

***

Suhu udara pagi kota Malang yang dingin, makin terasa dingin seiring peningkatan laju kendaraan. Badan saya jadi rentan vibrate di sepanjang perjalanan. Bulu-bulu gampang meremang. Padahal kebelet pipis juga enggak.

Akses jalan berbukit menuju Ranu Pani ternyata tidak semulus perkiraan saya. Sebagian besar aspalnya telah rusak. Pada beberapa titik bahkan tampak cekung dan bergelombang, tak kuat menahan beban.

Jika ditilik dari kondisi jalan yang kadang terjal kadang curam, maka tak mengherankan kalau kendaraan-kendaraan double gardan banyak digunakan, bahkan menjadi primadona transportasi di wilayah ini.

Kondisi jalan mulai ajrut-ajrutan. Berdiri di bak belakang dengan kecepatan seperti ini membuat saya harus selalu waspada – biar gak njengkang koprol belakang, apalagi sampai terbang ke jalanan. Ngerih.

Di sebelah kiri saya, sekitar 100 meter di bawah sana, amphitheater alam membentang sejauh mata memandang. Seluruh sisi luarnya dikelilingi dinding tebing yang tinggi menjulang. Kaldera Tengger, begitu mereka bilang.

Untuk manusia kota (pinggirannya) macam saya yang sangat terbiasa menyaksikan landscape urban, pemandangan seperti ini terasa sangat menyegarkan mata.

Di tengah-tengah asyiknya menikmati, tiba-tiba sesuatu terjadi. Jeep yang kami tumpangi mendadak menepi ke arah kiri. Semoga bukan mogok atau kehabisan bensin.

“Kenapa, Pak?”

“Nyantai dulu, liat-liat pemandangan,” sahut Pak Puji dengan logat Jawa Timuran. Magic! Rute Pasar Tumpang – Ranu Pani, ternyata punya rest area juga. Sayang, gak ada restoran sama warung kopinya.

“Tempat ini namanya apa, Pak?”

“Ini Bantengan. Lha, di sebelah sana itu, dulu pernah ada kecelakaan.” Pak Puji menunjuk ke arah belakang jauh. Area jalur yang baru saja kami lewati. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, kami bertiga refleks nengok. “Mobil yang mereka tumpangi gak kuat nanjak, akhirnya mundur, nyemplung jurang. Yang mati banyak.”

Ngg-nganu… nganu, Pak. Kalo ceritanya yang gak serem-serem, boleh?

Monggo.” Pak Puji mempersilahkan kami bertiga menikmati alam Bantengan. Dan ketiga anak ayam itu pun menyambutnya dengan riang gumbira. Mereka segera berhamburan, keluar dari kandang.

 

View Bantengan

Saya tidak tahu, apakah ritual berhenti sebentar di area Bantengan seperti ini sudah menjadi bagian dari “SOP tak tertulis” seluruh anggota paguyuban transportasi khusus pendaki Semeru rute Tumpang – Ranu Pani atau tidak. But, to be honest, saya sangat senang dengan bonus break time seperti ini.

Sekarang saya punya dua pilihan. Pertama, menikmati pemandangan. Kedua, mengabadikan momen—saya suka fotografi, dan untuk alasan itu saya ada di sini sekarang.

Omong-omong soal kualitas, tentu gak gampang menikmati salah satunya to the fullest—apalagi menyatukan keduanya di saat bersamaan—dengan batasan waktu sesempit ini.

Hasil akhirnya tentu bisa ditebak, kuantitas waktu juga yang bicara: sight seeing – foto-foto – selesai.

Terus, gimana soal biaya transportasi yang diperkirakan bakal membengkak itu?

Terus terang saya gak tahu. Sialnya lagi, ekspresi kedua teman saya ini kok anteng-anteng aja, ya, seolah gak terjadi apa-apa? Atau jangan-jangan, di tim hore ini cuma gue doang yang kere? Hmm…

“Ayo, kita lanjut lagi.” Ajakan Pak Puji membuyarkan perihnya kemiskinan.

Belum jauh perjalanan kami lakukan, seorang bapak tua, entah penduduk desa mana, menghentikan laju kendaraan. Sebentar negosiasi dengan Pak Puji, dan hap!… lalu ditangkap tiba-tiba saja beliau sudah mengisi kekosongan di bak belakang.

“Mau ke mana, Pak?” tanya saya sok akrab.

“Mau ke pasar,” sahutnya ramah. “Masnya berdua ini dari mana?”

“Kita dari Jakarta, Pak. Bapak sendiri, dari mana?”

“(Asal) saya dari (Desa) Ngadisari.”

“Lha, bapak ke pasar, mau belanja atau apa?”

“Enggak. Ini…” dia meraih kantong ajaibnya, kemudian membukanya agar Fery dan saya bisa melihat isinya. “Mau jual cabe.”

 

Cabai Terong

Saya dan Fery refleks memanjangkan leher. “Ini cabe apaan, Pak?” Seumur-umur, belum pernah saya lihat ada cabe modelnya bantet kayak begini.

“Ini Cabe Terong, Mas. Rasanya lebih pedes dari cabe biasa.”

“Ooo…” saya meraihnya satu. Pingin liat lebih dekat. Siapa tahu bisa lebih akrab. “Bapak nanem sendiri?”

Ndak.

Hooo, brati nyolong, ya? Hayo, ngaku aja. Hayo. Ya – ya – ya… ngaku aja ya.

“Lho? Terus?” sebiji cabai di tangan masih nekat saya amat-amati. Cuma akting, habis bingung mau ngapain.

“Saya dagang, Mas. Beli cabe dari petani di desa sekitar sini, terus saya jual lagi.”

“Ooo…” respon paling gak kreatif. Fakir mikir.

“Monggo, Mas.” Si bapak yang baik hati itu menyodorkan enam biji cabai lagi kepada kami, seiring laju kendaraan yang terasa melambat dan akhirnya benar-benar berhenti. Dia melemparkan pandangan ke arah depan, kemudian ke sekitar. “Sudah sampai. Saya turun di sini.”

“Oh, iya, Pak. Terima kasih!” Heran… tadi katanya mau ke pasar. Lha mana pasarnya? Rumah warga aja kagak ada. Pohon semua… Oke, fine!

Nggih, Mas. Sama-sama.”

 

 

 

Ranu Pani

08.15    Sampai di Pos Ranu Pani

Di luar perkiraan saya sebelumnya, Ranu Pani pagi ini ternyata sudah ramai sekali. Padahal tim pertama yang berangkat dari Pasar Tumpang, baru kami doang. Setidaknya asumsi ini saya ambil dari pengamatan di sepanjang perjalanan tadi, di mana tak satu pun terlihat, orang yang bisa saya curigai sebagai pendaki.

Mungkin mereka datang dari arah Lumajang atau Cemoro Lawang? Who knows.

Atau mungkin, mereka ini orang-orang yang baru selesai mendaki? Bisa jadi.

Sejak memasuki area Pos Ranu Pani (sering juga ditulis Ranu Pane), kedatangan kami tak henti-hentinya disambut pandangan mata tak berjeda dari sebagian besar mereka. Seakan-akan mereka takjub, baru sekali lihat biduan dance-dhut seumur hidup.

Gak papa lah, ya. Kegiatan ngeliatin orang kan bisa jadi hiburan juga.

Pada salah satu titik parkir yang dianggap ideal, Pak Puji menepikan hardtop pick-up putihnya. Persis di depan warung nasi dan gorengan. Alhamdulillah, problem sarapan: solved!

Walau pada akhirnya kami bertiga punya kesempatan untuk sarapan, bukan berarti masalah perbekalan pendakian otomatis selesai begitu saja.

Belanja logistik yang kami bawa dari Jakarta, baru sekitar 25-30%-nya. Sementara kekurangannya masih 70-75%. Demi alasan efisiensi, berdasarkan rencana awal, gap sebesar ini baru akan kami genapi sesampainya di Pasar Tumpang. Rencananya sih begitu. Tapi… kalau ingat kejadian tadi… ya sudah lah, ya.

Pikiran saya tidak tenang. Masalah utama belum selesai. Apalagi ini pun masih ditambah bayang-bayang ongkos per-orang yang kemungkinan bisa membengkak jadi 150,000Rp itu—yang sangat berpotensi memiskinkan saya seketika. Dan sialnya, kedua teman saya ini kelihatannya masih santai-santai saja.

Keril segera kami turunkan dari bak belakang. Bersamaan dengan itu, Pak Puji menghampiri, “Sarapan aja dulu. Saya masih nunggu orang.”

“Oh, iya Pak.” Dia pun pergi menjauh, menghampiri seorang kenalannya.

***

“Eh! Gimane nih?” saya membuka rapat terbatas, sambil harap-harap cemas Fery dan Ika turut berbagi kepedihan yang sedang saya rasakan.

“Iya nih, gw juga bingung,” kata Ika dengan air muka yang seketika berubah getir. Jawaban Fery ternyata serupa, tapi dengan ekspresi yang jauh lebih sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kalo ngeliat, kasihan pokoknya.

“Ya udah, kita makan dulu aja,” ajak saya, bukan main bahagianya. Gak disangka, rupanya diam-diam mereka takut miskin juga. Hahaha…

***

Sambil menunggu pesanan datang, kami kembali berdiskusi guna mencari solusi dari permasalahan yang berpotensi mengancam kesejahteraan bersama ini. Bukan hanya itu saja. Rencana perjalanan Tour de Jawa Timur yang masih menyisakan 9 hari lagi pun bakal terancam buyar.

Dari rumpi paripurna tersebut, terciptalah beberapa skenario alasan yang nantinya, MUNGKIN, bisa digunakan untuk minta keringanan pembayaran sewa kendaraan, seperti:

  • Perjalanan kami masih panjang
  • Kami sudah gak punya uang sama sekali
  • Kami bayar semampunya, kekurangannya dibarter sama push-up
  • Atau, terserah bapak aja dah solusinya gimana. Yang penting, gak bikin kita miskin.

Urusan penyampaiannya bagaimana, dipikirkan nanti saja. Tapi kemungkinan besarnya ya ngarang bebas.

***

Sarapan hampir selesai. Demi lancarnya rencana tipu daya, tentu harus ada korbannya yang rela berkorban. “Jadi, siapa yang ngomong (ke Pak Puji) nih?” tanya saya.

“Elu aja deh, Fer!” samber Ika. Perkara tunjuk-tunjukan, ketangkasannya tidak diragukan.

“Iyeh!” Yang ditunjuk terpaksa manut. Perintah Kanjeng Mami gak boleh dibantah.

“Tenang aje, Dul. Gue temenin.”

Sambil memikirkan kalimat pembuka, saya dan Fery segera menghampiri Pak Puji.

Bismillah…

“Jadi, berapa ongkosnya, Pak?” tanya saya, membuka percakapan. Padahal sesuai perjanjian tadi, harusnya ini jatah Fery.

Pak Puji tidak langsung menjawab. Dia membuang pandangan dengan tatap menerawang. Saat ini dia cuma punya dua pilihan: mengedepankan kalkulasi untung-rugi, atau mendengarkan apa kata hati nurani. Pikirannya menimbang. Hatinya berperang. Dia bingung menentukan jawaban.

Delay jawabannya terasa lama, dan itu bikin Fery dan saya jadi deg-degan betulan. Damn!

“Jadi, begini…” dalam sekilas, Pak Puji menyapukan pandangannya ke arah Fery dan saya. Kemudian menjatuhkannya ke tanah, seakan sedang mengheningkan cipta. Sepi itu pun datang lagi.

Subhanallah, nanya ongkos aja rasanya udah kayak nunggu jawaban ‘IYA,’ dari calon pacar tercinta. Tolong Baim, Ya Allah…   

“Karena saya juga sebenarnya ada keperluan menjemput rombongan yang mau turun pagi ini…” jeda, kembali terjadi. “Ya, sudah. Perorangnya saya kenakan biaya 30,000 Rp.”

“Hah! Yang bener, Pak?”

“Iya, bener.”

Alhamdulillah, monster kemiskinan itu akhirnya tumbang juga. Selembar uang 100,000-an cepat-cepat saya serahkan. Khawatir Pak Puji tiba-tiba berubah pikiran. “Terima kasih, Pak!”

Dia merogoh kantongnya untuk mencari kembalian, tapi saya tahan. Uang kembalian yang cuma 10,000 itu gak ada artinya dengan kebaikan yang sudah dia berikan. Ini sekedar simbiosa mutual. Sebagai salam perpisahan, kami perlukan jabat tangan sebelum balik kanan bubar jajan.

Sewa Jeep = (3 x @30,000 Rp) + (bonus 10,000 Rp)

Urusan dengan Pak Puji, yang ternyata anggota tim perlengkapan band Blue Grass, sudah selesai. Sarapan di warung Pak Gareng kami lanjutkan.

Kabarnya warung ini adalah yang termahal dibandingkan warung-warung lain di sekitar Ranu Pani. Saya gak percaya. Tapi, setelah mencicipi sendiri harganya, pendapat saya jadi terbelah dua: antara percaya, dan tidak percaya.

  • Percaya, karena memang terasa mahal untuk ukuran warung pedesaan. Contoh: nasi putih yang semula saya kira cuma 3,000 Rp/bungkus, ternyata harganya 5,000 Rp/bungkus. Efek sampingnya seketika itu juga terasa; leher tiba-tiba kekurangan yodium.
  • Tidak percaya, karena saya belum sempat membuktikan sendiri, sampai semahal apa perbedaan harga di warung ini dibandingkan dengan warung-warung lain di sekitarnya.

Nasi Rawon, Nasi Soto, Nasi Pecel, Tempe 3, Tahu-Pisang 6 = 55,000 Rp

Nasi putih 3 bungkus @5,000 Rp = 15,000 Rp

Well, terlepas dari kabar mahal atau tidaknya harga yang dikutip Pak Gareng, nominalnya masih saya anggap reasonable. Karena biar bagaimana pun area tempatnya berjualan ini bisa dikategorikan masuk ke dalam area wisata komersil. Jadi wajar kalau harganya sedikit mahal. #NgomongAjaLuBauk

Oia. Operator telekomunikasi seperti XL dan Ceria ternyata berjaya di Ranu Pani. Sebaliknya, operator CDMA tercinta saya gak bisa berbuat apa-apa.

 

08.40    Registrasi di pos pendakian.

Perut kenyang, pikiran pun tenang. Waktunya registrasi di pos pendakian.

Sebelum ambil formulir, Fotokopi KTP, plus Surat Keterangan Sehat dari puskesmas Pasar Tumpang kemarin, segera disiapkan. Kami bertiga dapat nomor antrian ke… haduh, saya lupa.

Sebetulnya kurang tepat juga kalau dibilang ‘antrian.’ Karena pada kenyataannya, siapa pun yang duluan menyerahkan formulir isian, merekalah yang bisa langsung jalan duluan. FIFO. First-In, First-Out.

Jadi, walau pun tim kita dapat formulir duluan, tapi kalau anggotanya sampai 15 orang—yang dengan demikian, otomatis memperpanjang daftar isian—tetep aja bakal kalah sama yang dateng belakangan, dengan tim yang isinya cuma 3 orang.

Dari balik kaca, pada kusen jendela, mata saya menangkap sebuah jam-meja digital yang tampak kusam. Di sana tertera, “12.5”. Kelihatannya model statik. Buktinya, pada angka yang menunjukkan menit, dari tadi gak kedip-kedip. Ah, paling jam rusak. Lagian juga, ini kan baru mau jam sembilan.

Sambil menunggu carik kita, Ika, mengisi formulir pendaftaran, saya cari kesibukan dengan jalan-jalan. Sekitar 15 menit kemudian, jam buluk itu kembali menarik perhatian. Kali ini angkanya berubah jadi “13.9”. Anehnya, setelah angka sembilan, kok ada buletan kecil diformat efek superscript, ya? Hmmm…

Di bawah “13.9” tertera angka: “68%”…

Di bawahnya lagi, tertulis: Corona® Thermo-Hygrometer…

Dafuq! Ternyata bukan jam.

Eh! Tunggu dulu…

Kalau jam 08.40 saja suhunya bisa sampai 12.5 derajat celcius, lah berarti dalam perjalanan di bak belakang tadi pagi, yang dinginnya alaihumgambreng sampai ngemil-ngemil tulang, kira-kira berapa derajat, ya? Pantesan tremor sebadan-badan.

 

 

Pos Registrasi Pendakian Ranu Pani

 

Suhu pada Thermometer di Pos Registrasi Ranu Pani

Oh, ya. Selain fotokopi KTP/SIM/Identitas lain dan Surat Keterangan Sehat, jangan lupa, tim kalian harus lebih dari 2 orang (baca: minimal 3 orang).

Kenapa minimal 3 orang?

Tentu saja karena alasan keselamatan. Jadi, in case of, amit-amit, accident, satu orang bisa menemani/menjaga korban. Sementara yang satunya lagi bisa mencari pertolongan dan mempercepat datangnya bala bantuan, karena sudah mengetahui di mana lokasi kejadiannya.

Kalo terlanjur datang berdua, bagaimana?

Tenang. Akan selalu ada yang ketiga. Setan.

Selain itu, ada 2 macam formulir yang harus kalian isi, yaitu; Daftar Logistik dan Surat Pernyataan Pendakian—dibubuhi materai 6000.

Bagi yang tidak membawa Materai 6000, jangan khawatir. Kalian bisa membelinya langsung di Pos Registrasi Ranu Pani. Tapi, mana tahu kehabisan, ada baiknya kalian beli dari rumah atau di perjalanan. Antisipasi aja. Buat jaga-jaga.

Batas waktu maksimal start pendakian adalah pukul 16.00, sementara maksimum pos pendakian yang diijinkan, hanya sampai Kalimati saja.

Jadi, mendaki sampai puncak Mahameru gak boleh?

Boleh. Asal gak ketauan.

Asik dong?

Ngana pikir!

Sedikit tips dari saya; sebaiknya hindarilah membawa barang-barang yang tidak diperlukan. Sesuaikan juga bobotnya dengan kemampuan. Kalau terlanjur bawa banyak barang dan dirasa gak penting, lebih baik dititipin. Bisa dititip di warung-warung sekitar Ranu Pani atau di pos registrasi.

Loh! Bisa ya nitip di pos registrasi?

Berdasarkan pengalaman saya sih, bisa, ya. 10 menit doang, tapi. Karena begitu petugasnya ganti orang, disuruh angkutin lagi tuh, barang-barang. #EmutBakiak

Terus, kalo barang-barang bawaan kita jumlahnya banyak, dan semuanya penting untuk kemaslahatan tim, gimana?

Ya, tetep. Titipin.

Kok dititipin! Kan, penting?

Iya. Dititipin ke temen-temen lain yang masih satu tim. #Selengkat

Ingat! Tenaga kalian gak sekuat kuli pelabuhan. Gak usah gaya-gayaan.

 

Surat ijin = @2,500 Rp

Karcis masuk = @2,500 Rp

Asuransi jiwa = @2,000 Rp

Kamera = 5,000 Rp

Materai = 6,000 Rp

 

[Update per July 27, 2017]

Sejak 4 tahun lalu, atau tepatnya pada July 24, 2013, pihak TNBTS telah menerapkan sistem booking online. Walau terdapat perbedaan dalam proses pendaftaran, namun beberapa hal tetap sama, yaitu; fotokopi identitas diri dan Surat Keterangan Sehat – sebagaimana isi Checklist Persyaratan Pendakian yang saya kutip dari halaman registrasi online INI:

  • Membawa bukti transfer pembayaran dari BANK
  • Menunjukan Bukti Cetak Pembayaran dari Balai Besar TNBTS
  • Membawa Surat Keterangan Sehat dari Dokter
  • Membawa Fotokopy KTP/KTM/Paspor yang masih berlaku
  • Bagi yang belum memiliki KTP, membawa surat ijin dari orang tua/bermaterai dan FotoCopy KTP orang tua

Nominal harga tiket masuk per-orangnya sudah berubah. Saat ini dikenakan biaya sebesar 17,500Rp (hari kerja), atau 22,500Rp (hari libur).

Untuk informasi lebih lanjut, kalian bisa menghubungi langsung Kantor Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di alamat: Jl. Raden Intan No. 6, Kotak Pos 54 – Malang. Fax: 490-885 | Telp: (0341) 491-828

 

09.52    Belanja harta gono-gini

Dalam rangka mewujudkan pemerataan ekonomi kerakyatan, sebelum memulai trekking, tentu gak ada salahnya berbagi rejeki dengan pedagang di sekitar Ranu Pani.

Kupluk 2 buah = @10,000 Rp

Gelang 2 buah = @10,000 Rp

Kaos Merah Semeru = 45,000 Rp

Emblem Semeru = 10,000 Rp

 

10.53    Mulai trekking dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo

Kekurangan logistik pendakian masih di kisaran 70%. Dikurangi sarapan pagi, dan beli bekal 3 bungkus nasi, anggaplah gap tersebut sekarang menyusut jadi 50%. Lumayan. Bekal segini pun cukup, lah. Selebihnya nanti bisa ditutupi lewat doa, atau minta-minta sama tetangga.

Satu jam lagi matahari bakal tepat di ubun-ubun kepala. Suhu udara Ranu Pani sudah tidak senyaman tadi pagi. Saat yang tepat untuk beranjak pergi.

Dari Pos Ranu Pani kami melangkah pelan menapaki jalan aspal ke arah Lumajang. Pada menit ke sepuluh, di sebelah kanan jalan, berdiri sebuah gapura bertuliskan “Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru” berlatar belakang hijau.

 

Mulai trekking menuju Ranu Kumbolo

 

Gapura Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru

Tak ada seorang pun di tempat ini kecuali kami. Jalur pembuka pendakian Semeru yang sepenuhnya tanah, begitu cepat membuat sepatu hitam saya tampak kecoklatan. Debu-debunya gampang beterbangan, menempel di sepatu. Sepatuku kulit lembu. Kudapat dari Ibu. Karena rajin membantu.

Jalur berdebu menanjak 20 derajat itu kami tempuh dalam waktu satu jam. Baru juga mulai, fisik saya langsung kepayahan. Padahal udah dibela-belain jalan pelan-pelan, tapi tetep aja napas saya ngos-ngosan. E’ek banget, dah.

Untungnya setelah itu jalur setapaknya datar semua. Konblok pula. Jadi, untuk sampai Pos I, aku cuma butuh kamu waktu 45 menit saja.

 

12.40    Pos I

Dikarenakan cuaca yang cukup panas, begitu sampai di Pos I kami putuskan istirahat agak panjang. Sekitar 30 menitan. Gak ada gunanya buru-buru juga. Ini kan bukan kompetisi. Jadi, ya, santai aja, kata Kak Rhoma. #RhomaSyndrome

Perjalanan kami lanjutkan pelan-pelan, sambil menikmati alam. Sesuai perjanjian. Mau sampai Rahu Kumbolo malam hari pun gak masalah. Menjaga tenaga, wabil khusus sektor kaki, jauh lebih penting. Apalagi kalau mengingat pendakian ini baru saja dimulai, dan durasinya pun masih beberapa hari lagi.

 

13.48    Pos II

Perjalanan dari Pos I ke Pos II masih relatif mudah. Jalurnya berkontur datar, dengan variasi konblok dan tanah.

Kalau dihitung-hitung, sudah sepuluh pendaki yang lalu lalang selama kami dalam perjalanan. Sebagian baru pulang, sebagian lagi baru datang. Dari yang saya perhatikan, tentengan mereka lumayan beragam. Mulai dari tenda sampai kamera.

Kecuali dua orang yang baru pulang ini. Tentengan mereka lain lagi. Sepedah!

Saya tidak tahu apa motivasi mereka berdua bawa sepeda (BMX) ke sini. Tapi ini menarik – mendaki gunung pakai sepeda. Kejadian yang benar-benar baru sekali ini saya saksikan sendiri. Jangan-jangan sebentar lagi ada yang bawa becak. Hmm, tunggu… kagak… tunggu… kagak…

30 menit sudah kami beristirahat. Sayangnya, becak yang ditunggu, gak lewat-lewat. Is oke lah kalo begitu. Waktunya berangkat.

 

15.22    Pos III

Jalur pendakian dari Pos II sampai Pos III sepenuhnya tanah berdebu. Musim kering seperti ini seringkali bikin debu-debu itu jadi gampang beterbangan. Yang jalan belakangan, biasanya paling sering ketempuhan. Kalau sudah begini, menutup saluran pernapasan pakai tangan, jelas gak mempan. Tangan pun gampang kram kalau kelamaan nahan. Harus pakai masker betulan.

“Ya udah, pake lah.”

“Gak bawa.”

“Kalo gitu, pake sapu tangan atau bandana aja.”

“Gak punya.”

“Yang laennya?”

“Gak ada.”

“Terus mau lu, apa? Berantem aja sinih sama guah!”

Lah!

Kalau debu jalur saja (yang tebalnya gak seberapa), sudah bisa bikin kita sengsara, bagaimana jadinya dengan debu-debu di jalur pasir—yang kabarnya, sangat gembur—di puncak Semeru sana, ya?

Belajar dari pengalaman ini, bagi kalian yang ingin mendaki Gunung Semeru, terutama yang berencana summit attack, tentu tak ada salahnya menambahkan masker ke dalam daftar barang bawaan kalian. Idealnya satu orang bawa tiga. Satu masker utama, satu cadangan, sisanya untuk rebutan jaga-jaga kalau ada yang minta – kan, bisa jadi ladang pahala.

 

Pos III – Makan siang

Hampir tiga setengah jam, kami telat dari jadwal makan siang. Perut saya keroncongan. Perut Fery dan Ika dangdutan.  Harus diredam, sebelum mereka berkolaborasi jadi orkes mematikan.

Sebungkus orek tempe-teri pedas racikan emak tercinta, plus sekilo rendang kering (250,000Rp) buah karya kakaknya Ika, segera saya buka. Tugas Fery, buka bungkus nasi.

Karena nasi bungkus yang dibawa cuma tiga, gak mungkin juga semuanya dibuka. Kami harus berhemat. Satu bungkus untuk tiga mulut, harus cukup. #KempingRasaOspek

Sebagai garnish, orek tempe-teri ditabur di pinggiran kertas minyak. Untuk topping? Ya, suiran rendang kering. Tanpa appetizer, tanpa dessert. Langsung main course.

Bangunan saung Pos III tidak bisa digunakan. Atapnya sudah roboh, jatuh ke tanah. Supaya tidak mengganggu lalu lalang orang, kami pilih makan di lahan lapang, seberang jalur pendakian.

Pada gerombolan rumput empuk, kami duduk. Keril Ika dimodifikasi jadi meja. Makan sama-sama bertiga. Soal nikmat, jangan ditanya. Ajib pokoknya!

“Eh, kok bau pesing, ya?” referring to our locations.

“Masak, sih, Ka?” endus-endus kiri-kanan.

“Iya!”

“Gak papa, lah. Aromatherapy.”

Cuma butuh 30 menit, dan nasi campur lauk sederhana itu pun ludes tak bersisa, kecuali bungkusnya. Agak lama memang. Kan, makannya pelan-pelan. Biar gak dikira kelaperan.

 

Bersiap melanjutkan trekking ke Pos IV

 

16.45    Pos IV

Di kejauhan, danau Ranu Kumbolo sudah kelihatan. Artinya destinasi kami sedikit lagi bakal tercapai. Please, don’t confuse “sedikit lagi” dengan jarak yang sebenarnya. Karena pada kenyataannya, Pos V (Pos Ranu Kumbolo) itu hanya dekat di mata, tapi jauh di kaki.

Jika dihitung dengan perkiraan kasar, dari Pos IV ini, tim hore kami akan butuh waktu sekitar 40-50 menit lagi untuk sampai di lokasi. Dan itu setara dengan waktu yang dibutuhkan untuk keliling stadion utama Senayan dua kali putaran dengan cara mberangkang.

***

Dibandingkan dengan semua jalur yang telah kami lewati sejak dari Ranu Pani, sebagian medan antara Pos III dan Pos IV adalah yang terberat. Jadi, begitu start dari Pos III, kontur jalurnya langsung menanjak antara 35-45 derajat. Jalur mendatar cenderung landai baru akan kita jumpai di paruh terakhir perjalanan menuju Pos IV.

Kabar baiknya, kontur jalur mulai dari Pos IV sampai Pos Ranu Kumbolo, isinya bonus semua. Tak ada jalur menanjak, apalagi terjal. Yang tersisa hanya menurun dan mendatar. Yah, mirip-mirip TTS, lah.

Di sore hari seperti ini, in my opinion, lokasi Pos IV termasuk salah satu spot ideal bagi siapa saja yang senang berlama-lama menikmati alam. Suasananya begitu tenang, dengan sudut pandang yang demikian lapang. Benar-benar tempat yang cocok untuk sejenak melupakan hutang.

 

Pemandangan disekitar Pos IV Semeru

 

Menuju Pos Ranu Kumbolo

 

17.45    Ranu Kumbolo

Akhirnya, sampai juga. Alhamdulillah. Misi, selesai.

Fery dan saya segera mendirikan tenda sambil bertegur sapa dengan para tetangga. Salah satunya, dengan tim guru asal Pasar Tumpang ini. Dibanding dengan tetangga lain, komunikasi dengan teman-teman baru ini terasa lebih akrab. Wajar, kami sudah kenal mereka sejak dari Ranu Pani.

Malam telah menjelang. Undangan api unggun pun datang. “Ke sini dulu, Mas! Ngobrol-ngobrol sambil ngangetin badan.”

“Iya, Mas. Sebentar. Mau beres-beres dulu.”

“Oh! Monggo.”

 

Sore menjelang malam di Ranu Kumbolo

Badan kami terlalu lelah. Kami butuh rebahan barang sebentaran, sekedar untuk memulihkan tenaga yang hilang. Karenanya, ajakan menggiurkan itu sementara ini kami tolak – walau di luar tenda sana, sempat terdengar ada yang teriak “Minus empat!”

Sambil rebahan di dalam tenda, kami bertiga saling berbagi cerita. Cerita yang sebetulnya sama, dengan tiga sudut pandang yang berbeda. Materinya? Semua kenangan terkait perjalanan panjang kami hingga sampai ke tempat ini—dengan titik berat seputaran pendakian barusan.

Walau suhunya sangat dingin, tak bisa ditampik kalau Ranu Kumbolo malam ini terasa asyik. Apalagi ini kali pertama saya datang kemari. Saya benar-benar menikmati.

Semakin malam, obrolan kami semakin tak tentu arah. Setiap materinya mulai terasa hambar, jangan lupa, taburkanlah bumbu-bumbu ghibah. Biar ngobrolnya tambah betah.

“Kita gak makan, nih?”

“Entar aja. Agak maleman.”

“Oh, ya udah.”

Hening…

Masih hening.

Suara gaduh dari luar tenda seketika membangunkan saya. Dalam keadaan setengah sadar, saya teringat kalau kami bertiga belum makan, malam ini. Sialnya, temen yang mau diajak makan malem malah pada merem. Ya sudah kalau begitu. Makan sendiri aja. Mumpung di luar masih terang – api unggunnya belum padam.

Tapi, tunggu dulu.

Hmm…

Bangkek! Udah pagi. [BEM]

 

BERSAMBUNG KE SINI