Artikel ini adalah kelanjutan kisah perjalanan panjang kami mencapai Gunung Semeru di artikel sebelumnya. Supaya teman-teman mendapatkan gambaran detailnya, alangkah baiknya bila teman-teman membaca kisah tersebut terlebih dahulu baru kemudian dilanjutkan dengan membaca artikel ini.

Tapi… bila teman-teman ingin langsung membaca artikel ini pun tidak menjadi masalah, wong itu hak teman-teman sekalian ya tho? Apapun keputusannya semoga artikel ini bisa bermanfaat, sekaligus menghibur teman-teman sekalian, selamat membaca…😀.

 

 

Malang – Semeru: July01, 2012

 

06.15    “Checkout” rumah Cak Nu. Jalan Panglima Sudirman Gang III, Jeru.

Pagi menyapa malam secepat kejapan. Saya, Ika dan Fery harus bekerja keras melawan kantuk dan lelah yang masih tersisa dari berhari perjalanan menuju Tumpang. Begitu Jeep yang dikemudikan pak Puji datang dipelataran rumah Cak Rusenu, layaknya copet beroperasi, gerakan kami tidak menyisakan satupun ruang gerak sia-sia.

Hap! Semua keril kami sudah nangkring di bak belakang Jeep pak Puji.

Namun saking cepatnya gerakan kami bertiga, tak satupun dari kami yang terpikir untuk pamit kepada Cak Nu, sebagai wujud rasa terima kasih atas paksaan tumpangan dan kebaikan hatinya malam tadi. Sebuah kecepatan gerak yang tangan copet pun tak akan mampu menandinginya. Maafkan kami Cak Nu, bukan begitu maksud kami sebenarnya, … tidaaaakkkk!!! … (sengaja dibuat lebai).

Semoga rejeki sampeyan dilimpahkan oleh Tuhan YME selalu, amin.

Pak Puji – pemilik Jeep

Didepan gang rumah Cak Nu, jalan Panglima Sudirman terlihat lengang. Terhitung dua kali Pak Puji berhenti untuk mengkonfirmasi adakah penumpang lain selain kami bertiga yang hendak menuju Ranu Pani pagi itu. Dan keduanya pula terjawab “tidak”.

Pagi yang lapar…

Saya berasumsi sebelum meneruskan perjalanan ke Ranu Pani, Pak Puji akan berhenti sejenak di Pasar Tumpang untuk menunggu dan mengangkut penumpang lain hingga Jeep miliknya tersebut penuh, menghindari tanggung rugi demi hanya mengangkut kami.

Pasar Tumpang menjelang, namun takdir berbicara lain. Jeep tersebut tidak berhenti seperti perkiraan saya sebelumnya…

Ahhh!!!, habis sudah…

Matilah kami bertiga kali ini!

Merujuk pada intellijen yang berhasil kami himpun sebelumnya, kami mendapati fakta-fakta sebagai berikut:

  1. Bila kapasitas penumpang sejumlah 15 orang belum terpenuhi, maka Jeep akan menunggu hingga penumpang penuh, baru kemudian bisa berangkat.
  2. Bila tidak memenuhi kapasitas 15 orang, maka biaya sewa Jeep menjadi 450,000 Rp sekali jalan.
  3. Bila memenuhi kapasitas 15 orang, maka biaya yang dibebankan kepada penumpang perorangnya adalah 35,000 Rp.

Sebagai catatan saja: setiap pasal diatas berlaku untuk rute Tumpang ke Ranu Pani dan sebaliknya.

Terbacakah kekhawatiran kami saat itu?

Iming-iming biaya perjalanan murah pada poin 1 dan 3 menjadi invalid ditangan kami bertiga. Mengerlingkan mata sedikit kepoin kedua diatas, kami sadar, “miskin mendadak” adalah jawaban mutlak kantong cekak kami kala itu.

Ohhh…, sungguh pagi yang indah… T_T.

Dan bila sudah begini keadaannya, improvisasi adalah sebuah skill penting yang harus dipelajari dengan sangat cepat kemudian diterapkan demi menekan damage cost berlebih. Dan entah mengapa, pelajaran “Mengarang Bebas” (baca: improvisasi) dijaman Sekolah Dasar dahulu adalah satu-satunya hal yang merasuk jiwa kami bertiga tanpa diminta.

Dan sepertinya, pendakian ke Gunung Semeru ini jugalah yang akan memaksa bungkam sisa rencana perjalanan panjang kami beberapa hari kedepan. Sempurna.

Dingin pagi yang menusuk tulang menemani kami bertiga mulai dari Pasar Tumpang hingga Ranu Pani, terutama bagi saya dan Fery yang tidak kebagian jatah kursi dan harus rela berdiri di bak belakang Jeep.

View Bantengan

Di Bantengan, rasa dingin kami terobati. Sudah menjadi bagian dari SOP tak tertulis, setiap pendaki Semeru akan diajak beristirahat sejenak di Bantengan oleh supir Jeep/truk yang mereka tumpangi ke Ranu Pani, entah itu sekedar untuk menikmati panoramanya atau hanya sekedar berfoto-foto.

Tak butuh waktu lama menikmati panorama Bantengan, perjalananpun kami lanjutkan kembali.

Ditengah perjalanan, seorang penduduk dari Desa Ngadisari ikut menumpang. Dari obrolan singkat kami, diketahui, bapak ini adalah seorang pedagang cabai, dan ia hendak menuju pasar untuk menjual cabai yang telah dibelinya dari petani setempat.

Cabai Terong

Sebelum turun, sang bapak yang baik ini membingkiskan kepada saya beberapa buah Cabai Terong yang katanya memiliki rasa pedas berkali lipat daripada cabai biasa. Hemm, jadi penasaran, sepedas apa rasanya…

Sebelum melanjutkan cerita ini…

Seperti transformasi jerawat menjadi bisul, tiga halaman kerangka karangan membengkak menjadi belasan halaman cerita perjalanan. Dan karenanya, lagi-lagi… cerita perjalanan ini terpaksa saya bagi menjadi dua.

Bagian pertama tentang mencapai Ranu Kumbolo, sedangkan bagian kedua tentang mencapai Puncak Gunung Semeru.

Sungguh, ini bukan kehendak saya. Pikiran saya berkata A sementara jari-jemari saya menuliskan juga teman-teman dari si A ini. Mohon pengertiannya ya…

 

 

08.15    Sampai di Ranu Pani.

Ranu Pani

Sesampainya di Ranu Pani, banyak pendaki lain yang telah berkumpul lebih awal dari kami.

Bak selebritis dangdut desa sebelah, semua mata tertuju kepada kami bertiga. Mata-mata yang seolah berbicara semisal “Mereka pasti orang kaya, bela-bela-in sewa Jeep bertiga untuk sampe ke Ranu Pani”.

Halusinasi takjub yang terkonversi menjadi pedih miris hati kami. Bagaimana tidak, asumsi membayar 150,000 Rp perorang bukanlah sesuatu yang menyenangkan apalagi dengan uang pas-pas-an yang kami miliki kala itu. Asumsi “kaya” mereka nyata-nyata memiskinkan kami secara sepihak.

Ibarat buah kedondong, casing wajah kami memancarkan jumawa yang luar biasa begitu turun dari Jeep. Bukti sebuah pencitraan diri. Tetapi dalam tubuh kami, rasanya berantakan tidak karuan. Tuhan, cobaan macam apalagi ini, hiks.

Saya coba mengkonfirmasi kekhawatiran saya selama diperjalanan tadi dengan Ika dan Fery. Ternyata kekhawatiran yang sama juga telah mereka amini tanpa basa-basi. Dan ajaibnya lagi, kekhawatiran tersebut jugalah yang mengembalikan mereka akan ingatan jaman Sekolah Dasar dahulu kala. Sebuah nostalgia bertajuk “Mengarang Bebas”.

Bila orang lain yang mengalami keadaan kritis seperti ini, akankah mereka berpikir dengan cara yang sama dengan kami? Bila jawabannya adalah “iya”, lantas apakah harus selalu nostalgia Sekolah Dasar yang merasa terpanggil untuk maju kemedan laga demi menyelesaikannya? Sungguh sesuatu banget…

Akhirnya, Konfrensi Meja Bakso pun kami gelar mendadak. Dari hasil rapat luar biasa ini kami dapatkan beberapa scenario:

  1. Bilang ke Pak Puji bahwa perjalanan kita masih panjang, jadi mohon keringanannya.
  2. Bilang ke Pak Puji bahwa kita sudah tidak punya uang lagi
  3. Bilang ke Pak Puji “yasudah pak, kita push-up aja deh”, sambil mengibarkan bendera putih.

Scenario telah kami kantongi, sekarang waktunya beraksi, Pak Puji pun telah menanti untuk kami datangi.

Saya dan Fery maju kemedan laga bersama-sama.

Sambil mempersiapkan beberapa kalimat sambutan bila ternyata kami dimiskinkan saat itu juga, dengan harap-harap cemas saya memulai pembicaraan.

“Jadi berapa ongkosnya pak?”

Delay jawaban dari seberang sana membuat jantung kami sebentar mengembang, tapi lebih lama mengempis. Rasanya seperti menunggu jawaban “iya” dari calon kekasih tercinta. Tak berkutik kami dibuatnya.

“Jadi begini…,” mengheningkan cipta kembali dilakukan Pak Puji.

“Matilah kami, Game over sudah!”, begitu kira-kira isi otak saya dan Fery waktu itu.

“Karena saya juga sebenarnya ada keperluan menjemput rombongan yang mau turun pagi ini, yasudah, perorangnya saya kenakan biaya 30,000 Rp,” sahut Pak Puji kemudian.

“Yang bener pak?!,” sebuah kegirangan yang tidak mungkin kami sembunyikan.

“Iya bener,” jawab Pak Puji lagi

Seperti memenangkan undian rumah idaman, tanpa pikir panjang lagi, atau lebih tepatnya karena khawatir Pak Puji tiba-tiba berubah pikiran, secepat kilat saya dan Fery menyalami Pak Puji dengan antusias, kemudian sujud syukur, berdiri lagi, kemudian pingsan ditempat. Ehehe, bukan, bukan seperti itu keadaannya, bagian ini sengaja saya lebih-lebihkan, yah, namanya juga mengarang bebas :p.

Jeep Pak Puji = @30,000 Rp + bonus 10,000 Rp

Intinya, kami bertiga sangat berterima kasih kepada Pak Puji atas kemurahan ongkosnya kala itu.

“Kok bukan hatinya?,” Ah biarlah, suka-suka saya dong.

Selesai urusan dengan Pak Puji yang ternyata anggota tim perlengkapan Blue Grass, kami lanjutkan sarapan pagi diwarung milik Pak Gareng. Warung yang oleh para pendaki Gunung Semeru dianggap paling mahal diantara warung-warung lain di sekitar Ranu Pani.

Nasi Rawon, Nasi Soto, Nasi Pecel, Tempe 3, TahuPisang 6 = 55,000 Rp

Nasi putih 3 bungkus @5,000 Rp = 15,000 Rp

Sebagai catatan tambahan, operator telekomunikasi seperti XL dan Ceria ternyata berjaya di Ranu Pani, sementara operator CDMA tercinta saya… tidur terlalu lelap.

 

 

08.40    Registrasi di pos pendakian.

Pos Registrasi Pendakian Ranu Pani

Selesai sarapan, kami langsung menuju Pos Registrasi pendakian.

Suhu udara yang tercatat pada Thermometer digital di pos registrasi Ranu Pani terbilang 12.5 derajat celcius pagi itu. Udara yang jauh lebih hangat dibandingkan dengan suhu dingin menusuk tulang ketika saya berada dibelakang bak Jeep dalam perjalanan menuju Ranu Pani.

Suhu pada Thermometer di Pos Registrasi Ranu Pani

Lima belas menit seiring matahari meninggi bilangan pada Thermometer digital di Pos Registrasi pun ikut berubah menjadi 13.9 derajat celcius. Dan terus merangkak naik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan registrasi pendakian adalah sebagai berikut:

  1. Fotokopi KTP
  2. Surat keterangan sehat
  3. Materai 6,000 Rp
  4. Jumlah tim harus lebih dari 2 orang

Bila semua telah dipersiapkan, maka anda akan diberikan formulir untuk diisi. Formulir logistic dan formulir surat pernyataan pendakian. Pos Registrasi pendakian ini juga menjual materai 6,000 Rp, setidaknya ketika saya melakukan registrasi kala itu.

Lantas, bagaimana bila anda hanya berdua dalam satu tim pendakian? Anda bisa ikut bergabung dalam group lain pada saat proses registrasi, kemudian melakukan pendakian masing-masing, namun hal ini tidak direkomendasikan.

Batas waktu maksimal pendakian adalah pukul 16.00 dan pendakian hanya diijinkan sampai dengan Kalimati. Bila ingin mendaki hingga puncak Mahameru anda akan diminta untuk mengisi surat pernyataan terlebih dahulu yang intinya melepaskan tanggung jawab pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dari tuntutan apapun bila terjadi sesuatu pada anda.

Adalah bijaksana untuk tidak membawa barang-barang bawaan melebihi keperluan dan kemampuan anda. Bila dirasa terlalu banyak, kurangilah barang-barang bawaan anda kemudian titipkan di warung-warung terdekat.

Apakah tidak bisa menitipkan barang-barang bawaan kita di pos registrasi pendakian? Berdasarkan pengalaman saya sendiri, jawabannya adalah “ya” dan “tidak”. Sebuah aturan galau yang mau tidak mau harus kami alami. Subjektif terhadap siapa petugas pos registrasi saat itu.

Surat ijin = @2,500 Rp

Karcis masuk = @2,500 Rp

Asuransi jiwa = @2,000 Rp

Kamera = 5,000 Rp

Materai = 6,000 Rp

 

 

09.52    Belanja gono-gini

Sebelum memulai trekking kami sempatkan untuk berbagi rejeki dengan pedagang disekitar Ranu Pani. Dan… beberapa jenis barang pun punai ditangan.

Kupluk 2 buah = @10,000 Rp

Gelang 2 buah = @10,000 Rp

Kaos Merah Semeru = 45,000 Rp

Emblem Semeru = 10,000 Rp

 

 

10.53    Mulai trekking dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo

Mulai trekking menuju Ranu Kumbolo

10 menit pertama trekking dilambari jalan aspal yang mengarah ke Lumajang, kemudian berbelok kearah kanan gapura “Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru”.

Gapura Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru

Melewati gapura, jalan tanah berdebu dan menanjak 20 derajat menyapa kami. Disusul jalan setapak konblok sepanjang 45 menit hingga pos I.

 

 

12.40    Pos I

Sesuai perjanjian semula, pendakian ini akan kami lalui dengan cara santai sambil menikmati perjalanan. Waktu pendakian yang semakin panjang pun tidak menjadi masalah bagi kami.

Menghemat kaki dan tenaga untuk pendakian beberapa hari kedepan hingga kembali lagi ke pos Ranu Pani. Alibi sempurna factor umur ___padahal.

Cuaca cukup panas kala itu, di Pos I, kami memutuskan untuk beristirahat selama 30 menit, sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Beruntung trek yang kami lalui rimbun dibeberapa bagiannya sehingga cuaca panas tersebut tidak terlalu menguras tenaga.

 

 

13.48    Pos II

Variasi jalan landai konblok dan tanah mulai dari Pos I, membuat perjalanan mencapai Pos II masih terasa mudah. Saya menemui sekitar 10 orang pendaki lain, sebagian menuju Ranu Pani, sebagian lagi satu tujuan dengan kami, Ranu Kumbolo. Saya juga menemui 2 orang pengendara sepeda BMX dari Ranu Kumbolo siang itu.

30 menit istirahat dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke Pos III.

 

 

15.22    Pos III

Jalur pendakian dari Pos II hingga Pos III mulai didominasi tanah berdebu. Bila tidak ingin sesak napas karena menghirup udara bercampur terbangan debu tebal, sisa produksi pijakan kaki pendaki lain, gunakanlah masker yang layak tapi tidak menyulitkan anda bernapas.

Masker sekali pakai berwarna hijau yang biasa digunakan di rumah-rumah sakit bisa menjadi bahan pertimbangan anda. Bawalah setidaknya 3 buah per-orang-nya. Satu untuk perjalanan mendaki, satu untuk perjalanan summit attack, dan satu lagi untuk perjalanan pulang kembali.

Pos III – Makan siang

Tanpa terasa, cacing-cacing dalam perut kami telah menaikkan statusnya, dari Waspada menjadi Siaga I. Artinya kami harus segera memanjakan mereka. Dan dengan sukacita pula kami melakukannya.

Atas dasar azas “kurangi aktifitas memasak”, maka kami putuskan membeli nasi bungkus sebanyak 3 buah seharga @5,000 Rp (sebelumnya) di Ranu Pani. Satu diantaranya segera kami gunakan sebagai modal entertain bagi cacing-cacing dilubuk perut kami didalam sana.

Dan, bungkus nasi inilah yang kelak menjadi upacara pembuka tema survival ___semi survival lebih tepatnya___ kami selama pendakian ke Gunung Semeru berlangsung.

Rerumputan dilahan kosong sekitar Pos III yang atapnya telah roboh tersebut menjadi kursinya, sementara keril kami daulat menjadi meja makan temporer bergaya militer alakadarnya.

Daging rendang kering seharga 250,000 Rp per-toples dengan topping orek tempe-teri gratis buatan emak tercinta berwarna putih sesuci iedul fitri pun menghiasi nasi bungkus kami sore itu. Nikmatnya? Jangan ditanya. Luar biasa. Setara dengan luar biasanya hilal survival yang selalu mengintai kami diufuk hari-hari kedepan dengan tabuhan genderang perang selama berada di Gunung Semeru ini, hiks.

Sendok terakhir nasi bungkus sore itu kembali mengawali kenyataan pahit. 45 derajat kemiringan jalur telah menanti kami dengan senyumnya. Senyum manis berbuah kecut dihati kami tentu.

Bersiap melanjutkan trekking ke Pos IV

Perjuangan melahap satu bungkus nasi yang digilir kami bertiga selama 30 menit sepertinya hanya cukup untuk mendaki jalur terjal ini selama satu menit. Tapi perjuangan masih panjang kawan, belum waktunya kita berkeluh kesah. Hajarrr!!! … ____padahal hatidan pikiran menyembah-nyembah untuk menyerah.

 

 

16.45    Pos IV

Jalur terjal dipermulaan Pos III menuju Pos IV telah kami lewati dengan sukses, walaupun terengah-engah dengan bermodal gigi setengah, akhirnya kami sampai di Pos IV.

Sebagai catatan saja, setengah jalur antara Pos III dan Pos IV adalah jalur terberat kami sepanjang pendakian menuju Pos Ranu Kumbolo.

Pemandangan disekitar Pos IV Semeru

Sore itu pemandangan disekitar Pos IV sangat memanjakan mata. Sambil beristirahat, kami pun tak mau kehilangan moment dengan berfoto-foto ria.

“Sebentar … Ria ini siapa? Kenapa dia tiba-tiba muncul? Bukankah kalian bertiga?,” seonggok suara tiba-tiba muncul kepermukaan.

“… Ahh, sudahlah, jangan menakut-nakuti kami”

Karena langit sore telah menanggalkan jejak siangnya begitu cepat, maka kami lekas bergegas menuju Pos Ranu Kumbolo yang telah tampak didepan mata.

Namun jangan terpedaya dengan ilusi visual ini, karena begitu menjejaki kembali jalan setapak tanah berdebunya, membutuhkan waktu satu jam untuk sampai diseberang sana. Tempat dimana para pendaki biasa mendirikan tenda.

Menuju Pos Ranu Kumbolo

Jalur dari Pos IV menuju Pos Ranu Kumbolo cenderung menurun. Namun butuh melipiri pinggiran bukit yang cenderung landai untuk sampai di Ranu Kumbolo.

 

 

17.45    Ranu Kumbolo

Sore menjelang malam di Ranu Kumbolo

Misi tahap satu telah selesai…

Sore menjelang malam ketika kami sampai di Ranu Kumbolo. Sambil mendirikan tenda, kami bertegur sapa dengan rekan pendaki lain yang sebelumnya bertemu di pos registrasi Ranu Pani. Team Guru dari Pasar Tumpang. Sebuah tawaran mencicipi api unggun disuhu minus melayang pada undangan mereka.

Sangat menarik memang, namun tidak demikian halnya bagi kami. Urat-urat miskin menonjol yang sedari awal lelah berkeluh kesah memaksa kami lebih cepat rebah.

Selesai mendirikan tenda, kami langsung berkumpul didalamnya. Sedikit obrolan ringan menjadi pelepas lelah kami malam itu.

Dan…

Entah mengapa Ranu Kumbolo malam ini begitu terang dari dalam tenda kami? Saya yang penasaran merangkak pelan keluar untuk mencari tahu jawabannya.

Tapi baru saja saya membuka restleting pintu tenda kami, kenyataan hidup membuat kami bertiga n-njengkang bukan kepalang…

Tuhan!!! …

Malam di Ranu Kumbolo begitu cepatnya menjelang pagi.

Jadi, sehebat itukah lelah yang kami rasakan sampai-sampai tidak lagi tahu kapan kesadaran kami bertiga terenggut malam tadi? [BEM]

To be continued…