Tag Archive: pendakian gunung semeru via ranu pani


 

Sarapan Pagi di Ranu Kumbolo

 

Akhirnya sampai juga kita di serial terakhir cerita pendakian kami bertiga ke Puncak Mahameru. Sebuah perjalanan, yang bahkan sejak dimulai pun sudah begitu akrab dengan masalah. Mulai dari kehabisan tiket kereta, terpaksa berpindah-pindah kota sampai 5 hari lamanya, ketinggalan angkutan sewaan ke Ranu Pani, nyasar mencari tebengan bermalam, sampai deg-degan bakal kehabisan uang di Ranu Pani.

Itu pun belum ditambah dengan berbagai masalah yang harus kami hadapi selama masa pendakian berlangsung (akan dibahas di artikel ini). Jadi, bagaimana kelanjutannya? Ikuti terus ceritanya…

FYI: artikel ini merupakan versi revisi per January 27, 2017 (versi pertama di-upload pada October 02, 2012). Perbaikan besar-besaran (sekitar 90%) terjadi pada pemilihan kata-katanya saja agar lebih enak dibaca, plus sedikit penambahan informasi sisipan. Sementara jalan ceritanya masih sama dengan sebelumnya.

 

***

SEMERU – July 02, 2012

***

 

06.30    Bangun pagi

Ranu Kumbolo pagi itu sangat dingin.  Jaket, sleeping bag, sarung tangan, dan kaus kaki masih membelit tubuh saya seakan kekasih tersayang yang tak pernah mau dilepaskan.

Berbekal separuh nyawa dan streching seadanya (baca: ngulet), pagi ini kami mulai dengan ritual masak-memasak dari dalam tenda—masak air.

Suhu udara di luar sana masih terlalu dingin. Mau keluar, rasanya tidak mungkin. Tubuh ini masih butuh adaptasi. Sebagai booster, segelas teh hangat harus segera dibuat. Mana tahu bisa mengumpulkan nyawa yang separuhnya lagi.

Jam istirahat tadi malam benar-benar kurang. Badan saya jadi gampang goyang kiri-kanan. Kadang brikden sedikit begitu terkena angin dingin biar kata cuma se-emprit. Untung ada kompor yang bisa dijadikan penghangat badan. Tapi tetap gak boleh ngantuk, kalau gak mau raup air mendidih.

Continue reading

So far, ini adalah perjalanan pendakian terpanjang saya dari Jakarta. Bahkan untuk bisa sampai ke Ranu Pani, butuh waktu berhari-hari. Dibilang melelahkan, iya. Dibilang menyenangkan, juga bisa. Manut bawaan mood.

Asbabun nuzul…

Mengantri dua pagi tak juga membuat dewi fortuna menghampiri. Tiket kereta tujuan Malang lagi-lagi ludes dalam waktu kurang dari satu jam. Tidak menyisakan satu pun untuk saya, Ika, Fery dan keempat teman baru kami, Tim Cawang (Taufan, Ilham: adik kandung Taufan, Ubay, dan Panjang). Terpaksa beli seadanya, walau cuma sampai Semarang.

KA Tawang: Stasiun Senen, Jakarta – Stasiun Poncol, Semarang = 33,500 Rp

Pukul 19.30 tepat KA Tawang masuk Stasiun Senen, Jakarta. Sebentar bongkar muat penumpang, kemudian kembali jalan.

Entah mengapa, perjalanan kereta kali ini terasa lebih cepat dari perkiraan saya sebelumnya. Mungkin karena tak berhenti di tiap stasiun seperti biasanya.

 

Semarang (Day 1)

Warung soto ayam didepan stasiun poncol

Perjalanan berjam-jam dari Jakarta membikin perut kami lapar. Sesampainya di Semarang kegiatan pertama yang mesti dilakukan tentu saja mencari sarapan. Kebetulan, di depan stasiun sana ada warung soto ayam. Minumnya teh manis hangat, biar tambah semangat.

Begitu mau bayar…

“Udah, gak usah.”

“Hah?”

“Biar saya aja,” kata Bang Doni, teman baru kami, nawarin mbayarin. Style-nya parlente. Kami kenal dia di atas kereta. Rupanya dia mengalami nasib serupa. Sama-sama kehabisan tiket. Berangkat dari topik ini, tak terasa obrolan kami berkelanjutan sampai Semarang. Mungkin dari sinilah muncul cita-citanya mentraktir kami semua.

Continue reading