Siang telah menjelang begitu saya sampai di Kampung Wisata Arborek. Pukul dua siang waktu setempat tepatnya.

Kampung Arborek terletak disebuah pulau kecil yang juga bernama sama, yaitu Pulau Arborek, di Distrik Meosmansar. Dan ini adalah kali pertama saya ke Kampung Arborek.

Anak-anak Kampung Arborek

Anak-anak Kampung Arborek

 

Anak-anak Kampung Arborek

Anak-anak Kampung Arborek

 

Diujung dermaga, anak-anak Kampung Arborek berkerumun menyambut kedatangan speedboat kami. Ada yang tertawa, ada yang tersenyum, ada yang cemberut (lho katanya menyambut, kok ada yang cemberut?), ada yang duduk diam, dan ada juga yang langsung berpose mengacungkan kedua jari—jari telunjuk dan jari tengah—kearah kami ketika kamera kami arahkah ke mereka. Pose layaknya seorang rock star.

Warga Kampung Arborek biasa menyebut dermaga dengan sebutan jetty. Dalam Bahasa Indonesia, jetty bisa berarti dermaga, pangkalan, tembok laut, atau pelindung pelabuhan. Dalam konteks Kampung Arborek, sudah pasti jetty ini merujuk kepada dermaga.

Struktur tiang penyangganya sejajar antara bagian kiri, tengah, dan kanan. Semakin lebar jalur dermaga, semakin banyak pula jumlah tiang penyangga untuk lantai dermaganya. Mulai dari dua, tiga, empat, dan seterusnya. Semakin menjorok kelaut, tiang-tiang  penyangga yang digunakan pun akan semakin panjang. Tiang-tiang penyangga ini kemudian akan diperkuat lagi menggunakan dua bilah kayu yang dibentuk saling menyilang, yang dikaitkan antara tiang penyangga yang satu dengan tiang penyangga lainnya.

Gapura Selamat Datang Kampung Wisata Arborek

Gapura Selamat Datang Kampung Wisata Arborek

Sebelum memasuki Kampung Arborek, saya disambut sebuah gapura bertuliskan “Selamat Datang Di Kampung Wisata Arborek.”

Selepas makan siang di dermaga, saya dan Diana memutuskan untuk menjelajah sedikit kedalam kampung. Sayangnya tidak terlihat aktifitas warga saat itu. Kampung ini terasa sepi bagi saya. Mata saya menjelajah kesetiap sudut kampung, kaum ibu kebanyakan bercengkrama dipinggir-pinggir pantai, dibawah pohon rindang. Sedangkan anak-anak bermain dengan teman-teman sepantaran mereka. Kalaupun ada pria dewasa, jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

Saya tidak menemukan remaja-remaja usia sekolah SMP dan SMA di Kampung Arborek ini. “Mereka semua pergi sekolah ke pulau lain, baru kembali setelah liburan. Biasanya empat hingga enam bulan sekali mereka kembali kesini,” ujar salah seorang warga dengan logat Papua kental.

Kampung Arborek memiliki dua buah zona larangan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) yang keduanya terletak di Selat Dampir. Atau dalam bahasa mudahnya adalah zona larangan bagi siapapun untuk mengambil hasil laut demi menjaga kelestarian biota laut diwilayah tersebut. Untuk mempermudah mengingat, kita bisa menyebutnya dengan Daerah Perlindungan Laut (DPL).

Daerah Perlindungan Laut Kampung Arborek

Daerah Perlindungan Laut Kampung Arborek

Daerah Perlindungan Laut yang dimiliki Kampung Arborek yaitu:

  1. DPL Indip, seluas 34 Ha. Letaknya di sebelah barat laut dari Kampung Arborek
  2. DPL Mambarayup, seluas 68,7 Ha. Letaknya disebelah tenggara dari Kampung Arborek

Yang boleh dilakukan di Daerah Perlindungan Laut hanyalah seluruh kegiatan yang bersifat menjaga atau melestarikan biota laut di wilayah tersebut. kegiatan-kegiatan tersebut meliputi; penelitian ilmiah/pendidikan, pariwisata/penyelaman terbatas, dan monitoring /pengawasan oleh Kelompok Pengelola Daerah Perlindungan Laut.

Sedangkan kegiatan-kegiatan yang bersifat destruktif sangatlah dilarang keras dilakukan di Daerah Perlindungan Laut ini, seperti misalnya:

  • Berjalan diatas karang
  • Pengambilan jenis kerang-kerangan dan jenis biota lainnya. Hidup atau mati.
  • Pengambilan jenis biota laut yang dilindungi oleh undang-undang
  • Pemboman dan pembiusan
  • Penambangan karang dan pasir
  • Pembuangan sampah, limbah rumah tangga, industry, dan kapal
  • Pembangunan sarana pariwisata permanen
  • Reklamasi pantai
  • Membuang jangkar
  • Memancing menggunakan jala, pukat, dan sejenisnya
  • Menangkap ikan menggunakan alat panah atau kalawai (tombak)
  • Menggunakan Balobe (perahu lampu)
  • Melakukan budidaya laut

Lantas, kegiatan apa sajakah yang dapat kita lakukan disekitar Kampung Arborek ini? Banyak. Yuk kita daftar satu persatu;

  1. Snorkeling. Cukup bermain-main disekitaran pantai Kampung Arborek, kita sudah bisa menikmati keaneka-ragaman biota laut dengan snorkeling. Walaupun dibeberapa bagian pantainya langsung dalam 5-15 meter namun jangan khawatir, jarak pandangnya masih sangat baik, dikarenakan airnya yang sangat jernih.
  2. Diving. Kegiatan diving disekitar Kampung Arborek bisa dilakukan dibawah jetty.  Kehidupan bawah laut di Arborek Jetty ini relative kaya, karenanya, sayang kalau sampai melewatkan kesempatan diving disini.
  3. Fishing.Banyak terdapat ikan-ikan berukuran kecil dan sedang disekitar pantai Kampung Arborek. Kebijakan tidak tertulis dari warga kampung setempat terkait aktifitas memancing adalah; minimal jarak yang diijinkan yaitu 200 meter dari pinggir pantai. Jadi untuk kegiatan memancing ini, jelas harus menyewa boat. Atau kalau mau lebih murah, kita bisa ikut nelayan yang hendak pergi memancing.
  4. Bameti. Bameti adalah istilah setempat yang biasa digunakan untuk menggambarkan kegiatan menyisir pantai yang airnya telah surut sambil mencari mahluk-mahluk laut yang bisa dimakan. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh kaum ibu Kampung Arborek untuk sekedar mengisi waktu luang.  tapi bukan berarti kaum lelaki tidak boleh ikut lho, tidak ada aturan tertulis perihal siapa yang boleh dan siapa yang tidak, selama tidak merusak lingkungan, ya silahkan saja.
  5. Mengelilingi Pulau Arborek.
  6. Melihat proses pembuatan kerajinan tangan khas Kampung Arborek.

Menjelang pulang kembali ke Waisai, Kampung Arborek mendadak menjadi sepi. Seluruh warganya tiba-tiba saja bungkam. Yang terdengar hanya raung tangis beberapa orang warga yang rumahnya dekat dengan dermaga. Sambil berjalan, juga berlari, mereka menuju satu titik konsentrasi yang sama. Dipinggiran pantai.

Dari jauh saya melihat sebuah speedboat mendekat. Suara mesinnya, pelan tapi pasti semakin jelas saja. Pasti ada seorang mantri atau dokter yang datang berkunjung ke Kampung Arborek ini. Dan mereka yang menangis tadi, pasti takut disuntik. Begitu pikir saya dalam hati.

Semakin speedboat tersebut mendekat, semakin keras pula tangis beberapa warga tadi. Saya pun akhirnya menjadi semakin penasaran, apalagi setelah menyaksikan gelagat warga Kampung Arborek yang semakin asing saja dalam pandangan saya.

Warga Kampung Arborek Turut Berduka

Warga Kampung Arborek Turut Berduka

Begitu speedboat merapat ke pantai, beberapa orang turun lebih dulu dan berdiri siaga dibagian buritan. Beberapa warga yang tangisannya terdengar memilukan hati sebelumnya pun berhamburan keluar rumah mereka. Menuju speedboat yang baru saja sandar. Lamat-lamat mulai terlihat sebuah peti mati dikeluarkan dengan sangat hati-hati dari lambung kapal. Prasangka saya sebelumnya menjadi invalid.

Saya takjub dengan rasa solidaritas warga Kampung Arborek. Walaupun yang meninggal bukanlah saudara mereka, namun pancaran raut wajah mereka memperlihatkan rasa belasungkawa yang mendalam, seolah-olah si meninggal adalah bagian dari keluarga mereka sendiri.

Semoga yang baru saja berpulang diterima disisi tuhannya. Amin.

Setelah peti mati yang ditandu warga Kampung Arborek sampai kerumah keluarganya, kami pun harus segera undur pamit dari Kampung Arborek. Selamat jalan kawan. Selamat tinggal Arborek.

 

Pohon Sinyal di Kampung Arborek

Ini adalah kali kedua kami mengunjungi Kampung Arborek. Rasa penasaran perihal pembuatan kerajinan tangan khas Kampung Arborek menjadi tuas picu Tim Laron Raja Ampat untuk kembali lagi.

Gagal melihat proses pembuatan kerajinan tangan dua hari sebelumnya lebih dikarenakan kondisi kampung yang kurang kondusif untuk sebuah kegiatan wisata. Perasaan ikut memiliki membuat warga lainnya turut berkabung menghormati tetangga mereka yang sedang ditimpa musibah. Atmosfer Kampung Arborek pun menjadi sunyi.

Suasana Kampung Arborek Di Siang Hari

Suasana Kampung Arborek Di Siang Hari

Dua hari telah lewat, tapi suasana berkabung masih terasa dikampung ini. Kami benar-benar berharap dapat melihat proses pembuatan kerajinan tangan khas kampung ini.

Amel, sahabat kami dari Urai Indonesia sibuk membantu, mencari informasi kesana-kemari. Setelah sekian lama, akhirnya perjuangannya tidaklah sia-sia. “Pa Kampung-nya lagi ngasih sambutan terakhir, nanti kalo udah selesai, kita bisa ngobrol-ngobrol sama dia,” ucapnya kemudian.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Semakin lama kami menunggu, semakin panjang pula sambutan terakhir sang Pa Kampung. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari alternative lain. Langsung mencari perajin setempat.

Awalnya cukup sulit untuk sekedar berinteraksi dengan sang perajin. Dia tidak mau melakukan proses interview bila belum ada Pa Kampung. Tapi karena desakan halus dari kami, akhirnya kami bisa berbincang-bincang dengan sang perajin ini.

Sebelum melanjutkan, saya akan menceritakan salah satu keunikan Kampung Arborek terlebih dahulu. Yaitu “Pohon Handphone.” Apa maksudnya? Hahaha, jadi, sebenarnya pohon ini adalah sebuah pohon ketapang, yang oleh warga sekitar digunakan untuk menggantung handphonehandphone mereka. Tujuannya? Apalagi kalau bukan untuk menangkap sinyal.

Sulitnya sinyal di Pulau Arborek ini membuat mereka menjadi kreatif dengan menggantungkan handphone-handphone mereka di dahan-dahan pohon ketapang yang letaknya lebih tinggi. Dengan handphone-handphone tersebut diletakkan ditempat yang lebih tinggi, diharapkan, sinyal lebih mudah didapat. Dan begitu handphone tersebut ber-dering, sang pemilik akan berlari untuk mengambil handphone-nya dan kemudian melakukan percakapan. Unik bukan?

Satu lagi keunikan Kampung Arborek ini adalah, bila kita memperhatikan lebih detail, kampung mereka akan memiliki pattern rumah-pohon kelapa-rumah-pohon kelapa… dan seterusnya. Tata kampung seperti ini membuat Kampung Arborek terlihat lebih indah, bila kita membandingkannya dengan kampung-kampung lain yang memiliki tata letak perumahan yang acak.

Kembali kepada sang perajin…

Matahari pagi pelan tapi pasti beranjak meninggi. Jam Sembilan lebih empat puluh menit kami singgah dirumah Mama Maria Fakadawer, ditemani anak lelakinya Eke Mambrasa dan tetangga mereka Mama Orpa Mayor.

Kegiatan menganyam telah mereka mulai sejak tahun 2000 silam. Dua belas tahun sudah mereka bergelut dengan kerajinan tangan khas Raja Ampat ini. Bandingkan dengan program Wajib Belajar yang dicanangkan pemerintah yang hanya 9 tahun.😀

Belajar Menganyam Di Kampung Arborek

Belajar Menganyam Di Kampung Arborek

“Dari kita punya nenek-nenek,” jawab mama Maria Fakadawer, ketika saya menanyakan dari siapakah ilmu anyam-mengayam tersebut mereka dapatkan. “Bahannya dari daun pandan,” imbuhnya lagi. Daun-daun pandan ini bisa mereka dapatkan dari Pulau Damu Besar. Sementara bahan-bahan pembuatan kerajinan tangan yang lainnya didapat dari pulau-pulau disekitar Pulau Arborek.

Aslinya, pandan-pandan kering ini berwarna krem atau coklat muda terang. Namun untuk memberikan aksen-aksen tersendiri, biasanya mereka menggunakan zat pewarna tekstil seperti wantek. Variasi warna yang mereka gunakan pun beragam, mulai dari putih, merah, biru, hijau, kuning, hingga orange.

Mama Orpah Mayor Sedang Menganyam

Mama Orpah Mayor Sedang Menganyam

Hasil kerajinan tangan mereka biasanya berupa topi atau biasa disebut Kayafyof dan juga tempat pinang/buku, yang biasa disebut dengan Noken. “Kalau tidak kerja barang lain, ampat hari,” Ucap mama Maria Fakadawer merujuk pada proses pembuatan Kayafjof.

Ada dua jenis kayafyof yang biasa mereka buat, yaitu kayafyof gelombang dan kayafyof manta—atau Baw dalam Bahasa Arborek. Kayafyof Baw dijual lebih mahal daripada kayafyof gelombang, karena proses finishing-nya yang lebih sulit.

Mama Maria Fakadawer Menggunakan Kayafyof Gelombang

Mama Maria Fakadawer Menggunakan Kayafyof Gelombang

Kayafyof pertama yang pernah dibuat oleh mama Maria Fakadawer dihadiahkan untuk Gubernur Manokwari, Provinsi Papua Barat. Kayafyof-kayafyof ini memiliki pattern seperti kulit buah durian atau piramida. Persegi empat dibagian bawah, dan meruncing kebagian atasnya. Bagaimana soal harganya? Wuih, jangan ditanya… bagi kantong cekak saya, harganya jelas mencekik leher. Tapi bagi wisatawan asing? Dua ratus ribu hingga dua ratus lima puluh ribu rupiah adalah harga yang cukup pantas, mengingat waktu pengerjaannya yang memang relative lama.

Selain kayafyof, mama Maria Fakadawer juga membuat tempat pinang, tempat pensil, tempat handphone, dan tempat buku, yang biasanya disebut dengan Noken. Noken-noken ini waktu pengerjaannya lebih cepat, maksimal dua hari per satu noken.

Noken-noken ini juga memiliki dua buah bentuk. Yang pertama berbentuk umum, seperti kotak anyaman biasa tanpa ornament. Sedangkan noken yang kedua tetap mempertahankan bentuk bangun aslinya, seperti layaknya yang pernah nenek-nenek moyang mereka buat pada jaman dahulu kala. Dibagian atas dan bawah dari noken ini membentuk segitiga memanjang sebanyak tiga buah ditengahnya, sementara di keempat ujung-ujungnya berbentuk seperti tanduk.

Lagi-lagi, pertanyaan yang muncul pada akhirnya adalah soal harga bukan? Jangan khawatir, harga noken-noken ini lebih murah bila dibandingkan dengan kayafyof-kayafyof sebelumnya, yaitu seratus ribu rupiah untuk noken kecil. Sementara noken sedang yang biasa digunakan sebagai wadah buku, harganya seratus lima puluh ribu rupiah saja.

“Kok mahal banget ya?,” kalimat representative bukti kantong cekak kita ini selalu saja maju paling depan bila sudah berbenturan dengan logika ekonomi. Logika, “Dengan modal sekecil-kecilnya, memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.”

Lantas bagaimana dengan saya  yang jelas-jelas berada dilapangan dan berhadapan langsung dengan harga tadi? (menarik napas panjang)… sangat di-le-ma-tis. Maksud hati membeli salah satu kerajinan tangan kampung ini sebagai oleh-oleh, namun harus segera musnah ketika berhadapan dengan harga yang  tidak terjangkau lubang kantung saya.

“Biasanya, kalo ada yang beli, duitnya mereka bagi-bagi,” Amel yang berada disamping tiba-tiba berbisik kepada saya.

Dari informasi ini, harga yang semula tak terjangkau, secara tiba-tiba saja menjadi terasa murah bagi saya. Entah karena apa. Maaf bukannya bermaksud untuk sombong, tapi ini lebih kepada panggilan sosial ketimbang sebuah keuntungan financial bagi saya. Spiritnya adalah, turut membantu membangun perekonomian lokal. Uang yang saya keluarkan tidak lari kemana-mana, melainkan untuk “memperkaya” bangsa sendiri. Demi ke-bermanfaatan bersama.

Sebuah kebiasaan lama yang Alhamdulillah-nya, masih tetap saya pertahankan hingga saat ini. Dari mana-mana, oleh saya, untuk bangsa saya. Hee…

Seluruh kerajinan tangan ini hanya dijual di Kampung Arborek saja. Biasanya tamu-tamu asing banyak yang datang dan membeli. Seandainya dibawa keluar Pulau Arborek pun, itu didasarkan atas permintaan/pesanan dari Dinas Pariwisata di Waisai.

Mama Maria Fakadawer dan mama Orpa Mayor pernah menjadi wakil Kabupaten Raja Ampat pada pameran kebudayaan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata pada tahun 2005 silam di Jakarta dan Jogjakarta.

Kerajinan anyaman ini hanya ada di Kampung Arborek saja. Untuk mempelajari cara menganyam, masyarakat Kampung Arborek dan juga masyarakat kampung sekitar bisa datang kepada mama Maria Fakadawer atau mama Orpa Mayor. Sebenarnya ada dua orang lagi mama yang biasa mengajarkan cara menganyam kayafyof dan noken ini, tapi sayangnya saya lupa menanyakan nama-nama mereka, maaf ya teman-teman T_T…

“Kalau mama ajar yang muda-muda ini, kalau pengertian cepat tangkap, dia boleh belajar 1 hari saja. Tapi untuk yang tidak pengertian, bisa butuh waktu lama 1-2 minggu,” ujar mama Maria.

Siapapun boleh belajar menganyam, tak peduli laki-laki atau perempuan. Dari hasil didikan keempat mama ini, cukup banyak yang sudah mampu membuat sendiri kerajinan tangan khas Kampung Arborek. Tempat mengajar-nya pun tidak terlalu jauh dari dermaga. Sekitar lima meter disebelah gapura selamat datang. Pondok Pariwisata.

Untuk bagian sayap/lidah topi, jumlah bilah yang digunakan biasanya sebanyak enam puluh bilah. “Yang turun 5 yang naik 5. Kalau yang naik 6 yang turun juga 6,” ujar mama Maria. “Untuk bagian ini,” sambil merujuk kebagian atas topi yang belum jadi. “Jumlahnya dua puluh lima.”

Proses pembuatan duri-duri topi ini juga cukup unik, bila yang satu membuatnya kearah kanan, maka yang lain harus membuatnya kearah kiri. Setelah duri-duri topi selesai dianyam kemudian dibengkokkan/dipisahkan menggunakan pisau dengan cara menekan bagian-bagian yang tidak teranyam. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses penjahitan kebagian kerangka topi yang sebelumnya telah dibuat.

Untuk membentuk topi supaya bergelombang, mama menggunakan tali hutan (rotan—red) yang diambil dari Pulau Duma Besar. Sementara benang nylon yang digunakan untuk menjahit diambil dari Sawinggrai. Benang nylon ini sejatinya adalah benang yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain layang-layang.

Ditengah seru-serunya pelajaran menganyam, mama Maria tiba-tiba berbicara dengan anaknya, Eke Mambrasa. Menggunakan bahasa lokal. Saya yang tadinya memperhatikan proses pembuatan topi—yang sedang diperagakan oleh mama Orpa—pun tiba-tiba teralihkan.

Namun ditengah asiknya saya memperhatikan gaya bicara mereka yang sedikit berbisik-bisik menggunakan bahasa setempat. Yang juga terasa sangat asing bagi saya. Tiba-tiba mama Maria menginterupsi. “Mas, ini mama mau bicara dengan ini (sambil menunjuk kearah anaknya), dia mau pulang ke Sorong.” Glodak!…

Ketertarikan saya akan budaya lokal yang baru saja mereka perlihatkan tiba-tiba berubah menjadi sebuah rasa malu yang membara dihati saya, huhuhu… nasib… nasib.

Mumpung belum lupa, kunjungan teramai ke Kampung Arborek adalah pada bulan Desember. Ada kelebihan dan kekurangannya bila anda berkunjung pada bulan Desember. Kelebihannya adalah, dengan tingginya aktifitas kunjungan wisatawan ke Kampung Arborek, secara otomatis, aktifitas pembuatan kerajinan tangan di kampung tersebut menjadi semakin tinggi. Ini artinya kemungkinan anda dapat menyaksikan proses pembuatan kerajinan tangan pun menjadi lebih tinggi pula. Sebaliknya, kelemahannya adalah, bagi anda penghobi foto atau video, kerumunan orang tentu akan mengganggu anda ketika hendak meng-eksekusi objek yang telah anda incar sebelumnya.

Sementara, bila anda berkunjung di bulan-bulan lain, kelebihannya adalah, proses dokumentasi anda (foto dan/atau video) menjadi lebih baik, karena tidak terganggu lalu lalang wisatawan lain. Sementara kelemahannya, kesempatan anda melihat secara langsung proses pembuatan kerajinan tangan menjadi semakin kecil. Kecuali anda meminta mereka melakukannya untuk anda. Dan untuk ini, tentu ada konsekwensi tidak tertulis, yang “mengharuskan” anda untuk mengeluarkan uang lebih untuk menjaga perasaan masing-masing pihak.

Pilihannya kembali kepada anda. Ditunggu kunjungannya ke Kampung Arborek ya…😀 [BEM]