Tag Archive: Terios 7 Wonders – Hidden Paradise


Pak Soimun, Mualim 1 KMP Trima Jaya 9

Pak Soimun, Mualim 1 KMP Trima Jaya 9

Seperti yang telah saya janjikan pada artikel sebelumnya, obrolan dengan nahkoda Kapal Motor Penumpang (KMP) Trima Jaya 9 saat menyeberang dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk akan dibahas di sini. Seperti apa ceritanya? Ikuti terus kelanjutannya.

Di kapal ferry KMP Trima Jaya 9, 24 peserta Ekspedisi Terios 7 Wonders – Hidden Paradise terbagi menjadi beberapa grup. Sebagian tinggal di dek dasar untuk menjaga keamanan kendaraan, sebagian pilih berkeliaran di dek penumpang, sementara sebagian yang lain pilih naik hingga dek paling atas, bahkan masuk ke anjungan—atas seijin petugas yang berwenang tentunya.

Di kursi komando, duduk seorang pria paruh baya berseragam putih-hitam lengkap dengan topi hitamnya. Kumis tebalnya menimbulkan kesan seram bagi siapapun yang melihatnya. Sekilas, pria berkulit sawo matang ini tampak seperti orang yang tak suka banyak bicara (baca: pendiam), namun begitu ia mengembangkan senyumnya, jiwa bersahabat perwira kapal penumpang KMP Trima Jaya 9 ini bisa saya rasakan.

Continue reading

Akhirnya menginjak Pulau Bali

Akhirnya menginjak Pulau Bali

Masih di hari ketujuh—October 07, 2013. Waktu bebas untuk Tim Terios 7 Wonders – Hidden Paradise menjelajah Taman Nasional Baluran baru saja habis. Selepas hunting foto di Savana Bekol hingga Pantai Bama, kini tiba saatnya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Bali. Kalau Sun Go Kong punya “Pilgrimage to the west,” maka kami punya “Journey to the east.” Kecuali perjalanan Jakarta-Sawarna, hampir pasti tak ada pergantian hari tanpa lebih jauh ke timur Indonesia.

Kecuali Enuh (videographer bin kameramen) dan Pak Endi (sesepuh merangkap team leader), komposisi tim kecil (3-4 orang per mobil) masih bertahan dari Jakarta hingga Baluran—dan sepertinya hingga ekspedisi berakhir. Tiap orang kembali ke mobil masing-masing. Saya, Boski, Uci, dan Mumun masih solid tergabung dalam Tim Terios 7.

Pukul 09.45, semua peserta bertolak dari Wisma Bekol yang dibangun pada tahun 1987, menyusuri satu-satunya jalan utama Bekol-Batangan, menuju pintu gerbang Batangan, Taman Nasional Baluran.

Continue reading