Gunung Kerinci, Berlima di Perjalanan Penuh Drama

Sunter, pukul 04.30 pagi. Taksi pesanan kemarin malam baru datang di depan pintu gerbang kompleks perumahan, di mana Bayu, sang teman, tinggal. Taksi yang sama, berhasil memaksa kami terjaga dari ritual tidur ayam yang baru dimulai 3 jam sebelumnya. Namun begitu, tetap saja taksi ini tak mampu memaksa kami bergerak lebih cepat. Efek tidur ayam berkuasa di atas segala-galanya. Buktinya, kami masih sempat melakukan persiapan dan sarapan dalam irama yang agak lambat.

Sang supir memacu mobil menyusuri jalan raya Jakarta yang masih sepi. Pendar kuning lampu jalan eks landasan pacu Kemayoran, mengawali keberangkatan kami menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Berdasarkan perhitungan, kami berempat—saya, Fery, Bayu, dan Yeni—bisa dibilang terlambat. Apalagi bila mengingat departure time Mandala Tiger Airways yang pukul 06.40 pagi itu. Karenanya, walau berlagak tenang, sejatinya jantung ini deg-degan.

Continue reading