Gunung Papandayan

[ DAY 0 ]

22.30 –Menuju Terminal Guntur, Garut. Dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta.

Dengan menumpang bus AC Ekonomi Wanaraja yang bertarif 35,000 Rp per-orang, kami menuju Kota Garut malam itu. Dari luar, bus yang kami tumpangi ini terlihat bagus. Tapi dari dalam, jelas kurang terawat. Katup AC melompong. Airnya bocor membasahi kursi penumpang di bagian belakang. Kursi penumpangnya pun ikut bergerak maju-mundur kapan pun kami bergerak. Supirnya ugal-ugalan mengendalikan bus selepas dari Jakarta. Gaya mengemudinya jelas membahayakan penumpang. Walaupun mungkin tidak semua supir armada ini melajukan bus secara ugal-ugalan, saya tetap tidak merekomendasikannya untuk anda, kecuali terpaksa.

Sambil melaju, kenek mengutip ongkos dari para penumpang. Semuanya mudah ditagih, kecuali satu orang yang kebetulan duduk disebelah saya. Beberapa kali ditagih, tetap tidak bereaksi. Pembawaannya tenang seolah tak ada beban. Beberapa orang penumpang berinisiatif membantu sang kenek menagih ongkos kepada orang ini, namun tetap saja ia tak bergeming. Kegaduhan yang terjadi jelas-jelas tak dihiraukannya. ‘Mati kali,’ ucap salah seorang penumpang disebelah sana dengan wajah datar. Ucapan penumpang tersebut sontak memancing gelak tawa dari penumpang lainnya, termasuk saya. Namun tetap saja, tak membawa perubahan.

Continue reading