Latest Entries »

Hindari Jadi Korban Berikutnya Dengan Prinsip Reach, Throw, Row, dan Go

Berkebalikan dengan teknik Uitemate yang dibahas pada artikel sebelumnya. Kali ini kita akan bicara tentang cara-cara yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan seseorang yang hampir tenggelam atau sedang terjebak di perairan dalam. Jadi, kalau teknik sebelumnya berada pada sudut pandang korban, maka prinsip kali ini mengambil sudut pandang diri kita sebagai saksi mata atau orang yang menyaksikan secara langsung saat suatu kecelakaan air terjadi.

Mengajarkan cara mengambang (Teknik Uitemate) kepada orang yang tengah menjadi korban, jelas tidak mungkin. Mereka kan sedang mati-matian berusaha mempertahankan nyawanya. Sesingkat-singkatnya tutorial yang kita sampaikan, bisa-bisa, selesai belajar, yang jadi korban malah ‘ngambang’ betulan. Dengan kata lain, cara menolong seperti ini adalah tidak tepat.

View full article »

Cara Efektif Bertahan Hidup di Air Menggunakan Teknik Uitemate

Cara Efektif Bertahan Hidup di Air Menggunakan Teknik Uitemate

Untuk para pecinta wisata air. Ini bukanlah sesuatu yang kita harapkan, bahkan boleh jadi, tak pernah terpikirkan: Worst case scenario. Bertahan hidup (survival) di perairan dalam dengan rentang waktu yang relatif panjang. Tanpa pelampung, kapal tiba-tiba karam membentur karang di tengah lautan macam Titanic. Atau, kapal tiba-tiba tenggelam karena terlalu banyak muatan atau dihempas gelombang macam Van der Wijck. Penumpangnya, tak sengaja jatuh ke laut, sungai, atau danau, saat kapal sedang melaju. Dan tak seorang pun mengira bakal mengalami kejadian itu.

Contoh kasus kecelakaan di atas tentu terasa menyeramkan. Suka atau tidak, kejadian-kejadian ini mungkin saja terjadi pada diri kita tanpa bisa dihindari. Soal kapal kelebihan muatan dan tenggalam, misalnya. Di Indonesia relatif banyak contohnya. Namun demikian, saya tidak akan membahas tentang bagaimana sebuah kecelakaan serupa ini bisa terjadi. Di sini kita hanya akan bicara tentang bagaimana cara memperkecil jumlah korban dengan teknik bertahan hidup di air yang berasal dari negara Jepang; Uitemate.

View full article »

Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae)

Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae)

Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae). Sebenarnya materi ini masih merupakan satu kesatuan dengan artikel pendakian Gunung Kerinci yang saat ini sedang dalam tahap penggarapan (>75%). Namun, karena cukup panjang, akhirnya saya putuskan untuk memisahkannya. Saya tertarik membahas materi ini, karena pada pertengahan jalan, saat trekking down Gunung Kerinci, antara Pos 3 sampai Pos 1, 4 kali saya mencium bau pipis mereka di keempat titik berbeda. Di kiri kanan, dekat jalur pendakian.

“Emang pipis mereka, baunya kayak apa?” Pertanyaan senada ini selalu saya dapatkan dari teman-teman sependakian yang tidak percaya. Karena menurut mereka, memang tidak tercium aroma apa-apa saat berada di jalur sana.

View full article »

Cengkeh dan Kayu Manis

Cengkeh dan Kayu Manis

Perkenalan rempah-rempah Indonesia di kancah dunia telah dimulai sejak lama sekali. Kapan waktunya? Tak ada yang mengetahui secara pasti. Ada yang bilang sejak zaman Dinasti Han, sekitar tahun 266 SM sampai 220 Masehi. Ada juga yang bilang, sekitar tahun 175-180. Tahun-tahun pertama cengkeh tiba di tanah Eropa. Atau yang lebih tua lagi; 2 orang arkeolog Italia, Giorgio Buccellati dan Marilyn Kelly Buccellati, istrinya, mengklaim, bahwa mereka telah menemukan butir-butir cengkeh (Syzygium aromaticum) yang diperkirakan berasal dari tahun 1700 SM, di Terqa (sekarang Tell Ashara), Syria. Pada salah satu situs penggalian purbakala mereka. Setidaknya, begitulah segelintir fakta-fakta sejarah hasil penelusuran beberapa literatur lawas yang berhasil saya temukan. Walau pun demikian, rata-rata literatur lawas lainnya juga ‘setuju,’ bahwa perkenalan rempah-rempah Spice Islands (Maluku/Moluccas) di seluruh dunia, terjadi (mulai ramai diceritakan) pada sekitar abad pertengahan.

View full article »

Tips Mendaki Gunung Untuk Pemula

Tips Mendaki Gunung Untuk Pemula

Tips Mendaki Gunung Untuk Pemula

Pemula/newbie/nubie merupakan status paling dasar dalam setiap pekerjaan apa pun. Karena umumnya tidak berpengalaman, sah-sah saja bila mereka kemudian bingung harus memulai dari mana dan melakukan apa. Dalam dunia petualangan pun sama. Hal ini pernah saya alami belasan tahun lalu. Karena bingung harus mempersiapkan apa, membawa apa, bagaimana caranya, dan sebagainya, akhirnya semua yang saya kerjakan, ya seadanya. Tapi tenang. Hal ini tak perlu terulang pada diri kalian, karena saya akan membagikan beberapa pengalaman dan tips mendaki gunung untuk pemula seperti kita-kita—secara mendetil.

Nah, hal-hal seperti apa sajakah yang perlu dipersiapkan sebelum kalian memulai petualangan? Baca terus artikel ini sampai tuntas. Jangan disisakan. Karena senang menyia-nyiakan itu sifatnya setan. Gak mau kan, jadi setan?

View full article »

https://simplyindonesia.files.wordpress.com/2014/08/gua-grubug-gua-jomblang-perjalanan-penuh-pertaruhan.jpg

Gua Grubug dan Gua Jomblang

Flashback ke awal tahun 2010 silam, saat di mana Gua Jomblang (-8.031726, 110.639215)—yang terletak di sebelah tenggara pusat Kota Jogjakarta—belum setenar sekarang…

Saat itu, istilah backpacker atau backpacking baru-barunya booming di Indonesia, ‘menggantikan’ istilah “jalan-jalan, ”traveling, atau “main,” yang sebelumnya saya tahu dan lakukan sejak duduk di bangku SMA.

Jumlah operator caving Goa Jomblang saat itu baru terbilang satu-dua. Itu pun tidak resmi, alias based on request, dan dengan harga tawaran yang relatif mahal untuk ukuran kantong saya dan teman-teman; 550,000Rp per orang.

Kami segera mencari alternatif operator lain yang mampu menawarkan harga yang lebih terjangkau. Pencarian ini berhasil. Kami dapati Operator X sebagai operator pilihan, karena mereka bisa menawarkan harga yang jauh lebih murah; 150,000Rp.

Sebelum cerita ini dilanjutkan, ada beberapa catatan yang terlebih dulu ingin saya sampaikan:

  • There is a thin line between bravery and stupidity. Pengalaman “bertaruh nyawa” pada artikel ini adalah kombinasi keduanya. Jangan pernah mempertaruhkan nyawa kecuali dalam keadaan sangat amat terpaksa.
  • Dokumentasi foto pribadi, sementara absen di artikel ini. Tahunan dokumentasi foto perjalanan saya kompak rusak bersama harddisk yang tiba-tiba ngadat. Alhamdulillah, edisi Gua Jomblang & Gua Grubug termasuk di dalamnya.

View full article »

Tips Menghadapi Road Trip Panjang

Tips Menghadapi Road Trip Panjang

Sebagian besar kita, banyak yang sering bepergian (traveling) menggunakan moda transportasi umum, entah itu bus, pesawat, atau kereta. Tetapi, seberapa banyak yang pernah melakukan perjalanan panjang dengan membawa kendaraan sendiri (road trip) selama berminggu-minggu? Pasti angkanya (jumlahnya) kecil sekali, ya.

Secara sederhana, kita bisa mengartikan istilah road trip—yang pertama kali digunakan pada tahun 1953—dengan; melakukan perjalanan panjang menggunakan kendaraan (yang itu-itu saja). Bisa kendaraan roda dua, roda tiga, roda empat, dan seterusnya. Asal jangan kendaraan roda satu. Kenapa? Karena, kita ini mau jalan-jalan, bukan main sirkus.

Dan, berangkat dari pengalaman road trip panjang yang pernah saya lakukan beberapa waktu lalu, maka tercetuslah ide untuk membuat artikel ini.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas beberapa tips yang bisa dijadikan sebagai informasi tambahan untuk menghadapi segala kendala dan problematika yang umumnya akan dihadapi dalam sebuah perjalanan berkendara yang jaraknya relatif jauh.

View full article »

Tips Menghemat Biaya Perjalanan Wisata

Tips Menghemat Biaya Perjalanan Wisata

Backpacking trip atau backpackeran atau nge-trip atau traveling atau jalan-jalan atau wisata atau apalah namanya, tentu membutuhkan biaya. Mulai dari yang relatif murah, standar, sampai mahal. Tentu saja perbandingan biaya murah, standar, dan mahal ini relatif terhadap tempat. Artinya, bila kita membandingkan antara biaya wisata di Pulau Jawa dengan wisata di Pulau Papua (dulu bernama Irian Jaya), jelas lebih mahal wisata ke Papua.

Namun demikian, bukan itu maksud saya. Karena kalau kita menggunakan contoh tadi sebagai parameter hemat-borosnya sebuah perjalanan, sehebat apapun manajemen penghematan yang kita lakukan, hasil akhirnya jelas jauh lebih murah wisata di Pulau Jawa ketimbang berwisata ke Papua.

Bagi yang sering bepergian, mungkin pernah—setidaknya sekali-dua—menemui kenyataan kalau teman kalian yang pergi ke satu lokasi wisata yang sama, dalam waktu yang hampir bersamaan, menyatakan bahwa biaya perjalanan mereka ber-rupiah lebih murah ketimbang biaya yang kalian keluarkan. Ya, kan? Kalau sudah begitu, “magical words” favorit yang kita keluarkan saat mendengarnya, akan semisal dengan: “Lah! kok bisa!?”

View full article »

Tips Memilih Backpack

Tips Memilih Backpack

Tips Memilih Backpack

Memilih backpack untuk traveling itu gampang-gampang susah. Gampang, karena pilihan yang tersedia bisa dikatakan cukup banyak di pasaran. Susah, karena tidak semua pilihan backpack yang tersedia di pasaran, cocok dengan keperluan dan selera kita. Giliran cocok dengan keperluan dan selera kita, biasanya harganya gak kira-kira. Giliran duitnya ada, tipe backpack-nya sudah gak diproduksi lagi. Giliran diproduksi lagi, gak keluar di sini. Mau ajak berkelahi, badan penjaganya gede tinggi. Saya gak berani. #fiuh

Waktu yang saya butuhkan untuk menetapkan pilihan backpack yang sesuai kriteria dan harapan, bisa sampai berbulan-bulan. Membaca beragam referensi di internet jelas saya lakoni. Tujuannya, sebagai bahan pembanding, antara apa yang ada di dalam benak saya dengan pengalaman orang lain—yang sudah tentu berbeda-beda.

View full article »

Menghadapi dinginnya gunung, ini cara saya...

Menghadapi dinginnya gunung, ini cara saya…

Banyak teman yang bilang, saya ini tipe pendaki belagu. Naik gunung selalu hanya menggunakan pakaian seperlunya, dan tak pernah menggunakan sleeping bag pula ketika waktu istirahat tiba, padahal dinginnya naudzubillah.

Kalau boleh jujur, seharusnya bukan belagu, sih. Lebih tepatnya memang gak punya, masak mau maksa bawa juga.

Kenapa gak pinjam teman?

View full article »

Pemandangan laut di sekitar Pelabuhan Sape

Pemandangan laut di sekitar Pelabuhan Sape

Pukul 13.05 kami selesai santap siang di Rumah Makan Seafood BBA Doro Belo. Setelah sebelumnya kami jajaki Desa Palama dengan susu kuda liarnya, kini tiba saatnya kami lanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo via Pelabuhan Sape. Feroza Fans Club Sumbawa mengiringi kami dalam kecepatan sedang cenderung kencang. 5 mobil mengawal di depan, belasan lainnya mengekor di belakang. Tanah merah memisahkan rentang aspal mulus dengan air pantai kecoklatan di sebelah kiri jalan. Atmosfer gersang masih mendominasi di sini.

View full article »

Induk dan Anak Kuda Sumbawa

Induk dan Anak Kuda Sumbawa

Masih di Desa Palama. Masih pula tentang susu kuda liar Sumbawa. Sementara teman-teman lain sibuk dengan kuda-kuda warga yang memang sengaja dibawa pulang—atas permintaan, karena kami akan datang—saya justru memilih kesibukan lain; menggali informasi perihal kuda-kuda Sumbawa ini.

Dan, yang beruntung mendapatkan pertanyaan bertubi dari saya adalah Pak Hasan, salah seorang pamong Desa Palama yang saat itu ikut memandu kami menjelajah desa yang menjadi tanggung jawabnya. Berikut ini adalah hasil perbincangan saya dengan beliau:

View full article »

Anak kuda Sumbawa

Anak kuda Sumbawa

Hari ini Tim Terios 7 Wonders Hidden Paradise resmi memasuki hari ke-11—Oktober 11, 2013. Berdasarkan itinerary, agenda hari ini akan diisi dengan mengunjungi Desa Palama yang terletak di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. Kami akan melihat proses pemerahan susu kuda liar Sumbawa, kalau perlu sekalian mencicipi rasanya.

Pukul 23.00 malam sebelumnya, kami tiba di Aman Gati Hotel. Kondisinya terlalu gelap untuk mengungkap kondisi sebuah tempat. Awalnya saya mengira penginapan ini sama seperti penginapan-penginapan sebelumnya – berada di tengah-tengah kota. Ternyata salah. Karena, begitu hari berganti pagi, saya baru menyadari kalau penginapan yang dimiliki I Gede Sudantha ini berada di tepian Pantai Lakey.

View full article »