Ray of Light pagi Danau Ranu Pani

Ray of Light pagi Danau Ranu Pani

Hari ini Tim Terios 7 Wonders genap memasuki hari ke-6—Oktober 6, 2013. Pagi di Desa Ranu Pani datang lebih lama dari yang saya harapkan. Kejadian nyeleneh pukul 02.00 dini hari tadi adalah penyebabnya. Setelah Agung meneriakkan yel-yel favorit ala Jawa Timuran, mata sangat sulit dipejam. Dan alhamdulillah-nya, saya terpaksa begadang lagi sampai matahari menjelang. Bahkan terbawa-bawa sampai Baluran! Apa yang akan dilakukan Tim Terios 7 Wonders pagi ini, saya menyengajakan diri tidak mengetahui. Walau itinerary telah diberikan panitia, saya hanya membacanya sepintas lalu, kemudian lupakan. Saya lebih suka menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena begitu lebih seru ketimbang menunggu-nunggu sesuatu yang telah tentu. Mungkin, kalau saya berada di pihak panitia, bisa beda ceritanya.😀

Jadi setan itu gak gampang

Gelap langit Ranu Pani masih bertaburan bintang pada pukul 03.00 pagi. Lepas mengantarkan Pak Endi ke “stasiun pembuangan akhir” yang menyatu dengan lahan parkir, saya coba kembali memejamkan mata, bermodalkan sleeping bag yang tergeletak lama di luar tenda, yang telah menjadi basah didiami embun.

Sambil duduk siap merebahkan badan, sleeping bag yang saya kenakan sedikit demi sedikit telah sampai di bagian pinggang. Pada saat yang sama, di ujung tenda kedua terdengar suara pintu resleting tenda dibuka. Dalam keadaan sangat mengantuk, entah datang dari mana idenya, saya cepat-cepat bangkit mengenakan sleeping bag yang baru separuhnya tadi hingga menutup sempurna. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menakut-nakuti—sambil berharap tak ada setan betulan yang menggoda, karena saya pun takut sebenarnya. Kalau sampai betulan ada, saya bersedia push-up sebanyak-banyaknya, asal ‘mereka’ tak lagi mengganggu saya.

Saklar ON pada lampu senter baru saja diaktifkan seseorang di ujung sana. Cahaya putih kebiruan menciptakan garis-garis dinamis di setiap sudut permukaan tubuh yang baru keluar tenda. Walau samar, saya langsung bisa mengenalinya. Wira.

Gerakannya terhenti sesaat ketika menyadari sebuah sleeping bag hitam berdiri tegak di pinggir Danau Ranu Pani. Lampu senter yang semula ditujukan sebagai penunjuk jalan, kini berubah menjadi penentu kepastian setan atau bukan. Cahayanya lama diarahkan ke sleeping bag yang berdiri diam. Sekitar 1 menitan. Ayok! Lari lu! Lari! Dalam hati saya berharap.

Dan akhirnya… usaha saya sia-sia! Kebelet lebih menguasainya ketimbang rasa takut. Argh! Ternyata gak gampang jadi setan.

Terpaksa begadang

Mindset “tahan dingin” yang aktif sejak malam perlahan terkikis habis pagi ini. Ia benar-benar hilang manakala tubuh saya terbasuh air wudhu—sebelum melaksanakan sholat shubuh berjama’ah bersama Wira, Puput, dan Giri. Dinginnya air Desa Ranu Pani, ditambah udara yang menusuk tulang, membuat tubuh saya tak berhenti vibrasi sepanjang ritual sholat. Akibatnya jelas, dingin lebih khusyuk saya tahan ketimbang mendengarkan bacaan imam.

Danau Ranu Pani dalam skala

Danau Ranu Pani dalam skala

Para pemburu sunrise

Para pemburu sunrise

Kurva pagi Ranu Pani

Kurva pagi Ranu Pani

Halimun Danau Ranu Pani

Halimun Danau Ranu Pani

Refleksi Pagi Ranu Pani

Refleksi Pagi Ranu Pani

Matahari di timur Indonesia lebih cepat naik ke ufuk. Padahal baru pukul 05.00, tapi gemerlap bintang telah menghilang. Hanya pemburu sunrise saja yang telah terjaga, sementara sisanya pilih bangun lebih siang, meringkuk di tenda masing-masing.

Saya termasuk pada kelompok pertama. Bukan karena niatan berburu matahari terbit. Tapi terpaksa, karena mata terus saja terjaga. Padahal ngantuknya luar biasa. Seandainya bisa, tidur dengan satu mata membuka pun tak mengapalah. Saya rela. Sangat rela.

Di pinggir Danau Ranu Pani, hampir semua orang menikmati pagi. Dari cahaya ufuk, hingga bulatan matahari terbentuk. Karena tak mau begadang paksa sebelumnya sia-sia, saya pun ikut ambil bagian di dalamnya.

Akhirnya sunrise juga

Akhirnya sunrise juga

Puput dalam siluet

Puput dalam siluet

Puput in action

Puput in action

Sang Komposer

Sang Komposer

Tepi Danau Ranu Pani

Tepi Danau Ranu Pani

Lokasi Kemping Tim Terios 7 Wonders

Lokasi Kemping Tim Terios 7 Wonders

Cara kami nikmati pagi

Cara kami nikmati pagi

Ahh... sungguh pagi yang indah

Ahh… sungguh pagi yang indah

Gak ada salahnya coba foto levitasi

Gak ada salahnya coba foto levitasi

Mau galau juga boleh

Mau galau juga boleh

Agenda terakhir di desa kecil

Mentari pagi terbit menghangatkan hati. Sehangat salam persahabatan PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) yang membantu pihak pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR)-nya. Sejumlah sapu lidi dan beberapa tempat sampah yang bentuknya lebih mirip pot tanaman berukuran besar, diserah-terimakan secara simbolis melalui perwakilan ADM dan para blogger. Kegiatan ini adalah CSR Daihatsu yang kedua, setelah CSR Jogja.

Bantuan berupa sapu lidi dan tempat sampah di depan 7 Daihatsu Terios

Bantuan berupa sapu lidi dan tempat sampah di depan 7 Daihatsu Terios

Persiapan serah terima bantuan

Persiapan serah terima bantuan

Sambutan serah terima bantuan

Sambutan serah terima bantuan

Perwakilan ADM, TNBTS, dan Blogger

Perwakilan ADM, TNBTS, dan Blogger

Foto bersama Tim Terios 7 Wonders dan Perwakilan TNBTS

Foto bersama Tim Terios 7 Wonders dan Perwakilan TNBTS

Demi memburu waktu, tak lama setelah acara serah terima bantuan selesai dilaksanakan, Tim Terios 7 Wonders kembali melanjutkan agenda; jelajah Desa Ranu Pani.

Banyak pendaki Gunung Semeru yang melalukan Desa Ranu Pani untuk mereka jelajahi. Alasannya, selain tak ada agenda, desa yang didiami masyarakat Suku Tengger ini kurang menarik untuk dilirik. Padahal, kalau mau sedikit repot saja, kita akan menemukan cerita-cerita luar biasa dari para penduduknya. Salah satu contoh sederhananya adalah, turunnya salju di desa ini pada tahun 1984 silam. Kejadian ini berulang lagi, pada tahun 2013, “beberapa minggu lalu, di sini (Ranu Pani) baru hujan salju,” terang seorang warga, dengan logat jawa.

Belum lagi bila kita membicarakan banjir bandang yang pernah melanda desa, kisah para sherpa (porter) yang luar biasa, budaya agraria yang masih terasa, bentang alam yang memanjakan mata, dan lain sebagainya.

Jelajah Desa Ranu Pani

Jelajah Desa Ranu Pani

Perkebunan masyarakat Tengger Ranu Pani

Perkebunan masyarakat Tengger Ranu Pani

Pos Registrasi Pendakian Gunung Semeru, Ranu Pani

Pos Registrasi Pendakian Gunung Semeru, Ranu Pani

Daihatsu Terios - Sang Sahabat Petualang

Daihatsu Terios – Sang Sahabat Petualang

Untuk berkeliling desa, kalian bisa mulai dari tanah lapang yang terletak persis di sebelah Danau Ranu Pani. Kemudian mengikuti jalur berbukit yang relatif sempit. Sebarkanlah senyum ke setiap warga Tengger yang kalian temui, maka senyum kalian akan berbalas senyum yang tulus pula. Mereka bahagia dengan pola hidup sederhana. Ia terpancar dari sorot mata mereka.

Dengan berkendara pelan, 30 menit kemudian Tim Terios 7 Wonders telah menjelajah desa kecil di kaki Gunung Semeru ini. Usai sarapan di warung makan yang terletak persis di depan pos registrasi pendakian Resort Ranu Pani, tim kembali melanjutkan perjalanan panjang menuju Taman Nasional Baluran—via Lumajang—yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur. Selamat tinggal Ranu Pani. Selamat tinggal masyarakat Tengger. Semoga kita bisa berjumpa lagi. [BEM]