Sisi Lain Desa Ranu Pani

Sisi Lain Desa Ranu Pani

Apa yang kita ketahui atau saksikan sendiri dari Desa Ranu Pani mungkin belum semua. Seorang teman pengajar yang sering mondar-mandir Tumpang – Ranu Pani berbagi ceritanya kepada Tim Terios 7 Wonders ketika mengunjungi salah satu desa yang didiami Suku Tengger ini. Apa saja cerita yang ia bagi dengan kami?

Gunung Semeru bukan tempat sampah!

Sampah selalu saja jadi persoalan klasik yang tak kunjung selesai. Tak peduli di mana, selama masih di Indonesia, kesadaran kebanyakan kita akan kebersihan masih aman untuk dibilang kurang. Bertahun sudah saya melakukan aktifitas pendakian, tiap kali menggunung, sampah tidak pernah mangkir hadir. Kalau tidak di jalan, pasti di sekitar campsite.

“Jadi problem-nya kan sebenarnya gini; Ini teman-teman yang muda-muda ya, mereka kan ndak ngerti itu volume sampah ternyata peningkatannya sungguh luar biasa.” Terang Luthfi, seorang pengajar di Desa Ranu Pani (-8.01238,112.946432). “Sampah selalu lebih banyak pada Bulan Suro dan Agustus,” terangnya lagi.

Menjadi satu-satunya pintu masuk pendakian Gunung Semeru, ibarat buah simalakama bagi Desa Ranu Pani. Selain mengalap berkah dari banyaknya pengunjung yang datang, mereka juga harus siap menanggung ‘musibah’ berupa tumpukan sampah.

“Tahun baru 2013 yang lalu, tercatat jumlah pendaki sebanyak 2,500 orang. Belum termasuk yang lolos pendaftaran.” Luthfi memberi data. Ia menambahkan, “kemaren yang ngangkat sampah, 1 kali ngangkat, 1 orang itu 1 kwintal. Dari Kalimati sama Ranu Kumbolo. Kalo dari yang saya dengar dari telpon kepala resort sini, sisanya itu masih 6.5 kwintal lagi. Terus, karena sampahnya masih numpuk, orang kampung saja digerakkan. Soalnya kalo dari luar (volunteer), kasihan, mahal biayanya (transportasi dan lain sebagainya).”

Solusi untuk menjawab permasalahan ini, akhirnya pihak pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menerapkan sistem kuota—persis seperti yang telah diterapkan oleh Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) di Bogor, Jawa Barat.

“Semenjak kejadian itu, dimulailah sistem kuota sekitar 5 bulan yang lalu. Pendaftaran online. Tapi tetap registrasinya di tempat,” kata Luthfi. Selain itu, ia juga menyarankan agar perbekalan setiap pendaki (Gunung Semeru) terdokumentasi. Jadi, begitu mereka turun (gunung), perbekalan yang mereka bawa bisa diperiksa.

Dengan ketatnya peraturan yang diterapkan, ia berharap, permasalahan sampah, lambat laun bisa teratasi. “List sampah. Bekalnya apa saja. Nanti kan ketahuan apa yang mereka bawa. Jadi ada semacam  report gitu lho.”

Beda akses jalan dulu dan sekarang

Dalam penerapannya, sistem kuota terbilang mampu mengurangi pertumbuhan sampah pada area pendakian Gunung Semeru. Tapi masalah tidak berhenti di situ. Satu solusi memunculkan masalah lain. Masyarakat penyangga area wisata merasakan pendapatan mereka berkurang drastis akibat sistem kuota ini diberlakukan.

“Dinamikanya di sini. yang terlibat bukan hanya soal pendakian aja kan. Termasuk teman-teman jeep yang orang-orang lokal, kalau kemudian kita terlalu keras juga bisa rame banget. Dinamikanya luar biasa,” kata Luthfi. Ia kembali menambahkan, “contohnya kemaren, pada waktu penetapan kuota. Pinginnya kan supaya lebih mudah pengaturannya. Wah, teman-teman yang jeep bilang, ‘Jangan! Kita dulu juga berjasa untuk meramaikan tempat ini.’ Memang nyatanya begitu.”

Tak bisa dipungkiri, andil warga pemilik kendaraan jenis offroad 4x4WD ini juga terbilang besar. Bila kita flashback kembali ke era tahun 80-an dulu, akses jalan untuk menuju Desa Ranu Pani sangat sulit. Kejadian jeep terperosok ke dalam jurang, juga tak jarang. Pokoknya serba sulit. “Sekarang 2-3 jam sampe. Dulu bisa 5-6 jam. Jeep itu harus pake rante, pake macem-macem, bahkan ada yang masuk jurang juga. Mereka ngomongnya begitu.” Luthfi mengimbuhkan.

Perubahan image pendakian Gunung Semeru

Sebuah film produksi lokal yang bercerita tentang pendakian ke Gunung Semeru oleh sekelompok sahabat, yang beberapa waktu lalu diputar di bioskop-bioskop Indonesia, secara nyata membawa euforia, terutama pada kaum muda-mudi yang semula “belum mengenal” gunung.

“Pengaruh film kemaren membuat pendakiannya luar biasa. Wah, kalo kemaren liat. Ini udah agak sepi nih. Kemaren cewek-cewek cakep-cakep itu naek (mendaki) semuanya udah,” kata Luthfi. Ia menekankan, “seksi-seksi semua gak ada yang gak seksi! Serius!”

Aktifitas pendakian yang rata-rata hanya berkisar antara 500-600 pendaki per hari, membengkak hingga 5 kali lipatnya. “Setelah film kemaren, perbandingan pengunjung bisa 5 kali lebih besar. 1 hari itu volumenya bisa 2,500 orang. Bayangkan coba. Dan gak bisa ditolak,” kata Luthfi. Namun ia juga menyesalkan keadaan ini, “pendaki yang datang makin lama makin seksi, tapi (kondisi Semeru) makin hancur.”

Image pendakian Semeru yang pada 1-2 dekade lalu begitu mengerikan, kini berubah, terkesan lebih menyenangkan. “Jadi image-nya, kalo dulu tahun 80an 90an saya ke sini, naik ke Semeru itu menakutkan banget. Ngeri. tapi sekarang gak ada lagi. Jadi enjoy banget gitu. Ya, memang gitu kan suasananya.”

Pada jaman Herman Lantang, membawa anak-cucu mendaki Gunung Semeru itu dianggap luar biasa. Tapi sekarang, keluarga-keluarga muda yang membawa anak-anak mereka seolah merupakan fenomena biasa. “Dan jangan kaget. Kemaren 1-2 bulan lalu, yang bawa anak kecil umur 5-6 taun banyak,” kata Luthfi. Dia tak habis pikir, “heran saya, jadi semacam wisata keluarga gitu lho. Saya juga bingung.”

Dulu, periode pendakian Gunung Semeru umumnya pada Bulan Agustus hingga Desember. Tapi belakangan ini, seolah tak mengenal musim. Kapan pun jumlah pendaki bisa membludak. Apalagi dengan akses jalan menuju Desa Ranu Pani yang kini jauh lebih mudah,”Jadi sekarang itu banyak pendaki bawa motor. Parkir di sini, terus naik,” terang Luthfi. Tambahnya, “berangkat dari sini malam. Jam setengah tujuh baru dia naik. Dan gak takut. Tapi kalo yang tua-tua, mesti gak mau jam-jam segitu. Mereka udah ‘ngerti’.”

“Terus, kalo saya denger nih Pak. Katanya, waktu pembuatan film itu, banyak yang nebangin pohon di Semeru. Betul gak tuh?” Mumun, teman semobil saya, yang sedari tadi duduk di sebelah kiri Luthfi, mulai angkat bicara meminta konfirmasi.

Nebangin pohon dalam artian yang roboh mungkin iya. Kalo (kalian) sudah pernah ke atas, kan banyak tuh yang sudah jatuh (tumbang). Itu pun yang kecil-kecil. Kayak yang gini ini lho.” Jari telunjuknya mengarah ke kayu bakar yang telah membara di kompor tradisional Suku Tengger.

Sama seperti penduduk. Mereka biasanya hanya mengambil kayu-kayu dari lahan milik sendiri, yang kebanyakan berbatasan langsung dengan hutan Taman Nasional. “Penghijauan istilahnya. Penghijauan untuk ditanami (pepohonan) yang kecil-kecil gini, untuk kayu bakar.” Ujar Luthfi.

“Tapi sebenernya memang gak boleh sih kalo ngambil di kawasan (Taman Nasional). Sekecil apapun sebenernya gak boleh. Tapi kalo terlalu strict juga gak mungkin. Tapi di sini (Desa Ranu Pani) orang-orangnya relatif gampang. Diberitahu sekali udah takut. Paling ngambil yang udah kering. Tapi juga ada pendaki yang ngawur.” Terang Luthfi lagi, menutup konversasi kami berkaitan image pendakian malam itu.

Binatang yang ‘terlupakan’

Seorang teman saya, yang sejak tahun 1990-an sering melakukan aktifitas mendaki gunung, pernah mengatakan bahwa di Oro-oro Ombo, pada jaman dulu, burung-burung merak masih sangat mudah ditemui. Ternyata hal ini juga diamini Luthfi. Katanya, “Tahun-tahun 90an, di Oro-oro Ombo banyak Burung Merak. Sampai sekarang masih. Dari Ranu Kumbolo keliatan itu. Pagi hari jejaknya keliatan. Macan ada, kancil ada.”

Sekedar informasi saja, macan yang dimaksud di sini adalah macan tutul atau macan kumbang. Bukan harimau ya. Walau tampak sama, kedua jenis kucing besar ini jelas berbeda dari segi ukuran. Tubuh harimau, pada umumnya lebih besar daripada macan tutul atau macan kumbang. Selain itu, Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica) sejatinya telah punah sejak tahun 2003 yang lalu—berdasarkan data dari organisasi International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Selang beberapa hari dari waktu kedatangan Tim Terios 7 Wonders di Ranu Pani, macan kumbang yang diperkirakan penghuni TNBTS keluar dari area taman nasional. Ia masuk ke dapur salah seorang warga di Dusun Sumber, Desa Sentul, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

“Dibius sama petugas Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen, tapi gak berhasil,” kata Luthfi. “Petugasnya malah kena cakar. Selamat, tapi masuk rumah sakit. Sekarang belum keluar.”

Sayangnya, binatang tersebut tidak berhasil dilumpuhkan, sehingga solusi lain harus segera diambil. Apalagi mengingat pada saat itu banyak warga desa telah berkerumun di sekitar lokasi kejadian. Khawatir binatang ini melukai lebih banyak orang, petugas terpaksa menembak mati binatang malang tadi.

Di area pendakian Gunung Semeru, macan-macan ini biasanya keluar dari Jambangan. Arah timur Oro-oro Ombo. “Pokoknya yang ada mata airnya itu lho Mas. Untuk jumlah pastinya, saya gak tahu.” Terang Luthfi, ketika saya tanya di mana biasanya binatang ini terlihat.

Sementara, untuk burung merak, walau jarang ditemui, mereka sebenarnya masih ada. Tapi, hanya di titik-titik tertentu saja. biasanya di Oro-oro Ombo. Untuk ini, Luthfi kemudian berspekulasi, “Tapi kan Oro-oro Ombo luas. Mungkin di sebelah timur. Kalo Meliwis, itu memang habitatnya di Ranu Kumbolo gak ada yang lain.”

“Temen-temen itu juga, tadi kan, baru nemu danau lagi. Danau Tompe namanya.” Luthfi menginformasikan satu lagi berita yang benar-benar segar. Fresh from the oven.

Sejak berdiri tahun 1982, baru kali ini TNBTS melakukan ekspedisi terbesarnya—Ekspedisi Eksplorasi Ekologi Ranu Tompe. Danau seluas 0.7 hektar dengan kedalaman 4-5 meter ini ditemukan berada di wilayah kerja Resort Pengelolaan Taman Nasional (RTPN) Seroja, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II. Yang secara administratif, masuk Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Namun ke depannya, danau ini tidak akan ‘dibuka’ untuk umum seperti Ranu Kumbolo dan Ranu Pani. Hanya dengan izin khusus dari pihak berwenang saja yang boleh kesana.

***

Akhirnya, cerita yang sedikit panjang ini pulalah yang mengakhiri petualangan Tim Terios 7 Wonders – Hidden Paradise di Desa Ranu Pani. Masih banyak cerita yang akan saya bagi kepada teman-teman sekalian berkaitan dengan perjalanan panjang kami. Ditunggu ya.😀 [BEM]