Kemping di Danau Ranu Pani

Kemping di Danau Ranu Pani

Slogan Daihatsu Terios yang berbunyi, “Discover the New Adventure,” sepertinya kompatibel dengan saya. Kebiasaan spontan yang seringkali diterapkan dalam suatu perjalanan, tak jarang membawa saya kepada pengalaman-pengalaman baru yang tak pernah terduga sebelumnya. Di tepi Danau Ranu Pani, ketika hampir semua anggota Tim Terios 7 Wonders terlelap, spontan kembali saya melakukannya. Keisengan seperti apa? Ikuti terus ceritanya.

***

Begitu acara perkenalan dengan keseharian masyarakat Tengger di kediaman Mak Yem usai, kami kembali ke mobil masing-masing untuk kemudian menuju tepi Danau Ranu Pani—tempat kemping kami malam ini. Hawa dingin yang menusuk tulang, tidak mampu menggerakkan saya untuk berganti dengan pakaian hangat. Padahal sebagian teman-teman lain sudah menggunakannya dua rangkap.

Acara hiburan malam ini hanya akan diisi dengan membakar api unggun di depan tenda. Saya yang masih betah berdiam di lapangan parkir, bersama Sigit berburu bintang. Kalau hanya berdua, saya khawatir yang ketiga setan, karena itu pula, beberapa teman kami daulat untuk turut serta. Puput, Wira, Harris, dan Uut.

Seperti biasa, settingan awal kamera selalu saja tak sempurna. Butuh berkali-kali pengaturan untuk menghasilkan foto bintang yang diharapkan. Kecuali shutter speed, semua diatur pada nilainya yang paling maksimal. ISO terbesar, aperture terkecil, focal length terpendek, segalanya. 7 terios digunakan sebagai titik fokus. Setelah dapat, framing diatur sedemikian rupa untuk mendapatkan angle yang sesuai selera. Sisanya, tinggal menunggu bukaan rana yang lumayan lama. 25 detik!

Hasil optimal yang didapat dari kamera Single Lens Reflex (SLR) kelas pemula, ternyata tak mampu memuaskan hati saya. karenanya, walau belum genap terbilang jari, sesi buru bintang malam ini saya akhiri.  Ehm… sebenarnya bukan masalah hasil yang saya pikirkan. Tapi, dinginnya udara Desa Ranu Pani yang gak karu-karuan. Hahaha.

Untuk mendapatkan kembali kehangatan—tolong jangan diartikan negatif—saya pilih merapat ke api unggun yang telah menyala sejak lama di depan tenda. Dari demikian banyak orang, satu per satu mulai tumbang. Yang tersisa tinggal saya, Bang Ucok, Iman, Mas Luthfi, dan Agung.

Bang Ucok banyak cerita tentang perjalanan luar biasanya ke Papua. Mas Luthfi masih dengan pengetahuan berlimpahnya tentang masyarakat Tengger Ranu Pani. Sementara saya dan Iman hanya bisa menanggapi dengan bertanya sekenanya. Lalu Agung? Tenang. Dia masih ikut ambil bagian, walau sebatas mesam-mesem. Persis seperti yang David lakukan selama di perjalanan. Sehat Pit? :p

Sambil menahan dingin yang menggigit, sesekali kami lepaskan pandangan ke arah langit. Malam itu, tak ada awan yang bergelayutan. Tanpa polusi cahaya, tatapan mata ke angkasa begitu jelas sebening kaca. 4 bintang jatuh sudah berbilang. Gerakan yang seperti kilat, cepat membuat mereka lenyap dalam sekejap. Pada bintang yang terakhir, satu per satu undur pamit. Dari 3 orang yang tersisa, akhirnya menyerah juga. Kami ikut bubar jalan menuju tenda masing-masing.

Baru saja pintu tenda dibuka. Saya tidak melihat kesempatan di sana. Ketiga teman yang lebih dulu menghuni, telah lelap menerapkan gaya freestyle. Alhamdulillah. Saya tidak kebagian lahan. Hahaha.

Pada titik ini, pilihan yang ada, hanya 2; meminta mereka sedikit bergeser untuk memberi saya ruang, atau mencari tenda lain. Pada pilihan pertama, saya tidak tega melakukannya. Perjalanan yang panjang, pasti membuat kondisi tubuh mereka tidak karuan, persis seperti yang saat itu saya rasakan. Tapi, untuk pilihan kedua, saya khawatir salah masuk tenda teman-teman wanita. Bisa berabe nanti urusannya.

Bagaimana ini? Dalam hati saya bertanya.

Tidur di hotel, sudah pernah. Tidur di tenda, juga sering. Tidur di… Ah! Tiba-tiba dapat ilham.

***

Saya punya kebiasaan, setiap kali naik gunung, seberapapun dingin gunungnya, sleeping bag tidak pernah saya gunakan. Alasannya bukan karena saya tahan dingin, tapi lebih kepada tujuan praktis. Keril berukuran kecil yang ¾-nya telah terisi kamera, dan sisanya pakaian seperlunya, tak akan cukup untuk menampung satu sleeping bag lagi. Walaupun sleeping bag yang saya miliki sudah berukuran kecil.

Sleeping bag buat dia cuma jadi benda pusaka doang.” Begitu teman-teman biasa bilang. Mereka Sherina (baca: geregetan) pada saya.

Pertanyaannya, apakah gunung-gunung yang saya daki tidak dingin?

Tentu dingin. Sangat dingin!

Tapi saya memilih untuk berangkat dari logika pemikiran yang berbeda. Prinsip pemikiran ala Tarsan saya gunakan. Kalau binatang saja bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun di tempat-tempat dingin, manusia pun pasti bisa. Yang saya butuhkan untuk menghangatkan badan hanyalah menetapkan mindset.

Dan, dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim, (entah apa yang ada dalam pikiran) saya pilih tidur di luar tenda. Untuk pertama kalinya. Let’s discover the new adventure.

Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. “Man! Tidur di luar aja sini! Lebih asik!” Iman, yang sama-sama kloter terakhir, dan baru saja masuk tenda, kemudian saya goda. Butuh 3 kali rayuan untuk membuatnya termakan godaan.

“Iya! Bentar gw ke situ!” Entah lupa atau apa, dia teriak begitu lantang dari dalam tenda sana. Padahal 3 orang teman belum lama pulas di dalamnya.

Di pinggir Danau Ranu Pani yang begitu dingin beralaskan alumunium foil, dan berselimut bintang. 3 orang kloter terakhir yang semula lenyap, kembali lengkap. Saya, Iman, dan Agung. Tanpa melalui gelombang alpha, Agung langsung masuk ke tahap tarik suara (baca: ngorok). Saya dan Iman, yang separuh terjaga, akhirnya tak kuasa menahan mata. Pelan tapi pasti, kami masuki gelombang alpha.

Tak ada suara kodok mengorek. Yang ada hanya suara manusia mengorok. Suara yang satu, dibalas suara yang lain. Selalu begitu. Mereka saling bersahut-sahutan. Kiranya saya sedang mendengarkan percakapan manusia dalam bentuk yang berbeda.

Iman, yang berusaha lepas dari jerat gelombang alpha ke gelombang delta, lama-lama tak kuasa juga untuk menahan suara. “Ini orang ngapa pada ngorok semua yak!?” Logat betawinya kental terdengar.

“Gak papa Man. Ntar dikit lagi, kita selepet-selepetin (jepret menggunakan ketapel) aja.” Setengah sadar saya menjawab sekenanya.

Sesuatu yang di luar nalar pun terjadi. Sesingkat komentar terakhir tadi, Agung yang telah pulas dengan suara ngorok paling keras, seketika duduk di samping kami berdua. Dengan nada tawa ia teriak sekeras-kerasnya, “Jancuuuukkkkk!!!

Iman dan saya yang tak kuasa menahan tawa, akhirnya terimbas juga dengan kelakuan absurdnya. Dan, pada dini hari Danau Ranu Pani, bertiga-tiga kami paduan suara. “Hahahahaha…”

Ah, betapa ajaibnya Tim Terios 7 Wonders ini. T_T [BEM]