View Gunung Semeru dari Dampit

View Gunung Semeru dari Dampit

Tim Terios 7 Wonders memasuki hari kelima—Oktober 5, 2013. Saat ini, kami masih berada di Kota Apel, Malang. Perjalanan ke Desa Ranu Pani ditangguhkan sementara waktu, karena ada permintaan dari rekan-rekan Daihatsu Malang untuk berfoto bersama. Dari sana pula, rekan-rekan media lokal yang jumlahnya 8 orang akan turut serta dalam rombongan. Mereka akan menemani selama kami berada di kota ini. Namun selebihnya, ‘sendiri’ lagi.

Daihatsu Malang

Daihatsu Malang

Menjajal Daihatsu Ayla

Menjajal Daihatsu Ayla

Pagi menjelang siang kami mulai bertolak. Tim Malang didaulat sebagai penunjuk jalan. Tak jauh dari alun-alun kota, jalan raya ditutup. Ada hajatan besar di sana. Penghelatnya, entah siapa, karena itu pula, tim ini terpaksa putar haluan.

10 menit lepas dari gapura selamat datang Kota Tumpang, Tim Terios 7 Wonders kembali mampir ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terdekat. Kesempatan seperti ini hampir tak pernah disia-sia oleh kami semua. Secara bergantian, kami keluar-masuk barisan. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menjawab “panggilan alam.”

Daihatsu Terios 7 yang mendapat mandat sebagai sweeper, ‘minum’ lebih banyak dibandingkan dengan ke-6 Terios lain. Pada angka “1350,” tangki bensin diisi penuh. Butuh 188,890Rp untuk melepaskan dahaganya.

Keluar dari SPBU barisan iring-iringan masih dipertahankan. Bila lepas dari sambungan, grup yang berada di depan, akan berusaha menunggu grup di belakang, agar bisa kembali line-up. Komunikasi via Handy Talkie (HT) selalu dimonitor. Suara putus-putus atau tak mendapatkan balasan, menandakan iring-iringan terpisah pada jarak yang cukup lumayan. Dalam hitungan saya, HT yang kami gunakan hanya mampu berkomunikasi pada radius 1 kilometer saja. Selebihnya, komunikasi dilakukan via telpon genggam. Tapi ini hanya sesekali.

Makan siang di Warung Lesehan Kloewoeng

Makan siang di Warung Lesehan Kloewoeng

Pada bangunan beratap asbes bertulang bambu, konvoi bergerak merapat ke arah kiri. Pada bagian bawah wuwungan segitiganya tertulis kalimat, “Waroeng Lesehan Kloewoeng – Ayam Kampung Bakar – Ikan Segar Bakar.” Menu karnivora tak bosan-bosannya kami cerna.

Kecuali kami, tak ada pengunjung lain di warung makan ini. Sepi. Sangat sepi. Sampai-sampai pelayannya pun tak ada. Dua tiga panggilan tak membuatnya muncul di muka. Baru pada panggilan ketiga, sahutan terdengar dari arah dalam. Ah, sepertinya makan siang cepat hanya akan ada di angan-angan.

Sholat berjama'ah

Sholat berjama’ah

Teman-teman yang lain seketika sibuk memilih menu. Dalam giliran, lembaran menu makanan cepat berpindah tangan. Karena curiga saya tak ikut di dalamnya. Saya lebih memilih musholla kecil di belakang sana.

Tak lama kemudian, beberapa teman ikut ambil bagian. Masing-masing mengambil air wudhu, kemudian melakukan sholat dzuhur berjama’ah. Karena berada dalam perjalanan, fasilitas Tuhan berupa sholat jamak kami lakukan. Setelah ditutup doa sederhana, saya kembali ke ruang utama rumah makan. Tempat di mana teman-teman seperjalanan berkumpul dan menunggu ketidak pastian datangnya menu pesanan.

Menunggu makanan yang tak juga datang

Menunggu makanan yang tak juga datang

Setengah jam berlalu, pesanan yang diharapkan tak juga datang. Karenanya, Pak Endi berinisiatif mengganti pola. Pesanan perorangan diganti menu rombongan. Yang penting rasa lapar cepat teratasi.

Keadaan ini dimanfaatkan sebagian orang untuk tidur-tiduran, berbincang, membaca buku, mainkan telpon genggam, kebingungan, atau apa saja yang dianggap bisa membunuh kebosanan.

Butuh setengah jam lagi untuk menunggu pesanan kami. Seorang pelayan rumah makan usia lulus sekolah membawakan kami seteko besar teh tawar. Gelas-gelas yang dibawanya pun tak kalah besar. Baru sekejap, gelas-gelas tadi lenyap. Mulut 32 orang tak akan terfasilitasi dengan jumlah gelas yang terhitung jari.

Hanya perlu teriak untuk mengundang gelas-gelas berikutnya datang. Kali ini ukurannya sedikit tereduksi. Namun, tetap saja, gelas yang baru tersedia tak juga mencukupi mulut-mulut yang tersisa. Sekali lagi, gelas kami minta kepada sang pelayan.

Kali ini ia menghilang lebih lama dari sebelumnya. Hampir 10 menit kemudian, ia menampakkan diri. Gelas pesanan tak lupa ia bawakan. Tapi, kali ini, ukurannya mengecil lagi! Sungguh rumah makan yang aneh.

Saya yang sedari tadi hanya memperhatikan, sekarang mulai ikut ambil bagian. “Mas, minta gelasnya ya. Satu.” Percaya diri saya meminta kepadanya.

“Wah, gelasnya habis Mas.”

Glodhak!

Speechless…

Makanan datang, semua senang

Kalau dihitung-hitung, hampir 1.5 jam kami menunggu. 3 orang pelayan rumah makan lalu-lalang mengantarkan makanan yang baru selesai dimasak. Meja satu, dikeroyok 32 orang. Karena terlalu banyak yang rebutan, saya pilih untuk mengalah.

Akhirnya pesanan datang juga

Akhirnya pesanan datang juga

Dan, begitu kesempatan datang, alhamdulillah, saya hanya dapat kacang panjang mentah. Hahaha. Rupanya Tuhan mengijabah doa hambanya yang vegetarian jadi-jadian ini. Yah, demi teman-teman yang lain, tak mengapalah saya pura-pura jadi embek untuk sementara.

Kalau dipikir saya merana, maka kalian salah besar. Karena, seringkali hal-hal tak terduga seperti inilah yang justru membuat saya tertawa. Persis seperti masa-masa kehabisan perbekalan saat mendaki Gunung Semeru beberapa waktu lalu. Orang-orang mengira kami menderita, padahal sedang bergembira. Dan, beginilah cara saya Discover the New Adventure.😀

Makanan yang disiapkan selama 1.5 jam, ludes hanya dalam waktu 15 menit. Perut yang sedikit buncit tentu tak bisa langsung dibawa jalan, karena itulah ritual makan siang kami lanjutkan dengan sedikit bermalas-malasan.

Cium dari belakang

Jalan Puntodewo VIII/2 punya warung makan yang “out of the box,” tapi sayangnya, kami harus segera melanjutkan perjalanan. Dalam keadaan yang sedikit kenyang, pikiran pun menjadi tenang. Iring-iringan melaju pada kecepatan sedang.

Brak!

Baru 5 menit berkendara, kami kembali dapat cerita. Bumper Terios 7 dihajar motor dari belakang. Dalam keadaan refleks, saya menyaksikan kedua pengendaranya jatuh tersungkur di aspal hitam.

“Monitor monitor. Terios 7 ada problem sedikit. Ijin berhenti gitu ganti.” Boski, pilot darat Terios 7 melaporkan kejadian kepada iring-iringan melalui HT.

Dengan memikirkan keselamatan diri sendiri, juga orang lain, kami ambil jarak aman, kemudian menepi. Dari kejauhan terlihat 2 pengendara yang sedang dievakuasi warga. Dengan berjalan kaki, Boski dan saya mendatangi tempat kejadian perkara.

Pengendara pria tampak baik-baik saja, namun pengendara wanita yang membonceng di belakang, mengalami cidera terkilir pada lengan kanan. Warga yang mencoba membantu, malah memperparah keadaan. Sakit yang tak tertahan membuat wanita itu pingsan.

“Yang salah siapa?” Dengan nada tegas, Boski langsung menginterogasi. Kami tidak bersalah, karena pada saat kejadian kecepatan kami konstan di level aman, juga tidak melakukan pengereman mendadak.

“Iya Mas, saya yang salah. Tadi mau mendahului, tapi dari arah berlawanan ada kendaraan. Saya mau ngerem gak bisa, akhirnya nabrak.” Pengendara pria angkat bicara. Sportif juga ia rupanya.

“Jadi saya gak salah ya?” Boski mengajukan pertanyaan yang lebih mirip dengan pernyataan.

“Iya Mas. Gak salah.”

“OK. Kalo gitu saya tinggal.”

“Iya Mas.” Nadanya masih terdengar setengah takut.

“Monitor monitor. Terios 7 aman. Silahkan rolling.” Boski kembali mengisyaratkan keadaan yang telah terkendali.

Anomali perayaan Hari Kemerdekaan

Kami melaju di atas aspal Jalan Semeru Selatan, Dampit. Membelah Jalan Raya Tlogosari yang menyajikan pemandangan Puncak Mahameru dari kejauhan, kemudian masuk ke Jalan Tirtoyudo. Desa Tirtomarto dilalui begitu saja. Hingga pada pukul 15.12, gapura selamat jalan Kabupaten Malang melepas kepergian kami, yang langsung disambut gapura selamat datang Lumajang, 25 meter kemudian.

Koleksi MP3 Mumun, dengan genre electropop dance, berlabel “I Love It” yang penuh semangat, dari duo Swedia, Icona Pop baru terpilih secara otomatis lewat pemutar musik digital yang menempel pada dashboard.

Hingga titik ini, laju kendaraan masih konstan di level aman. Lalu lintas di daerah jelas tidak sepadat Kota Jakarta. Pada jembatan kedua yang baru kami lewati, komposisi nada dari Ivan Nosterman, “Flores the C,” yang rencananya diputar Mumun setelah kami sampai di Pulau Flores, menyambung lagu sebelumnya yang baru usai.

Grup paling depan menurunkan kecepatan, kemudian diam.  Akses jalan yang akan kami lalui sedang ditutup. “Lewat situ aja Pak.” Seorang warga memberikan pilihan alternatif. “Di sini lagi ada acara tujuh belasan. Ndak bisa lewat.” Ia menjelaskan duduk perkara dengan bahasa Indonesia berlogat Jawa.

Tujuh belasan? Tapi ini kan bulan Oktober?

Pertanyaan itu saya ajukan untuk diri sendiri, di dalam hati. Sambil mengikuti iring-iringan yang berada di depan, Terios 7 masih setia menjadi buntut. Maklum, sweeper.

Jalan ditutup! ada perayaan HUT RI 68

Jalan ditutup! ada perayaan HUT RI 68

Pada belokan jalan yang lain, lagi-lagi, batang kayu yang serupa dengan sebelumnya, dibentang menutupi separuh badan jalan. pada bagian tengahnya terdapat sebuah karton putih bertuliskan, “Maaf! Jalan Kloposawit Pancut ditutup. Ada acara HUT RI 68.”

What!?

Jadi, apa yang semula saya dengar, ternyata benar. Pertanyaan saya telah mendapatkan jawabannya. Tapi, bagaimana bisa anomali ini terjadi? Bagaimana mungkin perbedaan waktu antara Kota Jakarta dan desa ini terpaut hingga 3 bulan? Lalu, termasuk Waktu Indonesia bagian manakah Desa Pancut ini?

Karena tidak yakin dengan papan pemberitahuan tersebut, kali ini konvoi memaksa masuk. Tapi, 100 meter kemudian, warga berbeda masih memberikan isyarat berita yang sama. “Ndak bisa lewat Pak. Sempit jalannya. Lagi ada acara.” Ia memberi tahukan kepada kami dengan ramah, kemudian coba menuntun menemukan jalan lewat kata-kata dan isyarat tangan yang menunjukkan belok ke kiri atau ke kanan.

“OK Pak. Terima kasih banyak.”

Pemandangan alam desa 1

Pemandangan alam desa 1

Pemandangan alam desa 2

Pemandangan alam desa 2

Pemandangan alam desa 3

Pemandangan alam desa 3

Setelah membuktikan sendiri, akhirnya iring-iringan kendaraan mundur kembali kebelakang. Menuju jalan yang diberitahukan sang bapak tadi. Entah lewat mana, yang jelas kami masih di jalan desa yang cenderung sempit. Pada beberapa titik bahkan hanya muat satu mobil saja. Namun begitu, pemandangan di desa ini sangat bisa dinikmati. Sawah-sawah menghijau, udara yang sejuk, warga yang ramah. Ah, pokoknya tak rugilah.

Setan di hutan Lumajang

Lepas dari ruas jalan desa yang cenderung sempit, pada pertigaan ke kanan, kami lewati beberapa bangunan bambu yang berdiri begitu tinggi. Warga sekitar menggunakannya sebagai tempat menjemur daun tembakau hasil panen. Kalau di Magelang, alat yang biasa digunakan untuk menjemur daun tembakau namanya rigen. Kalau di sini, entah apa namanya, karena saya tak sempat bertanya. Maafkan saya ya teman-teman.😀

Masuk ke Jalan Senduro – Purworejo yang beraspal hitam pekat seperti baru disikat, tim mampir ke mini market yang berada di sebelah kiri jalan. Kami berhenti agak lama di tempat ini. Sebagian mengunakan kesempatan sebaik-bainya untuk melengkapi perbekalan cemilan, sementara sebagian yang lain menggunakannya untuk memenuhi “panggilan alam” (lagi).

Gapura Selamat Datang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru 1

Gapura Selamat Datang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru 1

Gapura Selamat Datang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru 2

Gapura Selamat Datang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru 2

Pukul 17.30 petang, kami teruskan perjalanan yang semula tertunda. Melewati Kampung BRI, Desa Burno, hingga akhirnya sampai di depan gerbang masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Terios 7 terpaut cukup jauh dari iring-iringan. Kami sengaja berhenti sejenak untuk mengambil gambar palang besi kurva yang memadu candi bentar, warisan arsitektur masa lalu. Titik embun pada foto pertama tertangkap banyak, tapi begitu foto kedua diabadikan, hanya satu lingkaran orb yang paling dominan. Artefak tak diharapkan yang biasanya muncul pada flash photography.

Kecuali lampu utama mobil kami, tak ada sumber cahaya lain. Segalanya serba pekat. Residu pemikiran Thomas Alpha Edison absen di garis perbatasan ini.

Semakin kami tusuk jantung hutan, jalan aspal yang hanya bisa dimuati satu mobil begitu cepat berubah rusak. Obrolan biasa antar ke-4 manusia penghuni Terios 7 bergeser setengah ke arah tak terduga.

“Lu liat gak tadi di pos. Itu gede banget.” Boski buka suara. Uci yang biasanya senang bercerita, seketika diam seribu bahasa. Masih kurang seram, ia menambahkan, “dia berdiri di belakang pos. Ngeliatin kita.” Nada suaranya masih terdengar serius. Perubahan gestur tubuhnya, walau samar, bisa saya rasakan.

Satu lagi kejutan yang datang dari teman kami yang satu ini. Setelah memukul gurunya pada masa sekolah dulu, melawan komplotan tukang palak yang membuatnya hampir kehilangan nyawa, menjadi pembalap slalom, hingga merasakan dunia scammer bertahun-tahun lalu, entah kejutan apalagi yang akan ia berikan setelah ini.

Pada jalan menanjak bergelombang yang seluruhnya telah rusak, berkali-kali kami mendengar suara tumbukan keras di bagian belakang mobil sebelah kiri. Batu-batu kali berukuran sedang yang semula diam di lantai jalan berhamburan ketika terlindas ban.

20 menit kemudian, Terios 7 masuk ke dalam barisan. Sebentar kami berhenti, karena jalan harus diinspeksi. Jalur hutan berbatu menuju Desa Ranu Pani rusak begitu parah. Sedikit lengah tentu bisa membawa musibah. Karenanya sikap waspada penting adanya.

“Lu pada denger kan tadi, suara ‘bug bug bug’ di belakang?” Boski membuka pertanyaan mengharap jawaban.

“Iya.” Saya dan Mumun kompak menyahut.

Belum sempat kami tambahkan keterangan, Boski kembali buka suara. “’Itu’ yang tadi di pos. kayaknya dia gak suka sama kita.,” jelasnya. Dan, Uci pun bertambah diam ditelan ketakutan.

***

Sejak awal memasuki jalan hutan yang kemudian rusak parah, saya tidak merasakan lagi kekhawatiran yang datang pada 2 hari pertama permulaan perjalanan kami ke Desa Sawarna. Jalur Lava Tour Merapi telah menjadi ajang pembuktian ketangguhan mesin bertipe 3SZ-VE DOHCVVT-I Daihatsu Terios yang kami tumpangi.

Jadi, berapa pun parahnya jalur yang akan dilalui, selama masih termasuk dalam kategori offroad ringan, mudah saja kami tantang. Bila ditambahkan dengan skill mengemudi yang apik, perpaduan keduanya tentu akan menjadi ciamik. Dan, pada malam yang dingin bertabur bintang, Tim Terios 7 Wonders akhirnya menjejakkan kaki di Desa Ranu Pani, Tengger. [BEM]