Desa Ranu Pani kala siang hari

Desa Ranu Pani kala siang hari

1.5 jam melintasi lebatnya belantara Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNTBS) dengan jalan batu yang rusak parah, melemparkan ingatan saya kembali pada Kota Jogja, ketika Tim Terios 7 Wonders menjajal jalur pasir berbatu Desa KinahrejoLava Tour. Ketangguhan Daihatsu Terios melahap jalur offroad ringan Kecamatan Cangkringan terbukti lagi pada akses jalan Ranu Pani – Lumajang.

Persis di sebelah pos registrasi pendakian Gunung Semeru, 7 Terios diparkirkan. Dalam hawa malam yang begitu dingin, Pak Endi kembali mengumpulkan anggota tim untuk diberikan briefing. Malam ini kami dijadwalkan menyaksikan kehidupan sehari-hari masyarakat Suku Tengger dari dekat. Dan, salah satu warga yang beruntung menerima kami sebagai tamunya kala itu adalah, Mak Yem.

Kediaman Mak Yem tak jauh dari lokasi parkir—hanya terpaut 50 meter. Rumah paling ujung, yang masih segaris dengan pos registrasi tadi. Luthfi, seorang pengajar yang aslinya warga Tumpang, didaulat sebagai pemandu kami selama bersosialisasi dengan masyarakat Ranu Pani.

Makanan utama masyarakat Tengger

“Kalo dulu, masyarakat Tengger punya makanan utama.” Setelah memperkenalkan diri kepada peserta Ekspedisi Hidden Paradise, ia langsung merentang pengetahuan. “Ini ada (sayur) semen namanya. Semen itu semacam kol, tapi daunnya aja. Jadi, belum ada yang gedenya di tengah buahnya itu. Tapi, yang kecil kecil diambilin. (Daun) yang masih muda itu kemudian jadi sayur utama.”

Mas Luthfi, Local Guide Ranu Pani

Mas Luthfi, Local Guide Ranu Pani

‘Nasi’ yang biasanya mereka makan adalah jagung putih, dan bukan jagung merah. Namun, karena sekarang agak sulit untuk mendapatkannya, maka ‘nasi’ tradisional tadi lambat laun terkonversi menjadi nasi betulan. Nasi dari butir-butir beras.

“Kemudian, yang tidak bisa dilupakan sama orang sini, itu.” Telunjuk Luthfi mengarah pada sekumpulan benda serupa bonggol talas sebesar kepalan orang dewasa yang terangkum di baki hijau di atas meja makan. “Ganyong namanya. Kalo di bawah (masyarakat dataran rendah. Ex: Tumpang) biasanya digunakan jadi tepung. Jadi, makan satu itu lebih kenyang daripada ketela atau singkong.”

Lauknya adalah terasi (trassi dalam Bahasa Belanda). Pasta udang yang dikeringkan tersebut biasanya di jadikan satu dengan sambal, atau hanya dibakar untuk dipanaskan. Kata Luthfi, “Terasi itu hanya dibakar, atau  di-gongso istilahnya di sini. Jadi, hanya dipanaskan saja. Istilah orang sini (Suku Tengger Ranu Pani) itu lauknya. Menu utama sehari-hari mereka semacam itu.”

Makan Malam di Rumah Mak Yem

Makan Malam di Rumah Mak Yem

Bagi masyarakat Tengger Ranu Pani, tempe, tahu, dan ayam seperti yang saat itu disajikan kepada kami sebagai tamunya, sudah merupakan menu yang sangat mewah. Tapi, pada waktu mereka  melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya selamatan, menu yang disajikan bisa jauh lebih mewah lagi. “Di sini dulu pernah saya rekam, sekitar 2 tahun yang lalu, sapi itu disembelih dalam sehari bisa 4 ekor. Ya. Di tempat ini (kediaman Mak Yem).”

Dalam istilah “orang bawah,” apa yang dilakukan keluarga Mak Yem 2 tahun lalu itu sering disebut dengan “habis-habisan.” Segala kemampuan, segala energi ekonomi, mereka keluarkan untuk menghormati tamunya. Tak tanggung-tanggung, perhelatan selamatan itu pun bukan hanya dilaksanakan sehari semalam saja, tapi bisa sampai 3 hari 3 malam!

Tempe dan tahu di tempat ini jauh lebih mahal, karena jarak yang dibutuhkan untuk bisa menyediakan keduanya juga tidak kira-kira jauhnya. Kalau tidak dari Tumpang, pasti dari Lumajang. Kata Luthfi, “Jadi, kalo di Tumpang itu (harganya) 1,000 (Rp), di sini bisa 1,500 (Rp).”

Rumah khas masyarakat Tengger

Beralih dari pembahasan soal makanan, Luthfi yang menjadi titik sentral Tim Terios 7 Wonders malam itu bercerita tentang keadaan rumah yang biasanya didiami masyarakat Tengger. “Kalo tata ruang rumah yang awal, ya ini, pawon (dapur). Ruang keluarga juga di sini. Jadi, ruang tamu itu nempel sekaligus jadi satu dengan pawonan ini.”

Pada kelompok masyarakat yang telah menganut paham modernisasi, denah antara ruang tamu dengan pawon tak lagi menyatu, tapi terpisah, seperti rumah-rumah perkotaan pada umumnya.

“Tapi, ya, anda bisa saksikan, adapun kursi-kursi yang gede-gede gitu,” seraya menunjuk kursi tamu memanjang di pojokan rumah, “ndak pernah dipakai. Hampir-hampir ndak pernah dipakai. Justru yang paling utama yang dipakai, ya, yang di pawonan begini,” tambahnya.

Kini, gaya hidup “orang-orang atas” telah banyak terpengaruh dengan gaya hidup “orang-orang bawah.” Tak bisa disalahkan memang. Sudah menjadi naluri dasar manusia untuk terus meningkatkan kehidupan ke arah yang dianggapnya (jauh) lebih baik. Namun, bagi masyarakat tradisional Tengger yang masih setia pada akar budayanya, pawonan tetaplah yang utama.

Kesulitan air itu lumrah

Perjuangan untuk mendapatkan air bersih bagi masyarakat Desa Ranu Pani tak bisa dianggap mudah. Butuh sambungan ratusan, bahkan mungkin ribuan pipa untuk bisa mengalirkan air ke desa ini. Jarak sumber airnya pun tak main-main jauhnya. 25-35 kilometer! Jarak yang sama yang dibutuhkan rata-rata manusia Jakarta pergi-pulang kerja setiap harinya.

“Dia buat sampai di atas sana.” Jari tangan kanan Luthfi kembali mengacung. Kali ini ke arah Gunung Ayek-ayek. “Mata airnya ada di dekat Ayek-ayek sana. Itu (air) diambil sama wilayah yang di sini (Desa Ranu Pani bagian bawah), sampai wilayah yang di atas itu (Desa Ranu Pani bagian atas), semuanya ngambil dari mata air yang ada di Ayek-ayek sana.”

Pada kenyataannya Desa Ranu Pani dekat dengan sumber air (Danau Ranu Pani), namun demikian pihak pengelola TNBTS melarang pengambilan air dari danau tersebut. “Walaupun danau (Ranu Pani berukuran) besar, tapi sulit untuk menaikkan (airnya). Danau itu gak boleh airnya dinaikkan. Ngambilnya harus dari sana (sumber air Gunung Ayek-ayek). Kalo nanti airnya dihabiskan, yang di situ, semuanya jadi gak karu-karuan nanti. Ekosistemnya (bisa) rusak.”

Kerusakan yang dimaksud adalah terjadinya pendangkalan danau. Belum lagi ditambah dengan faktor penyebab pendangkalan lain seperti sampah dan hujan yang membawa erosi.

Membandingkan keadaan di ‘atas’ dengan di ‘bawah,’ kehidupan masyarakat Desa Ranu Pani bisa dibilang jauh lebih sulit. Luthfi berpesan, “Jadi, nanti barangkali bisa disampaikan, sebenarnya di sini ini merupakan kunci dari mata air yang ada di bawah. Kabupaten Malang, maupun Kabuaten Lumajang. Tapi sayang, banyak orang tidak mengerti. Jadi kalo di bawah itu teriak-teriak gak ada air, sebenarnya lebih sulit di sini.”

Bila untuk konsumsi sehari-hari saja, sudah demikian sulit, maka, untuk keperluan (irigasi) pertanian tentu jauh lebih sulit lagi. Mereka harus membawa air dalam jumlah besar dari sumber-sumber air lain di luar desanya. Dan, biaya yang diperlukan tentu tidak murah. “Kalau di ‘bawah’ lebih mudah. Tinggal mengalirkan aja bisa. Tapi kalau di sini? Harus pakai motor. Bawa jerigen. Dibawa dulu. Pakai tangki, dan seterusnya. Jadi, mahal sekali di sini. Meskipun kita berpikir di atas pasti banyak air, ternyata gak mudah.” Luthfi menutup penjelasannya.

Sampai cerita ini saya dengar, jelas tidak pernah terlintas dalam benak saya, tentang bagaimana kisah di balik kehidupan masyarakat Desa Ranu Pani yang begitu sulit. Semoga saja pelajaran yang saya dapatkan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Tim Terios 7 Wonders. Kalian. Dan seluruh manusia Indonesia di manapun berada. [BEM]