Discover the New Adventure

Discover the New Adventure

Hari ini Tim Terios 7 Wonders telah memasuki hari ke-4. Bagi kalian yang belum tahu, “jumlah hari” ini juga merepresentasikan tanggal dalam bulan Oktober 2013. Hari ke-4 untuk tanggal 4, hari ke-5 untuk tanggal 5, dan seterusnya. Kotak cek Corporate Social Responsibility (CSR) Daihatsu, seni Tari Jathilan, Lava Tour, hingga Museum Sisa Hartaku sudah dicentang. Sekarang waktunya melanjutkan perjalanan ke Kota Apel, Malang.

Seperti hari-hari sebelumnya, tiap pagi, satu per satu, kami dibangunkan. ‘Pelakunya’ bisa siapa saja, entah dari panitia, atau peserta. Garis pembatas itu lambat laun sirna tersapu waktu ditelan perjalanan.

Amaris Hotel di bilangan Jalan Diponegoro No. 87, Jogja, menjadi saksi kerinduan saya akan ritual bangun siang. Perjalanan ini benar-benar memaksa kebiasan nocturnal saya kembali ke masa Sekolah Dasar dulu. Bangun pagi adalah wajib hukumnya. Tidak pernah berganti sunnah. Apalagi makruh.

Terios 7 Wonders di Amaris Hotel

Terios 7 Wonders di Amaris Hotel

Briefing sebelum melakukan perjalanan itu penting

Briefing sebelum melakukan perjalanan itu penting

Salam Rantai Kapal

Salam Rantai Kapal

Usai sarapan di lantai dasar Amaris, Pak Endi mengumpulkan seluruh peserta ke area parkir di samping kiri hotel, untuk mendapatkan briefing singkat perbekalan perjalanan. Cemilan ringan tiap kali tim ekspedisi memulai hari.

Doa bersama yang (selalu) diiringi salam “rantai kapal” Pak Man kembali membawa kami kepada perjalanan panjang. Bila dihitung-hitung, maka aspal jalanan yang akan kami rentang akan sejauh 370 km, dari Kota Jogja hingga Desa Ranu Pani.

Saat ini, “940” adalah angka yang tertera pada odometer digital di depan sana. Bila titik awal pemberangkatan kami Sentul City dimulai dari kilometer 97, berarti sampai hari ini kami telah berkendara sejauh 843 kilometer. Jumlah rata-rata sebagian manusia Jakarta untuk pergi-pulang kerja dalam satu bulan.

Pukul 08.15 Tim Terios 7 Wonders hengkang dari Amaris. Kemudian bergerak menuju Jalan Colombo yang berlalu lintas lancar. Di sepanjang aspal hitam yang kami lalui, ratusan, bahkan mungkin ribuan papan reklame terpampang di setiap sudut jalan. Selamat datang di kota seribu iklan.

Lepas dari Pasar Kalasan, 1.5 jam kemudian kami lewati Desa Wisata Soran. Sambil menahan kantuk, saya paksa mata untuk tetap terjaga, memandang keluar jendela. Di seberang sana, Sub Terminal Penggung yang semula saya kira Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tampak sepi. Orang-orang yang lalu lalang di depannya masih bisa terbilang dengan jari tangan.

Langit boleh berselimut mendung, tapi begitu kaca jendela dibuka, panasnya udara sangat terasa. Iring-iringan baru saja melewati Terminal Sukoharjo, kemudian menerabas Gapura Kabupaten Wonogiri. Pepohonan memang banyak berdiri di kanan-kiri jalan, tapi mereka tak lagi mampu meredam hawa panas siang itu.

Sebelum Alas Kethu, pada kilometer 1030, tepatnya di Jalan Letjend Suprapto—Wonogiri, tim sedikit kehilangan orientasi. Kami menepi ke kiri jalan untuk memastikan kebenaran arah perjalanan. Bila sudah begini, Global Positioning System (GPS) adalah satu-satunya alat yang bisa diandalkan selain Ilmu Medan Tanya Penduduk—yang biasanya saya gunakan.

Menye-menye di jalan, juga bisa menghilangkan stress lho

Menye-menye di jalan, juga bisa menghilangkan stress lho

Jum’atan berpengantar mother tongue pertama!

Arah kami sudah benar. GPS mampu melakukan tugasnya dengan baik. Dengan kecepatan pelan, konvoi melanjutkan perjalanan. Kali ini setiap mata melirik ke kanan dan kiri jalan. Kami mencari masjid untuk melaksanakan Sholat Jum’at (jum’atan).

20 menit mencari, masjid yang diharapkan terdeteksi di sebelah kiri. Masjid Al Amanah namanya. Terletak di bilangan Jalan Sempon Pandeyan Jatisrono, Sidoharjo, Wonogiri. Satu per satu mobil mencari lahan parkir. Tak perlu lapang, yang penting aman.

“Mas, itu  untuk perempuan!” Uut ditegur salah satu jama’ah, waktu baru buka pintu toilet.

“Kan ini (sholat) Jum’at. Gak ada ceweknya.” Sebentar mereka adu pandang. Dengan keyakinan yang separuh hilang, Uut langsung masuk ke dalam. Dia sudah tidak tahan. Pokoknya kebelet pisan.

Masjid berkeramik coklat itu masih sepi.  Bahkan setelah saya ambil air wudhu dan masuk ke dalamnya. Kerumunan baru berdatangan setelah gema adzan berkumandang. Ruang masjid seketika penuh dengan jama’ah.

Sang Khatib yang telah berada di balik mimbar sebelum adzan, kini siap melaksanakan tugasnya. Perawakannya kurus tinggi. Frame kacamata hitam tebal pada wajahnya membuat ia tampak seperti guru agama saya pada masa sekolah dahulu. Kain sorban hitam ia sampirkan di bahu kanan. Sementara tongkat mimbar (yang juga) berwarna hitam sepanjang 2 meter lebih, dibiarkan menempel begitu saja di dada kiri. Tangan kirinya melintang, mencegah tongkat jatuh.

Doa berbahasa arab yang begitu panjang ia bacakan sebagai pembukaan. Memenuhi rukun ketiga (sholat jum’at) ia mulai memberikan wasiat taqwa kepada para jamaahnya. Mata yang sedang mengantuk tiba-tiba terjaga ketika kedua gendang telinga saya mendengar bahasa pengantar yang tidak biasa. Sang khatib menggunakan bahasa jawa!

Bagi kalian, mungkin kejadian ini tidaklah istimewa. Tapi bagi saya yang baru sekali mengalaminya, tentu menganggap ini sebagai momen berharga. Bisikan setan yang biasanya tajam ketika jum’atan, kini tumpul, tak lagi mempan melawan rasa penasaran. Khidmat, saya ikuti setiap ucapannya. Dari awal, hingga akhir. Dan alhamdulillah-nya, cuma sebagian kecil saja yang saya mengerti. Selebihnya, hanya bisa menerka, “kira-kira dia ngomong apa ya?”

Tak terasa sholat jum’at siap dimulai. Masih berbahasa jawa, sang khatib yang juga merangkap imam, memberi aba-aba kepada makmumnya untuk bersiaga. Pada isyarat perpindahan gerak, suaranya terasa dilemahkan. Tapi, begitu bacaan ayat-ayat utama, suara sang imam terdengar lantang sampai barisan shaf paling belakang. Kenapa bisa tahu? Karena saya ada di situ—barisan belakang. #eaa

Masih 2/3 jalan lagi

Sholat jum’at telah berlalu begitu cepat. 115 kilometer sudah kami lalui sejak berangkat dari Amaris Hotel, Jogja. Perjalanan masih menyisakan 255 kilometer lagi di depan.

Lepas alas kaki di toilet Jeruksing, Ponorogo

Lepas alas kaki di toilet Jeruksing, Ponorogo

Makan siang di Istana Lesehan, Ponorogo

Makan siang di Istana Lesehan, Ponorogo

Penanda pertama yang kami jumpai di awal perjalanan kedua adalah Gapura Selamat Datang Kabupaten Wonogiri. Siang ini kami putuskan makan di Istana Lesehan. Di bilangan Jalan Juanda, depan POM Bensin Jeruksing, Ponorogo.

Seperti kejadian-kejadian sebelumnya, kalau bukan nasi, maka lauknya lah yang datang paling belakang. Hal itu masih terjadi di warung makan ini. Akibatnya, rasa lapar kami hampir-hampir hilang karena menunggu menu pesanan yang kelamaan.

Demi menghalau rasa kecewa, lauk apa pun yang datang duluan kami cuili sedikit demi sedikit, hingga kadang nyaris tak bersisa. Hampir satu jam rentang waktu menunggu, nasi yang diharapkan akhirnya datang juga. Lauk yang mendekati dingin berbanding lurus dengan selera yang hampir sirna. Untuk menghindari sia-sia, kami sikat semua hidangan yang tersaji di atas meja. Tak boleh ada yang tersisa! Grrr!

Pukul setengah 4 sore makan siang selesai. Perjalanan dilanjutkan hingga area perbukitan yang tampak rusak dan sedang diperbaiki. Kami masih di Ponorogo. Semuanya serba gersang dengan tanah merah yang terpapar cahaya matahari siang.

Gapura selamat datang Kota Trenggalek kami capai dalam 1 jam. Perbaikan jalan masih tampak pada beberapa ruas jalan perbukitan yang dilalui. Tambahkan 1 jam lagi, maka kami sampai di gapura selamat datang Tulung Agung. Kemudian di gapura selamat datang Blitar pada satu jam lainnya, hingga lapar kembali melanda.

Makan malam di Warung Bebek Bakar, Malang

Makan malam di Warung Bebek Bakar, Malang

Di Warung Bebek Bakar Jalan Andi Rahman Hakiem No. 14, Malang, kami halau lagi rasa lapar. Menu daging-dagingan lagi-lagi saya dapati. Saya jadi curiga. Jangan-jangan, perjalanan ini akan mengubah saya dari seorang vegetarian jadi-jadian, jadi karnivora betulan. Hahaha.

Satu per satu menu makanan kami pesan. Bebek goreng, bebek bakar, ayam goreng, ayam bakar, atau apa saja yang bisa menggugah selera. Hingga tiba giliran saya, pramusaji wanita yang datang melayani, judesnya gak kira-kira. Dan, hilanglah semua selera yang tadi ada. Amin.

Hotel Santika Malang

Hotel Santika Malang

Pola makan malam Tim Terios 7 Wonders sementara ini sedikit dibalik. Yang biasanya mementingkan penginapan kemudian makan, diubah makan dulu baru ke penginapan. Alasannya, hari sudah larut malam—21.00—ketika kami menginjakkan kaki di Kota Malang. Memaksakan ke Hotel Santika di Jalan Letjend Sutoyo No. 79 lebih dulu, akan sama artinya dengan mengurangi jam istirahat yang sejatinya terasa kurang—walau hitung-hitungannya masih dalam kisaran 7-9 jam sejak tiba di penginapan. Dan, pada akhirnya, kami tutup perjalanan hari ke-4 ini dengan angka “1310” odometer digital. Atau lebih tepatnya, pukul 22.10 malam waktu Kota Malang. [BEM]