Museum Sisa Hartaku

Museum Sisa Hartaku

Tim Terios 7 Wonders baru saja selesai menjajal jalur Lava Tour yang biasanya hanya bisa dilalui kendaraan-kendaraan 4×4 WD. Petualangan kami di Desa Kinahrejo, kiranya akan ditutup dengan bertandang ke Museum Sisa Hartaku yang terletak di Dusun Petung, Desa Kepuharjo. Di museum inilah, beberapa benda saksi sejarah keganasan erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 yang lalu dikumpulkan oleh pemiliknya.

Rumah yang dulu ditinggalkan, kini mulai ramai dikunjungi. Bukan cuma dari kalangan orang-orang dekat. Manusia-manusia yang berdomisili ratusan hingga ribuan kilometer pun rela datang karena penasaran dengan bangunan ‘Chernobyl’ kecil ini.

Bangkai Suzuki Spin - Tampak Depan

Bangkai Suzuki Spin – Tampak Depan

Bangkai Suzuki Spin - Tampak Belakang

Bangkai Suzuki Spin – Tampak Belakang

Gapura selamat datang berupa rangka alakadarnya menyambut kami dalam diam. Pada ruang tamu yang kini terbuka, satu bangkai sepeda motor Suzuki Spin yang sarat dengan karat, telah menjadi penghuni kehormatan, karena ditempatkan paling depan. Di sana, ia tidak sendiri, karena di sebelah kanannya teronggok kerangka seekor sapi.

Walau tampak dibiarkan begitu saja di lantai yang berdebu, sebenarnya kerangka sapi ini lebih berharga bagi sang empunya museum (Riyanto)  dibandingkan dengan benda-benda koleksi lain. Karena sapi pemberian mertuanya itulah, Riyanto mampu membangun rumah yang kini luluh lantak dan telah beralih fungsi menjadi ‘gedung’ museum setengah hancur.

“Pulang dari pengungsian tahu keadaan rumah seperti ini. Jadi ya, gimana gitu rasanya. Daripada stress mikirin, sama Mas Riyanto, barang-barang yang rusak itu disuruh ngumpulin,” terang Widodo, adik Riyanto. “Tapi, kita kan gak tau mau diapain. Setau saya cuma mau dijual. Karena barang-barang rongsokan itu, setau saya ya dijual. Gak taunya malah dikoleksi seperti ini,” tambahnya lagi, masih dengan logat jawa yang begitu terasa.

Untungnya, saat Dusun Petung dilalui wedhus gembel Gunung Merapi, pada Nopember 5, 2010 yang lalu, keluarga Riyanto dan para tetangga telah mengungsi, sehingga mereka terhindar dari menjadi korban. “Seminggu sebelum kejadian Merapi erupsi, kan, seluruh warga di sini disuruh mengungsi di barak terdekat,” terang Widodo. Sayangnya, pada saat evakuasi, hewan-hewan ternak peliharaan meraka tak sempat dibawa serta, akibatnya seluruh ternak tersebut mati.

Benda-benda Koleksi Museum

Benda-benda Koleksi Museum

Keping CD yang masih 'BARU'

Keping CD yang masih ‘BARU’

Benda-benda pusaka keramat

Benda-benda pusaka keramat

Pada Museum Sisa Hartaku ini juga terdapat berbagai benda yang dahulunya merupakan bagian dari keseharian keluarga Riyanto dan para tetangganya. Benda-benda itu seperti; botol kaca yang meleleh, kepingan CD, televisi, gamelan, benda-benda pusaka keluarga, dan lain sebagainya yang tak pernah ingin dijual oleh pemiliknya, walaupun tawaran datang dari mana-mana.

Satu-satunya benda yang tak terdampak erupsi Merapi adalah sebuah kelereng yang bentuk dan teksturnya masih sama, seperti sediakala.

Kata Widodo, “Barang-barangnya banyak yang mau beli. Tapi ini ndak dijual. Kalau ada yang mau (terus) kita jual kan habis lama-lama.” Ia menambahkan, “Walaupun sudah banyak yang ingin membeli, tapi karena kita bilang ndak dijual, ya belum terjadi transaksi. Jadi gak tau berapa tawaran tertingginya.”

Dari ceritanya pula, saya mengetahui bahwa kebanyakan peminat berasal dari pengunjung yang datang. Sementara, alasan mereka untuk memiliki benda-benda tersebut, biasanya hanya untuk koleksi pribadi saja. “Dulu ada yang cuma mau beli gigi sapi, tapi tetap ndak boleh. Kalo boleh, kan nanti terus ada yang mau, beli beli lain lain lain, kan lama-lama habis,” ujar Widodo.

Mbah Wati, Orang Tua Riyanto

Mbah Wati, Orang Tua Riyanto

Jadi, cukup aman bila dikatakan hampir setiap benda di tempat ini memiliki nilai rupiah. Walau demikian adanya, sang pemilik rumah tidak pernah menjaganya ketika malam hari menjelang. “Selama ini belum pernah ada yang hilang. Jadi, di sini aman-aman saja,” kata Widodo. “Itu sapi saya tinggal. Anjing. Dan barang-barang ini semua aman,” tambahnya lagi, sekaligus mengakhiri kunjungan saya bersama Tim Terios 7 Wonders di Museum Sisa Hartaku ini. Waktunya kembali ke penginapan. [BEM]