Terios 1

Terios 1

Waktu hampir menunjukkan jam 12.00 siang, ketika acara Corporate Social Responsibility (CSR) Daihatsu dan hiburan Tari Jathilan berakhir. Agenda berikutnya adalah kegiatan yang paling ditunggu-tunggu Tim Terios 7 Wonders. Menjajal ketangguhan Daihatsu Terios di medan offroad ringan Kecamatan Cangkringan.

Saya memilih naik kendaraan sewaan berpenggerak 4×4 WD dari paguyuban Merapi Land Cruiser Community (MLCC)—yang beranggotakan warga sekitar Lereng Merapi. Tujuannya, agar lebih leluasa saat pengambilan gambar untuk keperluan dokomentasi nanti.

hardtop 4x4WD sewaan

hardtop 4x4WD sewaan

Sayangnya, satu kendaraan hanya bisa dimuati hingga 5 penumpang (tidak termasuk supir), karena itu pulalah teman-teman Daihatsu Jogja menyewa satu lagi kendaraan jenis ini. Dan, dengan dipandu oleh 2 kendaraan 4×4 dari komunitas MLCC, 7 Daihatsu Terios siap melata di jalur onroad-offroad Desa Kinahrejo yang berkontur perbukitan.

Tujuan pertama kami adalah rumah Mbah Maridjan, sang kuncen (juru kunci) Gunung Merapi yang namanya paling sering disebut ketika terjadi erupsi pada tahun 2010 yang lalu. Dari areal parkir Lava Tour, kami diajak naik sedikit., sekitar 1 kilometer arah utara dari portal bambu yang dibangun warga dusun.

Berdiri di atas hardtop yang pada awalnya saya kira mudah, ternyata susah. Memposisikan badan yang semula menghadap ke depan, kemudian berbalik ke belakang saat kendaraan sedang jalan, jelas membuat saya sedikit was-was. Salah gerak sedikit saja, kemungkinannya bisa jatuh.

Kalau hanya jatuh, mungkin sakitnya masih bisa saya tahan. Tapi ini, dengan posisi paling depan di antara konvoi kendaraan, kalau sampai jatuh, kemudian ditonton banyak orang, aibnya pasti akan bertahan, gak hilang-hilang . Kalau sudah begini, sambil waspada memegang kamera, encok-encok sedikit, karena memutar setengah badan ke belakang tak mengapalah.

Siang itu langit separuh kelabu. Walau hampir jam 12.00 siang, suasananya seperti menjelang petang. Untung tidak sampai hujan. Bila dihitung-hitung, saya sudah beberapa kali ke lereng Merapi. Tapi yang namanya bertualang sambil berdiri di atas kendaraan berpenggerak 4 roda, ya baru kali ini. Oleh sebab itu, perjalanan ini akan sangat saya nikmati.

“Yak! Kita sudah sampai!” tiba-tiba terdengar suara lantang dari  arah depan.

Ah, mungkin saya akan menikmatinya lain kali saja. T_T

Rumah Mbah Maridjan

Di tanah lapang berdebu, iring-iringan kendaraan kembali mengatur barisan. Lahan parkir ini berada sedikit ke bawah dari rumah Si Mbah. Karenanya, kami harus berjalan kaki sejauh 50 meter ke atas sana untuk sampai di halaman depan rumah Mbah Maridjan.

Tak jauh dari lahan parkir, sebuah spanduk membentang tinggi di atas jalan. Tugasnya hanya sebagai penyambut tamu dengan kata-kata tanpa suara.

“SELAMAT DATANG

DI RUMAH ALMARHUM MBAH MARIDJAN

KINAHREJO”

Hmm, kalimat itu terasa sedikit kontradiktif dalam pikiran saya. Sementara sang tuan rumah telah tiada, ia justru menyambut tamu yang biasanya datang dengan suka cita.

Warung Bu Mursani Asih

Warung Bu Mursani Asih

Sisa-sisa Rumah Mbah Maridjan

Sisa-sisa Rumah Mbah Maridjan

Kronologi Erupsi Merapi

Kronologi Erupsi Merapi

Di bagian kanan halaman depan yang begitu luas, berdiri warung sederhana putra-putri Sang Penjaga Gunung (Surakso Hargo). Pemiliknya adalah Bu Mursani Asih. Selain menjual souvenir, warung ini juga menjual berbagai macam kudapan ringan. Sebentuk usaha sederhana guna menyokong kelanjutan hidup mereka.

Pada sudut lain, teronggok berbagai benda sisa peradaban manusia-manusia desa yang menjadi tak berguna sejak 3 tahun lalu. Mereka dibiarkan tergeletak begitu saja tanpa takut dicuri.

Bagi orang yang berbeda, makna benda-benda ini tentu akan berbeda pula. Entah sebagai perpanjangan ingatan pada duka yang mendalam, bahan cerita, hiburan yang menyenangkan, objek foto, koleksi pribadi, penyampai pesan mengerikan dari alam, atau apalah itu. Yang jelas, mereka bisa jadi apa pun yang kalian mau.

Bangkai APV 1

Bangkai APV 1

Bangkai APV 2

Bangkai APV 2

Bangkai APV 3

Bangkai APV 3

Sisa Keganasan Merapi

Sisa Keganasan Merapi

Uji Terios di jalur Lava Tour

Sayangnya, hanya sedikit waktu yang bisa kami gunakan untuk berempati. Karena setelah ini, kami harus melanjutkan perjalanan kembali ke kaki-kaki Merapi di bawah sana.

Diburu waktu yang begitu sempit, pemimpin Tim Terios 7 Wonders menginstruksikan rombongan untuk segera kembali ke mobil masing-masing. Saya, yang semula mendapatkan bagian, berdiri di bangku belakang hardtop 4x4WD, kini harus berpindah tempat. Kembali ke Terios 7 yang sebentar lalu saya tinggalkan.

Setelah semua siap, iring-iringan turun kembali ke areal parkir Lava Tour yang menjadi tempat perhelatan acara CSR Daihatsu sebelumnya. Kami datangi tempat ini bukan untuk parkir lagi, tetapi hanya melintas ke bagian kanan lapangan menuju lembahan.

Bila 2 hari sebelumnya, suspensi Macpherson strut (depan) dan 5 link rigid axle (belakang) dimanjakan dengan jalur onroad, maka pada kesempatan kali ini, keduanya kami ‘siksa’ di jalur offroad, untuk mencari tahu seperti apa kemampuan sesungguhnya.

Turunan Tajam

Turunan Tajam

Jalur pertama yang kami lalui adalah turunan yang begitu curam. Demi keamanan, SUV 7 seater ini dipacu perlahan. Pada setiap ruas jalan yang ‘mencurigakan,’ pemimpin tim selalu memastikan tingkat keamanan medan bagi kendaraan. Maklum, area bermain Terios kali ini dominan berpasir gembur. Bila salah menjejak, tentu bisa membuat karet bundar Dunlop Grandtrek ST20 235/60R16 yang disematkan pada kaki-kakinya kepater (slip/terjebak ‘lubang’).

Begitu pemimpin tim memberikan sinyal aman, 6 Terios yang sebelumnya menempatkan diri ke dalam barisan yang rapi, kembali tancap gas melibas medan yang didominasi batu-batu kali berukuran kecil hingga sedang di sepanjang jalan. Walau batuan tadi membuat kontur perjalanan terasa bergelombang, guncangan yang saya rasakan di kabin penumpang masih bisa dikatakan nyaman.

Terios 2

Terios 2

Terios 3

Terios 3

Pada beberapa tempat yang dianggap cukup baik untuk pengambilan gambar, Pak Endi selaku pemimpin tim, secara repetitive menginstruksikan iring-iringan untuk melakukan “stop and go” melalui Handy Talkie (HT) yang telah dibagikan pada masing-masing Terios.

Belum satu jam kami bermain-main, debu pasir yang mengepul di sepanjang medan offroad ringan lereng Merapi, kemudian menempel pada setiap inci eksteriornya, sudah membuat Daihastu Terios yang kami tumpangi tampak lebih garang khas petualang.

7 Sahabat Petualang

7 Sahabat Petualang

Padahal, pada awalnya, saya sangsi akan kemampuan Terios melahap jalur lereng Merapi. Namun setelah menempuh beberapa medan yang relatif berat barusan, saya cukup yakin, Daihatsu Terios memang ditujukan bagi sahabat petualang. Seandainya Daihatsu memberi satu, pasti saya mau. :p [BEM]