Sunset Pantai Tanjung Layar

Sunset Pantai Tanjung Layar

Selain Pantai Ciantir, Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak, juga memiliki lokasi wisata lain, yaitu Tanjung Layar. Pantai dengan dominasi batuan karang ini terletak cukup jauh dari Desa Sawarna. Jaraknya sekitar 1.9 km dari jembatan gantung yang juga menjadi satu-satunya akses keluar-masuk Desa Sawarna.

Untuk menuju ke sana, kita harus menyusuri jalan-jalan desa yang berliku, kemudian melipiri Pantai Ciantir hingga ke bagian selatannya. Bila melihat pada peta, maka lokasi Tanjung Layar akan berada di antara arah jam 4 dan 5 dari Desa Sawarna.

Senja itu, langit tak juga menampakkan warnanya di atas sana. Semuanya serba kelabu. Saya jalan perlahan menyisir tepian Pantai Ciantir. Kali ini saya sendiri, karena beberapa teman telah lebih dulu sampai di Tanjung Layar.

Pada salah satu sudut pantai berpasir yang bersebelahan dengan pantai berbatu karang, seorang nelayan terlihat beberapa kali menarik-ulur benang pancing ke arah lautan. Tak ada gagang pancing, modalnya hanya satu kaleng susu bekas berukuran besar, dengan lilitan benang nylon yang demikian panjang.

Wajahnya yang terlihat serius ternyata menyimpan keramahan ketika sapaan saya lemparkan kepadanya. Sore itu, ia sedang memancing anak ikan tongkol yang biasanya berenang ketepian.

“Lagi mancing anak ikan tongkol,” katanya. “Biasanya pagi hari (anak ikan tongkol) banyak di sini—pinggir pantai,” tambah nelayan separuh baya tersebut.

Hmm… nelayan yang absurd.  

Kalau anak ikan tongkol hanya ada pada pagi hari, kenapa pula ia melakukan aktifitas memancing pada sore hari? Sambil mencari nada canda di balik matanya, saya membathin dalam hati. Sialnya, tak saya temukan tanda-tanda itu di sana. Nelayan anti-kemapanan ini begitu serius dengan ucapannya barusan.   

Untuk menghindari absurd kuadrat, alias ikut-ikutan absurd,  saya pilih buru-buru pamit kepada nelayan bertopi krem tadi, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Layar di arah tenggara Desa Sawarna.

Gumpalan pasir gembur Pantai Ciantir kembali membuat setiap langkah saya bertambah lelah. Solusinya, sambil berjalan saya cari setiap benda keras untuk digunakan sebagai pijakan. Entah itu kumpulan kerang mati, maupun bebatuan karang.

Jalur menuju Tanjung Layar sedikit tersamar karena jalan pasirnya yang begitu lebar. Namun demikian, saya tidak perlu khawatir tersesat, karena tak ada jalan lain selain jalan ini.

Di bagian kiri jalan yang cenderung ke arah daratan, terlihat sepetak semak belukar telah menghitam. Berjalan lebih ke depan lagi, belukar yang menguning akibat musim kering, cepat berubah begitu legam. Seorang warga baru saja selesai membakar mereka.

Pohon-pohon pisang yang menjulang di antara mereka pun tak luput terkena imbasnya. Warna daunnya yang menghijau, cepat berubah kecoklatan dan menjadi layu. Dalam hati saya bertanya, untuk apa ia membakar semak-semak ini?

Begitu mendekat ke arah Pantai Tanjung Layar, saya menemukan jawaban dari pertanyaan saya sendiri. Sebuah saung baru saja selesai dibangun di atas tanah hitam sisa belukar yang dibakar. Di sekitarnya, 30-an saung lain telah berdiri lebih dulu.

Membandingkan Java’s Eerste Punt—nama yang disematkan Belanda untuk Tanjung Layar—saat ini, dengan kondisinya 3 tahun lalu, ketika kali pertama saya datang ke sini, jelas telah jauh berubah. Dulu, tak satupun bangunan saung atau warung tampak di sekitar Pantai Tanjung Layar. Apapun bentuk bangunannya, semua hanya terkonsentrasi di desa, selain itu tidak. 3 tahun lalu, tempat ini begitu sepi, rasanya seperti milik sendiri.

Sesampainya saya dan Puput di bibir pantai, Wira dan Harris tampak telah sibuk dengan kamera mereka. Walau langit tak juga menunjukkan warna senja yang saya cari, bukan berarti, hunting foto harus berhenti.

Tanjung Layar 1

Tanjung Layar 1

Tanjung Layar 2

Tanjung Layar 2

Tanjung Layar 3

Tanjung Layar 3

Pengaturan tone “Black and White” pada kamera kembali digunakan, karena tone warna normal saya anggap tidak akan memberikan hasil yang diharapkan. Yah, apalah artinya warna bila segalanya tampak abu-abu.

Walau kecewa dengan kondisi alam, bukan berarti harus menyerah begitu saja. Kita boleh ‘kalah,’ tapi kemenangan mereka tak boleh dibuat mudah. Saya berikan sedikit ‘perlawanan’ bermodalkan warna hitam-putih tadi. Wajah tiap sudut pantai saya buru. Mereka tak bisa lari dari frame bujur sangkar abadi berbentuk digital 12 megapixels.

Sunset Jingga Tanjung Layar

Sunset Jingga Tanjung Layar

Sang Photographer

Sang Photographer

Penghujung Matahari Senja

Penghujung Matahari Senja

Usaha menunggu cahaya jingga dari ufuk timur sana, terbukti tak sia-sia. Gradasi kuning, biru, hingga hitam, akhirnya disuguhkan alam Tanjung Layar, Desa Sawarna. Kami berempat tambah semangat mengabadikan momen yang berubah dengan cepat ini. Hingga malam menelan matahari yang perlahan tenggelam. [BEM]