Pantai Ciantir

Pantai Ciantir

Pukul 15.35 – Oktober 1, 2013. Tim Terios 7 Wonders baru tiba di Desa Sawarna yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Sejak 3 tahun terakhir, Desa Sawarna mulai ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun manca negara. Walaupun letaknya selalu saja menjadi kendala (jauh), namun sepertinya, kondisi tersebut tidak pernah menyurutkan animo mereka untuk bertandang ke sana.

Dalam agenda ekspedisi Hidden Paradise, Pantai Ciantir adalah tujuan pertama yang akan kami kunjungi ketika sampai di Desa Sawarna.

Pintu Masuk Desa Sawarna

Pintu Masuk Desa Sawarna

Jembatan Gantung Desa Sawarna

Jembatan Gantung Desa Sawarna

Untuk mencapai Pantai Ciantir, sebelumnya, kita harus melalui jembatan gantung yang membentang di atas Sungai Sawarna. Dengan lebar jembatan yang hanya 1,5 meter, setiap kendaraan yang berpapasan dalam waktu bersamaan harus rela antri ketika hendak melintasinya. Persis seperti walkie-talkie, yang menggunakan jalur komunikasi half-duplex, di mana pembicaraan hanya bisa dilakukan secara bergantian. Bila yang satu bicara, maka yang lain harus mendengarkan.

Masyarakat setempat mendirikan sebuah papan penunjuk arah lengkap dengan jaraknya untuk mempermudah para wisatawan yang datang ke desa mereka. Pada setiap lembar papan yang dipasang, terpampang tulisan:

  • Legon Pari 3 km
  • Tanjung Layar 1.9 km
  • Pasir Putih 0.8 km
  • Goa Lalay 2 km
  • Goa Langir 1.4 km

Pada salah satu ujung jembatan gantung, terdapat gapura kayu beratap daun rumbia selebar 3 meter. Gapura inilah yang menjadi pembuka perjalanan Tim Terios 7 Wonders menyusuri destinasi pertama kami, Desa Sawarna.

Tiga tahun yang lalu, saya pernah menginjakkan kaki di jembatan sepanjang 60 meter ini. Berarti, sekarang adalah kali kedua saya. Membandingkan dengan ingatan masa silam, rasa-rasanya, tidak satupun perbedaan bisa saya temukan. Jembatan ini tampak seperti sediakala.

Kawat baja penahan jembatan yang melengkung panjang, selalu saja bergoyang seiring bertambahnya beban yang melintas di punggungnya.2 utas kawat baja nan legam tampak menopang berat beban jembatan dari sebelah kiri. Sementara 1 bagian kawat lainnya menunjang gawang penopang jembatan di sebelah kanan.

Kawat-kawat tersebut hanya dipelintir sedemikian rupa, kemudian ditambatkan pada sebuah pasak dari beton cor yang dihujam ke tanah. Sementara ‘dinding’ kanan-kiri jembatan bersulam kawat yang membentuk pagar pembatas alakadarnya, ia berfungsi untuk menjaga agar tidak ada yang celaka, jatuh ke sungai berair coklat keruh di bawahnya.

Bila mengikuti aliran sungai ini ke arah hulu, maka ia akan mempertemukan kita dengan jembatan Cirompang – Jalan Raya Transit Bayah – kemudian Cisolok. Semakin ke arah hulu, jalur sungai yang tadinya lebar dan berliku ini, akan semakin sempit dan menghilang di antara rimbun pepohonan. Persis di sebelah barat Desa Cimaja, dekat dengan pertigaan Jalan Raya Bayah Cikotok. Bila merujuk pada aplikasi Google Maps, maka lokasi tersebut akan berada di timur laut Desa Sawarna, pada arah jam satu.

Pak Roni, Perajin Mebel Asal Desa Sawarna

Pak Roni, Perajin Mebel Asal Desa Sawarna

Sedikit masuk ke dalam perkampungan, beberapa warga tampak sedang bersantai, mengobrol dengan tetangga di halaman depan rumah mereka. Sementara di rumah lain, seorang warga tampak sibuk bekerja merampungkan sebuah kursi panjang, pesanan dari seorang pelanggan yang berdomisili di Jakarta. Namanya Pak Roni (0819.0614.7439), seorang perajin mebel berbahan dasar batang kayu kelapa, warga asli Desa Sawarna.

“Saya sudah 20 tahun lebih membuat mebel,” katanya, ketika saya tanya perihal berapa lama profesi ini ia tekuni. Ia menjelaskan, bahwa kebanyakan pelanggannya adalah para pejalan yang pernah datang ke Desa Sawarna. “Biasanya mereka liat-liat dulu, kalau suka, ya lanjut beli,” imbuhnya.

Seiring perjalanan waktu, usaha yang dirintis bapak paruh baya ini semakin lama semakin maju. Sistem getok tular (word-of-mouth marketing) menjadikan namanya terkenal sampai ke mana-mana.

“Untuk satu set bangku tamu; 1 bangku utama, 2 bangku kecil, sama 1 meja pasir, harganya 4.5 juta rupiah,” jelas Pak Roni. Sayangnya, semua mebel yang dikerjakannya hanya bergantung dari pesanan saja, “modalnya gak ada Mas,” jawabnya sambil tertawa.

Untungnya, keterbatasan modal tersebut terkompensasi dengan mudahnya mencari batang kayu kelapa sebagai bahan dasar kerajinan tangannya, yang biasanya banyak terdapat di area sekitar desa.

Saung salah satu penginapan di Desa Sawarna

Saung salah satu penginapan di Desa Sawarna

Saya kembali menyusuri jalan desa selebar 1 meter hingga ke area terbuka di tepi Pantai Ciantir. Wajah Desa Sawarna yang saya kenal beberapa tahun lalu, kini telah berubah. Penginapan menjamur tak terhitung jumlahnya. Bangunan saung dan warung yang berdiri di pinggir Pantai Ciantir juga menambah semarak tempat ini. Padahal 3 tahun lalu, tak ada satu pun bangunan yang berdiri dekat dengan pantai.

Pantai Ciantir yang membentang hingga 65 km ini cukup sepi saat kami tiba, sabuknya ia bentangkan, menantang Samudra Hindia di pesisir selatan Pulau Jawa. Ketika menjejak di atasnya, gemburnya pasir putih kecoklatan begitu terasa di telapak kaki. Langkah saya pun terasa lebih berat karenanya.

Ahdi, anak Desa Sawarna sang pecinta sepakbola

Ahdi, anak Desa Sawarna sang pecinta sepakbola

Muda-mudi menikmati sore di Pantai Ciantir

Muda-mudi menikmati sore di Pantai Ciantir

Sebagaimana galibnya ‘fungsi’ pantai di tempat lain, pantai ini tak jarang digunakan para warga, terutama muda-mudi untuk bercengkrama bersama teman-teman mereka, menikmati matahari senja berwarna jingga, hingga terbenam di ufuk barat sana.

Tak jarang pula, kita akan menemukan beberapa nelayan yang sedang asyik memancing ikan tongkol di pinggir-pinggir pantai menggunakan gagang pancing—yang biasanya—berukuran cukup panjang. Bila gagang pancing tersebut dirasa kurang panjang, maka mereka akan mencari lidah-lidah batuan karang yang membentang menusuk laut. Gugusan karang pantai tersebut kemudian akan mereka gunakan sebagai penunjang agar bisa memancing lebih ke tengah lagi.

Sore hari adalah waktu yang paling tepat untuk menikmati Pantai Ciantir. Suasananya yang tenang, jauh dari keramaian jalan, membuat pantai ini menjadi tempat sempurna alternatif liburan. Sayangnya, kita tidak bisa berenang walaupun itu di tepi pantai, karena ombak dari laut selatan yang begitu tinggi. Tapi bukan berarti pantai ini tidak bisa dinikmati kan? Buktinya, pesisir laut selatan ini seringkali dikunjungi turis-turis asing yang ingin merasakan sensasi surfing.

Warung di pinggir Pantai Ciantir

Warung di pinggir Pantai Ciantir

Semakin pesatnya geliat pariwisata Desa Sawarna, tentu memiliki efek samping yang baik, juga buruk. Ia bagai dua sisi mata uang. Di sisi terburuk, keberadaan warung dan saung di pinggiran pantai tentu akan menimbulkan kesan kumuh di mata para wisatawan. Namun di sisi lainnya, perekonomian masyarakat setempat otomatis terangkat dengan adanya jenis usaha mikro tersebut.

Di sinilah peranan pemerintah sebagai pemangku kebijakan diperlukan guna menjembatani dua kepentingan yang saling berseberangan. Bukan hal yang mudah memang, tetapi usaha ini penting supaya terwujud sinergi yang saling menguntungkan antara warga sekitar dengan para pengunjung yang datang. Simbiosa mutual.

Layaknya balita yang sedang belajar berjalan, Sawarna tentu tidak bisa berdiri sendiri. Ia butuh bantuan dari berbagai pihak untuk tumbuh dan berkembang. Tidak hanya dari pemerintah saja, tetapi juga masyarakat setempat dan wisatawan yang datang ke sana.

Pantai Ciantir

Pantai Ciantir

Adanya pantai yang bersih, deburan ombak yang menantang, dan desa wisata nan asri, tentu semakin memperkuat daya tarik Sawarna untuk dikunjungi. Kalau sudah begitu, medan terjal dan sulitnya akses untuk mencapai Desa Sawarna seharusnya tidak perlu lagi dijadikan alasan untuk tidak mengunjungi hidden paradise pertama ekspedisi Terios 7 Wonders dari Daihatsu ini. [BEM]