Pemandangan di perbukitan menuju Desa Sawarna

Pemandangan di perbukitan menuju Desa Sawarna

Kali ini saya cukup beruntung, karena dari 50 orang semifinalis blogger yang diundang menghadiri Blogger Gathering Daihatsu pada September 22 yang lalu, di ajang pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2013 – JIExpo Kemayoran, saya kembali terpilih dalam 5 besar finalis blogger yang akan mengikuti acara Jelajah 7 Keajaiban Nusantara (Terios 7 Wonders). Perjalanan yang rencananya akan berlangsung selama 14 hari overland ini—Oktober 1-14, 2013—sedianya akan dimulai dari Sawarna, disusul kemudian secara berurutan, Desa Kinahrejo (Gunung Merapi) – Tengger (Bromo) – Plengkung (Taman Nasional Alas Purwo) – Sade Rambitan (Suku Sasak) – Dompu – dan akan berakhir di Pulau Komodo, tujuan ke-7 yang terpilih sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia pada Mei 16, 2012 yang lalu, melalui sebuah pengumuman dari panitia pemilihan di Zurich, Swiss.

Bagaimana cerita petualangan kami menjelajah nusantara bersama Daihatsu Terios sang Sahabat Petualang? Ikuti terus ceritanya…

***

Sesuai kesepakatan bersama, meeting point terpilih adalah Sentul City, Bellanova Country Mall yang beralamat di Jalan M. H. Thamrin No. 8, Sentul Bogor. Pukul 06.00 pagi, satu mobil Terios yang dipenuhi stiker Terios 7 Wonders telah terparkir tenang. Dengan tambahan 2 mobil, berarti jumlah kami bertambah menjadi 3. Mobil berikutnya mulai berdatangan pada interval yang agak berjauhan, hingga akhirnya terkumpul 7 mobil di pelataran parkir pada pukul 08.00.

Meeting Point Sentul City

Meeting Point Sentul City

Tak mau buang waktu, Pak Endi segera membagi 24 orang peserta yang terdiri dari rekan-rekan blogger, media, dan driver menjadi 7 tim (Terios 1 – Terios 7), sesuai dengan jumlah mobil yang kami gunakan. Saya, Boski (Rizki Kabup), Mumun (Murni Amalia Ridha), dan Uci (Lucia Nancy) tergabung dalam Tim Terios 7.

Logistik dipastikan aman guna keperluan saat perjalanan. Tiap tim mendapat perbekalan yang merata. Doa bersama dipimpin Pak Endi yang kemudian diikuti salam “rantai kapal” menjadi penyemangat kami sebelum berangkat menempuh perjalanan panjang nan melelahkan pada 14 hari ke depan.

Isi bensin di SPBU sebelum memulai perjalanan

Isi bensin di SPBU sebelum memulai perjalanan

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terdekat, menjadi tujuan pertama kami sebelum kendaraan berkapasitas 1,500 cc ini diajak melata hingga Sawarna. Semua diisi penuh, karena jarak perjalanan relatif jauh.

100 meter setelah masuk pintu Tol Sentul, Pak Endi menginstruksikan setiap kendaraan untuk line-up, membuat barisan, memastikan semua aman, tak ada yang tercecer di belakang. Kami susuri jalan tol hingga keluar, kemudian melewati Stasiun Batu Tulis di Bogor selatan hingga Jalan Palasari. Kemacetan yang menghadang di Cicurug memaksa team leader mengambil inisiatif melewati jalur alternatif menuju Kota Sukabumi. Aspal desa yang begitu sempit, pada area berbukit, memaksa teman-teman driver untuk tetap waspada.

Istirahat pertama kami ambil di SPBU Parung Kuda, Sukabumi. Bagi yang sudah tidak tahan, tentu akan menggunakan kesempatan ini dengan hati senang. Mulai dari sini, toilet akan menjadi tujuan wajib yang tidak boleh di-skip. Satu per satu antri dalam barisan, untuk menunggu giliran.

Area perkebunan kelapa sawit Cikidang

Area perkebunan kelapa sawit Cikidang

Pukul 10.27, perjalanan dilanjutkan kembali. Melewati Terminal Parung Kuda, kemudian masuk ke area perkebunan sawit PTPN VIII di Cikidang. Mesin 3SZ-VE DOHC VVT-I berpendingin air yang masih dalam masa inreyen, di bawah kap mesin depan, kami paksa beradaptasi dengan jalan berliku di sepanjang area perbukitan. Tenaganya terasa tertahan, maklum, baru sehari dipakai jalan.

Di sepanjang jalan, tak jarang Nuh dan Dober separuh keluar dari jendela belakang, demi keperluan dokumentasi perjalanan kami. Jalan meliuk panjang bagai ular raksasa, pada punggung-punggung bukit yang gersang terbuka, menjadi tempat sempurna pilihan mereka berdua untuk mengambil gambar—foto maupun video.

Di depan jembatan penyambung daratan yang melintasi dalamnya ngarai tempat bersemayamnya Sungai Citarik yang tampak mengering terimbas musim kemarau, Nuh (Enuh Witarsa) dan Dober (Indra Aditya) lagi-lagi mengabadkan momen dengan peralatan dokumentasi masing-masing. Kejadian ini terus berulang di manapun terdapat spot pengambilan gambar yang menyediakan lansekap menawan.

Di tengah perjalanan, sepasang turis asing tampak menunggu sesuatu di pinggir jalan sebelah kanan. Walaupun di kepala sang pria tampak helm yang masih terpasang, namun saya tidak menemukan satupun motor yang terparkir menganggur di tempat kejadian. Bila keadaannya seperti ini, kira-kira apa yang ada dalam pikiran kalian? Apakah sama seperti yang saya pikirkan? Hmm…

Sesampainya di perempatan Jalan Bhayangkara, Pelabuhan Ratu. Iring-iringan kendaraan dari pemerintah daerah setempat, yang sedang menggalakkan program “Ayo Ikut KB!!!” seolah menyambut kedatangan kami. Butuh 3 jam bagi kami untuk tiba di tempat ini sejak mulai berkendara dari Jakarta.

Matahari yang kian meninggi, rupanya berhasil menstimulasi dahaga, dan rasa lapar dari dalam perut sana. Kalau sudah begini, maka ritual makan siang harus segera ditunaikan.

Rumah Makan Kartika Sari Sea Food yang terletak persis di pinggir jalan raya utama, menjadi tempat pemuas lapar dan dahaga yang baru saja, sekaligus menjadikan pramusaji bernama Cici, sebagai primadona pilihan peserta Terios 7 Wonders yang ber-genre pria.

Hunting landscape di pantai belakang rumah makan

Hunting landscape di pantai belakang rumah makan

Pantai di belakang rumah makan seafood

Pantai di belakang rumah makan seafood

Sambil menunggu hidangan tersedia, saya beserta beberapa teman petualang yang lain, memilih sedikit mengeksplorasi keindahan pantai di belakang rumah makan kami. Pantai di tempat ini begitu sepi. Mungkin karena hari telah beranjak siang, di mana matahari bersinar begitu garang.

Hampir satu jam, menu lengkap baru tersedia. Perut yang lapar kini telah mendapatkan penangkalnya. Walaupun tubuh terasa lemas karena menunggu terlalu lama, bukan berarti setiap tangan tak berdaya merebut apa saja yang dirasa menggugah selera. Bukan, kami berebut bukan karena kekurangan pesanan makanan. Tapi hal ini dianggap sebagai sebuah kesenangan yang dapat membangun rasa kekeluargaan.

Saking semangatnya (laparnya?) menu makanan yang baru tersaji di meja makan, langsung habis, hampir tanpa tersisa. Ah, galak juga rupanya cacing-cacing dalam perut kami ini.😀

Jam di tangan kanan telah menunjukkan pukul 13.30 siang. Pak Endi memburu kami untuk segera bergegas melanjutkan perjalanan, karena khawatir kemalaman di jalan. Pak Agam tak mau kalah cepat. Ia maju ke meja kasir untuk menyelesaikan besarnya tagihan makan siang yang kami hasilkan. Terima kasih ya Pak! Hehe…

Setelah perut terisi kenyang, iring-iringan sahabat petualang siap kembali melahap medan. Tapi begitu menghadapi tanjakan curam di Kampung Citemen, mobil berplat nomor B 1534 UZW terlihat tak mampu melahap terjalnya jalan. Beberapa meter mobil terlihat mundur kembali ke belakang. Kami semua khawatir. Terios 7 yang berposisi persis berada di belakangnya, ikutan ketar-ketir, apalagi setelah beberapa kali usaha dari sang driver, hasilnya tetaplah sama. Sia-sia. Mobil beberapa kali mundur ke belakang.

Karena kondisi dianggap tidak kondusif, pergantian driver kemudian dilakukan. Cukup satu kali gas untuk bisa membuat 7 seater SUV tersebut kembali melenggang. Ah, sepertinya ini hanya faktor kemampuan sang pengemudi saja.

Pemanja mata sebelum Desa Sawarna

Pemanja mata sebelum Desa Sawarna

Iring-iringan yang terpisah jauh akibat hambatan jalan, akhirnya kembali line-up di Desa Cilonggrang. Dengan kecepatan konstan, pada pukul 14.40, kami baru saja melewati gapura besar bertuliskan, “Selamat Datang di Kawasan Sawarna.” Lansekap yang memanjakan mata, kembali menarik perhatian tim dokumentasi untuk beberapa kali mengabadikan momen. Hingga tak terasa, pukul 15.35 kami telah tiba di Desa Sawarna. [BEM]