Dalam catatan, beberapa kali sudah saya mengunjungi Kepulauan Seribu. Pulau-pulau seperti; Pulau Pari, Pulau Pramuka, Pulau Tidung, Pulau Karang Beras, Pulau Semak Daun, Pulau Kotok, Pulau Air, Pulau Bira, dan lain-lain hingga yang paling jauh, Pulau Putri, telah saya cicipi.

Khusus untuk pulau terakhir yang disebutkan, bisa dibilang dari Pulau Pari inilah obsesi mengunjungi pulau terjauh di semenanjung paling utara Kota Jakarta muncul.

Keinginan tersebut semakin kuat manakala saya membaca cerita petualangan ‘gila’ orang-orang Indonesia seperti Farid Gaban dan Ahmad Yunus dalam buku, “Meraba Indonesia: Ekspedisi ‘Gila’ Keliling Nusantara.” Juga, pelayaran 11,000 mil dari Jakarta ke Vancouver, Kanada —diprakarsai oleh Slamet Danusudirdjo—yang dilakukan oleh Nahkoda Gita Ardjakusuma, berawak Pius Caro, Mappagau, Bachtiar, Atok Issoluchi, Hatta, Muhammad, Roy, Hasyim, Amrillah, Rusli, dan Petiniaud dalam buku, “Ekspedisi Phinisi Nusantara: Pelayaran 69 Hari Mengarungi Samudra Pasifik.”

Buku Phinisi Nusantara dan Meraba Indonesia

Buku Phinisi Nusantara dan Meraba Indonesia

Boleh jadi, kaki yang berlari belum sempat menjejak bumi. Tapi bukan berarti kendaraan pengalaman berbahan bakar riset kecil-kecilan di garasi belakang tidak mampu mengantarkan sampai tujuan. Seperti apakah perjalanan yang ditawarkannya untuk kalian?

Ikuti terus ceritanya…

***

Ini adalah sebuah cerita tentang suatu pulau yang “tak terpetakan” oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), juga satelit optik beresolusi tinggi Formosat 2 yang dikendalikan dari kantor pusatnya di Prancis. Padahal, secara administratif cukup jelas, bahwa pulau ini masih dalam satu wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Bicara ukuran, pulau ini bisa dibilang kecil, yaitu (hanya) 2 kali lipatnya Stadion Lebak Bulus, atau sekitar 8.82 hektar. Walaupun demikian, nyatanya, pulau ini bisa menampung hingga 506 jiwa (data tahun 2004)—yang seluruhnya adalah pendatang.

Pendatang yang bermukim di pulau ini, mayoritas berasal dari Suku Bugis. Sementara sisanya, berasal dari Suku Jawa dan Suku Sunda. Maka, tak heran bila orang-orang tuanya, lebih sering menggunakan Bahasa Bugis ketimbang Bahasa Indonesia. Sementara, Bahasa Indonesia lebih banyak digunakan oleh kaum mudanya.

Bisa jadi, ini disebabkan oleh semakin pluralnya kaum pendatang yang singgah dan menetap di pulau ini dari waktu ke waktu, sehingga sedikit banyak mempengaruhi hegemoni Suku Bugis yang lebih dahulu berakar.

Nah, dari sepenggal informasi tersebut, dapatkah kalian menebak, pulau apa yang sedang kita bicarakan disini?

Bila kalian merasa kesulitan menjawabnya, akan saya berikan satu clue lagi; pulau ini terletak di bagian paling utara gugusan Kepulauan Seribu.

Masih kesulitan?

Kalau begitu, silahkan lihat peta Provinsi DKI Jakarta—terutama peta keluaran Bakosurtanal.

Ayo, jangan malas.

Bagaimana, sudah mendapatkan jawabannya?

Bila sudah, apakah jawaban kalian adalah “Pulau Dua”?

Bila ya, tentu jawaban kalian didasarkan atas informasi yang tersedia pada inset (peta kecil yang disisipkan di peta utama) Peta Provinsi DKI Jakarta. Ya, kan? Udah deh, gak usah ngaku.

Kalau “Pulau Dua” adalah jawaban final dari kalian, maka, dengan berat hati saya beritahukan, bahwa jawaban kalian adalah… salah!

Lho! Bagaimana bisa?

Pasti bisa. Bukankah pada paragraf pertama sudah dijelaskan, bahwa, pulau ini tidak terdapat pada peta Bakosurtanal. Jadi, bagaimana mungkin pulau tersebut “tiba-tiba” muncul di peta? Betul tidak? Hahaha…

Baiklah, daripada berlama-lama, saya akan langsung berikan jawabannya. Dan, pulau yang sedang kita bicarakan pada artikel kali ini adalah, Pulau Sebira.

Foto Udara Pulau Sebira

Foto Udara Pulau Sebira

Walaupun menyimpan potensi wisata, sayangnya, ketersediaan informasi yang berkaitan dengan Pulau Sebira sangatlah minim. Inipun saya sadari setelah melakukan riset kecil-kecilan, mencari informasi ke berbagai situs dan dokumen. Fiuh…

 

Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah

Pada awalnya, bisa dibilang, saya terlalu ng-gampangin proses pencarian posisi pasti Pulau Sebira. “Tinggal pake Google Images, pasti ketemu,” begitu pikir saya.

Dan, tentu saja, Standard Operation Procedure yang saya gunakan pun persis seperti proses pencarian gambar-gambar lain pada umumnya; buka Google Images – ketik kata kunci pencarian – klik tombol “Search” – kemudian memilah ‘kandidat’ terbaik yang disodorkan mesin pencari tadi.

Karena saat itu masih dalam tahap-tahap awal penggarapan artikel ini, maka, dengan semangat 45, saya terus menggali. Sampai-sampai tak sadar, bahwa saya telah membuang waktu selama berhari-hari. Dengan hasil… nihil.

Dari beberapa peta hasil men-download dari internet, hingga peta hardcopy yang dibeli dari toko buku setempat. Tidak satupun mencantumkan label “Pulau Sebira” di dalamnya.

Frustasi? Pasti.

Menyerah? Eit, sori…

Semakin sulit didapatkan, pencarian ini jelas semakin menyenangkan. Karenanya, saya mencoba melakukan pendekatan lain, yaitu, dengan mencari dokumen digital ber-ekstensi Portable Document Format (PDF) ber-aroma “riset/penelitian”—yang masih berkaitan dengan Pulau Sebira pastinya.

Dari sekian banyak dokumen yang berhasil dikumpulkan tadi, akhirnya saya menemukan jawaban atas pertanyaan yang tak ‘terpetakan’ sejak awal, yaitu;

“…Sebira Island could not be analysed because the island was outside of the maps from BAKOSURTANAL or from Formosat 2 images.”

Gotcha!

Disini rupanya letak permasalahan saya.

Sampai pada titik ini, informasi yang berhasil saya dapatkan adalah:

  • Pulau Sebira tidak tertera pada peta Provinsi DKI Jakarta keluaran Bakosurtanal.
  • Pulau paling utara yang tertera pada peta Provinsi DKI Jakarta adalah Pulau Dua.
  • Jarak Pulau Sebira adalah 23 kilometer dari Pulau Dua.
  • Pulau Sebira adalah pulau paling utara dari gugusan Kepulauan Seribu.

Kesimpulan dari beberapa fakta tersebut adalah; saya harus mencari ‘pulau’ ini lebih ke utara lagi—dari Pulau Dua. Dan untuk itu, satu-satunya tool yang bisa diandalkan dan gratis, adalah Google Maps.

Tak menunggu waktu lama, saya buka aplikasi Google Maps – klik tombol “Get directions” – isi kolom A dengan “Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia” – isi kolom B dengan “Pulau Sebira, Indonesia” – klik kembali tombol “Get directions” – dan voila!

Posisi Pulau Sebira langsung saya ketahui.

Argh!

Kenapa tidak dari awal saja, saya gunakan fasilitas ini. T_T

 

Memetakan batas wilayah

Posisi pasti Pulau Sebira telah diketahui. Maka, sekarang saatnya kita petakan batas-batas wilayah pulau ini dari empat penjuru arah. Masih mengandalkan aplikasi Google Maps—berikut ini adalah hasil temuan saya:

  • Batas Utara. Pulau Bangka-Belitung.
  • Batas Timur. Ada yang menyebutkan, batas timur Pulau Sebira adalah Pulau Kalimantan. Namun, karena letaknya yang “tidak persis” di timur—timur laut, tepatnya—maka, saya lebih memilih Pulau Keramian, Pulau Masalembu Kecil, dan Pulau Masalembu Besar sebagai batas timur ‘terdekat.’
  • Batas Selatan. Pulau Dua, gugusan Kepulauan Seribu.
  • Batas Barat. Batas terdekat adalah Kepulauan Segama dan Lampu Hitam. Sedangkan, batas terjauhnya adalah Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur.
Batas Selatan dan Batas Barat Pulau Sebira

Batas Selatan dan Batas Barat Pulau Sebira

Batas Utara dan Batas Timur Pulau Sebira

Batas Utara dan Batas Timur Pulau Sebira

Merujuk kepada peta yang telah saya berikan, di sana dapat terlihat dengan jelas, bahwa batas timur adalah batas terjauh diantara keempat batas lainnya. Dan, kata kunci ‘terjauh’ ini pulalah yang akan menemani petualangan kita mencapai Pulau Sebira dari pusat Kota Jakarta.

 

Biaya, transportasi, dan jarak tempuh

Bila kita ambil garis lurus di peta, maka, jarak dari Muara Angke ke Pulau Sebira sama dengan 2.5 kali jarak Muara Angke ke Pulau Tidung. Atau, bila kalian ingin ‘memperpendek’ jarak tempuh laut tersebut, Rawa Pisangan, Desa Karang Serang, Tanjung Anom, Tangerang., bisa kok dijadikan sebagai starting point. Yah, lumayan lah, walaupun hanya mengurangi 0.5 kali jarak tempuh semula. Hahaha.

Sudah, jangan sedih begitu… ayo, yang semangat!

Sebagaimana galibnya pulau yang terletak jauh dari mainland/pulau utama, persoalan transportasi selalu saja menjadi kendala tricky yang seringkali harus kita hadapi. Tapi, bukan berarti hal ini tidak bisa diakali, kan?

Sejauh pengalaman saya berwisata laut, pergi dalam grup besar, akan sangat membantu mengurangi pengeluaran biaya perjalanan. Apalagi, bila pulau yang hendak kita singgahi tersebut tidak terlayani rute transportasi umum—dalam konteks kapal penyeberangan.

Pertanyaannya kemudian adalah, berapa sih besaran biaya perjalanan yang harus kita keluarkan untuk bisa sampai ke Pulau Sebira—pergi-pulang (PP)?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa mengukur perkiraan besaran biaya perjalanan—dari Muara Angke ke Pulau Sebira—dengan perhitungan, sebagai berikut:

 

Diasumsikan:

  • Ongkos kapal kayu, dari Muara Angke ke Pulau Harapan = 35,000Rp – 50,000Rp per-orang
  • Sewa kapal, dari Pulau Harapan ke Pulau Sebira (one way) = 500,000Rp – 750,000Rp per-kapal
  • Jumlah peserta = 10 orang

Maka, perhitungan ongkos perjalanan yang harus dikeluarkan per-orang adalah;

 

Termurah

  • Muara Angke – Pulau Harapan  = 35,000Rp
  • Sewa kapal, Pulau Harapan – Pulau Sebira = 500,000Rp/10 orang = 50,000Rp

Jadi,

  • Biaya sekali jalan (one way) = 35,000Rp + 50,000Rp = @85,000Rp
  • Biaya pergi-pulang (return) = 85,000Rp x 2 = @170,000Rp

 

Termahal

  • Muara Angke – Pulau Harapan  = 50,000Rp
  • Sewa kapal, Pulau Harapan – Pulau Sebira = 750,000Rp/10 orang = 75,000Rp

Jadi,

  • Biaya sekali jalan (one way) = 50,000Rp + 75,000Rp = @125,000Rp
  • Biaya pergi-pulang (return) = 125,000Rp x 2 = @250,000Rp

 

Lalu, bagaimana bila kalian adalah seorang introvert yang ingin pergi seorang diri? Gampang. Dengan menggunakan skenario serupa, maka perkiraan biaya yang harus dikeluarkan adalah sebagai berikut:

  • Muara Angke – Pulau Harapan (PP) = 70,000Rp – 100,000Rp
  • Sewa kapal, Pulau Harapan – Pulau Sebira (PP) = 1,000,000Rp – 1,500,000Rp

Jadi,

  • perkiraan biaya perjalan seorang diri berkisar antara 1,070,000Rp – 1,600,000Rp

 

Nah, bila kalian menganggap biaya yang disebutkan paling akhir itu termasuk mahal, maka, coba yang ini…

Saat melakukan riset kecil-kecilan, saya menemukan beberapa situs dan dokumen menyebutkan biaya sewa kapal dalam angka yang cukup signifikan—untuk kalangan backpacker macam kita ini. Nilainya sangat bervariasi, mulai dari 5,000,000Rp – 7,000,000Rp sekali jalan, sampai dengan 15,000,000Rp – 24,000,000Rp pergi-pulang. Wow!

Horor ya? Belum juga jalan, sudah disuguhkan data yang sebegitu menyeramkan. Hahaha.

Tapi jangan khawatir, masih ada kok satu lagi alternatif transportasi yang saya yakin, akan kalian minati dengan sepenuh hati. Sebuah alternatif transportasi ke Pulau Sebira dengan biaya paling murah, bahkan mungkin… gratis!

Dan, jawabannya adalah…

Menumpang kapal nelayan Pulau Sebira.

Ya, kita bisa menumpang kapal nelayan Pulau Sebira yang kebetulan singgah di Muara Angke, Kamal Muara, atau sekitarnya, untuk menjual hasil tangkapan mereka.

Pertanyaan berikutnya; apakah dengan secuil informasi ini, peluang “transportasi gratis” yang selalu menjadi idola kawula muda macam kita, menjadi begitu mudah didapatkan?

Tentu tidak.

Sudah menjadi rahasia umum, kalau semua yang murah itu, dapatnya susah. Begitu juga dengan pilihan menumpang barusan. Setidaknya, ada tiga skill yang harus kita kuasai untuk bisa mendapatkan fasilitas ‘gratis’ ini, yaitu; investigasi, sosialisasi, dan negosiasi.

  • Investigasi, untuk mencari tahu jadwal kedatangan dan kepulangan para nelayan Pulau Sebira di Muara Angke, Kamal Muara,  dan sekitarnya.
  • Sosialisasi, dengan melakukan pendekatan persuasif agar nelayan tersebut merasa nyaman dengan kehadiran kita, yang baru dikenalnya.
  • Negosiasi. Setelah situasi dirasa kondusif, kemudian, utarakan maksud dan tujuan kita—untuk memperoleh tumpangan ke Pulau Sebira (yang sukur-sukur, gratis). :p

Hahaha. Tricky memang. Setidaknya dengan menggunakan ketiga pendekatan tersebut—walaupun beda konteks—saya telah berhasil keluar dari fase ‘survival’ pada saat pendakian Gunung Semeru beberapa waktu lalu, akibat kekurangan sumber daya logistik.

 

Waktu tempuh

Dengan jarak sekitar 100 mil (160.934 km) dari Pantai Utara Jakarta, waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai Pulau Sebira sangatlah bervariasi, tergantung dari alat transportasi macam apa yang kita gunakan.

Untuk mendapatkan gambaran jelasnya, mari kita lihat perbandingan waktu tempuh dari beberapa alat transportasi yang tersedia, sebagai berikut:

  • Perahu nelayan. Kecepatan rata-rata 6-10 knots (11.11-18.52 km/jam) = 8.7-14.5 jam
  • Kapal penumpang. Kecepatan rata-rata 15 knots (27.78 km/jam) = 6 jam
  • Speedboat 4 mesin @200HP. Kecepatan mencapai 25 knots (46.3 km/jam) = 3.5 jam

Yang perlu diperhatikan di sini adalah, angka-angka tersebut merupakan hasil perhitungan matematis di atas kertas. Pada prakteknya, sangat mungkin terjadi penyimpangan, terutama bila kita kaitkan dengan beberapa faktor, seperti; kehandalan nahkoda, kondisi cuaca, performa mesin, jumlah penumpang, dan lain sebagainya.

Satu lagi. Berdasarkan perhitungan di atas, tampak sangat jelas, bahwa, yang namanya “ada harga,” tentu “ada rupa.” Jadi, untuk yang berjiwa petualang—alibi adiksi gratisan—perteballah semangat perjuangan dan kesabaran kalian. Masak menumpang perahu nelayan (yang notabene pelan, lagi gratisan), mau secepat kapal yang bayarnya mahalan. Gak mungkin kan? Hehehe.

 

Penginapan dan Makan

Bicara soal panjangnya waktu perjalanan ke Pulau Sebira, rasa-rasanya kok, gak mungkin ya, langsung ‘disikat’ pergi-pulang di hari yang sama. Apalagi kalau mengingat alat transportasi yang tersedia pun terbilang langka. Kalau sudah begini, satu-satunya jalan, tentu, mencari penginapan.

Biayanya bagaimana?

Sepanjang pengalaman saya, rate penginapan/homestay di Kepulauan Seribu, umumnya akan berada pada kisaran 350,000Rp-500,000Rp per-hari. Karenanya, bagi siapapun yang mendambakan menginap murah, pergilah kalian secara berjama’ah. Semakin meriah jumlahnya, tentu akan semakin murah.

Atau, bila keahlian negosiasi kalian cukup mumpuni, kemungkinan mendapatkan ‘penginapan’ gratis masih cukup tinggi kok. Asalkan, berangkatnya sendiri. Lha, kalo kalian pergi segerombolan, dengan jumlah lebih dari 25 orang, trus minta gratisan, itu sih namanya ngerjain orang. :p

Di lain sisi, yang namanya orang liburan kan gak selalu kenyang. Dijamin butuh makan. Dengan mempertimbangkan kenaikan bahan bakar minyak beberapa waktu lalu, maka, biaya aspirasi perut kalian bisa kita hitung pada angka perkiraan, 10,000Rp-15,000Rp sekali makan. Bahkan, kalau perlu, boleh kok kalian optimalkan menjadi 20,000Rp sekali makan per-orang.

Gak ada salahnya kan, memberi ‘kompensasi’ lebih kepada penduduk setempat. Toh, belum tentu setahun sekali kita datangi. Yah, anggaplah hal ini sebagai—sedikit—peran serta kita dalam membantu pembangunan perekonomian lokal.

Lagi pula, perputaran uang yang kita keluarkan tersebut, kan, masih untuk bangsa sendiri dan tidak lari keluar negeri.

“Semangat Cinta Negeri” mode: ON

 

Merayakan kemenangan

Mungkin kalian akan berpikir, “Kenapa ya—tulisan ini—dari tadi, isinya ngeluarin uang melulu. Sekalinya gak ngebahas soal uang, pasti isinya menyusahkan.  Yang perjalanannya jauh banget lah. Yang butuh negosiasi lah. Yang ini lah. Yang itu lah. Terus kapan senang-senangnya!?” jambak-jambak rambut  tetangga.

Hehe. Tenang. Fase ‘kesedihan’ kalian akan saya akhiri sampai di sini. Karena sekarang, waktunya kita merayakan kemenangan. Dengan mengulas tuntas destinasi wisata kita; Pulau Sebira.

Pada masa pendudukan kolonial Belanda, Pulau Sebira lebih dikenal dengan sebutan Noordwachter. Dimana, Noord berarti ‘utara,’ dan Wachter berarti ‘pengintai/penjaga.’ Jadi, Noordwachter atau North Watcher (dalam Bahasa Inggris) berarti; pengintai/penjaga utara. Namun, di masa-masa sekarang, orang lebih sering menyebutnya dengan ‘Sebira,’ atau ‘Sabira’ saja.

Di ‘mata’ radar, Noordwachter-eiland ini dapat terlihat dari kejauhan hingga 20 mil (32.2 km), sedangkan, bila kita melihatnya dengan mata telanjang, maka, jarak pandang terjauhnya hanyalah 14 mil (22.5 km) saja.

Beberapa rintangan navigasi laut yang sangat berbahaya, terentang hingga sejauh 20 mil dari utara hingga timur laut Pulau Sebira. Mungkin, karena sebab inilah, maka, kapal-kapal yang sedang berlayar, dilarang “lego jangkar” di wilayah utara Pulau Sebira.

Menurut sebuah buku berjudul, “BirdLife International (2001) Threatened birds of Asia: the BirdLife International Red Data Book,” yang diterbitkan oleh Cambridge, UK: BirdLife International. Pada halaman 2,349 menyebutkan, bahwa, Pulau Jaga Utara (Pulau Sebira) juga merupakan salah satu tempat, dimana Burung Java Sparrow (Padda Oryzivora) berasal.

Burung Java Sparrow (Padda Oryzivora)

Burung Java Sparrow (Padda Oryzivora)

Namun, dikarenakan adanya beberapa aktifitas seperti; perburuan—di beberapa wilayah yang menjadi daerah asalnya, kehilangan habitat, dan dianggap sebagai hama tanaman padi, maka, burung kecil tersebut, kini, ‘berhasil’ masuk dalam status, “Vulnerable” pada daftar IUCN Red List.

Sebuah fakta yang amat disayangkan.

Bicara soal keadaan, belum lama ini harapan para nelayan Pulau Sebira akhirnya terkabulkan. Dengan adanya perbaikan fasilitas umum dari pemerintah daerah, gerbang masuk yang semula sempit, sekarang terlihat lebar menganga—10 meter. Jalur airnya pun dikeruk hingga mencapai kedalaman 6 meter.

Tak hanya itu saja, bagian kanan-kiri jalur air yang diperbaiki, juga diperkuat dengan tumpukan batuan karang pada mulut bagian luarnya, sementara pada bagian dalam, dilakukan pembetonan. Hal ini dimaksudkan agar jalur yang telah diperbaiki tersebut tidak gampang rusak terkena abrasi.

Lebar jalur air semula yang hanya berukuran 4 meter, ibarat sistem komunikasi data 1x tempo dulu. Walaupun ia bisa menyediakan komunikasi dua arah secara simultan, namun, karena ‘bandwith’-nya terlalu kecil, maka, waktu/pergerakan keluar-masuk kapal ke dan dari kolam labuh menjadi kurang efisien.

Belum lagi bila kita membicarakan level air laut yang sebelumnya hanya sedalam 1-2 meter—di sepanjang jalur. Yang, bila sedang surut, maka mau-tak-mau para nelayan pulau ini harus rela memarkir perahu mereka di bibir pantai. Tambahkanlah kondisinya dengan parameter “hasil tangkapan berlimpah.” Maka, sudah bisa dipastikan hal ini akan menjadi pe-er tersendiri bagi para nelayan tadi.

Sesampainya kalian di dermaga, berjalanlah sedikit ke arah pemukiman warga. Tak jauh dari situ, kita akan disambut oleh sebuah gapura selamat datang bertuliskan:

“SELAMAT DATANG

DI PULAU SEBIRA

KELURAHAN PULAU HARAPAN”

Bila, kalian datang menjelang matahari terbenam, berdiam sedikit lebih lama di dermaga bisa jadi pilihan. Atau, bisa juga menyusuri pantai Pulau Sebira hingga ke bagian baratnya untuk mendapatkan pemandangan laut yang tidak terhalang apapun.

Kondisi pantai di pesisir selatan pulau bisa jadi kurang bisa dinikmati, tapi begitu sampai di pesisir barat, kita akan disuguhi pantai berpasir putih yang relatif bersih. Di sini, kita bisa melepaskan lelah setelah berjam-jam berlayar dari pesisir pantai utara Jakarta, sambil menikmati sunset, juga mengumpulkan dokumentasi foto maupun video, yang hampir bisa dipastikan, a la narsis semua. Hahaha.

Waktu yang tepat untuk berkeliling pulau yang jaraknya 36 mil (57.9 km) dari pesisir pantai Sumatra ini adalah pada pagi atau sore hari. Dan, jangan lupa, bawalah selalu kamera/handycam kemanapun kalian pergi. Karena, apa yang akan ‘disuguhkan’ Pulau Sebira, tentu, tidak akan pernah bisa kalian duga.

Pulau Sebira, boleh jadi merupakan pulau terjauh dalam gugusan Kepulauan Seribu. Tapi bukan berarti dunia pendidikan terabaikan. Buktinya, pulau ini memiliki sebuah gedung Sekolah Dasar (SD) – Sekolah Menengah Pertama (SMP) berlabel “Satu Atap 02,” yang berdiri di atas tanah seluas 3,264 m2, dengan luas bangunan mencapai 960 m2—berstatus, “Belum Terakreditasi.”

Sarana dan prasarana kemasyarakatan, juga tak luput dari perhatian, ini ditandai dengan adanya sebuah lapangan Sepakbola, 1 buah lapangan Bola Voli, 1 buah Masjid, dan 1 buah puskesmas dengan seorang tenaga bidan dibayar tunai.

Bagaimana saudara-saudara… Sah?

Saaaahhhh!!!…

Suplai listrik terbesar Noordwachter-eiland masih bergantung pada mesin Genset Diesel milik Pemerintah Daerah DKI Jakarta—dengan suplai listrik mencapai 130 kVA dan 63 kVA. Sementara pasokan lainnya didukung oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PV Systems) sebesar 8 kWp dan pembangkit listrik sistem hybrid Tenaga Surya (5.76 kWp) dan  Tenaga Angin  (1 kWp).

Lihatlah Pulau Sebira dari udara, maka akan nampak jelas, pemukiman warga lebih banyak terkonsentrasi di bagian selatan. Hal ini bisa dimaklumi, karena, posisi pulau-pulau yang bertetangga dengan Pulau Jagautara ini bisa dibilang, seluruhnya berada di perairan selatan jauh.

Bila membandingkan kondisi dahulu—tahun 1972—dengan sekarang, siapa yang akan menyangka, pulau yang tadinya hutan rimba belantara ini, kini telah bertransformasi menjadi pemukiman yang dihuni ratusan manusia.

 

Kuliner khas Pulau Sebira

“Aduh, laper nih. Dari tadi baca melulu.”

Tenang, untuk urusan perut, pulau ini memiliki 2 panganan khas yang siap dijadikan bantalan perut kalian, yaitu; Ikan Selar asin dan Barongko.

Ikan Selar (Selaroides Leptolepis) pulau ini cukup populer di kalangan pedagang pesisir pantai utara Jakarta sampai Tangerang, karena kualitasnya yang relatif baik.

Sebelum dijual keluar pulau sebagai produk jadi, ikan-ikan Selar ini akan diasinkan terlebih dahulu. Proses pengasinannya dilakukan dengan cara menampung ikan-ikan tersebut dalam sebuah bak penampungan berukuran (PxLxT) 200cm x 50cm x 70cm yang ditaburi garam sesuai takaran, kemudian diendapkan selama beberapa jam. Setelah proses pengendapan selesai, dilanjutkan dengan proses perebusan, dan berakhir pada proses penjemuran.

Normalnya, tangkapan Ikan Selar nelayan Pulau Sebira hanya 2 kwintal saja sekali melaut. Namun, bila sedang beruntung, hasil tangkapan tersebut bisa melonjak hingga 7 kwintal per-kapal.

Sementara Barongko, panganan kedua kita, tentu sudah tidak asing lagi bagi kalian yang berasal dari Sulawesi Selatan. Bagi yang belum tahu, kudapan yang memiliki sebutan lain ‘Burongko’ atau ‘Buronggo’ ini, sejatinya adalah hidangan penutup para bangsawan Bugis-Makassar di masa silam.

Di Pulau Sebira, makanan pelengkap bosara (tudung saji), berbahan dasar Pisang Kepok ini, biasanya akan kita jumpai pada acara-acara kemasyarakatan semisal; pernikahan, khitanan, penyambutan tamu, 17-an, khataman Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana bisa, Barongko yang aslinya adalah makanan tradisional khas Sulawesi Selatan ini ‘diakui’ sebagai makanan khas Pulau Sebira?

Tentu bisa. Karena, mayoritas penduduk Pulau Sebira, seperti yang telah saya katakan pada bagian awal artikel ini, adalah Suku Bugis (90%). Maka, secara otomatis pula, apa yang telah menjadi adat istiadat di tanah asalnya, turut mereka bawa.

Jadi, kalau kalian sempat mampir ke pulau ini, jangan lupa mencicipi keduanya ya.

 

Jagoan selalu muncul belakangan

Bisa dibilang, trigger terbesar penggarapan artikel ini adalah, satu-satunya bangunan tua peninggalan masa pendudukan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh—menjaga laut utara Provinsi DKI Jakarta—walaupun umurnya hampir mencapai 1.5 abad, yaitu; Mercusuar Noordwachter—yang berada pada koordinat (Lat/Lon) 5°12’S 106°28’E.

Mercusuar Noordwachter Tempo Dulu

Mercusuar Noordwachter Tempo Dulu

Mercusuar yang masuk dalam daftar ARLHS World List of Lights pada Juni 01, 2006 dan memiliki codename ARLHS IDO-062 ini, didirikan pada tahun 1869 di masa pemerintahan Raja Willem III.  Fakta ini bisa kita lihat pada plakat besi persegi yang terletak di bagian atas pintu masuk mercusuar, yang bertuliskan:

“Onder de regeering van

Z. M. WILLEM III

Koning der Nederlanden

ENZ..ENZ..ENZ..

Opgericht voor draailicht

1869”

Yang bila diterjemahkan secara bebas, maka, akan berbunyi: “Di bawah kekuasaan Raja Z.M William III, dari Belanda Etc… Etc… Etc… didirikan untuk suar lampu pendar 1869.”

Proses produksi mercusuar yang oleh para pelaut lebih dikenal dengan sebutan ‘Noordwachter-eiland’/”North Watcher”/”Djaga Utara”/”Jagautara”/”Jaga Utara” ini dilakukan oleh N. V. Koninklijke Nederlandsche Grofsmederij, sebuah pabrik pengecoran logam yang berbasis di Leiden, Belanda—pada tahun 1867.

Setelah proses produksi selesai dikerjakan, segala material konstruksi beserta unit lampu suarnya dibawa ke Pulau Sebira dengan menggunakan Kapal Uap Hertog Bernard, yang kemudian melakukan bongkar muat pada April 18, 1869. Dan, tahukah kalian, bahwa, Kapal Hertog Bernard ini, (ternyata) juga ikut ‘berperan’ dalam penyebaran penyakit Beriberi—hingga ke level epidemi terparah—untuk pertama kalinya di Kota Padang, pada tahun 1873.

Model Mercusuar Noordwachter Dari Rijksmuseum Amsterdam

Model Mercusuar Noordwachter Dari Rijksmuseum Amsterdam

Berdasarkan catatan sejarah yang dimuat pada surat kabar Nederlandsche Staats-Courant tertanggal Oktober 6, 1869, kapal berikutnya, yaitu Kapal Uap Amsterdam, berangkat menuju Batavia (sekarang Jakarta) pada Juni 4, 1869 dengan membawa beberapa teknisi untuk melakukan inspeksi fungsi-fungsi pelampung, pencahayaan pesisir, dan pemanduan arah (navigasi).

Segera, setelah segala pengujian dan observasi selesai dilakukan, kapal tersebut, kemudian melanjutkan perjalanannya kembali menuju Surabaya.

Dua lampu kilat yang ditanam pada mercusuar setinggi 47.9 meter  ini akan menyala setiap 11 detik sekali, dengan jangkauan lampu suarnya yang mencapai 19 nautical miles atau sekitar 35.2 kilometer.

Mercusuar berstruktur rangka dodecagon (polygon 12-sisi) yang telah berkarat di sekujur tubuhnya ini memiliki 12 batang rangka-penunjang kolom inti, dengan 12 ‘cakram’ jaring—di bagian tengah—yang semakin ke atas diameternya semakin kecil.

Pada lantai dasar, terdapat sebuah ruangan yang bisa digunakan untuk menyimpan perlengkapan pendukung operasional mercusuar. Sedangkan, pada bagian atap yang berbentuk kubah, layaknya tudung saji, dilengkapi dengan palang besi berbentuk anak panah yang berfungsi sebagai penunjuk arah mata angin.

Masih di bagian atas, teras melingkar—360 derajat—yang sejajar dengan posisi lampu suar, berfungsi sebagai tempat untuk melakukan pengawasan daerah sekitar.

Jendela-jendela yang tersebar di sekujur kolom inti mercusuar, memiliki fungsi ganda. Yaitu, selain sebagai sirkulator udara, agar kompartemen dalam mercusuar tidak lembab, pengap, dan gampang berkarat, juga memiliki peran kedua—yang sama dengan teras melingkar sebelumnya—yaitu sebagai tempat untuk melakukan pengawasan/pengintaian.

Hal menarik lain yang perlu kalian ketahui adalah, mercusuar Pulau Sebira—ternyata—memiliki kembaran di belahan lain bumi INDONESIA, yaitu mercusuar Desa Batu Betumpang, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka-Belitung dan mercusuar Pulau Biawak (1872) di utara jauh, semenanjung Kota Indramayu.

***

Bagaimana, cukup lengkap kan informasi tentang Pulau Sebira yang saya berikan? Kalau dianggap masih kurang, sungguh teganya kalian. Huhuhu…

Wahai kawan-kawanku sekalian yang manis-manis dan ganteng-ganteng. Walaupun mungkin, tampak sepele untuk kalian. Percayalah, ini adalah artikel terberat yang pernah saya garap—terutama untuk materi “Mercusuar Noordwachter”-nya.

Tapi jangan khawatir, walaupun berat, bukan berarti kualitasnya saya korbankan. Yah, apa sih yang enggak untuk kalian? Toh, ini untuk INDONESIA tercinta juga kan.😀

Sebagai penutup, semoga artikel yang mengulas seluk beluk informasi perjalanan ke Pulau Sebira—mulai dari pergi, hingga pulang kembali—ini, cukup detail dan bermanfaat untuk kalian. Salam. [BEM]

 

SUMBER REFERENSI

  • RIJKSMUSEUM AMSTERDAM. Model van de vuurtoren Noordwachter op Java, Groefsmederij Leiden, ca. 1867.
  • NEDERLANDSCHE STAATS-COURANT. Woensdag – October 6, 1869. VERSLAG van de verrigtingen der zeemagt in Oost-Indie van 1 April tot ultimo Junij 1869.
  • Lighthousedigest.com. Jaga Utara Light.
  • Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. SD SMP Negeri Satu Atap 02.
  • Badan Pusat Statistik. Kepulauan Seribu Dalam Angka 2012.
  • Portal Nasional RI. Pulau Seribu.
  • World List Of Lights. ARLHS IDO-062.
  • Wikipedia.com.  Thousand Islands (Indonesia).
  • Watergius.wordpress.com. 1×24 Jam di Pulau Sebira.
  • Beritapulauseribu.com. [Video 1] Alur Kapal Dilebarkan dan Dikeruk, Nelayan Pulau Sabira Senang. [Video 2] Nelayan Pulau Sebira Panen Ikan Selar.
  • Padangekspres.co.id. Deddy Arsya. Wabah Penyakit di Sumbar (1880-1939).
  • D. LYDIA NAPITUPULU, SITI NURWATI HODIJAH, A. CAHYO NUGROHO. (October 24, 2005). Socio-economic Assessment: In the Use of Reef ResourcesBy Local Community and Other Direct Stakeholder.
  • AULIA RIZA FARHAN, Msc.. University of New South Wales. Integrated Vulnerability Assessment on Small Island Regions: A Case Study of Seribu Islands, Indonesia.
  • AGUS PURWADI & SUWARNO. 2nd Workshop of German-Indonesia Cooperation for Applied Research in Decentralized Enegry Management and Renewable Energy Generation, Karlshure – October 25-27, 2011. Current Activities and Challenges on Electrical Energy Research in ITB and Indonesia.
  • NATIONAL GEOSPATIAL-INTELLIGENCE AGENCY. Pub. 163. Sailing Directions (Enroute): Borneo, Jawa, Sulawesi, and Nusa Tenggara, Eleventh Edition, 2009.
  • BIRDLIFE INTERNATIONAL (2001) Threatened birds of Asia: the BirdLife International Red Data Book. Cambridge, UK: BirdLife International.
  • Sudin Kependudukan dan Pencatatan Sipil – Kep. Seribu. Tahun Anggaran 2013. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi DKI Jakarta.
  • Sudin Pariwisata dan Kebudayaan – Kep. Seribu. Tahun Anggaran 2013. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi DKI Jakarta.
  • Google (Search, Images, Maps)
Let's Enjoy Jakarta

Let’s Enjoy Jakarta

Twitter

Twitter