Peta Ceningan Jumping Cliff

Peta Ceningan Jumping Cliff

Mentari siang di Nusa Lembongan terik menyengat kulit. Warna eksotis sawo matang kulit saya, dengan cepat berubah legam, persis seperti Dakocan. Padahal hanya snokeling beberapa jam.

Target operasi kami berikutnya adalah Blue Lagoon – Ceningan Jumping Cliff. Karena lokasinya yang relatif jauh, saya dan tiga teman lain tentu membutuhkan kendaraan untuk kesana. Motor. Satu-satunya kendaraan darat yang tersedia di Nusa Lembongan. Kebetulan, kami sudah menginap di Tarci Bungalows, Jungut Batu (0812.3906.300 ) sejak satu hari sebelumnya, jadi, tidak terlalu sulit untuk mencari jasa penyewaan motor di Nusa Lembongan. Segala keperluan kami cukup terfasilitasi dan terbantu oleh para karyawan Tarci Bungalows yang cukup ramah.

Sepanjang pengetahuan saya, Tarci Bungalows—yang masih satu area dengan Agus Shipwreck Bar & Restaurant ini, menyandang titel “Recommended” dari Lonely Planet. Karena itu pula, kami berempat memilih penginapan ini sebagai tempat bernaung sementara dikala terik dan hujan. Tsaahhh…

Selesai koordinasi, kami diarahkan ke bagian belakang penginapan—tempat penyewaan motor. Sayang, saya lupa mencatat namanya, maklum orang muda. Tapi jangan khawatir, tempat penyewaan motor ini, masih satu gang dengan penginapan. Bila kita berjalan keluar, maka letaknya berada disebelah kiri jalan. Dengan uang 50,000 Rp, kita dapat menyewa motor dengan (rata-rata) transmisi otomatis. Pokoknya tinggal pelintir gas. Dan… untuk kamu yang manis, saya kasih bonceng gratis. #apasih

 

 

Menuju Ceningan Jumping Cliff

Transportasi menuju Ceningan relatif mudah. Bila kita memulai perjalanan dari Bandara Ngurah Rai, dibutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk mencapai Pantai Sanur. Kita dapat menggunakan jasa penyewaan mobil (umunya 250,000 Rp) yang banyak tersedia di sekitar bandara. Kemudian dari Pantai Sanur, menyebrang selama 30 menit menggunakan speedboat ke Jungut Batu atau Lembongan. Ongkosnya mulai dari 50,000 Rp – 85,000 Rp. Alternatif lain yang lebih murah adalah dengan menggunakan public boat. Ongkosnya dipatok sekitar 30,000 Rp untuk perjalanan selama 1 jam 30 menit.

Berdasarkan informasi, public boat dari Pantai Sanur hanya berangkat pada pagi hari. Sementara speedboat berangkat pada jam-jam tertentu, tergantung dari operatornya. Terdapat beberapa operator penyebrangan dari Sanur ke Lembongan. Kebetulan, operator speedboat yang kami gunakan kala itu adalah Sugriwa Express—dengan jadwal keberangkatan dari Pantai Sanur pada jam 09.30, 13.30, dan 17.00 sore. Dari Sanur, ada dua rute yang bisa kita pilih, yaitu Sanur-Jungut Batu atau Sanur-Lembongan.

Posisinya yang berada di selatan Nusa Lembongan, membuat Pantai Lembongan lebih dekat dengan Ceningan. Sayangnya, sulit sekali untuk mendapatkan penginapan di sekitar Desa Lembongan. Karena alasan ini pula, akhirnya kami berempat hijrah ke Jungut Batu yang lokasinya di bagian utara Nusa Lembongan dan lebih jauh dari Ceningan.

Jembatan penghubung Lembongan-Ceningan

Jembatan penghubung Lembongan-Ceningan

Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit mengendarai motor, dari Jungut Batu ke Ceningan Jumping Cliff—ke arah selatan. Satu-satunya akses “darat” untuk mencapai Nusa Ceningan, adalah melalui suspension bridge (jembatan gantung) berwarna kuning, yang dibangun pada tahun 1994. Jembatan penghubung ini memiliki panjang sekitar 100 meter, dengan lebar 1 meter. Jembatan yang berdiri diatas Selat Ceningan inipun hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan pejalan kaki saja. Sebagai catatan kecil, jembatan penghubung antara Nusa Lembongan dengan Nusa Ceningan ini pernah putus akibat tergerus usia pada 7 Oktober 2010 silam. Dan perbaikannya dilakukan oleh swadaya masyarakat sekitar.

View Selat Ceningan dari Jembatan

View Selat Ceningan dari Jembatan

Selepas jembatan, tak ada sama sekali penunjuk arah. Kami hanya mengandalkan insting dan sesekali bertanya kepada penduduk yang sedang lewat. Walaupun sebagian besar jalan desa di Nusa Ceningan lurus-lurus saja, tapi begitu bertemu dengan percabangan, selalu saja terasa membingungkan. Kalau sudah begini, “insting”/”orientasi”/”tanya penduduk” adalah senjata pamungkas yang selalu kami andalkan.

Untuk menggambarkan istilah “orientasi” yang saya maksud, berikut contoh kasusnya:

Diasumsikan, “tujuan” kita berada di depan—sesuai arah berdiri—nun jauh disana. Sementara, jalan satu-satunya adalah ke arah kanan. Ini berarti, ketika kita berjalan kekanan, “posisi” tujuan kita semula telah berubah, berada di sebelah kiri.

Kemudian didepan sana, ternyata, jalan kembali berbelok ke kanan. Ini berarti “posisi” tujuan kita sekarang berada di belakang.

Setelah beberapa lama, jalan didepan ternyata mentok, yang ada hanya belok ke kiri dan kekanan. Bila kita belok ke arah kanan, sama dengan “balik arah.” Berarti, harus belok ke kiri. Dan, dengan berbelok ke kiri, berarti “posisi” tujuan kita kini berada di sebelah kiri—lagi. Dan begitu seterusnya, sampai kita mendekati/mencapai lokasi yang dimaksud.

Hal yang dapat mengganggu kegiatan “orienteering” ini biasanya adalah hilangnya konsentrasi. Umumnya disebabkan karena terlalu banyaknya belokan dan/atau persimpangan yang sudah dilalui, atau ter-distraksi dengan kondisi sekitar.

Kembali ke topik semula.

Sebelum memutuskan untuk menyewa motor, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

1. Kondisi motor

Kondisi motor yang tidak layak jalan, selain membuatnya tidak nyaman dikendarai, juga berpeluang membahayakan nyawa. berikan perhatian lebih kepada fungsi-fungsi rem dan kondisi ban. Jalan desa mulai dari Nusa Lembongan sampai Nusa Ceningan, hampir sebagian besar aspalnya telah rusak, banyak kerikil lepas. Hal ini tentu sangat membahayakan. Tambahkan lagi dengan kondisi hujan, sempurnalah bahaya yang kelak anda hadapi.

2. Bensin

Seperti di Ubud, disini (Lembongan dan Ceningan,) bensin pun disebut dengan Petrol. Sebelum berkendara, pastikan bensin di dalam tangki penuh terisi. Untuk yang sudah beberapa kali ke Lembongan-Ceningan, tentu tidak akan tersesat. Tapi bagi anda yang belum pernah kesini, setidak-tidaknya, sedikit tersesat adalah syarat wajib yang harus dilalui, persis seperti kami waktu itu,😀.

Nah, fungsi bensin yang terisi penuh tadi bertujuan untuk meng-kompensasi keadaan bilamana anda tersesat. Tenang, tersesat di Lembongan-Ceningan tidak seperti tersesat di hutan. Tersesat di kedua pulau ini, pilihannya hanya dua; mentok di jalan buntu, atau berputar-putar kembali ke tempat yang sama. Beberapa warga memang menjual bensin eceran dirumahnya. Tapi, kalau kita tidak tahu dimana lokasinya—ketika sedang membutuhkan—sudah barang tentu hal ini akan sangat merepotkan. Mendorong motor di area perbukitan tentu bukan sesuatu yang menyenangkan bukan?

3. Nomor telpon tempat penyewaan motor

Nomor telpon ini kelihatannya memang sepele. Ia baru terasa penting ketika terjadi sesuatu dengan motor yang kita kendarai, seperti; tiba-tiba rusak, hilang, atau terjadi kecelakaan—dan tentu saja hal-hal tersebut  sangat tidak diharapkan terjadi. Seandainya pun terjadi, dengan memiliki nomor kontak dari jasa penyewaan motor tersebut, diharapkan, mereka dapat membantu menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi.

 

 

Informasi umum Nusa Ceningan

Wilayah administratif:

Desa Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Propinsi Bali.

Batas administratif:

(Utara) Laut Bali – (Timur) Selat Penida – (Selatan) Samudera Indonesia – (Barat) Nusa Lembongan

Luas: 294.75 hektar

Dusun: 2 buah

Ketinggian: 0 – 112.5 mdpl

Kontur: Berbukit

Fasilitas Umum: Balai banjar, Puskesmas, Pura

Pekerjaan penduduk:

Nelayan, Pencari sarang Burung Walet, Petani rumput laut, Agen pariwisata, dan lain-lain

Menjelajah di sekitar Ceningan Jumping Cliff

Di sepanjang jalan menuju lokasi lompat tebing, terlihat banyak rumput laut yang sedang dijemur warga. Warnanya bervariasi, mulai dari hijau hingga coklat muda. Maklum saja, selain berprofesi sebagai nelayan, sebagian masyarakat setempat juga menggantungkan hidupnya dengan menjadi petani rumput laut.

Pintu masuk menuju area jumping di Ceningan

Pintu masuk menuju area jumping di Ceningan

Tiga puluh menit telah berlalu…

Kami berempat telah sampai di pelataran parkir jumping cliff. Sinar matahari masih terik menyengat kulit. Karena kami datang pada saat low season, tak satupun terlihat penjaga pintu masuk. Wah, tidak perlu keluar duit lagi sepertinya. Hati kami senangnya bukan main. Karena, ini sama artinya dengan penghematan.

Namun, ketika hendak melangkah lebih jauh lagi, entah mengapa jantung saya tiba-tiba deg-degan bukan kepalang, seperti mau mendapatkan “durian runtuh”…

“Pak, bayar dulu!” seorang anak kecil ber-genre perempuan tiba-tiba teriak kearah kami. Glodak!

Duriannya jatuh di kantong saya. Damn!

Niat berhemat, seketika tamat. Rasanya seperti kekurangan yodium (baca: gondok – gondok kelas wahid,) padahal sedang berwisata di tepi laut. Tapi, ya sudahlah, hitung-hitung pemberdayaan ekonomi lokal. #masih kekurangan yodium

View di sekitar jumping cliff

View di sekitar jumping cliff

Setelah membayar ongkos masuk sebesar 5,000 Rp per-orang, kami langsung menuju area jumping. Lokasinya lumayan jauh dari area parkir. Sekitar 100 meter. Dari yang saya lihat, landscape disekitar Ceningan Jumping Cliff terlalu menggoda untuk dilewatkan begitu saja. Sementara teman yang lain menuju area jumping, saya justru memilih berkeliling, menjelajahi area lain. Ada beberapa aktifitas yang bisa kita lakukan disini, yaitu; menyusuri area disekitar tebing-tebing curam—yang langsung mengarah ke Samudera Indonesia, menikmati matahari terbenam (sunset,) dan… lompat tebing tentunya.

Ceningan Jumping Cliff

Ceningan Jumping Cliff

Dari area parkir motor ke area jumping didominasi tanah merah, sehingga membuatnya menjadi becek di musim penghujan. Sementara di area jumping, karang-karang tajam terlihat mendominasi. Hanya sebagian kecil area saja yang diperhalus dengan semen cor. Sisanya dibiarkan alami. Lengah sedikit, minimal rumah sakit. Lengah banyak, maksimal almarhumah.  Karenanya, berhati-hatilah selama berada di tempat ini.

Ceningan Jumping Cliff dari sisi lain

Ceningan Jumping Cliff dari sisi lain

Ombak berderu terlalu ganas waktu saya datang, sehingga tak ada satu orang pun yang melakukan aktifitas cliff jumping, karena terlalu berbahaya. Aktifitas ini biasanya ramai dilakukan wisatawan pada bulan Juni hingga September. Karena, selain pada bulan-bulan tersebut kondisinya relatif cerah, ombak di sekitar  Blue Lagoon pun relatif tenang.

Peta Ceningan Jumping Cliff dalam skala lebih detail

Peta Ceningan Jumping Cliff dalam skala lebih detail

Lokasi: Blue Lagoon – Ceningan, Bali

Tinggi tebing: 13 meter

Naik keatas (setelah lompat): Tangga gantung

Waktu terbaik: Musim panas. Bulan Juni hingga September/Oktober

Features: Blue Lagoon, Turtle, Manta Ray, Dolphin, Swallow House, Blow Hole, Cliff

Warung: Ada. Hanya buka ketika high season

Pelayanan Medis: Tidak ada

Akses: Jalan desa

Parkir: 5,000 Rp

Saya mencoba berdiri tepat di pinggir tebing—spot melompat. Dari tempat saya berpijak, hamparan warna turquoise di bawah sana memang terlihat menggoda. Tak ada cara lain untuk turun kesana, kecuali dengan melompat. Bila naik roller coaster saja membuat jantung saya berhenti bekerja selama 1 detik. Maka, dengan melompat dari tebing karang setinggi 13 meter ini, diperkirakan, jantung saya akan istirahat bekerja selama 2-3 detik. Hmm, cukup menarik. Tapi sayang, saya tidak membawa pakaian ganti, jadi, mungkin lain kali saya akan mencobanya—alibi biar dibilang pemberani.

Awan hujan di Ceningan sebelum pulang

Awan hujan di Ceningan sebelum pulang

Dari testimoni beberapa orang yang pernah melompat di Ceningan Jumping Cliff, ada satu opini yang terdengar menarik bagi saya. “The scary part was trying to grab the dodgy ladder in a big sea swell, and then climbing back up.” Cukup menarik bukan? Pertanyaan berikutnya adalah, apakah anda seorang penakut, atau seorang (pura-pura) pemberani seperti saya? Silahkan cari jawabannya di tempat ini.😀 [BEM]