A. Calo

Image copyright by their respective

Calo

Tentu anda sudah tidak asing lagi dengan yang satu ini. Mereka hampir selalu ada dimanapun konsentrasi angkutan umum berada. Apalagi pada masa-masa high-season semisal liburan sekolah atau hari-hari besar lainnya. Walaupun aparat berwenang sering melakukan razia atas keberadaannya, mereka tetap tumbuh subur seperti jamur dimusim hujan.

Yang lazim mereka lakukan adalah menaikkan harga (umumnya jauh diatas harga normal) secara sepihak demi keuntungan pribadi. Ada yang memaksa secara terang-terangan, ada juga yang menawarkan jasanya secara sembunyi-sembunyi.

Ada beberapa factor pemicu yang membuat para calo ini bebas menaikkan harga seenaknya, diantaranya:

  1. Lemahnya pengawasan petugas berwenang terkait percaloan di pusat-pusat konsentrasi angkutan umum seperti terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara.
  2. Kebutuhan mendesak calon penumpang untuk sampai ke suatu tujuan tertentu
  3. Sulitnya mendapatkan tiket untuk tujuan dimaksud (biasanya terjadi pada saat high-season)
  4. Para calo tersebut melihat anda sebagai pendatang, sehingga mereka berpikir “sah-sah” saja menaikkan harga sesuai keinginan mereka. Atau biasa kita sebut dengan “main tembak” harga.
  5. Sulitnya angkutan umum yang melayani trayek sesuai tujuan anda. Bisa karena jumlahnya yang memang sedikit, atau karena telah melebihi jam operasional angkutan umum tersebut. Dibeberapa daerah di Indonesia, jam operasional angkutan umum ini biasanya lebih cepat ketimbang di kota-kota besar. Beberapa kemungkinan yang membuat hal ini terjadi adalah jumlah penduduk yang masih jarang disuatu daerah tertentu (terpencil). Bisa juga dikarenakan medan yang cukup sulit.

Solusi:

Bila memungkinkan, pesanlah tiket jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan anda. Bila anda tipikal “on-the-fly”, usahakan tiba dilokasi lebih awal dimana konsentrasi angkutan umum tersebut berada. Atau anda juga dapat memberhentikan angkutan umum tersebut ditengah jalan (bukan diterminal atau di pool) bila anda menggunakan bus sebagai moda transportasi. Untuk urusan harga, anda dapat menanyakannya kepada penumpang lain didalam angkutan umum tersebut, sehingga harga yang anda bayar tidak terlalu tinggi.

Untuk kasus “pendatang”, tips paling sederhana adalah, berperilakulah seperti penduduk setempat, jangan memperlihatkan wajah bingung. Jadilah “sok tau”. Intinya perkecil segala kemungkinan anda dianggap sebagai pendatang. Buatlah seolah-olah anda adalah warga setempat yang hendak bepergian, dan bukan sebaliknya.

Apabila anda bepergian secara berkelompok. Dan barang-barang bawaan anda cukup banyak. Letakkanlah barang-barang bawaan tersebut disuatu tempat, dengan dijaga oleh teman-teman anda yang lain tentunya. Kemudian berjalanlah dengan lenggang (tanpa membawa barang apapun) untuk kemudian membeli tiket ditempat/agen penjualan tiket bus yang sesuai dengan tujuan anda. Hal ini dilakukan untuk “mengelabui” para calo agar tidak menganggap anda sebagai pendatang, dan diharapkan dengan begitu anda mendapatkan harga yang sesuai dengan tarif yang telah ditentukan oleh perusahaan bus tersebut. Usahakanlah untuk selalu melakukan tawar-menawar harga (bila memungkinkan) sebelum memutuskan untuk membeli tiket tersebut.

B. Diturunkan sembarangan

Image copyright by their respective

Diturunkan sembarangan

Kasus ini biasanya hanya terjadi bila anda menggunakan transportasi darat berjenis bus. Terutama bus dengan kelas ekonomi atau bisnis.

Solusi:

Perjalanan antar-kota:

Untuk perjalanan antar-kota, kereta api menjadi pilihan pertama saya untuk menghadapi kasus seperti ini. Karena walaupun hanya membeli tiket kelas ekonomi, sang masinis tidak akan pernah menurunkan penumpangnya disembarang tempat kecuali stasiun-stasiun pemberhentian yang telah ditetapkan. Untuk kasus kereta mogok, dan anda terpaksa diturunkan di “sembarang tempat” tentu ini adalah kasus yang berbeda.

Pilihan kedua adalah jasa travel. Baik itu anda sewa secara pribadi maupun jasa travel umum. Jasa travel sewa umumnya dikelola oleh perorangan, Dan mereka akan mengantarkan anda sampai dilokasi tujuan asalkan sesuai dengan kesepakatan yang telah dicapai sebelumnya. Sedangkan jasa travel umum harganya lebih murah dari jasa travel sewa, dan lokasi tujuannya tentu tidak se-flexible jasa travel sewa.

Dan pilihan ketiga atau terakhir adalah pesawat. Walaupun harga tiketnya jauh lebih mahal dari kedua pilihan sebelumnya, namun harga tersebut sebanding dengan efisiensi tenaga dan waktu yang anda dapatkan. Dan sudah barang tentu anda tidak akan diturunkan disembarang tempat bukan?😀.

Perjalanan dalam kota:

Bila berbicara perjalanan dalam kota, kasus awak bus yang menurunkan penumpang disembarang tempat tentu sudah berulang kali terjadi, bahkan bisa jadi anda mengalaminya sendiri. Dalam hal ini, memang cukup sulit untuk memastikan bahwa anda akan diantarkan sampai tujuan walaupun bus yang anda tumpangi telah sesuai trayek yang ditentukan.

Ada beberapa cara memastikannya, anda bisa bertanya langsung dengan supir bus tersebut perihal tujuan akhir anda, Apakah bus tersebut melalui tujuan anda atau tidak. Atau anda juga bisa mengumpulkan referensi dari penduduk local perihal tujuan dan kendaraan umum yang bisa anda gunakan untuk dapat mencapai ketujuan anda.

C. Angkutan umum yang ugal-ugalan

Image copyright by their respective

Angkutan umum ugal-ugalan

Bagi anda yang sering bepergian menggunakan angkutan umum, bisa dipastikan sebagian besarnya pernah mengalami kejadian ini. Definisi ugal-ugalan bisa saja berbeda antara daerah satu dengan yang lainnya. Sebut saja misalnya, di Jakarta, angkutan umum yang melaju dengan kecepatan 60-70 km/jam dan dikendarai secara zig-zag bisa dikatakan sebagai ugal-ugalan. Namun dibeberapa daerah di Pulau Sumatera, kecepatan 60-70 km/jam mungkin akan dianggap sebagai “normal” bagi penduduk setempat. Karena pada umumnya angkutan umum di daerah tersebut melaju dengan kecepatan tersebut bahkan bisa lebih.

Jadi ada dua factor penentu relative apakah suatu angka speedometer tersebut disebut “ugal-ugalan”.

Pertama, anda sebagai penumpang. “Lho kok saya?”, ya, bila anda terbiasa mengendarai atau menumpang kendaraan dengan kecepatan diatas 60-70 km/jam, angka tersebut akan terasa “normal” bagi anda. Namun bila anda terbiasa dengan kecepatan dibawah angka tersebut, hampir bisa dipastikan anda akan menyebutnya dengan “ugal-ugalan”.

Kedua, Daerah tempat angkutan umum tersebut beroperasi. Untuk daerah yang letaknya sangat jauh/terpencil, sepi dan jarang penduduk, kecepatan 60-70 km/jam bisa masuk dalam kategori “normal”. Sedangkan untuk daerah padat penduduk dan kendaraan seperti di kota-kota besar, kecepatan tersebut bisa dikategorikan sebagai “ugal-ugalan”. Tergantung dari perspektif anda.

Solusi:

Bila anda mengalami kejadian ini, hal pertama yang bisa anda lakukan adalah amati calon angkutan umum yang akan anda pilih. Perilaku sang supir tertu dapat terbaca dari sebelum angkutan umum tersebut sampai dilokasi anda menungu. Yang kedua, tegurlah supir angkutan umum tersebut supaya memperlambat laju kendaraan. Yang ketiga, bila anda mengkhawatirkan keselamatan anda, segeralah turun dari angkutan umum tersebut.

D. Copet

Image copyright by their respective

Copet

Biasanya dilakukan oleh lebih dari satu orang. Orang pertama sebagai pengalih perhatian, orang kedua sebagai eksekutor, orang ketiga sebagai penghilang jejak, orang keempat sebagai pengawas bila terjadi keadaan diluar rencana, misalnya teman mereka tertangkap tangan mencopet dan dihakimi massa, maka sang pengawas ini akan langsung menghubungi polisi. Modus umum mereka biasanya adalah “berpura-pura”, apapun bentuknya.

Solusi:

Don’t let your guard down!. Selalu waspada setiap saat. Letakkan barang-barang berharga anda diposisi yang aman. Pilihlah tempat yang menyulitkan pencopet untuk mengambilnya. Hindarilah area yang sempit, karena biasanya para pencopet ini akan memilih lokasi yang ramai dan cenderung sempit seperti didalam bus atau kereta api. Jangan terlalu mudah percaya dengan orang asing disekitar anda. Bukan curiga, tapi waspada adalah lebih baik demi keamanan anda sendiri.

E. Pengamen

Image copyright by their respective

Pengamen

Pernah mendengar kata-kata seperti ini, “Saya baru keluar dari tahanan, bla…bla…, seribu dua ribu gak akan buat bapak ibu miskin, bla…bla…, daripada saya makan silet …”. Ya, benar. Kata-kata yang mengandung ancaman dan disampaikan dengan nada tinggi, mereka akan mencoba mengintimidasi seluruh penumpang agar takut dan memberikan uang kepada mereka.

Solusi:

Jangan pernah berikan apa yang mereka minta, apalagi dengan cara tidak sopan seperti itu. Namun bila anda tidak yakin, cobalah lakukan “assessment” apakah pengamen tersebut dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar atau bahkan mengancam nyawa anda atau tidak bila anda tidak berniat memberinya uang. Selanjutnya keputusan untuk memberi atau tidak, ada ditangan anda.

F. Preman

Image copyright by their respective

Preman

Sudah menjadi rahasia umum, kehadirannya hampir selalu meresahkan orang-orang yang berada disekitar mereka. Kecenderungan mereka yang paling umum adalah mengintimidasi. Mereka umumnya lahir dari tekanan untuk bertahan hidup, namun ada juga yang memilih jalur preman sebagai jalan hidup yang mereka nikmati. Bahkan pada titik tertentu, aksi ke-“preman”-annya tersebut mereka anggap layaknya pekerjaan legal lain seperti pengacara, dokter, dan lain sebagainya.

Solusi:

Hindarilah tempat-tempat gelap dan/atau sepi. Bila anda terpaksa harus lewat daerah tersebut, gunakanlah transportasi publik seperti ojek atau taksi. Sebisa mungkin hindari berjalan kaki. Namun bila anda terpaksa harus berjalan kaki, tunggulah “barengan” yang juga hendak melewati daerah gelap dan/atau sepi tersebut.

Jangan “pamerkan” barang-barang berharga yang anda bawa. Seperti kamera misalnya. Letakkanlah didalam carrier/backpack bila memang tidak digunakan. Juga semua perhiasan berharga lain yang bisa mengundang kejahatan.

Blend with local people. Tampillah secara sederhana. Sesuaikan gaya berpakaian anda dengan penduduk setempat. Be low profile.

Jangan tunjukkan perasaan takut atau ragu-ragu dimanapun anda berada. Bersikaplah biasa saja. Dengan begitu, walaupun seandainya preman tersebut berniat jahat kepada anda. Namun karena anda menunjukkan sikap berani, diharapkan mereka akan berpikir dua kali jika ingin melakukan tindak kejahatan pada anda.

Lakukan observasi perihal tempat anda berada pada saat itu. Bila intuisi anda menerima “sinyal” tidak baik, segeralah berpindah kelokasi lain yang anda anggap aman.

Bila pada akhirnya anda berada dalam kondisi yang mengancam nyawa anda, berikanlah barang yang mereka minta. Kehilangan barang tentu masih “jauh lebih baik” daripada kehilangan nyawa anda.

G. Ketinggalan jadwal keberangkatan

Image copyright by their respective

Ketinggalan jadwal keberangkatan

Walaupun yang namanya ketinggalan jadwal keberangkatan adalah suatu hal yang seringkali terjadi. Tapi tak jarang pula kita mengabaikannya. Bisa karena terhambat traffic jam, bangun kesiangan, lokasi keberangkatan yang sangat jauh, dan lain sebagainya. Bila sudah ketinggalan jadwal keberangkatan, sudah bisa dipastikan budget perjalanan anda membengkak secara otomatis. Apalagi bila lokasi anda ketinggalan jadwal keberangkatan tersebut berada didaerah terpencil. Dimana transportasinya hanya berangkat berdasarkan waktu-waktu tertentu.

Solusi:

Aturlah waktu istirahat anda. Bila jam keberangkatan adalah pagi hari, hindari sebisa mungkin yang namanya begadang. “Karena begadang tiada artinya…”, demikian nasihat Kak Rhoma dalam sebuah lagunya😀. Dengan anda tidur lebih awal, diharapkan tubuh akan terasa fit pada saat bangun nanti, dan anda memiliki banyak waktu untuk bersiap-siap serta mengukur timing yang tepat kapan waktunya menuju titik pemberangkatan transportasi anda (bandara, stasiun, atau terminal). Bila perlu, pasang alarm dan setel suaranya dilevel paling tinggi😀.

Berangkatlah lebih awal. Karena anda tidak akan pernah tahu apakah kendaraan yang anda tumpangi untuk mencapai titik keberangkatan anda (bandara, stasiun, atau terminal) akan mogok atau tidak. Apakah perjalanan ke titik keberangkatan akan macet atau tidak. Dan lain sebagainya yang menghambat perjalanan anda sampai ke titik keberangkatan utama.

Bila perlu, carilah  penginapan yang dekat dengan titik keberangkatan. karena selain bisa menghemat waktu dan tenaga, solusi ini juga turut memberdayakan efisiensi pengeluaran anda.

Bila didaerah tersebut jarang sekali kendaraan umum, carilah tempat penyewaan kendaraan sehari sebelum hari keberangkatan anda. Tanyakan kepada penduduk disekitar perihal tempat penyewaan tersebut berada.

H. Kecelakaan

Image copyright by their respective

Kecelakaan

Diantara factor-faktor ancaman dalam perjalanan backpacking lainnya, kecelakaan memiliki nilai tertinggi untuk dihindari. Memang sulit memastikan kapan kecelakaan akan terjadi. Namun anda masih dapat meminimalisirnya.

Solusi:

Entah anda membawa kendaraan sendiri atau menggunakan public transportation, selalu pastikan kendaraan yang hendak anda tumpangi dalam keadaan aman. Perhatikan setiap factor penunjang keamanannya. Periksalah kondisi ban, rem, mesin, berat muatan, dan lain-lain yang dapat menjadi factor pemicu terjadinya kecelakaan.

Siap siagalah selalu. Jadilah seperti tentara yang sedang dalam keadaan berperang. Jaga selalu “kesadaran” akan diri dan lingkungan anda dimanapun berada. Ingat!, kecelakaan mengancam siapapun yang lengah. “Apa buktinya?”. Tentu anda tahu rel kereta api. Lebar rel kereta api standard adalah 1,435 mm. Standard yang digunakan oleh sekitar 60% kereta api diseluruh dunia. Pernahkah anda mendengar berita tentang orang yang tertabrak kereta api pada saat menyebranginya, bahkan dengan berjalan kaki?, apakah lebar rel kereta api selebar jalan raya?, lalu bagaimana mereka bisa tertabrak kereta api yang jelas-jelas memiliki jalur yang demikian “sempit”?. Anda tentu punya jawabannya.

Dan solusi paling utama yang juga melingkupi semua solusi diatas adalah, BERSEDEKAHLAH…. Point ini adalah point yang paling saya tekankan bila berkaitan dengan keselamatan. “Ritual” wajib ini biasa saya lakukan sebelum melakukan sebuah perjalanan. Bilapun lupa, biasanya saya akan tetap mengusahakannya sepanjang perjalanan tersebut. Karena boleh percaya boleh tidak, sedekah ini dapat menghindari kita dari bala bencana dan cenderung mempermudah proses perjalanan saya mulai berangkat hingga kembali kerumah dengan selamat. [BEM].