Image copyright by their respective

Lawang Sewoe Tempo Doeloe

Beberapa kali mengunjungi kota Semarang namun tidak pernah mengunjungi Lawang Sewu membuat saya sangat penasaran dengan tempat ini, untunglah pada kesempatan kali itu, dua orang teman saya bersedia untuk menemani ke Lawang Sewu.

Kami memilih malam hari untuk mengunjunginya, karena menurut informasi seorang teman, Lawang Sewu di malam hari tak kalah menarik untuk dikunjungi dan selalu ramai dengan pengunjung.

Mengunjungi gedung ini di waktu malam malam ternyata cukup menyeramkan. Saya dan seorang teman berkeliling Lawang Sewu dipandu oleh seorang guide, dengan terlebih dahulu membayar tiket masuk 10.000 rupiah per orang tentunya, itupun belum termasuk biaya pemandu, yang katanya seikhlasnya😀

Hanya berbekal satu buah senter, sang guide menemani kami berkeliling gedung ini, saya sempat bertanya, mengapa dinamakan Lawang Sewu?, Apakah benar pintunya ada seribu? Ternyata menurut penjelasan guide ini, tempat ini dinamakan dengan Lawang Sewu karena banyaknya daun pintu dan juga daun jendela yang dimiliki gedung ini. “Mungkin daun jendela besar-besar itu dihitung juga sebagai pintu”, imbuh guide tersebut.

Gedung ini dahulu oleh Belanda digunakan sebagai kantor pusat kereta api atau yang dikenal dengan Nederlansch Indische Spoorweg Maschaappij (NIS). (masih penasaran sih, apa karena ini makanya masyarakat di Jawa menyebut kereta api dengan panggilan sayang “Sepur”? :p)

Bangunan Lawang Sewu merupakan karya dua orang arsitek Belanda, yaitu Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag, dan merupakan design berulang dari gedung-gedung lain yang sudah ada di kota Delft, yang kemudian dibangun di Semarang.

Beberapa materialnya di datangkan langsung dari Eropa, tak heran jika arstiktur dari gedung ini sangat “Eropa banget”.

Kami menyusuri Lawang Sewu hingga akhirnya tiba di pintu menuju ruangan bawah tanah, kebetulan saat itu Semarang sedang banjir rob, sehingga di ruang bawah tanah terdapat genangan air setinggi kurang lebih setengah betis orang dewasa, guide saya tidak menemani masuk ke ruang bawah tanah ini. Untuk memasuki ruang bawah tanah ini kami harus menyewa sepatu boot dan kemudian dengan beberapa orang dari kelompok lain kami di bawa berkeliling oleh guide khusus ruang bawah tanah.

Ruang bawah tanah Lawang Sewu ini pernah digunakan untuk syuting sebuah acara reality show bergenre horror oleh sebuah stasiun televisi swasta, karena sejarah dari ruang bawah tanah ini memang cukup menyeramkan.

Dahulunya (pada jaman penjajahan Belanda) ruang bawah tanah ini digunakan sebagai drainase bila banjir rob tiba, namun pada jaman penjajahan Jepang tempat ini dialih fungsikan sebagai penjara bawah tanah.

Disini terdapat 2 jenis penjara, yaitu penjara jongkok dan penjara berdiri, para tawanan akan digabungkan 4 sampai 5 orang dengan posisi berjongkok dan diatas kepala mereka dipasang jeruji besi sehingga mereka tidak dapat berdiri, dan ketika banjir rob tiba maka para tawanan tersebut akan mati lemas. Sungguh kejam perlakuan penjajah Jepang saat itu.

Mereka juga memiliki ruangan yang disiapkan khusus untuk pembantaian pejuang-pejuang kita yang tertangkap. Bila tertangkap, kemudian kepalanya akan dipancung dan dibuang melalui ventilasi-ventilasi yang berada diruang bawah tanah sehingga kepala-kepala tersebut akan hanyut di sungai yang mengalir di belakang Lawang Sewu.

Menurut cerita dari sang pemandu yang tinggal di daerah ini, pada jaman penjajahan Jepang dulu sering sekali menemukan kepala-kepala yang dihanyutkan, konon ini sebagai peringatan agar pejuang-pejuang kita tidak berani melawan Jepang.

Sungguh sejarah Lawang Sewu yang menyeramkan. Namun sekelam apapun itu, tidak membuat orang meninggalkannya, arsitekturnya yang mewah menjadikan daya tarik tersendiri dari gedung ini, terbukti dengan dipakainya Lawang Sewu sebagai tempat syuting beberapa film Ayat-Ayat Cinta dan Merah Putih beberapa waktu yang lalu. Bila anda berkesempatan ke Semarang, anda harus mencoba wisata malam Lawang Sewu ini dan merasakan sensasinya. [IKA]