“Legenda Pulau Pahawang bermula ketika seorang nahkoda kapal bernama Pak Hawang, dengan seorang anak-buahnya, Mandara, terdampar di pulau ini. Ratusan tahun yang silam.”

Atau…

“Menurut sejarahnya, yang pertama kali menemukan Pulau Pahawang adalah seorang perempuan berdarah Cina-Betawi bernama Mpok Awang. Dia datang dan tinggal disini pada tahun 1800-an dulu. Buktinya ada. Sebuah makam keramat di puncak bukit batu. Di tengah pulau sana.”

Atau…

Gabungan keduanya?

Jadi, cerita mana yang benar?

Entahlah. Tak ada satupun catatan sejarah resmi berkaitan dengan kedua legenda tersebut. Seperti galib-nya legenda-legenda lain yang berkembang di masyarakat Indonesia—dimanapun.

Pulau Pahawang terletak di bagian selatan Provinsi Lampung. Dari Pelabuhan Bakauheni, ia berjarak 3 jam perjalanan darat. Plus 1 jam perjalanan laut dari Pelabuhan/Dermaga Ketapang. Bila diambil garis lurus, maka posisinya akan berada di antara arah barat dan barat laut Pelabuhan Bakauheni.

Bicara soal ‘legenda,’ kondisinya tak jauh beda dengan ‘luas’-nya. Informasinya simpang siur—serba membingungkan. Mau tau apa kata mereka? Berikut temuan saya:

  • Beberapa situs wisata menyebut luas Pulau Pahawang dalam angka yang bervariasi; 1,040 Ha  atau 1,084 Ha.
  • Mitra Bentala, pada blog WordPress-nya menyebutkan, “Desa Pahawang memiliki luas lahan/daratan 1,020 Ha (data tahun 2,000)…”
  • Pada halaman 145, dokumen Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (jkpp.org) menyebutkan, “Desa Pulau Pahawang… dengan luas wilayah berdasarkan PP tahun 1999 adalah 1,046 Ha.”
  • Sedangkan, merujuk pada Peraturan Daerah Provinsi Lampung No. 6 Tahun 2007, Bab 2 Point 2.1.8 (ayat 1) tentang Wilayah dan Tata Ruang menyebutkan, luas Pulau Pahawang adalah 669 Ha.

Bagaimana, bingung kan? Rasain! Senasib kita… eh eh eh

 

Perjalanan panjang yang membosankan

Dari Pelabuhan Bakauheni ke Dermaga Ketapang, Desa Batumenyan membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Kondisinya serba minus pemandangan, dijamin membosankan. Belum lagi suguhan jalan raya yang begitu panjang, seolah tak ada habis-habisnya, wih, emosi jiwa pokoknya. Karenanya, gunakanlah waktu selama 3 jam ini untuk beristirahat dengan tenang. Innalillahi…

Kondisi tersebut baru akan ‘tawar’ selepas Dermaga Ketapang. Tapi, setibanya di Dermaga Ketapang, jangan langsung melaut ya. Bukan apa-apa, takut kamu pingsan. Kan belum makan siang. Sambil elus-elus rambut panjang gebetan tersayang.

Plak!

 

Melawan ‘mainstream’

Sebenarnya, tujuan utama wisata ke Pulau Pahawang adalah snorkeling dan island hopping—Pulau Maitem, Pulau Kelagian, dan Pulau Pahawang kecil. Dan keduanya telah terpenuhi pada hari pertama.

Sekarang adalah hari kedua. “Sang Pengalaman” harus beda rupa. Tidak boleh sama. Kalau mayoritas pergi ke timur, saya pergi ke barat. Kalau yang lain rafting di Sungai Serayu, saya pilih caving di Goa Buni Ayu. Pokoknya, gak boleh sama dengan hari kemarin. Gak boleh sama dengan teman-teman yang lain.

Bagaimana kalo yang lain jalan-jalan ke Raja Ampat?

Ya, saya ikut berangkat! :p

Rumah Bu Arsali, Pulau Pahawang

Rumah Bu Arsali, Pulau Pahawang

“Kalo mau muterin pulau ini, berapa lama Bu?”

“Paling satu jam,” jawab Bu Arsali, “Jalannya gampang kok. Tinggal ikutin jalur konblok aja, ntar juga sampe lagi disini.”

Sebagai catatan saja, Bu Arsali adalah pemilik rumah yang kami sewa selama berada di Pulau Pahawang. Sementara Pak Arsali, sang suami—contact person kami—mengantarkan 15 teman lain menunaikan ‘hutang.’ Karena, berdasarkan itinerary, ada dua pulau lagi yang harus didatangi, yaitu; Pulau Balak dan Pulau Lunik.

Kembali ke Bu Arsali…

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, “satu jam”-nya Bu Arsali yang notabene penduduk asli, tentu beda dengan kami yang berstatus ‘tamu’ ini. ‘Dekat’-nya penduduk asli, seringkali, bisa berkali-lipatnya estimasi kami. Apalagi ‘jauh’-nya, wih… jangan ditanya. Bisa gila nanti.

Nah, untuk kasus seperti ini, rumus yang biasa saya gunakan—ketika bertanya perihal jarak kepada penduduk setempat—adalah;

2 ½ kP = Js

Dimana:

kP = katanya Penduduk (Menit, Jam, atau Kilometer)

Js = Jarak sebenarnya (Menit, Jam, atau Kilometer)

Sekarang, mari kita gunakan rumus tersebut untuk mengetahui nilai Js yang baru disebutkan oleh Bu Arsali, dimana diketahui bahwa nilai kP = 1 jam.

2 ½ (1 jam) = 2 ½ jam

Apakah rumus tersebut valid dalam kasus kali ini?

Ikuti terus ceritanya…

 

Yang dipelajari masyarakat Pulau Pahawang

Faktanya, tak ada penyewaan motor di Pulau Pahawang. Motor yang kami gunakan pun, sejatinya merupakan hasil ‘paksaan’ kepada tuan rumah. Tamu macam apa kami ini.

Mencari motor yang bisa disewa itu, gampang-gampang-susah. Walaupun begitu, Bu Arsali tak mudah menyerah. Dari kerabat, sampai tetangga dekat ditanyanya, bilamana motor mereka tersedia untuk disewa (@50,000Rp.) Beruntung, usahanya tak sia-sia. Dua motor bebek kelahiran tahun 2000 sekian akhirnya menanti kami di halaman depan.

“Ini kunci yang ini. Ini, kunci yang itu.” Ujar Bu Arsali, seraya menyerahkan, sekaligus menunjukkan hubungan masing-masing kunci tadi dengan motornya. “Siap Bu! Terima kasih banyak.”

Pukul 09.25 Waktu Indonesia Barat. Berbekal air mineral satu botol besar, saya, Ika, Aki, dan Pasus pun siap berangkat.

Perjalanan baru saja dimulai. Dan kami menjumpai para lelaki dewasa desa sedang bekerja bhakti membersihkan alang-alang, dan memperbaiki jalan. Jalan yang membuat intuisi kami ‘merasa,’ telah melewatkan sesuatu yang ‘berharga.’

Tanpa dipikir lagi, kami putar arah kembali. Masuki gapura usang. Lewati jalan setapak mirip di hutan. Tambahkan perasaan deg-degan. Dan eureka! Kami menemukan Penginapan Mitra Bentala! Lebay ya? Hiks.

Bangunan utama Penginapan Mitra Bentala 1

Bangunan utama Penginapan Mitra Bentala 1

Bangunan utama Penginapan Mitra Bentala 2

Bangunan utama Penginapan Mitra Bentala 2

Penginapan ini dijaga seorang tukang kebun bernama Widodo—tanpa Joko. Dengan ramah, ia mempersilahkan kami masuk – untuk sekedar melihat-lihat, sembari menceritakan perihal penginapan dan Mitra Bentala—salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang telah berhasil membina penduduk desa Pulau Pahawang melestarikan kawasan Hutan Mangrove mereka.

Tanaman pengundang Kupu-kupu

Tanaman pengundang Kupu-kupu

“Banyak Mas, komunitas yang datang ke sini. Kebanyakan dari Lampung.” Terang Widodo.

“Nah, yang ini, tanaman pengundang kupu-kupu,” tambahnya lagi, “Saya tahunya dari Komunitas Pecinta Kupu-kupu dari Lampung, waktu mereka main kesini,” seraya menunjukkan kepada kami sebuah tanaman berbunga ungu, yang ia pun tak tahu namanya. It’s OK bro, no problem.

Kondisi di sekitar Penginapan Mitra Bentala

Kondisi di sekitar Penginapan Mitra Bentala

Lahan Ajar Penjernihan Air Pahawang

Lahan Ajar Penjernihan Air Pahawang

Halaman bagian depan penginapan relatif luas. Disana terdapat beberapa petak tanah yang biasa digunakan sebagai area pembelajaran bagi masyarakat setempat, mulai dari Kandang Sehat, Reaktor Biogas, Penjernihan Air, dan lain sebagainya.

 

Kepiting Hell Boy

Setelah informasi dari Mas Widodo dianggap telah memuaskan rasa penasaran. Perjalanan pun kami lanjutkan. Masih counter clock wise—ke arah barat. Kok, berasa Sun Go Kong ya? Hmm…

Kawasan Konservasi Mangrove Desa Pulau Pahawang 1

Kawasan Konservasi Mangrove Desa Pulau Pahawang 1

Sekira 5 menit dari Penginapan Mitra Bentala, kami tiba di Kawasan Konservasi Mangrove, Desa Pulau Pahawang. Tanaman mangrove yang menjulang tinggi terlihat mendominasi di sebagian besar pantai Desa Suak Buah, sementara sebagian lainnya, baru saja ditanami.

Kawasan Konservasi Mangrove Desa Pulau Pahawang 2

Kawasan Konservasi Mangrove Desa Pulau Pahawang 2

Di sekitar Kawasan Konservasi Mangrove Desa Pulau Pahawang

Di sekitar Kawasan Konservasi Mangrove Desa Pulau Pahawang

Awalnya, saya tidak terlalu memperhatikan. Tapi, semakin lama berada disana, saya menyadari suatu kejanggalan. Ekor mata saya menangkap suatu pergerakan di bawah sana. Sesuatu yang ikut bergerak, setiap kali saya bergerak.  Gerakannya menjauh, bukan mendekat.

Karena penasaran, saya putuskan untuk memperhatikan. Ukuran mereka kecil, tapi jumlahnya ratusan. Ah, Kepiting Bakau (Mangrove Crab) rupanya.

Fiddler Crab di Kawasan Konservasi Mangrove

Fiddler Crab di Kawasan Konservasi Mangrove

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, saya mendapati, kepiting-kepiting ini berjenis Fiddler Crab. Mereka memang biasa ditemukan di sekitar rawa di pinggir laut, dan pantai berpasir/berlumpur seperti di Afrika barat, Atlantik barat, Pasifik timur, dan Indo-Pasifik.

Fiddler Crab dapat dikenali dengan mudah melalui capit asimetris mereka. Dimana, yang satu berukuran normal, sementara yang lain berukuran hingga 3-5 kalinya. Persis seperti lengan tokoh utama di film fiksi Hell Boy. Warna mereka sangat eye catching. Mulai dari gradasi jingga-putih, biru langit, hitam, hingga coklat—dalam satu tubuh yang sama.

Bila anda hobi foto, terutama Macro Photography, bawa semua peralatan perang yang anda punya—bila berkesempatan berkunjung kesini. Dijamin tidak kecewa.

 

Selamat! Kami tersesat!

Bangunan Sekolah Dusun Suak Buah

Bangunan Sekolah Dusun Suak Buah

Kondisi Desa Suak Buah Pulau Pahawang

Kondisi Desa Suak Buah Pulau Pahawang

Tak jauh dari Kawasan Konservasi Mangrove, terdapat sebuah bangunan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Walaupun lapangannya masih berupa tanah merah, tapi kebersihan sekolah ini relatif terjaga.

Lajukan motor sedikit ke arah barat. Jalan yang awalnya se-‘batang,’ kini bercabang. Semakin disusuri, semakin ia menyepi. Untungnya, masih banyak pohon tinggi di kanan-kiri. Sehingga siang yang kami lewati cukup terasa teduh. Sampai di suatu titik, dimana kondisinya serba terbuka, dengan dominasi tanah merah dimana-mana.

Kami telah sampai di ujung jalan konblok. Alhamdulillah, kami tersesat. Terima kasih Bu Arsali, untuk informasinya. Katanya, ikuti saja jalan konblok, tapi kenapa tiba-tiba mentok? Hmm, sesuatu banget yah, Mbah Syahroni… hhh-hah

 

Coba bertanya, tapi, sama siapa?

Selayang pandang, tanah merah tadi, saya kira sebuah lapangan. Tapi begitu diperhatikan, tarnyata sebuah ruas jalan—yang masih dalam tahap pembangunan. Panjangnya, mencapai ratusan meter, dengan lebar 15 meter.

Fakta menarik lainnya adalah… tak satupun orang yang bisa ditanya!

Sungguh kombinasi yang sempurna. Damn! T_T

Sang penolong ketika tersesat di Pulau Pahawang

Sang penolong ketika tersesat di Pulau Pahawang

Untungnya, semakin dipaksakan ‘kesesatan’ tadi,  semakin terang pula harapan kami. Seorang ibu paruh baya berkaos merah, terlihat meniti jalan menuju arah kami.

“Bisa, lewat sana, tapi jalannya kecil.” Jawabnya ketika kami tanya, seraya menunjuk ke arah perbukitan nun jauh nian.

“Terima kasih Bu.” Perjalanan pun kami lanjutkan.

Menjelang perbukitan, kami menjumpai area budidaya Buah Naga. Dari ketinggian batangnya—diperkirakan—tanaman ini telah berusia antara 7-9 bulan. Umumnya tumbuhan kaktus membutuhkan suhu antara 38-40 derajat celcius. Walaupun tidak sepanas itu, bagian barat Pulau Pahawang ini, masih dianggap cocok untuk dijadikan area budidaya Buah Naga.

Area budidaya Buah Naga Pahawang 1

Area budidaya Buah Naga Pahawang 1

Area budidaya Buah Naga Pahawang 2

Area budidaya Buah Naga Pahawang 2

Bagi yang belum mahfum perihal Buah Naga (Pitaya,) berikut—sedikit—penjelasannya;

Buah Naga adalah buah dari tanaman kaktus ber-marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Namun karena dianggap memiliki nilai ekonomis tinggi, buah ini pun mulai dibudidayakan di negara-negara Asia. Dan Indonesia… satu diantaranya.

 

Kembali mencari jalan…

Tanda-tanda tersesat jelas belum berkurang, tapi… mengapa tambah sempit ini jalan? Setapak berumput, dan berujung pada belukar tertutup. Kami telah sampai pada ujung jalan kedua rupanya. Argh! Jambak-jambak rambut tetangga.

Tanda-tanda tersesat kedua

Tanda-tanda tersesat kedua

Sebenarnya, bila waktu yang kami punya cukup panjang, tersesat seperti ini lebih menyenangkan. Sensasinya seperti mencari Tarzan di tengah hutan. Pokoknya membutuhkan perjuangan. Namun, karena tidak mungkin melanjutkan, maka kami putuskan untuk kembali ke titik awal, tempat semula dimana kami nyasar.

Lokasi tersesat pertama di Pulau Pahawang

Lokasi tersesat pertama di Pulau Pahawang

Dari sana, kami susuri jalan hingga ke bagian timur Pulau Pahawang. Lagi-lagi, jalan konblok lenyap dari pandangan. Yang ada hanya ilalang di sekujur jalan. Berarti, ini ujung jalan ketiga kami. Damn!

“Dosa apa yang telah kulakukan

Hingga kini, aku engkau sasarkan…”

Malah nyanyi “Dosa Apa…”

Plak!

Merasa diburu waktu, kami tidak lagi mempedulikan jalan didepan. Jalan setapak, semak-semak, semuanya kami sikat! Jalur lumpur. Jalur sempit berbatu—di pinggir ‘jurang.’ Sampai akhirnya… kami temukan kembali peradaban. Akhirnya…

 

Pembuktian rumus perjalanan

Jalur lingkar luar yang kami pilih, sebagian on-road, sebagian lagi off-road. Cukup menantang memang, walaupun sensasinya masih kecil-kecilan. Tapi jangan salah, bagian jalur melipir di tepi ‘jurang’ sana, masih berpotensi celaka. Tak boleh sedikit pun lengah, karena akibatnya, minimal tulang patah, maksimal almarhumah.

Dari yang kami telusuri, area pantai di sepanjang pesisir timur hingga utara Pulau Pahawang, sangat bervariasi. Mulai dari pantai karang yang tertutup mangrove atau pepohonan, hingga pantai berpasir putih.

Pantai pasir Pahawang 1

Pantai pasir Pahawang 1

Pantai pasir Pahawang 2

Pantai pasir Pahawang 2

Pantai pasir Pahawang 3

Pantai pasir Pahawang 3

Pantai berpasir putih, umumnya terletak jauh dari jalan desa, karenanya, mau-tak-mau kita harus trekking sedikit untuk mencapainya. Tapi jangan khawatir, berwisata pantai di Pulau Pahawang ini, segalanya seperti milik sendiri. Maklum, pengunjungnya masih terbilang sepi. Jadi, begitu kesempatan—wisata ke Pulau Pahawang—datang, jangan disia-siakan. Mumpung pantainya masih banyak yang perawan.

Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 11.55 siang. Dan kami telah tiba di titik semula—rumah Bu Arsali. Jadi, kalau dihitung-hitung, 2.5 jam sudah Pulau Pahawang kami lingkari dengan menyesatkan diri. Berarti, rumus perjalanan di awal artikel tadi, bisa dianggap valid kan? :D

 

Cara mencapai Pulau Pahawang

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana cara mencapai Pulau Pahawang, ya kan? Karena berangkat dari Jakarta, maka, saya hanya akan meng-cover rutenya dari Pelabuhan Bakauheni saja. Dan berikut ini, adalah beberapa cara yang bisa digunakan:

Sewa angkot

Pelabuhan Bakauheni – Dermaga Ketapang (+- 3 jam) = 300,000Rp sekali jalan. Angkot ini, normalnya bisa dimuati hingga 12 orang. Kalau mau dimuati lebih dari 12 orang juga bisa. Tapi, siapkan otot-otot kalian untuk kram. Jauh lho perjalanannya. :D

Naik-turun angkot

  • Pelabuhan Bakauheni – Terminal Rajabasa = 17,000Rp (Ekonomi) dan 21,000-25,000Rp (Ekonomi AC)
  • Terminal Rajabasa – Tanjung Karang = 2,000Rp
  • Tanjung Karang – Teluk Betung = 2,000Rp
  • Teluk Betung – Dermaga Ketapang = 5,000-7,000Rp

Damri

  • Pelabuhan Bakauheni – Terminal Rajabasa = 17,000Rp (Ekonomi) dan 21,000-25,000Rp (Ekonomi AC)
  • Terminal Rajabasa – Hanura = 5,000-7,000Rp
  • Hanura – Dermaga Ketapang = 3,000Rp

Setelah sampai di Pelabuhan/Dermaga Ketapang, disinilah masalahnya timbul. Saya lupa menanyakan ongkos kapal per-orang untuk tujuan Ketapang – Pahawang. Maafkan saya ya, teman-teman. Hahaha.

Tapi jangan khawatir. Karena rata-rata kalian adalah mahluk sosial (media,) jadi, saya berasumsi, kemungkinan kalian pergi ke Pahawang seorang diri pasti kecil sekali—Udah deh gak usah ngaku. Sebab itu, ada alternatif kedua, yaitu; sewa kapal.

Biaya sewa kapal dari Pelabuhan/Dermaga Ketapang adalah 450,000Rp per-hari. Lumayan mahal. Karenanya, pergilah ke Pahawang dengan jumlah, setidaknya 20 orang.  Jadi, bila dikalkulasi, per-orangnya cukup mengeluarkan uang sebesar 45,000Rp untuk 2 hari aktifitas island hopping.

 

Tips wisata Pulau Pahawang

  • Berdasarkan artikel Makara, Vol. 15, No. 2, Desember 2011, Pulau Pahawang merupakan salah satu lokasi endemis malaria di Kabupaten Pesawaran—dominan Plasmodium Vivax, dimana 47.8% penduduknya positif  terjangkit. Karenanya, bawalah lotion anti nyamuk sebagai tindakan preventif.
  • Gunakan jaket, topi, slayer, atau apapun yang dapat digunakan untuk melindungi diri dari sengat matahari—ketika memutuskan untuk mengelilingi pulau ini.
  • Supaya tidak tersesat seperti kami—saat keliling pulau—pilihlah selalu jalur bagian dalam, dan rajin-rajinlah bertanya kepada penduduk yang anda temui.
  • Pisang molen dan bakwan, adalah gorengan populer di pulau ini.
  • Bantulah perekonomian lokal dengan membeli barang/jasa yang mereka ‘tawarkan,’ dengan pertimbangan kemampuan finansial tentunya.
  • Waktu yang baik untuk menjelajah Pulau Pahawang adalah pada pagi atau sore hari.
  • Saat memutuskan menyewa motor, pastikan bensinnya terisi penuh.
  • MCK seringkali menjadi kendala setiap trip pantai. Apalagi bila jumlah orang dalam rombongan kita cukup banyak. Untuk itu, tanyakanlah kepada tuan rumah perihal kamar mandi alternatif yang tersedia. Biasanya, kita akan dirujuk ke rumah tetangga atau saudara mereka.
  • Hindari eksklusifitas. Bersosialisasilah dengan penduduk setempat. Informasi ‘ajaib’ seringkali saya dapatkan dari aktifitas seperti ini.
Di Pahawang pura-pura maling pepaya

Di Pahawang pura-pura maling pepaya

Semoga cerita perjalanan ke Pulau Pahawang ini cukup lengkap, dan dapat mempermudah teman-teman sekalian untuk berwisata kesana. Kesempatan tersesat sudah saya dapatkan, jadi, kapan giliran kalian? :D [BEM]